Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 29 Desember 2012

Pesta Keluarga Kudus


Pesta Keluarga Kudus: 1Sam 1:20-22.24-28; 1Yoh 3:1-2.21-24; Luk 2:41-52
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia"
Keluarga merupakan dasar hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka jika semua keluarga baik adanya secara otomatis hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan dalam keadaan damai sejahtera dan aman-tenteram. Namun sungguh memprihatinkan bahwa tidak semua keluarga baik adanya atau bahkan mayoritas keluarga mengalami erosi atau kemerosotan moral, sehingga hidup bersama kacau balau sebagaimana dapat kita saksikan pada masa kini. Perceraian antar suami-isteri semakin marak, anak-anak yang kurang kasih sayang dari orangtua semakin banyak, demikian pula tindak kejahatan semakin membengkak. Maka pada hari raya "Pesta Keluarga Kudus" dari Nasaret, Yusuf, Maria dan Kanak-kanak Yesus hari ini, perkenankan saya mengajak mereka yang hidup berkeluarga atau akan hidup berkeluarga sebagai suami-isteri untuk mawas diri dengan cermin Keluarga Kudus dari Nasaret
"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Luk 2:52)
Kita semua sebagai manusia adalah ciptaan Allah, yang diciptakan dalam dan oleh kasihNya bekerjasama dengan orangtua, bapak-ibu kita masing-masing yang saling mengasihi, maka masing-masing dari kita adalah 'buah kasih' atau yang terkasih dan dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan oleh kasih. Ikatan laki-laki dan perempuan menjadi suami-isteri juga karena dan oleh kasih, dan kasih antar-suami isteri akan terjadi sampai mati jika mereka berdua dengan sungguh-sungguh saling mengasihi. Cintakasih itu bebas, alias tak terbatas, dan kebebasan hanya dapat dibatasi oleh cintakasih. Dalam dan oleh cintakasih orang dapat berbuat apapun asal tidak pernah melecehkan sedikitpun harkat martabat manusia, dirinya sendiri maupun orang lain.
Anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada suami-isteri hendaknya juga dididik dan dibesarkan dalam dan oleh cintakasih. Maka dalam mendidik dan membina anak-anak jauhkan dari aneka macam pemanjaan maupun paksaan. Ingatlah dan sadari bahwa anda berdua tergerak untuk menjadi suami-isteri juga dilandasi atau didasari oleh cintakasih dan kebebasan, dan hendaknya cintakasih dan kebebasan anda berdua semakin mendalam dan mantap, sehingga mampu mendidik dan mendampingi anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada anda berdua dalam dan dengan cintakasih dan kebebasan. Kita semua kiranya mendambakan diri kita semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama atau saudara-saudari kita, maka hendaknya kita juga senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama kita dimana pun dan kapan pun.
Jika anda memiliki beberapa anak hendaknya mendampingi dan mendidik anak-anaknya dengan jiwa 'cura personalis', masing-masing diberi perhatian sesuai dengan perkembangan, bakat dan kemungkinannya, tidak digeneralisir. Hendaknya anak-anak juga jangan merasa kurang dikasihi atau diperhatikan oleh orangtuanya, dan tentu saja antar kakak-adik juga dididik dan dibina untuk saling mengasihi dan memperhatikan. Salah satu keprihatinan saya masa kini adalah perihal kepekaan sosial, peka terhadap orang lain atau dalam bahasa asing "to be man/woman for/with others" (menjadi laki-laki/perempuan bagi atau bersama dengan yang lain). Pengalaman relasi antar orangtua dan anak, kakak dan adik, anggota keluarga dengan pembantu rumah tangga merupakan modal untuk kelak kemudian ketika menjadi orang dewasa dalam berrelasi dengan atas, rekan kerja/teman/sahabat dan para pembantu yang lain atau mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka binalah anak-anak anda dalam berrelasi dengan anda sebagai orangtua, antar kakak-adik, dengan pembantu rumah tangga dalam hal kepekaan terhadap kebutuhan yang lain.
Kami juga berharap bahwa di antara anak-anak anda ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster, maka jadikanlah keluarga anda sebagai tempat 'penyemaian benih-benih panggilan'. Gereja Katolik masa kini membutuhkan imam, bruder dan suster yang handal dan kompeten dalam menghadapi perkembangan dan pertumbuhan zaman yang begitu cepat berubah.
"Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita" (1Yoh 3:21-24)
Kutipan di atas ini mengingatkan dan mengajak kita agar sebagai umat beriman atau beragama senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi dengan siapapun, dimanapun dan kapanpun. Ajaran hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya merupakan ajaran semua agama atau keyakinan kepercayaan apapun. Barangsiapa hidup saling mengasihi atau melaksanakan perintah Allah berarti "ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia", dengan demikian orang akan semakin setia dalam melaksanakan atau menghayati perintah dan sabdaNya atau kehendakNya. Orang yang diam di dalam Allah juga dapat menemukan Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
Kami harapkan keluarga-keluarga kristiani khususnya maupun keluarga-keluarga pada umumnya sungguh menghayati kehadiran Allah di dalam keluarga, dan semua anggota keluarga senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Kami percaya bahwa para suami-isteri pun menghayati diri bahwa yang mempertemukan mereka untuk hidup bersama sampai mati juga Allah sendiri, maka diawali oleh Allah hendaknya juga diakhiri oleh Allah. Hendaknya semua gairah, cita-cita, harapan dan dambaan seluruh anggota keluarga ada dalam Allah, yang tidak lain adalah keselamatan jiwa manusia.
Karena Allah hadir di dalam keluarga, maka hendaknya keluarga menyediakan waktu khusus untuk menghadap Allah bersama-sama, berdoa bersama serta bercurhat bersama, dan kiranya baik juga dibacakan dan direnungkan sabda-sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Sekali lagi kami katakan bahwa sekiranya apa yang kami kirimkan via email setiap hari boleh dibacakan dan didengarkan serta dicecap bersama-sama. Tak lupa dengan rendah hati kami mohon doakan juga para imam, bruder dan suster agar setia dalam panggilan mereka, Dengan sering mendoakan para imam, bruder maupun suster kami berharap bahwa di antara anak-anak anda ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster.
Secara khusus dengan rendah hati kami mohon doa bagi kami yang lemah dan rapuh ini, karena pada hari ini kami merayakan 29 tahun tahbisan imamat kami. Saya pribadi ketika ditabiskan menjadi imam mengambil motto ini sebagai pegangan perjalanan imamat saya, yaitu " Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya." (Ef 3:12). Semoga kami setia menghayati panggilan imamat dalam melayani umat Allah yang diserahkan kepada kami.
 
"Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah" (Mzm 84:2-3.5-6)
 
Ign 30 Desember 2012
 

29 des


"Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang"
(1Yoh 2:3-11; Luk 2:22-35)
"Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan -- dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri --, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang." (Luk 2:22-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus, Penyelamat Dunia, memang datang ke dunia untuk memperbaharui dunia, terutama cara hidup dan cara bertindak manusia. "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangun-kan banyak orang", demikian tugas pengutusan Penyelamat Dunia. Maka kita semua yang beriman kepadaNya kami ajak tidak usah menunggu 'dijatuhkan atau dibangunkan', melainkan marilah secara proaktif dan kreatif memperbaharui diri. Kita tinggalkan cara hidup dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, dan mungkin bagi kita yang telah dibaptis marilah setia kepada janji baptis, sedangkan kepada kita semua kami ajak untuk setia pada janji-janji yang telah kita ikrarkan. Secara konkret kepada para suami-isteri kami ajak untuk saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati; kepada para pekerja kami ajak untuk setia pada janji kerja, sedangkan kepada para pelajar atau mahasiswa kami ajak untuk setia pada janji pelajar atau mahasiswa. Pertama-tama dan terutama memang yang perlu kita rubah adalah cara berpikir, mengingat dan mempertimbangkan bahwa apa yang ada dalam pikiran kita adalah yang akan kita lakukan atau kerjakan. Hendaknya yang kita pikirkan adalah apa yang dipikirkan oleh Tuhan yaitu keselamatan jiwa manusia, maka jika yang kita pikirkan macam itu, kiranya sewaktu-waktu kita akan dipanggil Tuhan akan berkata seperti Simeon:"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu".
·   "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya" (1Yoh 2:10-11). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk hidup saling mengasihi kapan pun dan dimana pun jika kita mendambakan hidup bahagia, sejahtera dan damai sejati. Tugas pengutusan untuk saling mengasihi hemat saya dengan mudah kita hayati jika kita semua menghayati diri sebagai yang terkasih, yang diciptakan oleh Tuhan karena kasihNya bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi. Karena masing-masing dari kita adalah yang terkasih, maka bertemu dengan siapapun berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih dan dengan demikian secara otomatis akan saling mengasihi. Kepada siapapun yang masih membenci saudara-saudarinya kami ajak untuk bertobat atau memperbaharui diri, agar anda tidak berjalan di dalam kegelapan atau kekacauan dan selanjutnya menderita berkepangan sampai mati. Kami berharap segenap anggota keluarga dalam satu rumah tangga sungguh hidup saling mengasihi, sehingga dalam kehidupan bersama yang lebih luas juga akan saling mengasihi.
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)
Ign 29 Desember 2012

