Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 15 Maret 2013

Minggu Prapaskah V

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

"Setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua"

Sebut saja namanya Bapak Artomoro, yang boleh diartikan bapak yang senantiasa mendambakan uang atau harta benda mengalir deras mendatangi, dengan kata lain orang yang bersikap mental materialistis. Pada suatu hari dengan geram ia memarahi anak-anaknya, karena anak-anak kurang taat kepada bapak-ibunya dan melakukan apapun sesuai dengan selera atau keinginannya sendiri. "Kamu ini anak-anaknya siapa, sungguh memalukan dan memprihatinkan cara hidup dan cara bertindakmu", demikian kata sang bapak dalam kemarahannya. "Lho, kami ini khan anak-anak bapak-ibu", jawab anak-anak dengan sedikit takut. Kemarahan orangtua terhadap anak-anaknya, pemimpin terhadap anggota-anggotanya, atasan terhadap bawahan-bawahannya sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, dan sering hal itu untuk menunjukkan kewibawaan orangtua, atasan atau pemimpin. Begitulah yang sering terjadi bahwa semakin tua dan semakin tinggi fungsi atau jabatannya orang merasa diri lebih baik daripada yang lain alias sombong. Bukanlah semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga bertambah dosanya, sebagaimana terjadi dalam kisah dalam Warta Gembira hari ini ketika Yesus bersabda bahwa yang tidak berdosa silahkan melempar batu pertama kali kepada pelacur yang tertangkap basah dan akhirnya yang paling tua lebih dahulu mengundurkan diri. Maka marilah kita renungkan apa isi Warta Gembira hari ini.

"Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya." (Yoh 8:7-9)

"Siapakah Yesuit itu? Yesuit ialah orang yang mengakui dirinya pendosa, tetapi tahu bahwa dipanggil menjadi sahabat Yesus seperti Ignatius dahulu, Ignatius minta kepada Santa Perawan, 'agar menempatkan dia disamping Puteranya', dan kemudian Ignatius melihat Bapa sendiri minta kepada Yesus yang memanggul salib, agar menerima si musafir ini dalam kalangan sahabatnya" (Konjen SJ ke 32, dekrit 2.1). Dalam Konggregasi Jendral ini adalah tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka penting Serikat Yesus. Memang pernyataan iman tersebut sedikit banyak terpengaruh oleh sapaan Paus Yohanes Paulus II kepada para peserta Konggregasi Jendral yang mengadap Yang Mulia :"Dari mana asalmu? Dimana saat ini anda berada? Kemana anda mau pergi?".

Sapaan Paus kepada para Yesuit tersebut di atas kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi kita juga. Kita semua berasal dari Allah dan kiranya di awal hidup kita di dunia ini dalam keadaan suci, bersih dan tak berdosa sedikitpun, namun karena kelemahan dan kerapuhan kita sebagai manusia yang berasal dari 'tanah' dengan mudah kita mencemari kesucian kita dalam perjalanan waktu. Semakin tambah pengalaman dan tambah usia semakin banyak dosa yang kita lakukan, itulah kebenaran iman sejati. Pada saat ini di dunia, dalam hidup bersama kita menghadapi aneka rayuan dan godaan untuk berbuat dosa, dan dengan mudah kita tergerak mengikuti rayuan dan godaan tersebut, karena egois dan semangat materialistis kita. Maka selayaknya jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai orang berdosa, dan jika kita dapat melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan sungguh merupakan karya atau penyelenggaraan Ilahi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain kita juga telah menerima kasih pengampunan dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, maka apa yang hendaknya kita lakukan selanjutnya atau "kemana kita mau pergi melangkah?"

Kita semua diharapkan untuk pergi melangkah menuju ke 'tinggal bersama Yesus' alias menjadi sahabat-sahabat Yesus. Menjadi sahabat-sahabat Yesus antara lain senantiasa siap sedia meneladanNya dalam 'memanggul atau memikul salib'. APP tahun ini mengajak kita untuk mendalami dan menghayati tema "Bekerja Keras dan berpartisipasi Menghayati  Salib Yesus". Maka marilah kita mawas diri sejauh mana kita telah bekerja keras dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, yang memang tak akan terlepas dari aneka penderitaan dan pengorbanan maupun perjuangan. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10).

