Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 02 Februari 2013

Mg Biasa IV


Mg Biasa IV: Yer 1:4-5.17-19; 1Kor 12:31-13:13; Luk 4:21-30
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya."
"Orientasi luar negeri", entah dalam hal pendidikan maupun aneka macam jenis produk, khususnya bagi orang berduit atau kaya raya, menjadi pilihan. Hal ini terjadi entah demi gengsi atau memang dalam kenyataan apa yang ada di dalam negeri kurang bermutu, mengingat dan memperhatikan bahwa bangsa kita kurang mengedepankan mutu. Pendidikan sejak dulu tidak berkembang mutunya atau bahkan malah merosot, generasi muda dalam hal musik atau seni juga lebih menyenangi produk luar negeri, demikian juga dalam hal perfilman. Maka memang tidak mengherankan jika orang lebih menghargai sarjana-sarjana atau doktor-doktor hasil didikan luar negeri daripada dari negeri sendiri, demikian juga dalam hal aneka produk tehnologi. Maka juga boleh dikatakan bahwa sikap mental bangsa kita masih 'konsumptif' daripada 'produktif', hal ini kiranya juga merupakan produk karya pendidikan kita yang pada umumnya lebih berorientasi pada hafalan daripada eksplorasi. Sabda hari ini memang mengingatkan dan mengajak kita semua untuk memperhatikan mutu dalam berproduksi, demikian juga senantiasa berusaha menghargai produk negeri sendiri.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon." (Luk 4:24-26)
Apa yang disebut nabi tidak lain adalah pembawa kebenaran-kebenaran atau penerus suara Allah atau kehendak Allah. Hemat saya di lingkungan hidup kita, dalam diri saudara-saudari kita dapat kita temukan kebenaran-kebenaran atau kehendak Allah, antara lain menggejala dalam diri saudara-saudari kita yang berkehendak baik, atau dapat kita temukan dalam apa-apa yang baik, mulia dan luhur dalam diri kita maupun saudara-saudari kita. Jika kita tidak dapat menghargai milik atau produk sendiri, hemat saya menghargai produk orang lain merupakan pelarian dari tanggungjawab, sebagaimana terjadi dalam diri orang yang berselingkuh, memiliki WIL atau PIL, dengan melacurkan diri.
Orang kurang menghargai produk sendiri kiranya juga semakin kuat dan dapat diperhatikan dalam mencukupi kebutuhan makan dan minum setiap hari, dimana orang lebih senang membeli makanan dan minuman di restaurant atau warung makan daripada memasak sendiri. Demi alasan efisien orang lebih suka mengkomsumsi makanan dan minuman dari restaurant atau warung makan. Apa yang terjadi dalam hal makan dan minum inilah yang akhirnya menjiwai banyak orang kurang menghargai 'nabi' dari tempat asalnya sendiri. Maka hemat saya membiasakan kembali menikmati makanan dan minuman yang dimasak atau diproduksi sendiri merupakan langkah awal dan baik dalam rangka menghargai 'nabi' dari tempat asalnya sendiri. Untuk itu kami berharap kepada para ibu berusaha setiap hari menyiapkan makanan dan minuman sendiri bagi seluruh anggota keluarganya, dan tentu saja segenap anggota keluarga juga mendukung hal ini, tidak dengan mudah jajan di warung makan atau di restaurant.
Contoh lain perihal nabi di tempat asalnya sendiri yang kurang atau tidak dihargai adalah para peneliti kita. Cukup banyak penelitian diusahakan dengan dukungan dana atau beaya dari sponsor luar negeri karena pemerintah kita kurang memperhatikannya dengan memberi dana yang dibutuhkan untuk penelitian. Tentu saja hasil penelitian pertama-tama dilaporkan kepada dan dinikmati oleh pihak sponsor yang mendukung dana. Karena kita kurang memperhatikan dan menghargai penelitian, maka tidak mengherankan bahwa negeri kita senantiasa ketinggalan. Memberi perhatian pada penelitian akan terjadi ketika orang terbiasa mawas diri atau mengadakan penelitian/pemeriksaan batin setiap hari. Kebiasaan berrefleksi atau pemeriksaan batin akan menumbuh-kembangkan penghargaan terhadap produk sendiri atau menghargai nabi yang berasal dari daerah diri sendiri. Marilah kita saling membantu dalam pengembangan dan pendalaman refleksi atau pemeriksaan batin, serta kemudian saling menghargai dan menghormati saudara-saudari sendiri.
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap"(1Kor 13:4-8)
Kutipan diatas ini oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, pengarang buku "Spiritual Intelligence" (=Kecerdasan Spiritual) merupakan syair perihal cintakasih yang terhebat tiada bandingnya di seluruh dunia. Cintakasih kiranya juga merupakan ajaran semua agama atau orang-orang baik dan bijak. Kutipan di atas sering juga menjadi bacaan pertama dalam Misa Perkawinan, karena cintakasih lah yang mendasari dan mengikat laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama, saling mengasihi satu sama lain sampai mati sebagai suami-isteri. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling mengasihi satu sama lain.
Baiklah dari litani kasih Paulus di atas kami angkat perihal "tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain", mengingat dan memperhatikan kecenderungan banyak orang untuk mengingat-ingat kesalahan orang lain, yang menjadi akar kemarahan kepada yang lain. Kami percaya bahwa kita semua sebagai orang yang lemah dan rapuh pasti sering membuat kesalahan atau kekeliruan. Bukankah pada umumnya ketika kita melakukan kesalahan atau kekeliruan maka orang lain tidak memarahi kita alias mengampuninya, antara lain dengan mendiamkannya atau tidak mengangkat-angkat lagi kesalahan atau kekeliruan kita? Dengan kata lain kita semua telah menerima kasih pengampunan yang melimpah dari Allah melalui saudara-saudari kita.
Orang yang suka menyimpan kesalahan orang lain pada umumnya juga suka menyimpan kesalahannya sendiri dan dengan demikian akan menjadi orang penakut, minder serta merasa dirinya terancam terus menerus. Orang yang demikian tentu tidak akan tumbuh berkembang dengan baik. Kasih pengampunan memang menjadi dasar dan kekuatan dalam hidup bersama yang damai sejahtera, aman dan tenteram, maka marilah kita senantiasa hidup saling mengampuni agar kita juga terbebaskan dari tindakan marah.
Marah berarti mendambakan apa atau siapa yang saya marahi tidak ada atau melecehkan atau merendahkan apa atau siapa yang kita marahi. Menyimpan kesalahan orang lain serta marah berarti mengembangkan dan memperluas permusuhan atau pertengkaran. Kita semua mendambakan hidup damai sejahtera, maka marilah kita tidak pernah marah terhadap diri sendiri maupun orang lain, melainkan saling menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi dalam situasi atau kondisi apapun, dimana pun dan kapan pun. Semoga siapapun yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hidup saling mengasihi dan mengampuni, tidak pernah marah serta tidak pernah menyimpan kesalahan orang lain.
"Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik" (Mzm 71:1-4a)
Ign 3 Februari 2013
 

Kamis, 31 Januari 2013

2Feb


"Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah"
(Ibr 2:14-18; Luk 2:22-32)
"Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." (Luk 2:22-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan 'Yesus dipersembahkan di Kenisah' hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini merupakan anugerah Allah yang kita terima melalui sekian banyak orang yang memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka macam bentuk dan kesempatan. Karena semuanya adalah anugerah Allah, maka selayaknya sebagai orang beriman atau beragama kita mempersembahkan diri kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai kepada Allah. Dengan kata lain hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Allah. Secara khusus kiranya kita semua juga diingatkan, terutama atau lebih-lebih bagi para murid Yesus Kristus, entah beragama Katolik maupun Kristen, untuk mempersembahkan anak laki-lakinya kepada Allah, misalnya menjadi imam/ pastor atau pendeta. Kepada anda semua yang hidup berkeluarga dan memiliki anak kami ajak untuk mendidik dan membina anak-anaknya sedemikian rupa sehingga cara hidup dan cara bertindaknya sesuai dengan kehendak Allah, alias anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Ketika anak-anak anda tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, maka hemat saya pada masa tua anda dapat berkata seperti Simeon:"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu"
·   "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani" (Ibr 2:14-16). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua, umat beriman, untuk senantiasa saling memperhatikan dan mengasihi satu sama lain, karena kita sama-sama 'keturunan Abraham'. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk bersama-sama, bergotong-royong memerangi dan memberantas aneka kejahatan sebagai wujud penghayatan atas godaan Iblis. Kejahatan yang sampai kini masih marak dan sungguh memprihatinkan hemat saya adalah korupsi. Tindakan korupsi merupakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama tidak sedap lagi. Sungguh memprihatinkan bahwa mereka yang seharusnya menegakkan kebenaran dan kejujuran sering malah melakukan korupsi atau kebohongan (misalnya ahli hukum atau polisi). Demikian juga dua departemen yang bertugas membina manusia, yaitu Departemen Pendidikan dan Departemen Agama, masih sarat dengan korupsi, atau boleh dikatakan di dua departemen ini korupsi paling banyak dilakukan. Kepada mereka yang masih menjadi hamba-hamba Iblis, kami harapkan segera bertobat. Kami berharap anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dalam hal kejujuran dan kedisiplinan, serta kemudian diperkembangkan dan diperdalam di sekolah-sekolah.
"Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!"Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!" (Mzm 24:7-10)
2 Februari 2013

Rabu, 30 Januari 2013

1Feb


"Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah"
(Ibr 10:32-39; Mrk 4:26-34)
" Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri" (Mrk 4:26-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·    Apa yang hidup di bumi ini: manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, bermula dari sel yang sangat kecil dan dalam waktu yang relatif tidak lama tumbuh berkembang menjadi besar serta dapat menghasilkan buah yang sangat bermanfaat demi kelangsungan kehidupan. Itulah karya penciptaan agung Allah yang luar biasa. Demikian juga kehidupan beragama, dimana bermula dari satu orang yang menerima tugas pengutusan dari Allah menyampaikan ajaran atau pesan dari Allah, dan tidak begitu lama telah banyak orang mengikutinya. Allah yang meraja dan berkuasa memang bekerja terus-menerus tiada henti: menciptakan dan menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan kepada apa yang telah diciptakanNya. Maka dengan ini kami berharap kepada segenap umat beriman, memiliki iman sekecil apapun, kami harapkan terus-menerus mengembangkan dan memperdalam imannya. Pengembangan dan pendalaman iman dapat dilakukan dengan saling bercuhat dengan rekan seiman lain atau membaca dan merenungkan serta mencecap dalam-dalam ajaran agama yang bersangkutan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Memang dari diri kita dituntut keterbukaan diri yang dijiwai oleh kerendahan hati, siap sedia dan rela berkorban untuk tumbuh dan berkembang terus-menerus. Kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah, tidak hanya beranak-cucu sebagaimana dihayati oleh mereka yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, melainka mengembangkan dan memperdalam kehendak dan perintah Allah, sehingga seluruh dunia seisinya sungguh dirajai atau dikuasai oleh Allah, terutama manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah.
·   "Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian" (Ibr 10:32-33). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua untuk menghargai sejarah, memang cukup memprihatinkan bahwa di sekolah-sekolah mata pelajaran sejarah kurang memperoleh perhatian yang memadai. Sebagai warganegara Indonesia kami harapkan kita mengenal dengan baik sejarah kemerdekaan Negara kita tercinta ini, dimana para pejuang kemerdekaan yang sungguh cerdas beriman telah berkorban dan mencurahkan tenaga dan darahnya demi kemerdekaan. Kepada para orangtua kami harapkan mewariskan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang diketahui maupun telah dihayati kepada anak-anaknya, bukan hanya mewariskan uang atau harta benda saja, yang dalam waktu singkat dapat binasa. Untuk itu jika orangtua sendirian saja tak mampu, baiklah mengalokasikan dana yang memadai untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah-sekolah. Dengan kata lain marilah kita lebih mengutamakan atau mengedepankan 'human investment' bukan 'material investment'. Di dalam dunia pendidikan kami harapkan lebih mengutamakan agar para peserta didik cerdas beriman atau memiliki kecerdasan spiritual daripada kecerdasan intelektual. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika orang memiliki kecerdasan spiritual yang unggul, maka yang bersangkutan dengan mudah dan cepat mengusahakan kecerdasan-kecerdasan lainnya yang perlu untuk hidup dan bekerja.
"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang" (Mzm 37:3-6)
Ign 1 Februari 2013