Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 14 April 2012

Mg Paskah II


Mg  Paskah II: Kis 4:32-35; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31

"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Jika kita mawas diri dengan benar dan baik, kiranya kita semua sejak kecil telah terlatih atau tebiasakan menerima aneka info atau hal-hal baru dari orang lain, entah itu berupa peristiwa, pengetahuan, nama-nama orang/barang/binatang, dst.. , meskipun kita belum melihatnya namun kita percaya sepenuhnya. Namun pada masa jaya-jayanya PKI (Partai Komunis Indonesia) di negeri ini juga ada gerakan yang dilakukan untuk mendidik dan membina anak-anak kecil agar hanya mempercayai apa yang telah dilihatnya, atau yang dapat diraba dan dinikmati secara phisik. Sebagai contoh ada guru Taman Kanak-Kanak bertanya kepada para peserta didiknya: "Anak-anak, apakah Tuhan itu ada?". Anak-anak pun tidak berani menjawabnya dan diam seribu bahasa. Maka guru tersebut lalu minta kepada anak-anak untuk berdoa kepada Tuhan seraya mohon kepada Tuhan agar diberi manisan. Anak-anak pun diminta memejamkan mata sambil berdoa bersama "Tuhan, kami mohon manisan". Setelah itu anak-anak diminta membuka mata dan sang guru bertanya "Apakah Tuhan memberi manisan?". "Tidak..", jawaban serentak anak-anak. Kemudian sang guru minta anak-anak memejamkan mata kembali sambil berkata "Bu guru, kami minta manisan", dan kemudian bu guru pun membagikan manisan satu per satu di atas meja anak-anak. Setelah selesai membagikan bu guru minta anak-anak membuka mata, dan kemudian bertanya "Bu guru, memberi manisan?". "Ya…" , jawaban anak-anak. Kemudian bu guru berkata: "Jadi yang ada ialah bu guru dan Tuhan tidak ada"

           "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yoh 20:29)

Yesus yang telah bangkit dari mati hidup dan berkarya terus menerus melalui RohNya, tak terikat oleh ruang dan waktu, kapan saja dan dimana saja. Dalam Warta gembira hari ini dikisahkan perihal Tomas, rasul, yang ketika Yesus menampakkan Diri kepada para rasul, ia tidak berada bersama para rasul, maka ketika mereka menceriterakan perihal penampakkan Yesus, ia tidak percaya. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." (Yoh 20:25), demikian tanggapan Tomas atas ceritera teman-temannya. Waktu Yesus menampakkan Diri untuk pertama kali kepada para rasul terjadi pada hari Paskah, dan seminggu kemudian, pada hari Minggu, Yesus menampakkan Diri lagi kembali kepada mereka dan Tomas ada di antara mereka. Maka Yesus pun menegor Tomas, yang memang kemudian menjadi percaya juga, "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Kita sering disebut orang beriman, berarti orang yang mempercayai sepenuhnya pada apa yang tak kelihatan, "tidak melihat, namun percaya". Maka marilah kita hayati sepenuhnya apa yang menjadi keyakinan iman kita masing-masing, percaya bahwa Tuhan senantiasa hidup dan berkarya di dalam ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia beriman. Untuk itu kita diharapkan juga percaya satu sama lain, dan tentu saja masing-masing dari kita juga tidak pernah memberitahukan kebohongan-kebohongan atau kepalsuan-kepalsuan. Dengan kata lain masing-masing dari kita harus jujur terhadap diri sendiri, tidak pernah menipu diri atau membohongi diri. Sebagai orang beriman kita semua diharapkan hidup dan bertindak dalam dan dengan semangat iman, sehingga kita akan menjadi orang-orang yang cerdas secara spiritual.

