Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 02 November 2012

3 Nov

"Barangsiapa meninggikan diri ia akan direndahkan"
(Flp 1:8b-26; Luk 14:1.7-11)

" Pada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama. Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk 14:1.7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jika dicermati di jalanan dapat kita lihat bahwa aneka jenis produk diiklankan dan dinyatakan sebagai yang terbaik atau nomor satu; iklan macam itu juga dapat disaksikan melalui TV atau media cetak. Karena iklan itu dapat disaksikan setiap hari oleh siapapun, maka mau tak mau apa yang mereka saksikan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya, yaitu pada umumnya orang cenderung meninggikan diri atau sombong dan merendahkan atau melecehkan yang lain. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama untuk menjadi teladan rendah hati, demikian juga anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina untuk rendah hati. Rendah hati merupakan keutamaan utama atau dasar, maka jika orang dapat hidup dan bertindak dengan rendah hati pada umumnya dengan mudah yang bersangkutan menghayati atau melakukan keutamaan-keutamaan lainnya. Kepada yang masih suka menyombongkan diri serta merendahkan orang lain kami ajak untuk segera bertobat atau memperbaharui diri. Marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang lebih miskin dari kita dalam aneka hal serta  mereka yang kurang memperoleh perhatian.

·   "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Fil 1:20-21). Secara khusus kami ajak dan ingatkan kepada siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus untuk menghayati apa yang dikatakan Paulus di atas ini, yaitu "bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan". Dengan kata lain kita diharapkan meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang rendah hati, dan secara konkret hidup dan bertindak melayani siapapun tanpa pandang bulu. Memang orang yang sungguh rendah hati di dunia ini adalah para pelayan yang baik, yang senantiasa melayani orang lain dengan rendah hati, demi kebahagiaan orang lain. Marilah kita saling melayani dan membahagiakan satu sama lain dengan rendah hati. Secara khusus kami ajak agar mereka yang berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa 'turba'/turun ke bawah, mendatangi dan menyapa penuh kasih mereka yang 'berada di bawah': para direktur atau pimpinan perusahaan, kantor, karya apapun kami harapkan tidak enak-enak duduk di kursi empuk di ruang kerjanya, melainkan hendaknya 'turun kebawah' untuk memberi sapaan kasih bagi para pekerja atau buruh. Demikian juga para kepala daerah di tingkat apapun kami harapkan secara rutin mengunjungi rakyatnya. Kepada mereka yang berada di 'poros bisnis' maupun 'poros badan publik' dalam hidup bersama kami ajak untuk berpihak pada dan bersama mereka yang berada di 'poros komunitas', yaitu rakyat banyak, seluruh warga masyarakat.

"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan " (Mzm 42:2-3.5)
Ign 3 November 2012
 

2 Nov

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN: 2Mak 12:43-46; 1Kor 15:12-34;Yoh 6:37-40
 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.

Warga Kristen yang menyatukan kematiannya dengan kematian Yesus, menganggap kematian sebagai pertemuan dengan Yesus dan sebagai langkah masuk ke dalam kehidupan abadi. Kalau Gereja mengucapkan " untuk terakhir kalinya " kata-kata pengampunan atas nama Kristus untuk warga Kristen yang dalam sakratulmaut, dan memeteraikannya " untuk terakhir kalinya" dengan pengurapan yang menguatkan, dan memberikan kepadanya Kristus dalam bekal perjalanan sebagai makanan untuk perjalanan, ia berkata kepadanya dengan ketegasan yang lemah lembut: “Bertolaklah dari dunia ini, hai saudara (saudari) dalam Kristus, atas nama Bapa yang mahakuasa, yang menciptakan engkau; atas nama Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, yang menderita sengsara untuk engkau; atas nama Roh Kudus, yang dicurahkan dalam dirimu; semoga pada hari ini engkau ditempatkan dalam ketenteraman dan memperoleh kediaman bersama Allah di dalam Sion yang suci, bersama Maria, Perawan yang suci dan Bunda Allah, bersama santo Yosef dan bersama semua malaikat dan orang kudus Allah…Kembalilah kepada Penciptamu, yang telah mencipta engkau dari debu tanah. Apabila engkau berpisah dari kehidupan ini, semoga Maria bersama semua malaikat dan orang kudus datang menyongsong engkau..Engkau akan melihat Penebusmu dari muka ke muka (Doa penyerahan jiwa)(Katekismus Gereja Katolik no 1020).

"Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman"(Yoh 6:37-39).

Setiap kali mengenangkan arwah semua orang beriman saya senantiasa ingat akan pengalaman pribadi sebagai pastor/imam yang belum pernah berkarya di paroki atau pelayanan pastoral territorial. Pengalaman itu adalah pada suatu saat saya diejek oleh rekan imam lain yang berkarya di paroki perihal pembaptisan. Ia membanggakan diri bahwa selama 10 tahun menjadi imam/pastor telah membaptis lebih dari 1.000 orang, sedangkan saya belum sampai 10 orang. Namun dengan bangga saya tanggapi ejekannya:Ya, kamu membaptis lebih dari 1.000 orang dan saya kurang dari 10 orang, tetapi yang saya baptis jelas naik ke sorga semua, sedangkan yang anda baptis tanda tanya besar, apalagi yang bersangkutan saat ini masih hidup". Mengapa saya yakin bahwa yang saya baptis pasti naik ke sorga, karena yang saya baptis adalah pasien sakit berat, dan begitu dibaptis tidak lama kemudian meninggal dunia.

Bagaimana nasib orang-orang atau saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia?  Sebagai orang katolik kita percaya ada orang-orang yang telah dinyatakan dan diimani telah hidup mulia dan bahagia kembali di sorga, yaitu para santo dan santa, beato dan beata. Bercermin dari kutipan-kutipan di atas, kiranya kita boleh percaya bahwa saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia dan selama hidupnya di dunia dalam kelemahan dan kerapuhannya senantiasa berusaha hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, karena kemurahan hati Allah, mereka telah hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga bersama Allah, SP Maria, St.Yosef, santo dan santa serta para malaikat Allah. Maka pada hari ini dimana pada umumnya kita mengadakan ibadat atau Perayaan Ekaristi di makam, baiklah, selain kita mendoakan mereka yang telah meninggal dunia, juga mengingat dan menimba aneka keutamaan yang telah dihayati oleh mereka yang telah meninggal dunia, dengan kata lain meneladan apa yang baik, menghayati kata-kata atau pesan-pesannya menjelang meninggal dunia. Kita juga mohon doa-doanya agar suatu saat ketika dipanggil Tuhan atau meninggal dunia segera hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga.

Maka baiklah, sebagaimana sabda Yesus di atas, marilah dalam hidup dan kerja kita sehari-hari kita senantiasa berusaha untuk datang kepadaNya berusaha mendengarkan dan melaksanakan sabda-sabda dan perintah-perintah Tuhan. Hal ini secara konkret antara lain kita senantiasa secara positif menanggapi aneka kehendak baik dari diri kita sendiri maupun dari saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita senantiasa dalam situasi dan kondisi apapun berusaha untuk melakukan apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, sehingga sewaktu-waktu kita meninggal dunia siap sedia untuk hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga, bersatu kembali dengan saudara-saudari kita yang telah mendahului peerjalanan kita menghadap Allah di sorga.

"Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan"(1Kor 15:21-24)

Apakah kita sebagai orang beriman menjadi "milik Kristus"alias dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun senantiasa melaksanakan kehendakNya dan meneladan cara hidup dan cara bertindakNya? Jika kita selama hidup di dunia ini senantiasa dalam "pœpersekutuan dengan Allah/Kristus" maka setelah meninggal dunia kita juga akan langsung bersatu denganNya di sorga untuk selamanya. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan untuk selalu dalam persekutuan dengan Allah/Kristus. Hendaknya jika kita melihat saudara atau saudari kita menjauh  dari persekutuan dengan Allah segera ditegor dan diingatkan untuk tetap bersekutu denganNya.

Dalam rangka mengenangkan Arwah Semua Orang Beriman hari ini, saya juga mengajak anda sekalian untuk mengenangkan santo atau santa pelindung masing-masing. Untuk itu anda jika tidak tahu riwayat hidup santo atau santa pelindung anda, silahkan buka di situs: www.imankatolik.or.id. Marilah kita meneladan cara hidup dan cara bertindak santo atau santa pelindung kita masing-masing. Maka hendaknya nama santo-santa yang menandai nama kita jangan hanya untuk gagah-gagahan alias pamer saja, tetapi hendaknya konsekwen: saya meneladan santo atau santa pelindung kita dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. (2Mak 12:43-44). Kami percaya bahwa pada hari ini anda tergerak untuk mendoakan saudara-saudari kita yang telah mati atau meninggal dunia, maka marilah dalam iman kita imani bahwa mereka kelak juga akan bangkit pada akhir zaman. Memang mendoakan mereka yang telah meninggal dunia tanpa iman akan kebangkitan orang mati tiada gunanya. Beriman akan kebangkitan orang mati berarti kita tidak hidup dan bertindak dengan sikap mental materialistis atau duniawi, melainkan secara spiritual. Dengan kata lain menghayati bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja, sebagaimana orang Jawa sering mengatakan bahwa “hidup itu bagaikan orang dalam perjalanan sedang berhenti untuk minum (=urip iku koyo wong mampir ngombe). Hendaknya hidup yang hanya sebentar ini diisi dengan cara hidup dan cara bertindak yang sebaik mungkin, hidup dan bertindak sesuai dengan iman kita, sesuai dengan spiritualitas/karisma atau visi lembaga dimana kita hidup di dalamnya atau bergabung dengannya.

