Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 29 Maret 2013

HR Paskah

HR PASKAH : Kis 10:33a.37-43; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9

"Selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati"

Post kematian seseorang, lebih-lebih yang mati seorang tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, pada umumnya mereka yang pernah mengenalnya ingat akan hal-hal baik dan penting yang pernah dilakukan atau dikatakan oleh yang baru saja meninggal tersebut, serta memahaminya dengan baik. Dengan kata lain kesadaran mendalam akan sesuatu memang sungguh membutuhkan waktu, apalagi sesuatu tersebut sangat berguna bagi kehidupan bersama. Hal yang demikian pernah saya peroleh dari beberapa alumni sekolah-sekolah tertentu, dimana selama sedang belajar di sekolah tersebut mereka tak memahami aneka kebijakan dan tindakan para gurunya, namun ketika telah berjalan lama dan setelah menjadi orang penting dalam karya atau hidup bersama orang yang bersangkutan memahami dengan baik dan benar apa yang pernah dikatakan oleh guru mereka dan dilakukan oleh guru mereka. Memang itulah arti suatu proses pendidikan atau pembinaan: kita mendidik anak-anak atau generasi muda untuk hidup 10 sampai 15 tahun yang akan datang. Demikian pula kami berharap kepada para orangtua dalam mendidik anak-anaknya hendaknya mengantisipasi apa yang akan terjadi 10 atau 15 tahun mendatang. Untuk itu semua hemat saya bekal yang harus kita sampaikan kepada anak-anak atau generasi muda adalah nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, bukan harta benda atau uang. Maka marilah kita renungkan apa arti iman kita kepada kebangkitan Yesus dari mati.

"Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati"(Yoh 20:5-9)

"Ia melihatnya dan percaya", itulah yang terjadi dalam diri Yohanes, murid terkasih Yesus, ketika ia melihat makam tempat Yesus dimakamkan kosong. Ia percaya bahwa Ia telah dibangkitkan dari mati sebagaimana pernah Ia sabdakan. Memang orang yang merasa sungguh dikasihi akan lebih ingat akan segala sesuatu daripada orang lain, ingat akan segala kata, nasihat, saran, ajaran atau cara hidup dari Dia yang telah mengasihinya. Dengan kata lain beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati diharapkan senantiasa hidup dan berindak dalam kasih. Marilah masing-masing dari kita ingat dan sadar bahwa kita dapat hidup, tumbuh-berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan oleh kasih, maka selanjutnya kita senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh terima kasih dan syukur.

Orang yang sungguh dijiwai oleh terima kasih dan syukur pada umumnya senantiasa hidup dan bertindak dengan penuh semangat, bergairah dan dinamis, yang menandakan bahwa orang yang bersangkutan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus. Maka kita yang beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati hendaknya dalam hidup dan bertindak kaapan pun dan dimana pun senantiasa bergairah, bersemangat dan dinamis, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Orang yang hidup dan bertindak demikian berarti dalam keadaan sehat wal'afiat secara lahir dan batin, karena semua syaraf berfungsi optimal, dan metabolisme darah baik adanya juga.

Hidup dan berkarya dijiwai oleh Roh Kudus antara lain berarti senantiasa hidup sesuai dengan kehendak dan perintah Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka pada Tahun Iman ini marilah kita giatkan pembacaan dan pendalaman Sabda, yang tertulis di dalam Kitab Suci. Hendaknya diingat, disadari dan dihayati bahwa yang penting dan utama bukan banyaknya pengetahuan perihal Kitab Suci, melainkan mencecap dalam-dalam apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Mungkin baik jika pembacaan, pendalaman dan pencecapan Sabda ini setiap hari dilakukan  di dalam keluarga kita masing-masing, dan ada kemungkinan setiap minggu di lingkungan umat, untuk bertukar pengalaman yang terjadi dalam keluarga kita masing-masing. Untuk itu pastor paroki atau ketua lingkungan hendaknya sungguh menggerakkan kegiatan lingkungan dalam rangka pendalaman iman atau Kitab Suci.

"Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan." (Kol 3:1-4)

Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak bersikap mental materialistis. Sikap mental materialistis telah merasuki hampir di semua bidang kehidupan, tak ketinggalan juga ada imam, bruder atau suster pun juga terjangkiti sikap mental materialistis ini. Memang para imam, bruder atau suster yang berkarya di kota-kota besar sungguh menghadapi godaan atau rayuan sikap mental materialistis, sehingga kita tidak handal spiritualitas atau kharismanya, maka dengan mudah mereka jatuh ke sikap mental materialistis. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, yang telah bangkit dari mati, kita semua dipanggil untuk mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas, yaitu hal rohani atau spiritual.

Mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas berarti hidup dari dan oleh Roh, sehingga menghayati keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan" (Gal 5:22). Dari keutamaan-keutamaan ini manakah yang kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan di lingkungan keluarga atau masyarakat kita masing-masing, kiranya masing-masing dari kita dapat memilihnya. Memang keutamaan yang paling dasar atau utama adalah 'kasih', apalagi masing-masing dari kita diciptakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, tanpa kasih kita tak mungkin dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Marilah kita hidup dan bertindak 'saling mengasihi' satu sama lain, yang berarti siap sedia mengasihi dan dikasihi. Pada masa kini hemat 'dikasihi' lebih sulit daripada 'mengasihi'. Ingat dan sadari dikasihi antara lain dapat berujud diberitahu, diajar, diejek, dikritik dst.. atau 'disalib'. Hendaknya menyikapi segala sapaan, sentuhan dan perlakuan orang lain terhadap diri kita sebagai perwujudan kasih mereka kepada kita.

 

"Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya." (Kis 10:42-43). Kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk menjadi saksi kebangkitanNya, sehingga semakin banyak orang percaya kepadaNya. "Barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya", inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan. Beriman berarti mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Marilah kita saling membantu dan bekerjasama dalam rangka mentaati dan melaksanakan perintah atau kehendak Allah, dan perintah atau kehendakNya antara lain dapat kita temukan di dalam Kitab Suci.

 

"Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"

(Mzm 118:1-2)

 

"SELAMAT PASKAH, MARILAH SALING BERSYUKUR DAN MENGASIHI"

 

Ign 31 Maret 2013


Malam Paskah

Malam Paskah

"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?"

Ketika baru saja ada orang dimakamkan di tempat pemakaman atau kuburan, pada umumnya banyak orang takut melewati daerah sekitar makam atau kuburan, apalagi masuk ke dalam kompleks kuburan dalam kesepian sendirian saja. Padahal jika dipikir secara logis apa yang ada di dalam kompleks kuburan adalah batu-batu nizan atau gundukan tanah, sebagai tanda ada mayat/orang yang sudah mati disemayamkan atau berada di bawah batu atau gundukan tanah tersebut, dengan kata lain adalah benda-benda mati. Ketakutan untuk pergi ke kuburan atau keluar rumah akan terjadi,  ketika yang dimakamkan adalah seorang tokoh yang dimusuhi banyak orang, para pengikut orang yang telah mati tersebut sungguh besar, takut kalau diketahui sebagai sahabat atau saudara dekat dari yang telah mati dan kemudian juga diancam untuk dibunuh. Memang setelah wafat Yesus di kayu salib para rasul bersembunyi di suatu tempat serta berdoa bersama, takut keluar. Maka sungguh menarik dan mengesan bahwa para perempuan tidak ketakutan, dan memang sering kurang diperhitungkan dalam percaturan social maupun politik; pagi-pagi benar mereka pergi ke makam. Marilah kita renungkan apa arti kebangkitan Yesus dari mati.

"Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?" (Luk 24:1-5)

Kebanyakan orang di hari minggu pagi-pagi benar kiranya masih tertidur pulas, menikmati istirahat panjang setelah semalam begadang. Para perempuan yang pagi-pagi benar pergi ke makam Yesus adalah mereka yang sungguh merasa dikasihi olehNya, dan pada umumnya perempuan juga lebih peka dalam hal-hal kecil dan sederhana daripada laki-laki. Dalam kepekaan mereka, mereka ingat bahwa ada kekurangan dalam pemakaman Yesus, karena tergesa-gesa, yaitu belum diminyaki sebagaimana layaknya, maka karena kasihNya mereka tak takut pagi-pagi benar pergi ke makam. Bagi orang-orang tertentu pasti ketakutan akan lebih besar ketika di makam tiba-tiba muncul orang berpakaian yang berkilau-kilauan, sebagaimana juga dialami oleh para perempuan tersebut. Dalam ketakutan tiba-tiba yang berpakaian berkilau-kilauan berkata "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?". Orang yang berpakaian tersebut tidak lain adalah malaikat, dengan kata lain tak usah takut karena di makam atau kuburan kita juga dapat bertemu dengan malaikat.

Kata-kata malaikat bagi para perempuan maupun para rasul tak terfahami apa maksudnya, dan mereka bertanya-tanya dalam hati apa arti semua yang telah terjadi bahwa Yesus yang dimakamkan tidak ada lagi di makam. Beriman kepada Yesus Kristus berarti mengimani kebangkitanNya dari mati, serta kemudian hidup dijiwai oleh RohNya, Roh Kudus. Maka marilah kita renungkan kata-kata malaikat di atas. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk mencari dan menjumpai Tuhan dalam diri orang-orang yang hidup. Orang yang sungguh hidup pada umum penuh harapan, bergairah dan bergembira, ceria, sebagaimana terjadi dalam tanaman yang hidup, segar dan berkembang terus serta akhirnya menghasilkan buah melimpah yang berguna bagi umat manusia.

Di dalam hidup sehari-hari kiranya lebih banyak kita temui atau jumpai orang-orang yang sungguh bergairah dan dinamis daripada yan frustrasi atau lesu. Baiklah kita imani bahwa kegairahan yang ada  baik dalam diri kita maupun saudara-saudari kita sebagai karya Allah, yang bagi kita umat yang percaya kepada Yesus berarti karya Roh Kudus, Roh Yesus, yang telah wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati. "Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan' , itulah panggilan kita sebagai orang yang percaya kepada wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Tuhan berkarya melalui ciptaan-ciptaanNya di bumi ini, melalui manusia, binatang dan tanaman atau tumbuh-tumbuhan, maka hendaknya kita sungguh menaruh hormat dan mengasihi ciptaan-ciptaanNya sebagai dikehendakiNya untuk merawat dan mengurus semua ciptaanNya di bumi ini. Pada masa kini lingkungan hidup sungguh memprihatinkan, pemanasan global semakin menjadi nyata, iklim tak menentu lagi, dan semuanya itu terjadi antara lain karena keserakahan manusia dalam mengkomsumsi alam guna kepentingan komersial. Maka dengan ini kami mengajak kita semua, ciptaan Allah terluhur dan termulia di bumi ini untuk menghayati diri sebagai gambar dan citraNya serta menghormati, merawat dan mengasihi ciptaan-ciptaan lain demi keselamatan jiwa seluruh umat manusia.

"Jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia" (Rm 6:5-9)

Semoga dengan kebangkitan Yesus dari mati juga membangkitkan semangat atau gairah hidup kita dalam rangka meninggalkan dosa atau perbuatan jahat serta berusaha dengan bekerja keras hidup dan bertindak dijiwai oleh RohNya, senantiasa melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, teutama keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia. Malam ini kita semua memperbaharui janji baptis, yang intinya kita berjanji hanya akan mengabdi Allah saja serta menolak semua godaan setan, maka semoga setelah pembaharuan janji baptis ini kita sungguh setia dalam mengabdi Allah dan menolak godaan setan.

Kehendak dan perintah Allah antara lain kita temukan dalam niat dan kehendak baik kita masing-masing, maka semoga tidak berhenti dalam niat dan kehendak saja, melainkan sungguh menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Niat dan kehendak baik kita kiranya berbeda satu sama lain, maka marilah kita sinerjikan dengan saling tukar dan menerima niat dan kehendak antar kita, dan sekiranya kemudian terjadi keragaman dalam tindakan atau perilaku, hendaknya kita saling menghormati dan menghargai, karena kita semua memang serba terbatas. Dengan kata lain hendaknya terjadi keterbukan hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tenaga dalam diri kita masing-masing.

