Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 26 Oktober 2013

12Agt

"Jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka"

(Ul 10:12-22; Mat 17:22-27)

" Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia
berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan
dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Ketika
Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea
Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar
bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus
masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah
pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan
pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari
orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya.
Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah
memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan
bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di
dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan
bagimu juga." (Mat 17:22-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Warta Gembira hari ini berbicara masalah 'pajak', yang menjadi
kewajiban seluruh warganegara atau masyarakat. Hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara pada umumnya dibiayai oleh hasil pajak
masyarakat atau warganegara. Pajak berasal dari rakyat dan harus
dikembalikan kepada rakyat dalam aneka bentuk pelayanan kepada rakyat
demi kesejahteraan seluruh rakyat, maka dengan ini kami berharap
kepada kita semua untuk setia membayar pajak sesuai dengan peraturan
yang berlaku, dan tentu saja kami berharap kepada mereka yang
berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam hal
membayar pajak. Kepada para pengusaha kami harapkan setia dalam
membayar pajak. Kepada para petugas, pegawai dan pengelola pajak kami
harapkan tidak melakukan korupsi sedikitpun, demikian juga mereka yang
menarik pajak di jalanan kami harapkan juga tidak melakukan korupsi
sedikitpun. Masalah perpajakan ini mungkin baik dididikkan pada
anak-anak kita baik di dalam keluarga maupun di sekolah-sekolah.
Memang mereka ada yang bebas membayar pajak karena pendapatannya
kecil, demikian juga para imam/pastor karena memang tidak menerima
gaji atau imbal jasa. Sebenarnya jika pajak dibayar dan dikelola
dengan baik dan benar di Indonesia ini, maka seluruh rakyat Indonesia
hidup sejahtera lahir dan batin, fisik dan spiritual, namun karena
masih dikorupsi sampai kini masih jutaan warganegara yang miskin, jauh
dari hidup sejahtera. Kita semua mendambakan hidup damai dan
sejahtera, maka marilah kita setia pada tugas, kewajiban dan fungsi
kita masing-masing. Semoga tak ada seorang pun di antara kita menjadi
batu sandungan untuk berdosa atau melakukan yang jahat.

·   "Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan
langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya;
tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati TUHAN terpikat sehingga Ia
mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang
dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini. Sebab itu
sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk. Sebab TUHAN,
Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang
besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima
suap; yang membela hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasih-Nya
kepada orang asing dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian."
(Ul 10:14-18). Segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini adalah
milik Tuhan, dan kita hanya 'dipinjami' untuk digunakan agar kita
semakin berbakti kepadaNya, semakin suci, semakin hidup baik. Kutipan
di atas ini juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk "membela
hak anak yatim dan janda dan menunjukkan kasihNya kepada orang asing
dengan memberikan kepadanya makanan dan pakaian". Janda sering menjadi
bahan gunjingan alias pembicaraan negatif di masyarakat kita, dan
mereka yang tak kuat menjadi bahan gunjingan ada kecenderungan untuk
melacurkan diri, menjual diri kepada 'hidung belang' demi uang untuk
mencukupi kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri maupun anak-anaknya.
Maka kami berharap kepada kita semua untuk tidak berpikiran jelek
kepada para janda, sebaliknya sering ada pastor yang tergoda oleh
janda-janda cantik. Pengamatan saya: janda cantik yang ditinggalkan
suaminya sering berkonsultasi dengan pastor, dan lama-lama relasi
spiritual tersebut runtuh menjadi relasi fisik. Kami juga berharap
kepada kita semua untuk memperhatikan anak-anak yatim atau membantu
yayasan yang mengelola atau mengurus anak-anak yatim. Marilah kita
kembangkan kepekaan social dalam diri kita masing-masing.

"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia
meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di
antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan
mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.Ia menyampaikan
perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari" (Mzm
147:12-15)

Ign 12 Agustus 2013

0 komentar: