Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 19 Juli 2010

20 Juli - Mi 7:14-15.18-20; Mat 12:46-50

"Siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga"

(Mi 7:14-15.18-20; Mat 12:46-50)

 

"Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   KKN = Kolusi, Korupsi dan Nepotisme masih marak di sana-sini. Ada konotasi atau kesan jelek jika terjadi KKN, namun hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa asal tidak korupsi. Memang kolusi dan nepotisme dapat menjadi godaan dan peneguh tindakan korupsi, tetapi ketika ada hubungan darah dan relasi akrab tanpa korupsi rasanya hidup dan bekerja bersama akan lebih baik, membahagiakan dan damai sejahtera. Maka sabda Yesus hari ini bahwa yang utama dan pertama-tama sebagai orang beriman harus melakukan kehendak Allah, hemat saya hal itu antara lain dapat kita hayati dengan tidak melakukan korupsi sekecil apapun, dalam bidang pelayanan atau pekerjaan apapun dan dimanapun. Melakukan kehendak Allah juga dapat kita hayati dengan mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau tatatan yang terkait dengan hidup dan panggilan maupun tugas  pengutusan kita masing-masing. Keunggulan hidup beriman terletak pada penghayatan bukan omongan atau wacana, yang menjadi nyata dalam sikap dan perilaku sehari-hari: sikap dan perilaku yang berbudi pekerti luhur. Warta Gembira hari ini juga mengingatkan dan mengajak kita untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dengan semua orang, terutama dengan siapapun yang berkehendak baik tanpa pandang bulu, SARA, jabatan, kedudukan, usia dst..Maka kami berharap aneka perbedaan yang ada di antara kita hendaknya jangan menjadi sumber permusuhan, ketegangan atau saling menghancurkan, melainkan menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat. Ingat dan hayati bahwa laki-laki dan perempuan yang saling berbeda satu sama lain saling tertarik untuk mendekat dan bersahabat, saling mengasihi…itulah karya Allah/ilahi, maka hendaknya hal itu menjadi kekuatan bagi kita bahwa apa yang berbeda menjadi daya tarik dan daya pikat untuk saling mengasihi.

·   "Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?" (Mi 7:18). Allah adalah mahapengampun dan mahasetia, betapa besar dosa dan ketidak-setiaan kita ketika kita dengan rendah hati mohon kasih pengampunanNya pasti diampuni. Namun hendaknya jangan menyalahgunakan kasih pengampunan dan kasih setia Allah tersebut, misalnya dengan mudah melakukan dosa dengan harapan bahwa dengan mudah juga Allah mengampuni. Mengimani Allah yang mahapengampun dan mahasetia berarti kita dipanggil untuk  menghayati dan menyebar-luaskan kasih pengampunan dan  kasihsetia dalam hidup sehari-hari dimanapun kita berada, kemanapun kita pergi. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan dan kasih setia Allah melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita, terutama dan pertama-tama melalui orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Kami berharap kepada para orangtua, para pemimpin atau atasan dalam kehidupan dan kerja dimanapun untuk dapat menjadi teladan dalam kasih pengampunan dan kasih setia. Ketika ada bawahan atau anggotanya berbuat salah hendaknya tidak dimarahi melainkan dengan rendah hati dan kasih sayang dibetulkan dengan berbagai cara. Kepada para orangtua kami juga berharap tidak murah marah atau bertindak kasar terhadap anak-anaknya, yang mungkin nakal dan kurang berkenan di hati orangtua. Ingat dan sadarilah bahwa anak-anak nakal dan kurangajar itu biasa, karena memang mereka masih anak-anak, tetapi kalau orangtua nakal dan kurangajar itulah malapetaka yang dapat membuat sengsara atau menderita seluruh anggota keluarga. Dampingilah anak-anak dengan semangat cintakasih dan kebebasan, sebagaimana anda sebagai suami-isteri juga telah saling memilih dan bersatu dalam cintakasih dan kebebasan. Kepada para pemimpin di bidang pelayanan atau kehidupan bersama dimanapun kami harapkan juga untuk menghayati kepemimpinannya dalam semangat cintakasih dan kebebasan.

 

"Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. Ya TUHAN, Allah semesta alam, dengarkanlah doaku, pasanglah telinga, ya Allah Yakub." (Mzm 84:5-6.8-9)

Jakarta, 20 Juli 2010      


0 komentar: