Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 19 Januari 2013

MgBiasa II


Mg Biasa II: Yes 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11
"Pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur"
Warta Gembira dari perikop Injil Yohanes hari ini sering dipilih dalam bacaan Injil dalam Misa Penerimaan Sakramen Perkawinan di lingkungan Gereja Katolik. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus mengadakan mujizat, merubah air menjadi anggur, dalam peristiwa perjamuan perkawinan di Kana. Sebagaimana terjadi pada umumnya dalam perjamuan perkawinan menyediakan jamuan makan bagi para tamu sebaik dan senikmat mungkin, sehingga para tamu sangat terkesan. Kiranya dapat dibayangkan betapa malu pemilik perjamuan ketika tahu bahwa jamuan makan yang disediakan mengalami kekurangan atau kurang enak dan kurang nikmat. Begitulah yang terjadi dalam pesta perkawinan di Kana, dan kehadiran SP Maria beserta Yesus sungguh menyelamatkan keluarga yang bersangkutan maupun mempelai yang sedang berbahagia. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian yang percaya kepada SP Maria dan Yesus untuk mawas diri sejauh mana SP Maria dan Yesus berperan dalam hidup keluarga kita.
"Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki" (Yoh 2:8-9)
Air menjadi anggur, yang segar menjadi nikmat, itulah kiranya yang terjadi dalam peristiwa perjamuan perkawinan di Kana. Hal itu terjadi karena kehadiran dan peran SP Maria serta Yesus. SP Maria adalah Bunda kita, sedangkan Yesus adalah Tuhan dan Penyelamat kita, maka secara khusus kami mendambakan segenap anggota keluarga menghayati kehadiran dan peran SP Maria dan Yesus di dalam keluarga. Pertama-tama marilah meneladan SP Maria yang peduli dan peka akan kebutuhan orang lain, sehingga menghindarkan nama baik orang lain terganggu. Memang hemat saya di dalam keluarga yang cukup kepada akan kebutuhan orang lain atau anggota keluarganya pada umumnya ialah para ibu. Maka dengan ini kami mengajak para ibu untuk mendidik dan mengajak segenap anggota keluarganya dalam hal kepekaan dan kepedulian kepada yang lain.
Sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita dipanggil meneladanNya antara lain dengan mengubah yang tidak enak menjadi enak, yang tidak segar menjadi segar, yang loyo menjadi bergairah, yang putus asa menjadi berpengharapan, atau dengan kata lain mengubah lingkungan hidup yang kurang baik menjadi baik, sehingga mempesona, menarik dan memotivasi orang lain untuk mendekat dan menggabungkan diri. Hadapi dan sikapi segala sesuatu dalam dan dengan cintakasih, karena dengan demikian segala sesuatu akan enak dan nikmat adanya. Ingat dan sadari, terutama bagi anda yang sedang berpacaran atau bertunangan, dengan kata lain silahkan kenangkan masa pacaran dan tunangan: bukankah apa-apa yang tidak enak dari calon pasangan hidupnya, pacarnya atau tunangannya senantiasa dihadapi dan disikapi dalam dan dengan cinta kasih, sehingga  semuanya baik adanya? Kami berharap baik kepada suami maupun isteri untuk melanjutkan pengalaman masa pacaran atau tunangan tersebut dalam hidup bersama sebagai suami-isteri.
Hidup berkeluarga didasari dan diikat oleh cintakasih, maka baiklah dihayati ajaran atau sharing perihal kasih dari Paulus ini, yaitu: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1Kor 13:4-7). Maka kami berharap kepada segenap anggota keluarga untuk menghayati ajaran kasih Paulus di atas ini dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Ketika orang menerima dan mengalami pengalaman mendalam dalam hal saling mengasihi di dalam keluarga, maka kelak ketika mereka hidup di luar keluarga akan saling mengasihi dengan siapapun tanpa pandang bulu.
"Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama " (1Kor 12:4-7)
Jutaan atau milyardan manusia di bumi ini berbeda satu sama lain, tidak ada yang sama persis atau identik, meskipun kembar, sebagaimana anggota tubuh kita yang begitu banyak jumlahnya juga berbeda satu sama lain, beda tempat maupun fungsi. Yang paling kentara antar manusia adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan, namun meskipun berbeda atau karena berbeda satu sama lain laki-laki dan perempuan saling tertarik, saling ingin mendekat dan bersaudara atau bersahabat sampai ada yang menjadi satu sebagai suami-isteri sampai mati. Yang berbeda antara laki-laki dan perempuan menjadi daya tarik dan daya pemersatu, itulah yang terjadi, maka kiranya seruan atau peringatan Paulus di atas sungguh merupakan kebenaran ilahi.
"Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama", demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita fungsikan bakat, kemampuan dan keterampilan yang kita miliki demi kepentingan atau kesejahteraan bersama/umum. Bakat, kemampuan dan keterampilan semakin disumbangkan demi kepentingan umum/bersama atau orang lain tidak akan habis, melainkan justru akan semakin handal, mantab dan akurat serta berkembang. Marilah kita bercermin pada atau belajar dari anggota tubuh kita, yang saling bekerjasama sangat luar biasa, masing-masing anggota di tempatnya masing-masing fungsional bagi kesehatan dan kesegaran tubuh. Tidak ada yang iri, saling membenci atau melecehkan. Maka dengan ini kami mengharap kita semua untuk saling memberi dan menerima, mengajar dan belajar: yang kaya akan harta benda mungkin memberikan sebagian harta bendanya kepada mereka yang miskin seraya belajar keutamaan-keutamaan hidup dari mereka yang miskin akan harta benda namun kaya akan nilai dan keutamaan hidup, dst..
Kerjasama atau gotong-royong dalam melaksanakan segala sesuatu pasti akan sukses. Ingat yang menjadi juara dunia sepak bola yang lalu bukan kesebelasan dari Ameka Latin yang bertebaran bintang-bintang sepak bola dan juga senior, tetapi kesebelasan dari Eropa yang memiliki kerjasama team luar biasa. Kami berharap dalam tugas pekerjaan atau kewajiban apapun hendaknya senantiasa dikerjakan dalam kerjasama atau gotong-royong. Sekali lagi kami angkat atau ingatkan bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban kerjasama atau gotong-royong kasih total, yaitu kerjasama bapak dan ibu kita sebagai pekerjasama karya penciptaan Allah. Maka jika kita tidak bekerjasama atau bergotong-royong berarti kita ingkar diri atau tidak tahu terima kasih dan syukur.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)
 
Ign 20 Januari 2013

Jumat, 18 Januari 2013

19 Jan


"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit"
(Ibr 4:12-16;Mrk 2:13-17)
"Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka. Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: "Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."(Mrk 2:13-17),demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka dimana ada bagian dunia atau orang tidak selamat Ia selamatkan , tanpa pandang bulu siapapun yang membutuhkan keselamatan Ia layani dengan senang hati. Demikian juga ketika ada orang berdosa diampuniNya. Dalam warta gembira hari dikisahkan Lewi, pemungut cukai, yang oleh masyarakat atau warga dipandang sebagai pendosa besar dan harus disingkirkan atau dijauhi. Yesus mendatangi Lewi, makan bersamanya serta mengampuni dosa-dosanya.  Melihat hal itu ahli-ahli Taurat dan golongan Farisi berkomentar :"Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?". Dan Yesus pun menanggapinya:"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar,melainkan orang berdosa". Kami percaya bahwa di antara kita tak ada satupun yang bebas dari dosa atau penyakit. Maka dalam rangka menghayati Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani saya mengajak dan mengingatkan segenap murid atau pengikut Yesus Kristus untuk sungguh menggalang dan memperteguh persatuan, dan cara untuk itu antara lain saling mendoakan dan mengampuni satu sama lain, tidak pernah melecehkan seorang pun atau menginjak-injak harkat martabat manusia. Perbedaan yang ada di antara kita hendaknya menjadi dorongan dan kekuatan untuk menggalang dan memperteguh persatuan, maka hendaknya apa yang sama di antara kita hendaknya dihayati secara mendalam dan handal, sehingga apa yang berbeda akan fungsional memperkuat dan memperdalam persatuan. Semoga kita tidak bersikap mental seperti para ahli Taurat atau orang-orang Farisi.
·   "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab" (Ibr 4:12-13). Kami percaya bahwa kita semua pernah mendengarkan 'firman Allah' sebagaimana tertulis didalam Kitab Suci kita masing-masing, maka sejauh mana firman Allah sungguh menjiwai dan menghidupi cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Firman Allah jika sungguh kita dengarkan dan hayati pasti akan menelanjangi diri kita, dan tiada satu bagian pun dari diri kita yang tertutup. Jika kita sungguh saling 'telanjang' alias terbuka satu sama lain dalam hal-hal yang dibutuhkan untuk hidup bersama, maka persatuan sebagaimana didambakan oleh Allah akan segera menjadi kenyataan atau terwujud. Maka dalam rangka persatuan umat Kristiani kami harapkan kita saling terbuka satu sama lain, dan tentu saja ketika kita menerima keterbukaan atau sharing dari orang lain tidak dijadikan bahan rekreasi atau pembicaraan yang tidak perlu, karena dapat menghambat usaha persatuan. Dengan kata lain marilah kita galang dan perdalam 'gerakan tranparansi', yang berarti memang tidak asal membuka diri, tetapi membuka diri dimana perlu, karena masih cukup banyak orang yang bersikap mental kurang baik, yaitu menggunakan kerbukaan orang lain untuk menjatuhkannya. Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa manusia pertama, Adam dan Hawa, ketika dalam keadaan baik, saling telanjang satu sama lain tidak ada yang malu serta tidak ada yang berpikiran jahat. Memang ketika dosa mulai memasuki manusia, setiap ketelanjangan dapat merangsang ke arah dosa, perbuatan yang tidak baik. Semoga kita hidup dan bertindak dalam dan oleh firman Allah, sehingga kita saling terbuka satu sama lain tanpa malu dan tiada rangsangan untuk melakukan kejahatan sedikitpun.
"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya" (Mzm 19:8-10)
Ign 19 Januari 2013