Paus Fransiskus I mengajak kita untuk senantiasa memberikan hidup baik kepada generasi muda, yang berarti generasi tua diharapkan baik adanya sehingga mampu memberikan hidup baik kepada generasi muda. Perhatian kepada generasi muda dalam kerasulan atau pelayanan apapun kami harapkan dapat diwujudkan, karena mereka ada masa depan kita. Tidak memperhatikan generasi muda berarti tidak memiliki masa depan yang baik. Dari generasi muda kita juga dapat belajar kegairahan dan semangat hidup mereka, yang serba ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru, sebagai tanda bahwa Allah sungguh berkarya dalam diri mereka. Salah satu semangat yang diharapkan adalah 'dengan dan dalam semangat cintakasih serta kebebasan Injili' kita mendampingi generasi muda, orangtua mendidik dan membina anak-anaknya. Kami juga berharap tidak terjadi pemanjaan dalam aneka bentuk kepada generasi muda maupun anak-anak.

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu."

 (Mzm 51:12-15)

'SELAMAT PASKAH

DAN MARILAH KITA BANGKIT DAN BERGAIRAH, ALLELUYA"

 


Jumat Agung

Jumat Agung: Yes 52:13-52:12; Ibr 4:14-16;5:7-9; Yoh 18:1-19:42

"Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air"

Entah berapa kali sebagai orang katolik kita membuat tanda salib kiranya tak seorang dari kita ingat dan sempat menghitung, demikian juga berapa salib telah dipasang di rumah atau tempat kerja (karena sering ganti salib) kiranya juga tidak sempat menghitung. Banyak dari kita juga mengenakan salib di dada atau sebagai kalung, dan kiranya hal itu juga lebih berfungsi atau dihayati sebagai hiasan atau assesori. Salib bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus merupakan puncak iman, yang diharapkan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, maka pada hari raya Jumat Agung dalam rangka mengenangkan wafat Yesus di kayu salib sebagai pemenuhan tugas pengutusanNya hari ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri, dan secara kebetulan tema APP 2013 cocok bagi kita untuk mawas diri, yaitu "SEMAKIN BERIMAN DENGAN BEKERJA KERAS DAN MENGHAYATI MISTERI SALIB TUHAN". Tema ini sejak hari Rabu Abu, mengawali masa Prapaskah, masa Tobat, kita renungkan dan refleksikan melalui aneka kegiatan, maka sejauh mana tema tersebut telah merasuki diri kita, menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita.

"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya." (Yoh 19:26-27)

Apa yang disabdakan oleh Yesus di atas ini kiranya merupakan pesan terakhir sebelum wafat di kayu salib, dan pada umumnya pesan terakhir dari orang yang mau meninggal atau dipanggil Tuhan menjadi pegangan atau acuan hidup dan bertindak bagi anggota keluarga atau kerabat dekat. Dengan kata lain kami berharap semoga pesan terakhir Yesus kepada Yohanes, murid terkasih, juga menjadi acuan atau pedoman hidup dan bertindak kita. Kita semua dipanggil meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman dalam menelusuri 'via dolorosa', jalan penderitaan menuju salib. Sejak menanggapi panggilan Allah untuk menjadi Bunda Penyelamat Dunia, sebagai perawan yang mengandung karena Roh Kudus, Bunda Maria telah berpartisipasi dalam penderitaan sebagai konsekwensi kesetiaan dan ketaatan pada panggilan Allah. Maka perkenankan saya mengajak anda sekalian untuk mawas  diri perihal ketaatan.

Ketika membuat tanda salib kita menepuk kepala/otak, dada/hati/jantung dan bahu seraya berkata "Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus". Hal ini berarti kita diharapkan memiliki cara berpikir Yesus, meneladan Hati Yesus dan cara hidup serta cara bertindakNya. Dan hemat saya ketaatan sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak Yesus. Maka perkenankan saya mengutip "Ketaatan dalam 12 Kata Bijak Bapa Ignatius Loyola" (J.Darminta SJ: Ketaatan, Surat Santo Ignatius kepada para Yesuit di Potugal, April 2009, hal 39-40), mungkin dapat membantu refleksi kita. 12 Kata Bijak tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Haruslah kita setuju sekata dengan Gereja Katolik: Sesuatu yang kita lihat putih, tetapi sebenarnya hitam oleh Gereja, haruslah kita mengatakan hitam

2.      Inilah pedoman utama bertindak: sedemikian percayalah kepada Allah, seolah-olah segala sesuatu tergantung pada kalian, tak satu pun pada Allah, tetapi, bekerjalah seolah-olah kalian tidak berbuat apa-apa, dan Allahlah yang akan melakukan semuanya