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya"(Fil 3:8).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk semakin mengenalNya serta menjadi sahabat-sahabatNya yang handal, tangguh dan berkompeten, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita meneladan cara hidup dan cara bertindakNya maupun senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya dimana pun dan kapan pun. Maka hendaknya segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai pada saat ini sungguh difungsikan untuk semakin mengenal dan menjadi sahabatNya, dengan kata lain memfungsikan segala sesuatu sebagai jalan atau wahana agar kita semakin memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, entah dalam atau melalui ibadat maupun kerja atau pelayanan kita setiap hari.

Kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati ada dalam kesatuan dan kebersaman dengan Tuhan, dan memang untuk mengusahakan atau mencapainya kita perlu 'menghayati salib Yesus Kristus' alias membaktikan hidup sepenuhnya kepada panggilan, tugas pengutusan maupun kewajiban. Dengan kata lain kami ajak anda sekalian untuk meninggalkan aneka bentuk kemalasan dan hidup seenaknya hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Dalam hidup dan kerja dimana pun dan kapan pun pasti ada tata tertib atau aturan yang harus kita lakukan atau hayati, maka pertama-tama dalam mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan hendaknya setia menghayati atau melaksanakan tata tertib atau aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Kami mengajak anda sekalian untuk menyikapi dan menghayati aneka tata tertib dan aturan bukan sebagai beban atau perintah, melainkan sebagai kebutuhan atau sarana dan jalan mengusahakan kemuliaan, kesejahteraan dan kebahagiaan sejati. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk setia melaksanakan tata tertib dan aturan, misalnya tata tertib dan aturan di dalam keluarga, yang kemudian diperdalam dan diperkembangkan di tempat pendidikan formal, mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dst… Ketika anak-anak di dalam keluarga biasa hidup tertib dan teratur, maka percayalah di kemudian hari mereka akan hidup tertib dan teratur dimana pun dan kapan pun. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua untuk dapat menjadi teladan dalam penghayatan atau pelaksanaan tata tertib dan aturan, dan tentu saja anda berdua setia saling mengasihi sebagai suami-isteri sampai mati.

"Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya." (Mzm 126)

Ign 17 Maret 2013

        


16Maret

"Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!"

(Yer 11:18-20; Yoh 7:40-53)

"Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!" Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: "Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya" (Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin Yesus membuka DiriNya semakin menimbulkan pertentangan, dan ternyata di antara orang-orang Farisi dan ahli Taurat juga muncul perselisihan, dimana muncul "Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepadaNya". Para penjaga, utusan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang diberi tugas untuk mengamat-amati dan menangkap Yesus pun akhirnya terkesan kepadaNya dengan berkata :"Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu". Nikodemus sendiri mengingatkanb bahwa untuk mengadili dan menghukum orang menurut Taurat orang yang bersangkutan harus didengarkan lebih dahulu, dengan kata lain perlu penelitian atau 'diagnose' yang memadai. Sikap orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang tergesa-gesa mengadili dan menghukum orang tanpa penelitian yang memadai ini kiranya sering terjadi juga di antara para dokter dalam mengambil keputusan untuk mengoperasi pasien atau menentukan penyakit seseorang, demikian juga secara sandiwara terjadi di proses pengadilan kita. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan kita semua pentingnya penelitian atau diagnose yang memadai sebelum menentukan kebijakan atau langkah strategis. Memang bangsa kita kurang menghargai pentingnya penelitian atau diagnose, sehingga senantiasa boleh dikatakan ketinggalan zaman, sebagaimana terjadi dalam pendidikan. Sejak dahulu ganti Menteri Pendidikan senantiasa ganti kebijakan atau kurikulum, yang konon merupakan pembaharuan yang dibutuhkan, padahal kebijakan yang dimaksud hanya berdasarkan kasus tertentu saja. Hal itu kiranya merupakan buah pendidikan kita yang kurang memperhatikan eksplorasi dalam proses pembelajaran, dan lebih cenderung menghafal. Sebagai orang beriman marilah kita setia dan rajin mengadakan refleksi atau pemeriksaan batin setiap hari, menjelang istirahat malam.

·   "TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku" (Yer 11:20). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa ketika kita menghadapi masalah, perkara atau persoalan atau tantangan dan hambatan, hendaknya dengan rendah hati mohon pencerahan atau penerangan dari Allah, agar dalam terang Allah kita mengambil langkah dan kebijakan, sebagaimana juga dihayati dalam Konkraf oleh para Kardinal yang berdoa mohon pencerahan dan penerangan guna memilih Paus, Gembala Gereja Katolik, Penerus Tahta St.Petrus dan karya penyelamatan Yesus Kristus. "Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku", demikian doa yang kiranya menjadi pegangan atau pedoman kita dalam berdoa maupun bertindak. Jika kita maju, tumbuh berkembang dalam hal penghayatan hidup beriman kiranya akan menghadapi banyak perkara, maka persembahkan perkara-perkara yang ada kepada Allah, dan jangan ditangani atau dipecahkan sendiri. Dan kiranya  kita juga perlu minta bantuan atau sumbangan orang lain dalam rangka menangani atau memecahkan perkara. Dalam kebersamaan dan Allah dan saudara-saudari kita, maka kita akan sukses menangani aneka perkara yang kita hadapi. Dengan kata lain hendaknya kita saling membantu dalam menghadapi aneka perkara kehidupan, bergotong-royong dalam mengemban tugas pengutusan dan beban.

"Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat" (Mzm 7:9b-12)

Ign 16 Maret 2013


Kamis, 14 Maret 2013

15Maret

"Tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia sebab saatNya belum tiba"

(Keb 2:1a.12-22; Yoh 7:1-2.10.25-30)

" Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya." Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba" (Yoh 7:1-2.10.25-30)

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin Yesus membuka Diri semakin orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak memahamiNya, dan semakin tergerak untuk menangkapNya alias membungkamNya, sehingga Yesus tidak dapat berbicara seenaknya. Pengalaman yang demikian ini ada kemungkinan juga terjadi dalam kebersamaan kita dimana ketika kita saling membuka diri semakin kelihatan banyak perbedaan dan banyak hal kurang kita fahami atau kurang kita terima, sehingga mendorong kita untuk menyingkirkannya. Dalam hal relasi pasangan suami-isteri yang belum lama menikah kiranya hal ini juga dapat terjadi, mengingat dan memperhatikan pada umumnya pada masa pacaran maupun tunangan orang masih bermain sandiwara, demikian juga dapat terjadi dalam diri para imam, bruder, suster muda, dimana pada masa pendidikan pada umumnya juga masih terjadi sandiwara kehidupan. Semakin kenal, semakin dekat dan semakin lama bergaul dan bekerja bersama akan semakin banyak hal baru yang tidak kita ketahui atau fahami dengan baik. Semoga kita tidak tergerak untuk menyingkirkan atau membungkam mereka yang tak terfahami atau ketahui dengan baik, melainkan bersabarlah pada waktunya kita pasti akan mengetahui dan memahaminya. Untuk itu kita semua hendaknya dengan penuh kesabaran dan rendah hati berusaha saling memahami dan mengetahui dan tentu saja semakin menghayati keterbasan dirinya. Kepada pasangan suami-isteri muda kami harapkan tidak mudah bercerai atau bertengkar karena munculnya perbedaan-perbedaan yang ada. Kepada para pendidik atau guru hendaknya juga memahami dan mengerti perbedaan yang ada dengan para murid atau peserta didik, dan semoga anda tidak memproyeksikan diri pada para murid atau peserta didik.

·   "Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan." Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka.Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni" (Keb 2:19-22).  Aniaya dan siksa pasti akan dihadapi oleh orang-orang yang bertindak benar, jujur dan disipin, setia dan teratur dalam cara hidup dan cara bertindak. Aniaya dan siksa itu dapat dapat berasal dari dirinya sendiri atau dari luar. Untuk berusaha hidup suci dan murni memang tak akan terlepas dari aneka tantangan, hambatan dan masalah, namun demikian hadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan bersama dan bersatu dengan Allah, karena Allah pasti menolong atau membantu kita yang lemah dan rapuh ini. Jadikan aniaya dan siksaan sebagai wahana penyucian atau pemurnian diri, bagaikan emas dibakar untuk mencari kemurniannya. Dalam menghadapi aniaya dan siksaan hendaknya kita tetap lemah lembut dan sabar, karena dengan demikian kita juga akan semakin lemah lembut dan sabar, dan orang yang lemah lembut serta sabar menjadi kesayangan Allah. Semua orang sehat kiranya mendambakan disayangi oleh Allah kapan pun dan dimana pun, maka baiklah jika senantiasa lemah lembut dan sabar dalam menghadapi gelora kehidupan yang sering menghempas dan mengombang-ambingkan kita. Hendaknya tetap berpegang teguh pada kehendak Allah dalam menghadapi gelora kehidupan yang mengombang-ambingkan kehidupan kita.

"Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu" (Mzm 34:17-20)

Ign 15 Maret 2013