Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 11 Januari 2013

Pesta Pembaptisan Tuhan:



Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 40:1-5.9-11; Tit 2:11-14;3:4-7; Luk 3:15-16.21-22
"Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."
Hari ini adalah hari terakhir setelah kita mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia, dan mulai besok pagi kita memasuki masa Biasa dalam Tahun Liturgi. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan Yesus, yang meninggalkan Nazaret dan pergi ke sungai Yordan untuk menggabung-kan Diri dengan banyak orang, pengikut Yohanes Pembaptis, dan menerima baptisan dari Yohanes; Ia mengawali tugas pengutusanNya dengan menerima baptisan. Maka marilah dalam memasuki Masa Biasa Tahun Liturgi kita dalam hidup sehari-hari menghayati rahmat baptisan yang telah kita terima, agar kita sebagai umat Allah juga berkenan kepadaNya, sebagai orang yang sungguh dikasihi Allah dan selanjutnya menyalurkan kasih Allah tersebut kepada saudara-saudari kita dimana pun dan kapan tanpa pandang bulu.
"Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Luk 3:21-22).
Ketika dibaptis kita mendengar kata-kata imam/pastor yang membaptis, seraya mecurahi dari kita dengan air baptisan :"…,aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus". Kita menerima baptisan setelah dengan mantap dan penuh harapan berjanji untuk senantiasa hanya mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan setan, maka diharapkan setelah dibaptis kita senantiasa dalam cara hidup dan cara bertindak hanya mengabdi Tuhan dan menolak semua godaan atau rayuan setan. Sejauh mana selama ini kita setia pada janji baptis tersebut, marilah kita dengan jujur mawas diri.
Mengabdi Tuhan harus menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari, antara terhadap orang lain atau siapapun senantiasa bersikap mengabdi atau melayani. Buah pengabdian atau pelayanan tidak lain adalah kebahagiaan yang dilayani dan tentu saja yang melayani juga berbahagia. Maka sebagai orang yang telah dibaptis marilah kita berusaha dengan rendah hati saling membahagiakan dan menyelamatkan, tentu saja sekali lagi saya angkat, terutama dan pertama-tama adalah keselamatan jiwa manusia. Orang yang selamat jiwanya hemat saya senanitasa melakukan apa yang baik, yang berkenan pada Tuhan maupun sesama manusia. Baptisan merupakan rahmat terdasar, maka baiklah pertama-tama kita usahakan untuk saling berkenan dan membahagiakan dalam komunitas basis atau dasar, yaitu dalam keluarga kita masing-masing. Ketika dalam keluarga semua anggota keluarga memiliki pengalaman melayani dan dilayani, membahagiakan dan dibahagiakan, maka kepada orang lain di luar keluarganya, dimana pun dan kapanpun akan tergerak untuk melayani dan membahagiakan.
Godaan atau rayuan menggejala dan menjadi nyata setiap hari dalam dan melalui aneka cara dan bentuk. Memang godaan-godaan tersebut pada umumnya erat kaitannya dengan kenikmatan-kenikmatan fisik, misalnya kenikmatan seks, makan dan minum, tidur, bermalas-malasan, bertindak seenaknya hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, dst.. Memang akar dari godaan dan rayuan tersebut hemat saya adalah kemalasan, maka kami harapkan kita tidak bermalas-malas dalam hidup, tugas, panggilan dan pekerjaan kita. Dengan kata lain apapun yang menjadi tugas atau kewajiban anda laksanakan atau hayati sebaik mungkin, dengan kerja keras dan penuh perhatian: hati, jiwa, akal budi dan tubuh diarahkan sepenuhnya pada tugas atau kewajiban. Jika kita berbuat demikian, percayalah godaan atau rayuan setan tak akan ada kesempatan mendatangi kita. Sekiranya anda harus menghadapi godaan atau rayuan setan, hendaknya dihadapi dengan doa, mohon rahmat dan bantuan Tuhan untuk melawan godaan atau rayuan setan tersebut.
Hemat saya jika kita semua sungguh-sungguh menghayati janji baptis, maka janji-janji lain, entah itu janji perkawinan, kaul membiara, janji imamat, janji pegawai, pelajar atau mahasiswa, dst.. akan dengan mudah dihayati atau dilaksanakan. Maka ketika kita melihat entah itu imam, bruder, suster, bapak atau ibu, pegawai, mahasiswa-mahasiswi, dst. yang telah dibaptis tidak sesuai dengan panggilannya dalam cara hidup dan cara bertindak, hendaknya yang bersangkutan ditegor dan diingatkan seraya ditanyakan: "Apakah anda telah dibaptis?". Maka jangan menegor dengan kata-kata seperti: "hendaknya anda menjadi imam/bruder/suster/bapak-ibu, mahasiwa-mahasiswi..yang baik". Marilah kita berlomba mengahayati janji baptis, agar perbedaan panggilan dan cara hidup kita yang berbeda satu sama lain kondusif mendukung kebersamaan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita.
"Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik" (Tit 2:12-14) .
Orang yang berkenan pada Tuhan memang harus "hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan pernyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar". Tentu saja pertama-tama dan terutama yang diharapkan hidup demikian adalah siapapun yang menentukan hidup dan kerja bersama, dalam bentuk apapun dan dimanapun, misalnya direktur, pimpinan, rector, kepala atau ketua dst.. Tindakan bijaksana senantiasa membuat orang yang kena dampak tindakan merasa bahagia dan senang, serta kemudian akan melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan giat, kerja keras dan sepenuh hati. Sedangkan tindakan adil yang paling mendasar adalah menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia alias tidak pernah melecehkan manusia siapapun. Semoga siapapun yang menentukan hidup dan kerja bersama senantiasa bertindak bijaksana dan adil. Kami berharap juga anda dapat menjadi teladan sebagai manusia yang sungguh beribadah kepada Tuhan di dalam dunia sekarang ini.
Perihal 'beribadah di dalam dunia sekarang ini' hemat saya merupakan panggilan dan tugas pengutusan semua umat beriman atau beragama, entah iman atau agamanya apapun. Tanda orang yang sungguh beribadah kepada Tuhan hemat saya antara lain orang yang bersangkutan hidup dan bertindak dengan rendah hati, lembah lembut, budi pekerti luhur, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sesama manusia. Memang secara konkret juga tidak pernah melupakan doa-doa harian atau ibadah harian/mingguan, sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan masing-masing. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana dan kapan saja melalui ciptaan-ciptaanNya di bumi ini, tentu saja pertama-tama dan terutama adalah dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah, maka hendaknya antar kita senantiasa saling memuji, menghormati, dan melayani.
Panggilan untuk beribadah kepada Tuhan tidak hanya menjadi nyata dalam kegiatan liturgy atau upacara keagamaan, tetapi juga menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Dengan kata lain hidup ini adalah ibadah kepada Tuhan, sehingga bekerja atau belajar bagaikan sedang beribadah, teman kerja/belajar bagaikan teman ibadah, aneka sarana-prasarana kerja/ belajar bagaikan sarana-prasarana ibadah. Bukankah kita dalam ibadah senantiasa bersikap hormat dan rendah hati, maka hendaknya kita saling menghormati dan menjunjung tinggi, serta merawat dan mengurus aneka sarana-prasarana kerja/ibadah bagaikan mengurus sarana-prasarana ibadah. Dengan demikian semakin belajar atau bekerja diharapkan orang semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi.
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang oleh kebaikan. Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi" (Mzm 104:24-25.27-30)
Ign 13 Januari 2013

