Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 11 April 2013

12April

Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan"

(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)

" Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri." (Yoh 6: 5-15) ,demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kutipan Warta Gembira di atas ini sering dijadikan inspirasi bagi gerakan social atau solidaritas dalam kehidupan bersama: hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. "Lima roti dan dua ekor ikan"  digandakan dan akhirnya dapat memberi makanan ribuan orang, bahkan tersisa cukup banyak. Secara kebetulan yang membawa bekal lima roti dan dua ekor ikan adalah seorang anak, dan dengan kerelaan serta jiwa besar mempersembahkan semua bekalnya kepada Tuhan dan akhirnya dengan mujizat terjadilah berkat luar biasa bagi banyak orang. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: hendaknya anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dibiasakan dan dididik untuk 'berbagi': dibina dan dididik dalam kepekaan social atau solidaritas, perhatian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan dalam lingkungan hidupnya.  Sikap mental solidaritas atau kepekaan social sungguh mengalami erosi atau degradasi di masyarakat kita masa kini, karena pengaruh HP atau internet, dimana orang asyik dengan HP atau komputernya dan kurang memperhatikan orang lain. HP telah mempengaruhi banyak orang bersikap mental egois, hanya mengedepankan kepentingan pribadi saja. Kami berharap anak-anak sedini mungkin dibiasakan untuk menggunakan sarana-prasarana elektronik sebagai wahana semakin memanusiakan diri sebagai makhluk social. Hendaknya orangtua dapat membatasi anak-anaknya dalam menggunakan sarana-prasarana elektronik untuk diarahkan bercuhat dan bercakap-cakap dengan saudara-saudarinya.

·   "Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah." (Kis 5:38-39), demikian usul atau nasihat salah seorang tokoh Yahudi, yang kemudian mereka terima usul atau nasihat ini. Usul atau nasihat yang sungguh bijak ini kiranya juga dapat menjadi pegangan atau  acuan hidup kita. Kita semua diciptakan dalam kasih dan kebebasan, maka hendaknya kita memperlakukan orang lain juga dalam kasih dan kebebasan. Perbuatan yang berasal dari Allah memang tak mungkin dihentikan, sebaliknya jika berasal dari manusia akan berhenti dengan sendirinya. Setiap manusia memiliki kreatifitas, maka hendaknya diwujudkan demi kepentingan bersama. Percayalah bahwa jika kreatifitas kita berasal  dari Allah pasti akan terwujud atau terlaksana. "Allah yang mengutus dan Allah juga yang akan menyelesaikan tugas pengutusan tersebut", inilah keyakinan iman yang hendaknya menjadi pegangan kita. Memang dari pihak kita juga diharapkan bekerja keras, dengan kata lain 100% membaktikan diri pada tugas pengutusan, dan 100% mengandalkan diri pada kekuatan dan penyelenggaraan Ilahi. Asal tujuan dan kehendak kita baik adanya, percayalah pasti akan terlaksana dengan baik (saya memiliki banyak pengalaman dalam hal niat dan kehendak baik yang akhirnya memperoleh banyak dukungan, sehingga niat dan kehendak baik menjadi nyata dalam tindakan atau perbuatan). Para pemimpin atau atasan kami harapkan menghayati nasihat atau usul di atas dalam menghadapi aneka macam bentuk pembaharuan.

"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"

 (Mzm 27:13-14)

Ign 12 April 2013


11 april

"Barangsiapa percaya kepada Anak ia beroleh hidup yang kekal"

(Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36)


" Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yoh 3:31-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Stanislaus, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Percaya kepada seorang utusan pada umumnya tidak mudah, atau seorang utusan sering kurang dipercaya alias mudah dicurigai. Para nabi sebagai utusan Allah untuk mewartakan kebenaran-kebenaran pada umumnya juga menghadapi aneka tantangan, masalah, bahkan menghadapi ancaman untuk dibunuh juga. Yesus juga merupakan 'Utusan', yang telah menerima segala sesuatu dari 'Bapa' untuk diteruskan kepada seluruh umat manusia di bumi. Namun tidak semua orang percaya kepada pewartaanNya, ada yang menerima dan ada yang menolakNya. Barangsiapa percaya kepadaNya akan menerima hidup mulia selamanya, kekal di sorga. Memang percaya kepadaNya tidak cukup berhenti di mulut atau pikiran saja, melainkan harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku. Maka para bapa Konsili Vatican II mengajarkan bahwa "mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta GerejaNya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati  dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal" (Vatican II: LG art.16). Untuk secara konkret melakukan apa yang benar  dalam dan melalui perbuatan nyata pada masa kini kiranya menghadapi tantangan berat, mengingat dan memperhatikan kebanyakan orang suka omong tetapi tidak melakukan apa yang mereka omongkan, suka mengajarkan tetapi tidak melaksanakan sendiri apa yang telah diajarkan. Kebenaran yang berasal dari Allah juga dapat kita temukan dalam diri orang yang sungguh menghayati rahmat kenabian imannya dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak. Marilah kita hayati rahmat kenabian dan kemartiran iman kepercayaan kita.