Kamis, 17 Januari 2013

18 Jan


"Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?"
(Ibr 4:1-5.11; Mrk 2:1-12)
"Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka,ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang.Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."(Mrk 2:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Mulai hari ini kita memasuki "Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani", maka marilah kita sebagai umat Kristiani mawas diri sejauh mana kita senantiasa menggalang dan memperkuat atau memperteguh persatuan kita dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Semoga kita tidak berpikiran seperti para ahli Taurat yang berpikir jelek terhadap Yesus yang mengampuni dosa orang. Kasih pengampunan merupakan dasar atau modal untuk hidup dalam persaudaraan atau persatuan sejati. Kami percaya bahwa masing-masing dari kita dengan mudah melakukan kesalahan atau tidak ada di antara kita yang mulus, tidak pernah melakukan kesalahan. Yang terjadi adalah bahwa kita berbuat salah dan langsung diampuni oleh orang yang menderita karena kesalahan kita dan kita tidak merasa diampuni. Kami berharap kita semua senantiasa berpikiran positif terhadap orang lain, lebih-lebih terhadap mereka yang telah melakukan sesuatu yang baik dan bagi kita mungkin hal baru . Imani atau percayai bahwa perbuatan baik yang dilakukan merupakan perwujudan imannya kepada Allah, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sungguh merupakan perwujudan iman. Jika dalam hidup bersama kita senantiasa saling mengasihi dan mengampuni, maka siapapun yang melihat kebersamaan kita akan berkata: "Yang begini belum pernah kita lihat". Persaudaraan atau persatuan sejati hemat saya masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan.
·   "Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya." (Ibr 4:1-2). Yang dimaksudkan dengan kata 'ketinggalan' disini kiranya mereka yang suka mengurung diri dan menutup diri, kurang bergaul dengan saudara-saudarinya, entah karena takut atau sombong. Kita semua adalah sama-sama ciptaan Allah, sama-sama beriman dst.., maka hendaknya tidak perlu takut bergaul dan hidup bersama dengan siapapun. Sekali lagi kami angkat dan ingatkan bahwa segala sesuatu ketika dikerjakan bersama-sama, dalam gotong-royong pasti akan berhasil dengan baik, dapat diselesaikan sesuai dengan apa yang didambakan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah kerjasama atau  gotong-royong dalam kasih, yaitu kerjasama bapak-ibu kita dalam rangka berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. Karena kita adalah buah kerjasama atau gotong-royong, maka jatidiri kita yang benar adalah jika kita dalam hidup dan berkarya senantiasa bekerjasama atau bergotong-royong. Dalam masyarakat kita kenal aneka paguyuban yang didirikan untuk menggalang dan memperdalam persaudaraan atau persatuan sejati, semoga juga ada kerjasama antar paguyuban, dan masing-masing paguyuban tidak terjebak pada primordialisme, pengkotakan dalam suku atau daerah asal.
"Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami,, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya" (Mzm 78:3-4bc)
Ign 18 Januari 2013