Orang yang cerdas secara spiritual antara lain hidup dan bertindak sesuai dengan visi atau misi dari hidup bersama yang telah dimasuki dan digeluti bersama, tidak mengikuti selera atau kemauan pribadi lagi. Maka hendaknya kita sungguh percaya dan menghayati apa saja yang pernah dijelaskan atau diterangkan kepada kita terkait dengan visi dan misi hidup bersama dimana kita geluti dan menjadi anggotanya. Sebagai contoh misalnya bagi kita yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, Yesus bersabda kepada kita bahwa " setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Mat 19:29). Pengalaman saya pribadi sebagai imam Yesuit hal itu sungguh menjadi kenyataan, dimana saya memiliki banyak sahabat dan teman karena menghayati sabda Yesus tersebut, dan dengan kerja keras serta rendah hati berusaha menghayati spiritualitas Ignatian maupun apa yant tertulis di dalam Konstitusi Serikat Yesus. Sedangkan kepada anda yang berkeluarga hendaknya menghayati sabda Yesus juga bahwa harus meninggalkan orangtua atau ayah dan ibu serta kemudian hidup bersama sebagai suami-isteri dengan saling mengasihi sehingga menghasilkan buah kasih yang melimpah, yaitu anak, cucu, buyut, canggah dst..

 

"Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya. Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya" (1Yoh 5:1-2)

 

"Mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintahNya" inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari sebagai umat beriman. Bagi kita umat yang beriman kepada Allah 'mengasihi Allah' sebenarnya adalah hidup dengan penuh syukur dan terima kasih sebagai tanggapan kita atas Allah yang telah mengasihi kita dengan melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, mengasihi dan memperhatikan kita melalui aneka cara dan bentuk sejak kita dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing. Hidup dalam syukur dan terima kasih berarti memang tidak pernah serakah melalui mewujudkan syukur dan terima kasih tersebut dengan tindakan konkret 'berbagi dan peduli' bagi orang lain, terutama bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Semua perintah Allah kiranya dapat disimpulkan atau dipadatkan dalam perintah saling mengasihi serta kemudian kita wujudkan dengan saling berbagi dan peduli satu sama lain, tanpa pandang bulu.

 

Wujud kasih atau berbagi dan peduli yang paling utama dan pokok hemat saya adalah dengan tidak pelit memboroskan waktu dan tenaga bagi mereka yang harus kita kasihi atau kepada siapa kita harus berbagi dan peduli. Dengan kata lain kehadiran kita bagi mereka sungguh dibutuhkan, dan kemudian memang perlu sebagai pendukung dan penguat dalam menghadirkan diri kita  juga membagikan sebagian apa yang kita miliki dan mereka butuhkan, misalnya makanan, minuman, uang, pakaian dst.. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa jati diri kita adalah mahkluk social, manusia yang harus hidup bersama dengan orang lain untuk saling mengasihi serta saling berbagi dan peduli.

 

Selanjutnya dalam hidup bersama kita sebagai umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah dalam hidup bersama meneladan cara hidup jemaat purba, sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul ini, yaitu "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah. Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya." (Kis 4:32-35). Cara hidup jemaat purba merupakan cermin dan tolok ukur keberhasilan atau kesetiaan kita sebagai orang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus.

 

Hari ini juga merupakan "Hari Minggu Kerahiman Ilahi", suatu ajakan untuk secara konkret menghayati motto APP tahun ini maupun meneladan cara hidup jemaat purba, yaitu 'berbagi dan peduli'. Para rekan perempuan atau wanita memiliki rahim, dan di dalam rahimlah kehidupan dimulai dan tumbuh berkembang karena kerahiman, maka semoga anda juga dapat menjadi teladan dalam menghayati keutamaan 'kerahiman Ilahi', artinya cara hidup dan cara bertindak anda dimanapun dan kapanpun senantiasa menghidupkan dan menggairahkan orang lain. 

 

"Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut." (Mzm 118:16-18)

Ign 15 April 2012

 

     


Jumat, 13 April 2012

14 April

"Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk"
(Kis 4:13-21; Mrk 16:9-15)

" Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya. Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya. Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk bergerak atau bepergian, entah jauh atau dekat. Maka baiklah dimanapun berada atau kemanapun pergi kami harapkan kita semua senantiasa memberitakan Injil kepada segala makhluk, yang kami maksudkan dengan Injil lebih-lebih adalah Kabar Baik atau Kabar Gembira. Marilah kita beritakan apa-apa yang baik dan menggembirakan kepada segala makhluk  yang ada di permukaan bumi ini. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah pada awal mulanya semuanya baik adanya, dan menjadi tidak baik atau rusak karena dosa-dosa manusia, tindakan atau perilaku yang tak bermoral dari sekian banyak manusia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, yang telah wafat dan dibangkitkan, kita diharapkan senantiasa dalam keadaan baik atau gembira, sehingga kemanapun pergi atau dimana pun kita berada dapat memberitakan apa yang baik dan menggembirakan. Jika di lingkungan hidup dan kerja kita ada sesuatu yang tidak baik, hendaknya segera diperbaiki tanpa tunggu waktu atau perintah orang lain. Kalau yang tidak baik adalah manusia hendakanya diperbaiki dengan cintakasih dan rendah hati, karena dengan kerendahan hati dan cintakasih kita pasti mampu memperbaikinya.
·   "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." (Kis 4:19-20), demikian tanggapan Petrus dan Yohanes terhadap ancaman tokoh-tokoh Yahudi.  "Taat kepada kamu atau taat kepada Allah", inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan bersama. Sebagai orang beriman kiranya kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia, apalagi manusia yang gila akan harta benda/uang, kedudukan maupun kehormatan duniawi alias mereka yang bersikap marerialistis. Kehendak atau perintah Allah antara lain sebagaimana disabdakan oleh Yesus adalah "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat 5:44).  Pada umumnya perintah manusia adalah menghabisi musuh serta mencelakakan mereka yang menganiaya alias balas dendam dengan tindakan yang lebih keras dan menyakitkan. Allah adalah Maha Kasih, maka kepada siapapun kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk senantiasa mengasihinya. Memang kasih akan lebih menjadi nyata dan kentara ketika harus diwujudkan kepada mereka yang memusuhi kita atau menganiaya kita dengan atau melalui aneka bentuk dan cara. Kami percaya bahwa kita semua memiliki musuh atau menghadapi orang-orang yang menganiaya kita, yaitu mereka yang mempersulit atau menghambat kita dalam rangka mewartakan apa yang baik dan menyelamatkan. Hadapi dan sikapi siapapun yang memusuhi ktia dalam dan oleh kasih alias melaksanakan perintah Allah untuk mengasihi musuh. Jika tak mungkin secara langsung menghadapi mereka, hendaknya didoakan, biarlah Allah sendiri yang akan menyentuh dan menegor mereka agar tidak memusuhi kita. Memang suatu tindakan yang sangat mulia dan luhur jika kita senantiasa mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita. Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa Yesus juga telah melakukan tindakan itu, yaitu ketika berada di puncak penderitaanNya di kayu salib, Ia mendoakan mereka yang menyalibkanNya atau memusuhiNya.
"Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!"Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut.Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN. Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku" (Mzm 118:16-21)

Ign 14 April 2012

Kamis, 12 April 2012

13 April

"Malam itu mereka tidak menangkap apa-apa."

(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)

"Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Maka murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus: "Itu Tuhan." Ketika Petrus mendengar, bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira dua ratus hasta saja dan mereka menghela jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka: "Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu." Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati." (Yoh 21:1-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup dan bertindak hanya mengikuti selera, kemauan atau keinginan pribadi pasti akan gagal serta kemudian frustrasi. Orang yang hidup dan bertindak demikian ini pada umumnya juga orang yang sedang frustrasi. Begitulah yang terjadi di antara para murid atau rasul, yang sebelum mengikuti Yesus memiliki pekerjaan utama sebagai nelayan, ketika ditinggalkan Yesus untuk selama-lamanya kehilangan pegangan atau pedoman hidup yang pernah diajarkan, maka kemudian kembali ke pekerjaan semua sebagai nelayan. Mereka adalah nelayan yang tangguh dan handal, namun semalaman menjala ikan di danau tak seekorpun diperoleh. Menebarkan jala hanya mengikuti selera pribadi gagal total, namun ketika menebarkan jala atas nama Tuhan mereka menangkap ikan banyak sekali alias berhasil atau sukses besar. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak tidak mengikuti selera atau kemauan pribadi, melainkan mengikuti perintah atau kehendak Tuhan, yang secara konkret berarti menghayati spiritualitas, charisma atau visi hidup terpanggil, entah secara pribadi atau bersama-sama. "In nomine Iesu" = Dalam nama Tuhan, itulah motto gembala kita, Mgr A.Soegijapranata SJ dan Bapak Yulius Kardinal Darmaatmaja SJ dalam mengemban tugas sebagai gembala umat. Kiranya kita tahu bahwa buah penggembalaan Mgr Sogija sungguh menggembirakan, antara lain berkembangnya jumlah maupun kwalitas umat Allah di Keuskupan Agung Semarang: cukup banyak tokoh Gereja maupun masyarakat telah dilahirkan dalam penggembalaan beliau. Maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan imam, bruder atau suster serta awam untuk setia pada spiritualitas hidup bersama/lembaga masing-masing dalam cara hidup dan cara bertindak.

·   "Dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati -- bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu." (Kis 4:10), demikian jawaban Petrus atas pertanyaan Imam Besar Yahudi perihal atas nama siapa ia menyembuhkan orang sakit. Orang-orang sakit kiranya ada di lingkungan hidup dan kerja kita, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh/phisik. Marilah mereka kita sembuhkan dalam nama Tuhan; kita dekati dan perlakukan mereka dalam dan dengan cintakasih dan kebebasan Injili. Banyak orang menderita sakit hemat saya karena kurang kasih atau merasa tidak atau kurang dikasihi, padahal jika yang bersangkutan jujur mawas diri kiranya ia telah menerima kasih secara melimpah ruah dari Allah melalui saudara-saudarinya. Mendekati dan memperlakukan orang sakit dalam dan dengan cintakasih serta kebebasan Injili berarti mengingatkan mereka akan kasih yang telah mereka terima. Percayalah jika kita mendekati dan memperlakukan dengan dan dalam cintakasih serta kebebasan Injili, maka apa yang kita lakukan akan menghasilkan buah yang melimpah dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa.

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (Mzm 118:1-2.4)

Ign 13 April 2012

Rabu, 11 April 2012

12 April

"Kamu adalah saksi dari semuanya ini"

(Kis 3:11-26; Luk 24:35-48)

"Lalu kedua orang itu pun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini" (Luk 24:35-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bercakap-cakap atau sharing perihal pengalaman akan penampaikan Yesus yang telah dibangkitkan dari mati, itulah yang sedang terjadi di antara para murid. Di tengah-tengah percakapan tersebut tiba-tiba Yesus menampakkan Diri serta memberi salam kepada mereka "Damai sejahtera bagi kamu". Untuk memperkuat iman mereka maka Yesus pun makan bersama dengan mereka dengan makanan apa adanya, dan mereka pun kemudian "dibuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci". Ia kemudian juga memberi perintah kepada mereka agar mereka menjadi saksi atas semua yang telah terjadi dan mereka alami. Pada masa sekarang ini kiranya yang cukup mendesak dan up to date ialah menjadi saksi damai sejahtera, sebagaimana juga disampaikan oleh Yesus kepada para murid. Untuk itu kiranya diri kita sendiri hendaknya senantiasa dalam keadaan damai sejahtera, baik lahir maupun batin, karena kita telah dikuatkan dengan 'wafat dan kebangkitan Yesus dari mati', yang berarti kita telah bersama dan bersatu denganNya. Damai sejahtera itu antara lain juga dapat kita wujudkan dengan memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa dalam namaNya. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa setiap hari kita mendoakan doa Bapa Kami, yang antara lain berdoa "ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah  kepada kami". Kasih pengampunan merupakan dasar atau landasan damai sejahtera, maka semoga apa yang kita doakan tidak hanya manis di mulut tetapi juga nikmat dalam tindakan dan perilaku, karena kita senantiasa mengampun siapapun yang bersalah kepada kita atau yang menyakiti dan mempersulit hidup kita. Salah satu wujud konkret hidup bersama dalam damai sejahtera adalah 'makan bersama' apa adanya dengan penuh ceria dan bahagia.