28 des


"Murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus"
(1Yoh 1;1-4; Yoh 20:2-8)
"Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya." (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Cintakasih merupakan keutamaan hidup luar biasa; orang yang saling mencintai pada umumnya dalam keadaan gembira, ceria dan dinamis serta cekatan dalam melakukan segala sesuatu. Yohanes dikenal sebagai murid terkasih Yesus, maka ketika mendengar ada sesuatu yang terjadi dalam diri Yesus ia dengan cepat dan cekatan berusaha untuk mencari tahu. Dalam Warta Gembira ini dikisahkan bahwa Yesus yang telah wafat dan dimakamkan tidak ada lagi berada di makam, sebagaimana diceriterakan oleh para wanita kepada mereka. Dua rasul, Petrus dan Yohanes tergerak untuk mencari tahu dan pergi ke makam, dan ternyata Yohanes lebih cepat sampai ke makam. Kita semua ada dan tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain karena cintakasih, yang telah kita terima secara melimpah ruah, maka marilah kita sadari dan hayati cintakasih yang telah kita terima tersebut. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik atau dibiasakan perihal dirinya yang senantiasa dikasihi, sehingga kelak kemudian hari ketika menjadi dewasa mereka sungguh hidup dan bertindak berdasarkan cintakasih, dijiwai oleh cintakasih dan dengan demikian cepat dan cekatan menanggapi segala sesuatu yang sedang terjadi. Anak-anak kiranya dapat dilatih atau dibiasakan dalam hidup sehari-hari untuk membereskan atau memperbaiki apa yang tidak beres atau tidak baik dengan segera, dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua. Kami berharap relasi antara suami-isteri atau bapak-ibu juga cepat dan cekatan dalam menanggapi apa yang terjadi dalam atau dialami oleh pasangan hidupnya.
·   "Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna" (1Yoh 1:2-4). Apa yang dikatakan di atas ini kiranya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita, lebih-lebih kalimat ini, yaitu:"Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami". Marilah kita saling membagikan (sharing atau curhat) pengalaman iman untuk mempererat dan memperdalam persahabatan atau persaudaraan di antara kita. Pengalaman iman berarti aneka pengalaman yang terkait dengan Penyelenggaraan Ilahi, yang tidak lain adalah apa-apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Kami percaya masing-masing dari kita lebih mengalami apa yang baik daripada apa yang jahat, maka jangan pelit untuk memberitakan apa yang baik kepada saudara-saudari kita. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa sebagai orang beriman kita memiliki tugas pengutusan untuk mewartakan kabar baik, menyebarluaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Kami percaya bahwa masing-masing dari kita senantiasa berkehendak untuk menyampaikan apa yang baik kepada saudara-saudari kita, dan ada kemungkinan terjadi salah faham karena kita kurang saling mendengarkan. Maka marilah kita perdalam keutamaan 'mendengarkan' dalam hidup dan kerja kita, agar kemudian kita mampu memahami dan menangkap kehendak baik saudara-saudari kita. Semoga dengan demikian akan terjadi sukacita yang sempurna dalam kebersamaan hidup dan kerja kita.
"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya" (Mzm 97:1-2.5-6)
Ign 27 Desember 2012