12Jan


"Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil."
(1Yoh 5:14-21; Yoh 3:22-30)
"Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yoh 3:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari ini ditampilkan Yohanes Pembaptis yang dibandingkan dengan Yesus, Penyelamat Dunia. "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.", demikian kata-kata atau laporan orang-orang Yahudi, pengikut Yohanes Pembaptis. Mendengarkan laporan atau kata-kata tersebut Yohanes menanggapinya dengan rendah hati:"Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil". Hal ini kiranya menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para katekis atau pengajar agama maupun para gembala umat Allah. Marilah kita meneladan Yohanes dengan berkata dan menghayati "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil", dengan kata lain hendaknya senantiasa menghayati diri, panggilan dan tugas pengutusan atau pelayanan sebagai alat atau sarana, sebagai bantuan bagi orang lain untuk bertemu dan berbakti kepada  serta bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain hendaknya anda para pewarta, katekis maupun gembala umat senantiasa hidup, bertindak dan melayani umat dengan rendah hati. Pada waktunya ketika umat menjadi dewasa dan mandiri dalam hidup beriman atau beragama, biarlah mereka berjalan sendiri sesuai dengan Penyelenggaraan Ilahi. Kami harapkan para pewarta, katekis atau gembala umat menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani". Hendaknya anda tahu diri kapan harus memberi teladan hidup beriman atau beragama, kapan harus memberdayakan dan mendorong umat Allah.
·   "Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa." (1Yoh 5:15-16). Kami percaya bahwa kita semua adalah orang berdosa, sering melakukan dosa yang tidak mendatangkan maut alias dosa yang dapat diampuni. Maka sebagaimana dikatakan oleh Yohanes di atas marilah kita berdoa mohon kasih pengampunan Allah baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Berdoa antara lain membuka diri sepenuhnya, selebar-lebarnya atas kehendak dan perintah atau sabda Allah atau Penyelenggaraan Ilahi. Sikap doa hendaknya senantiasa menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga ketika kita menerima saran, kritik, anjuran atau nasihat, dengan rendah hati kita dengarkan dan cecap dalam-dalam serta kemudian kita tanggapi secara positif dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya setiap hari dan setiap saat ada hal-hal baru di lingkungan hidup kita, yang mengajak dan memanggil kita untuk menanggapinya secara positif. Dengan kata lain hendaknya dibangun dan diperdalam sikap mental 'belajar terus-menerus', ongoing formation atau ongoing education dalam diri kita. Orang-orang sukses di dunia ini sungguh dijiwai oleh sikap mental belajar, baik dalam tugas pekerjaan ataupun hidup dan tindakan setiap hari. Belajar tidak hanya di meja sekolah, tetapi juga dalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan, pelayanan dan tugas pengutusan kita. Allah terus memperbaharui dunia seisinya, dan tentu kita manusia harus senantiasa siap sedia untuk diperbarui, berubah lebih baik, mulia, luhur, bermoral dan berbudi pekerti luhur sampai mati.
"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mzm 149:1-4)
Ign 12 Januari 2013