·   "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus" (Kis 3:19-20), demikian kutipan dari kotbah Petrus. Kiranya sebagai murid-murid Yesus atau orang yang percaya kepada Yesus Kristus kita juga diundang atau dipanggil untuk meneladan Petrus: mengajak siapapun juga untuk menyadari kelemahan dan dosa-dosanya serta kemudian bertobat atau memperbaharui diri. Menyadari kelemahan, keterbatasan dan dosa-dosa merupakan langkah awal yang meyakinkan untuk bertobat dan memperbaharui diri terus-menerus, karena dengan demikian yang bersangkutan pada umumnya juga memiliki keterbukaan diri untuk tumbuh dan berkembang alias diperbaharui terus-menerus alias bersikap mental belajar. Belajar tidak hanya terjadi ketika berada atau masih di dalam sekolah atau pendidikan formal, melainkan juga selama bekerja atau hidup dimanapan orang dapat belajar. Hidup, bertindak dan bekerja dengan semangat belajar akan mendatangkan kelegaan hati yang luar biasa.  Bersikap mental atau bersemangat belajar memang dijiwai oleh keutamaan kerendahan hati atau orang yang rendah hati senantiasa bersikap mental belajar terus menerus, tiada henti sampai mati. Kami berharap para orangtua atau pemimpin dapat menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan sikap mental belajar  bagi anak-anak atau anggotanya.

"Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya. Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan" (Mzm 8:5 -9)

Ign 12 April 2012

Selasa, 10 April 2012

11 April 2012

"Hai kamu orang bodoh betapa lambannya hatimu"
(Kis 3:1-10; Luk 24:13-35)

"Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" (Luk 24:13-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Ada pepatah "Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu". Orang yang tahu dalamnya atau isi hati diri sendiri maupun orang lain adalah orang yang sungguh memiliki hati, karena dengan demikian yang bersangkutan senantiasa memperhatikan orang lain maupun diri sendiri. Memperhatikan berarti memboroskan waktu dan tenaga bagi yang diperhatikan. Kerajaan Allah atau hidup beriman adalah masalah hati atau kerajaan hati. Maka cukup menarik bahwa Yesus, yang telah bangkit dari mati menampakkan Diri kepada dua murid dari Emaus yang sedang frustrasi, berkata "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi". Namun demikian masih menguntungkan bahwa dalam keadaan frustrasi mereka masih bcrcakap-cakap perihal apa yang terjadi alias bercurhat perihal apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Dengan kata lain dibalik frustrasi mereka ada kerinduan dari hati yang terdalam akan apa makna yang tertulis di dalam Kitab Suci maupun segala sesuatu yang sedang terjadi. Kisah penampakan Yesus yang bangkit dari mati kepada dua murid dari Emaus ini kiranya merupakan sesuatu yang indah untuk kita jadikan bahan refleksi atau permenungan. Jika anda sedang frustrasi, hendaknya tidak langsung menyendiri atau bahkan bunuh diri, melainkan silahkan membaca Kitab Suci atau bercakap-cakap dengan orang lain perihal apa yang membuat anda frrustrasi. Percayalah dengan demikian anda akan menerima pencerahan, sehingga anda sembuh dari frustrasi. Kisah ini juga mengingatkan kita semua akan pentingnya pemeriksaan batin, refleksi atau mawas diri, yang hendaknya dilakukan setiap hari sehingga orang terampil dalam pembedaan roh atau spiritual discernment alias memiliki hati yang cerdas.
·   "Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu" (Kis 3:6-7), demikian berita perihal muzijat yang terjadi dalam pelayanan Petrus. Demi atau dalam nama Yesus Kristus Petrus mampu menyembuhkan orang lumpuh sehingga dapat berdiri dan berjalan. Mungkin di lingkungan hidup atau kerja kita juga ada orang-orang yang lumpuh, tentu saja tidak secara phisik melainkan secara spiritual, sehingga mereka 'mandeg'/berhenti di tempat, tidak tumbuh dan berkembang sebagaimana diharapkan atau dicita-citakan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk menyembuhkan mereka, maka marilah kita datangi dan perlakukan mereka dalam nama Yesus Kristus. Dalam nama Yesus Kristus berarti sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus,. Roh Kudus memang menggairahkan, memberdayakan dan menghidupkan mereka yang 'lumpuh', maka hendaknya kita senantiasa hidup dalam dan oleh Roh Kudus dalam mendekati dan memperlakukan mereka yang sedang 'lumpuh'.
"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!" (Mzm 105:1-4)
Ign 11 April 2012