·   "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia. Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia." (Kis 5:29-32), demikian kata Petrus bersama rasul-rasul lainnya menanggapi ancaman tokoh-tokoh dan pemuka Yahudi. Taat setia kepada Allah itulah panggilan kita semua umat beriman. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk menghayati ketaatan dan kesetiaan kepada Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Hari-hari ini mendekati ujian-ujian sekolah serta penentuan hasil ujian direncanakan. Hampir setiap tahun terjadi bahwa pemberian nilai ujian, entah ujian sekolah maupun ujian nasional, tidak sesuai dengan kebenaran, dan pada umumnya di 'mark-up', agar kelihatan sukses dalam karya pendidikan. Para guru maupun kepala sekolah pada umumnya lebih mentaati perintah atasan-atasan mereka, yang berarti melakukan 'mark-up' nilai ujian alias melakukan kebohongan daripada setia pada hasil konkret dari para peserta ujian. Sungguh memprihatinkan bahwa kebohongan-kebohongan sudah mendarah-daging di dalam diri pelaksana dan pengelola sekolah, dan tentu saja yang menjadi korban adalah peserta didik atau generasi muda. Jika di masa muda,  masa belajar di sekolah, sudah biasa diajak berbohong, maka tidak mengherankan ketika mereka telah dewasa serta memiliki jabatan dan kedudukan kemudian melakukan kebohongan dan korupsi. Marilah kita perangi dan berantas kebohongan-kebohongan di sekolah-sekolah, dijajaran Departeman Pendidikan.


"Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu" (Mzzm 34:17-20)


Ign 11 April 2013


10 April

"Manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang,"

(Kis 5:17-26; Yoh 3:16-21)

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah." (Yoh 3:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kecenderungan banyak orang pada umumnya adalah ingin hidup enak-enak, kerja sedikit menerima hasil melimpah, demikian juga dalam hal makan senantiasa mengusahakan yang enak dan nikmat, meskipun tidak sehat. Aneka rayuan kenikmatan yang merebak masa kini memang begitu menggoda manusia untuk segera menikmatinya, meskipun kenikmatan yang diperoleh membahayakan keselamatan jiwanya. Kita manusia memang menjadi rebutan antara roh jahat dan roh baik, cenderung berbuat jahat atau berbuat baik. Sebagai orang beriman kita semua diharapkan lebih melakukan apa yang baik dan benar, sehingga suka "datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah". Perbuatan yang baik dan benar adalah yang menyelamatkan jiwa manusia, jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain. Kami percaya bahwa kita semua mendambakan untuk melakukan apa yang baik dan benar, namun karena keterbatasan dan kelemahan kita masing-masing, maka apa yang kita lakukan sungguh masih jauh dari apa yang kita dambakan  atau kurang sempurna. Untuk itu masing-masing dari kita hendaknya tidak memutlakkan bahwa yang dilakukan baik dan benar, melainkan hanya menyumbangkan sebagian kecil sekali demi kebaikan bersama. Namun demikian meskipun hanya mampu memberi sedikit sumbangan atau bantuan, hendaknya tetap bangga dan rendah hati. Kita semua mendambakan hidup mulia selamanya atau kekal setelah meninggal dunia nanti, maka marilah saling bekerjasama mengusahakannya.

·   "Pergilah, berdirilah di Bait Allah dan beritakanlah seluruh firman hidup itu kepada orang banyak." (Kis 5:20), demikian perintah malaikat Allah kepada para rasul, untuk keluar dari penjara serta kemudian memberitakan seluruh firman hidup. Kekuatan Allah memang lebih kuat dan kuasa daripada kekuatan manusia, itulah yang dialami oleh para rasul. Mengandalkan diri pada kekuatan Allah berarti senantiasa memberitakan firman hidup, artinya melakukan segala sesuatu yang menghidupkan, menggairahkan dan memberdayakan. Hemat saya untuk itu kita senantiasa harus melakukan apa yang baik dan positif, senantiasa melihat dan mengangkat apa yang baik dan positif, baik yang  ada dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Dengan kata lain kita senantiasa berpikiran positif, senantiasa mengikuti dorongan dan bisikan Roh Kudus. Memang untuk itu kita harus dengan rendah hati membuka diri dan belajar terus-menerus memahami bahasa Roh Kudus, sehingga mahir akan Roh Kudus, ahli roh baik bukan ahli roh jahat atau setan. Roh Kudus 'menjiwai' semua ciptaan Allah yang ada di permukaan bumi ini, antara lain menganugerahi perkembangan dan pertumbuhan maupun perubahan ke arah yang baik menuju  ke kesempurnaan hidup. Marilah kita imani bahwa kegairahan, kegembiraan dan keceriaan hidup sungguh merupakan buah karya Roh Kudus. Orang yang hidup dijiwai oleh Roh Kudus juga anti kekerasan dalam bentuk apapun, cara hidup dan cara bertindaknya sungguh lemah-lembut dan sederhana, menunjukkan penyerahan diri secara total kepada dorongan dan bisikan Roh Kudus. Karya Roh Kudus memang lembut, berproses terus-menerus, tak tergoyahkan oleh aneka tantangan, masalah maupun hambatan.

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku." (Mzm 34:2-5)

Ign 10 April 2013