3.      Pekerja di kebun anggur Tuhan haruslah satu kaki menginjak di tanah, kaki lain terangkat untuk dapat segera melangkah

4.      Mereka yang taat hanya dalam kehendak, tanpa akal, berjalan dalam hidup religious dengan satu kaki

5.      Mau dan tak mau tidak berdiam di rumah kita

6.      Mengalahkan kehendak sendiri adalah perbuatan lebih agung daripada membangkitkan orang-orang mati

7.      Sungguh seorang religious dia, yang tidak hanya secara batiniah merdeka dari dunia, tetapi juga dari diri sendiri

8.      Pengalaman biasanya mengajarkan bahwa dimana banyak pertentangan, di situ akan banyak buah

9.      Setan akan menyerang manusia: pertama-tama menyelidiki bagian  mana yang lebih lemah, dan bagian mana yang lebih mudah diabaikan; lalu menggerakkan naluri-nalurinya dan mempengaruhinya

10.  Tingkat keutamaan mana pun yang tak dapat diraih oleh orang malas selama bertahun-tahun, akan dapat dicapai oleh orang tekun dalam waktu singkat

11.  Mereka yang tak sudi dan tak setuju, namun kenyataannya melakukan perintah-perintah Pembesar, haruslah dihitung berada di antara budak-budak belian yang paling hina

12.  Taklukkanlah dirimu sendiri, sebab dengan mengalahkan diri sendiri engkau akan menerima mahkota lebih cemerlang di surge daripada mereka yang lebih lembut karena pembawaan.

"Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibr 4:14-16)

 Salib diatur di etalase toko merupakan barang dagangan atau komersial, salib dipasang di dinding bangunan atau didada orang berfungsi sebagai hiasan, salib teronggok di gudang merupakan barang bekas/rongsokan, barang dibuang sayang, salib ditaruh di atas kepala maka orang yang bersangkutan akan dituduh sinthing, demikian juga salib dipasang di puncak bangunan akan mengundang perhatian. Yesus disalibkan di puncak bukit Kalvari, dalam tempat tertinggi di daerah itu, yang berarti menghubungkan dunia dan surga, bumi dan langit. Dengan kata lain Yang Tersalib memang menjadi penghubung antara Allah dan manusia.

Anggota tubuh kita yang kelihatan dan senada dengan 'salib' hemat saya adalah leher, dimana melalui leher makanan, minuman dan udara segar lewat dari luar masuk ke dalam perut; leher tak mungkin dapat menyakiti anggota lain atau orang lain, sedangkan anggota tubuh lain dapat menyakiti orang lain, dalam hal makanan dan minuman maupun udara leher tak pernah melakukan korupsi sedikitpun, sedangkan mulut dapat korupsi karena pasti masih ada makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita diharapkan dapat menjadi 'leher', penyalur berkat Allah kepada umat manusia dan doa, dambaan, kerinduan umat manusia kepada Allah, dan secara khusus hemat saya hal ini harus terjadi dalam diri seorang imam. Leher kiranya dapat menjadi symbol ketaatan dan kerendahan hati, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk hidup dan bertindak dengan taat dan rendah hati, agar dengan demikian dapat menjadi penyalur berkat Allah kepada umat manusia dan dambaan, kerinduan, keluh-kesah umat manusia kepada Allah.

Dalam ketaatan marilah kita taati dan hayati ajakan Gereja kepada para imam atau klerus, lebih-lebih yang terkait dengan sikap mental materialistis yang sungguh merebak dan merajalela pada masa kini. "Para klerikus hendaknya hidup sederhana dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang memberi kesan kesia-siaan" (KHK kan 282 $1). Marilah kita ingat bahwa Paus kita yang baru, Paus Fransiskus I, telah menunjukkan kesederhanaan, dan kiranya seluruh umat Allah juga dipanggil untuk sederhana dan untuk itu hendaknya rekan-rekan imam/klerus dapat menjadi teladan dalam hal kesederhanaan. Kami berharap kepada segenap Umat Allah tidak memanjakan imam-imamnya, dan hendaknya dengan rendah hati berani mengingatkan rekan-rekan imam yang tidak sederhana untuk hidup dan bertindak sederhana.

"Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku" (Mzm 31:12-13.15-16)

Ign 29 Maret 2013