Minggu, 08 April 2012

Hari Raya Paska

Hari Raya PASKA

Kis 10; 34a.37-45; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9

"Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur."

Cintakasih memang merupakan keutamaan yang utama dari ketiga keutamaan: iman, harapan dan cintakasih. Kita, manusia di bumi ini, serta segala sesuatu yang ada di dunia atau dipermukaan bumi ini diciptakan Allah dalam cintakasih. Demikian pula kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini juga karena cintakasih Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka cara dan kesempatan, Dalam warta gembira Paska hari ini adalah orang-orang yang merasa atau mengalami kasih lebih besar dari Allah yang dengan cepat mengimaninya, sebagaimana dikisahkan bahwa Yohanes 'berlari lebih cepat dari pada Petrus' dalam rangka menuju ke makam Yesus, setelah menerima berita dari para wanita. Memang Yesus yang telah bangkit dari mati sungguh membuat orang yang beriman kepadaNya akan hidup dan bertindak dengan cepat dan bergairah dalam menanggapi aneka ajakan atau sapaan dan sentuhan. Maka marilah dalam rangka merayakan Pesta Paska kita mawas diri: sejauh mana kita sungguh beriman kepada Yesus yang telah menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati.

"Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati." (Yoh 20:8-9).

Berlari lebih cepat, serta kemudian juga sampai di tempat lebih cepat dan melihat lebih cepat, maka iapun juga percaya lebih cepat, itulah yang terjadi dalam murid yang terkasih, Yohanes. "Melihat dan percaya" memang merupakan salah satu cirikhas orang yang sungguh hidup dalam saling mengasihi dan beriman. Melihat dalam hal ini kiranya tidak cukup hanya dengan mata phisik saja, melainkan juga dengan mata hati dan mata jiwa. Bahasa Latin dari kata melihat adalah video (videre) yang memiliki beberapa arti, yaitu melihat, mengerti, mengetahui, mengalami, memandang, menelaah, meninjau, memeriksa, mempertimbangkan. Beberapa arti melihat macam itulah kiranya yang kami maksudkan dengan melihat dengan mata hati dan mata iman, dimana secara cepat dan tepat orang dapat menelaah dan mempertimbangkan apa yang dilihatnya serta kemudian dengan cepat dan tepat juga mengambil sikap atau kebijakan, antara lain percaya atau tidak percaya .

Kami percaya pada Malam Paska atau Hari Raya Paska ini telah melihat sesuatu yang indah, menarik dan mempesona selama berpartisipasi dalam ibadat, serta kami yakin atau percaya semuanya itu menggerakkan atau memotivasi anda untuk semakin percaya kepada Tuhan dan secara khusus percaya kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati. Jika kita percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati, maka kita senantiasa hidup baik, bersemangat atau bergairah dan dinamis, cara hidup dan cara bertindak kita menggairahkan dan membangkitkan mereka yang lesu atau putus asa. Dengan percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati kita juga akan mampu memahami dan menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, karena kitab suci yang kita miliki saat ini merupakan refleksi iman atas Yesus yang menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. 