11jan

"Ia mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa"
(1Yoh 5:5-13; Luk 5:12-16)
" Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa" (Luk 5:12-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kehadiran Penyelamat Dunia memang sungguh menarik dan mempesona, karena apa yang dilakukan atau dikerjakan membuat segalanya baik atau lebih baik. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan penyembuhan orang berpenyakit kusta. Orang berpenyakit kusta diimani sebagai orang berdosa dan senantiasa disingkirkan dari percaturan bersama di dalam masyarakat alias diasingkan. Maka mujizat penyembuhan orang berpenyakit kusta sungguh merupakan berita gembira yang menggembarkan banyak orang, sehingga banyak orang pun tergerak datang kepadaNya "untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka". Ada kekhawatiran dalam Diri Yesus, jangan-jangan mereka, orang kebanyakan salah mengerti atau salah tangkap perihal Dia yang sebenarnya, demikian juga Ia khawatir terjebak dalam suatu tempat saja, padahal Ia diutus ke seluruh dunia. Maka dari kelelahan kesibukan melayani dan menyembuhkan Ia "mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi untuk berdoa". Apa yang dilakukan oleh Yesus kiranya baik kita renungkan dan refleksikan. Kami percaya bahwa kita semua karena tuntutan pekerjaan atau kebutuhan sehingga sering melupakan hidup doa. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak melupakan kehidupan doa dalam acara dan kegiatan harian kita. Misalnya sebelum dan sesudah bekerja atau melaksanakan tugas pengutusan kita berdoa dengan permohonan agar apa yang kita lakukan atau kerjakan sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, sehingga diri kita maupun hasil kerja atau usaha kita senantiasa menarik, memikat dan mempesona banyak orang. Kami juga berharap kepada kita semua untuk menyembuhkan saudara-saudari kita yang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh.
·   "Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran.Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu" (1Yoh 5:5-8). Darah merupakan lambang kehidupan, air lambang kesegaran dan Roh atau jiwa adalah yang menggerakkan serta menggairahkan. Tiga unsur ini ada dalam diri kita masing-masing dan diharapkan kehadiran dan sepak terjang kita dimana-mana dan kapanpun senantiasa sungguh menghidupkan, menyegarkan dan menggairahkan atau mempesona bagi orang lain. Kiranya bukan hanya penampilan fisik yang kelihatan cantik, tampan, bersih dst, tetapi hemat saya yang terutama dan pertama-tama adalah bersih dan cantik hati, jiwa dan akal budinya, dengan kata lain kita sungguh suci dan membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan agar kita senantiasa mengusahakan kecantikan dan kebersihan hati, jiwa dan akal budi, sehingga tubuh kita pun juga akan bersih dan cantik atau tampan. Bukti kebersihan dan kecantikan diri kita secara utuh antara lain apa yang kita lakukan dan kerjakan senantiasa membuat segala sesuatu menjadi baik atau lebih baik. Bagi yang sedang bertugas belajar berarti semakin terampil dalam belajar, sehingga semakin cerdas dan pandai, bagi yang sedang bekerja berarti semakin terampil bekerja sehingga menghasilkan buah kerja yang lebih banyak dan baik. Tentu saja kami berharap kepada semua umat beragama semakin setia dan taat melaksanakan ajaran agamanya, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci masing-masing.
"Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik.Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari" (Mzm 147:12-15)
Ign 11 Januari 2013