Kami berharap setelah mawas diri sejak Rabu Abu sampai Hari Raya Paska ini kita semua sungguh menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang terkasih dari Allah, sehingga dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari senantiasa bersemangat. "Bersemangat adalah sikap dan perilaku yang selalu dapat bertahan dan bergairah dalam melakukan sesuatu. Ini diwujudkan dalam perilaku yang menggebu-gebu dan bergelora. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 13). Orang yang bergairah dan bergelora dalam kondisi dan situasi apapun pada umumnya menarik, mempesona dan memikat orang lain, lebih-lebih ketika menghadapi masalah, tantangan atau hambatan tetap bergairah dan bergelora. Orang yang selalu bergairah dan bergelora hemat juga memiliki ketahanan dan kekebalan diri, phisik maupun spiritual) yang handal, tak mudah jatuh sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit phisik. Selanjutnya marilah kita renungkan dan hayati ajakan atau peringatan Paulus dibawah ini.

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan" (Kol 3:1-4).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati kita diajak untuk senantiasa "memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi", dengan kata lain tidak bersikap mental materialistis sebagaimana dihayati oleh kebanyakan orang masa kini. Maklum sikap mental materialistis sejauh saya dengar dan cermati telah merasuki para tokoh umat beragama maupun pendidikan (ingat dan sadari bahwa korupsi terbesar di negeri kita ini terjadi dalam dua departemen yang membina manusia, yaitu departemen pendidikan dan departemen agama). Cukup memprihatinkan juga bahwa ada pastor, bruder atau suster yang berlomba dalam hal kesuksesan materi, entah itu secara pribadi atau orgaanisatoris, artinya dalam posisinya sebagai pemimpin atau pengelola karya. Harga dirinya terletak pada membeli dan memiliki, yang dikejar adalah kesuksesan bukan kesetiaan. Kita semua dipanggil untuk mengusahakan kesempurnaan dalam hal kesetiaaan. Menanggapi ajakan atau peringatan Paulus, yaitu memikirkan perkara yang di atas berarti kita diajak untuk unggul dalam hal kesetiaan pada penghayatan charisma, spiritualitas atau visi, entah secara pribadi atau bersama-sama.

Kita semua baru saja memperbaharui janji kita: janji baptis maupun janji imamat serta hidup berkaul, maka marilah kita bersama-sama mengusahakan kesetiaan pada janji yang baru saja kita perbaharui. Tentu pertama-tama dan terutama adalah janji baptis yang mendasari diri kita sebagai anggota Umat Allah. Jika janji baptis kita hayati dengan setia maka janji-janji berikutnya dengan mudah kita hayati, entah itu janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai, sumpah jabatan dst.. Dalam pembaptisan kita berjanji hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan, maka marilah kita tolak dengan tegas segala rayuan atau godaan setan.

"Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah" (Kis 10:44-46). Yesus yang telah bangkit dari mati berkarya melalui RohNya, dan karyaNya tidak terikat oleh ruang dan waktu, SARA, usia dst.. Percaya kepada Dia yang telah dibangkitkan dari mati berarti berpartisipasi dalam tugas pengutusan menyelamatkan dunia seisinya, umat manusia diseluruh dunia beserta lingkungan hidupnya. Untuk itu kita diharapkan "berbahasa Roh", yaitu hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan   "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Marilah kita bekerjasama dan berlomba dalam penghayatan keutamaan-keutamaan tersebut di atas.

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

(Mzm 118:1-2)

"SELAMAT PASKA 2012. MARILAH BERGAIRAH DALAM HIDUP DAN BERTINDAK DIMANA PUN DAN KAPAN PUN"

Ign 8 April 2012