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
(Mzm 130:1-6)
Ign 2 November 2012

Rabu, 31 Oktober 2012

1 Nov - HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS:


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS:

Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a

" Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah"

Dalam rangka mengenangkan Hari Raya Semua Orang Kudus hari ini saya coba refleksikan sabda Yesus tentang "Sabda Bahagia", sebagaimana diajukan dalam bacaan Injil hari ini, sebagai berikut:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.(Mat 5:3)

Apa yang dimaksudkan dengan 'miskin di hadapan Allah' antara lain adalah sikap mental senantiasa terbuka terhadap kehendak Allah atau Penyelenggaraan Ilahi, sehingga orang tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, melainkan kehendak dan perintah Tuhan. Dengan demikian orang yang bersangkutan adalah orang suci, orang yang sungguh membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Saya percaya bahwa kita semua mendambakan hidup suci dan kelak setelah meninggal dunia hidup mulia selamanya di sorga, maka dengan ini kami harapkan anda semua senantiasa membuka diri terhadap Penyelenggaraan Ilahi.    

"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Mat 5:4).

Hidup suci sesuai dengan perintah dan kehendak Allah atau senantiasa terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi tak akan pernah terlepas dari aneka penderitaan dan perjuangan alias dukacita. Maka ada pepatah: "jer basuki mowo beyo" (=untuk hidup mulia dan berbahagia orang harus berjuang dan berkorban), "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". Dua pepatah atau peribahasa di atas ini kiranya senada dengan sabda di atas, maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa siap sedia berjuang dan berkorban alias berduka cita demi penghiburan sejati yang akan kita terima atau nikmati serta dambaan.     

"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." (Mat 5:5)

Orang yang setia berjuang dan berkorban karena kesetiaan kepada Penyelenggaraan Ilahi akan tumbuh berkembang menjadi pribadi yang lemah lembut, tidak kasar. Orang yang lembah lembut pada umumnya juga akan hidup dan bertindak 'membumi', artinya sungguh merakyat atau mencermati dan memperhatikan kebutuhan sehari-hari sekecil dan sesederhana apapun. Hidup merakyat alias memperhatikan rakyat dan anak-anak kecil harus dengan lemah lembut, demikian juga memeperhatikan perkara atau hal-hal kecil dan sederhana. Kami berharap mereka yang berperan dalam hidup bersama untuk senantiasa hidup dan bertindak dengan lemah lembut, sehingga kita semua juga hidup dan bertindak dengan lemah lembut.   

"Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan" (Mat 5:6)

Orang yang lemah lembut pasti akan 'lapar dan haus akan kebenaran', rindu untuk mengetahui, memiliki dan menghayati apa yang benar dan baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan jiwa manusia. Dengan demikian yang bersangkutan kapan pun dan dimana pun senantiasa berusaha untuk melakukan apa yang benar dan yang baik. Saya percaya jika siapapun dapat melakukan apa yang baik dan benar dengan sukses pasti akan sungguh puas, dan kepuasannya akan tinggal lama dalam dirinya atau bahkan membekas dalam dirinya sampai mati.

`"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Mat 5:7)

Jika orang sungguh puas atas pengalaman hidup dan cara bertindaknya, maka yang bersangkutan akan bermurah hati kepada siapapun, artinya akan memperhatikan siapapun yang membutuhkan perhatian, tanpa pandang bulu. Hatinya senantiasa terbuka kepada siapapun sepanjang waktu, dan tentu saja juga akal budi, jiwa, tenaga maupun harta bendanya juga siap sedia untuk memperhatikan orang lain. Dengan kata lain orang yang bersangkutan akan menjadi orang yang sungguh social, dan dengan demikian akan memiliki banyak teman, saudara atau sahabat.

"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Mat 5:8)

Karena perhatian orang lain begitu melimpah ruah, maka orang yang bermurah hati juga akan berkembang menjadi suci hatinya, memiliki suara hati yang bersih dan jernih. Ia bagaikan dalam pewayangan seperti Puntadewa, yang memiliki kesucian hati sehingga dikatakan darahnya pun berwarna putih. Orang yang suci hatinya akan melihat Allah hadir dan berkarya dalam semua ciptaanNya, tentu saja terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Dengan demikian yang bersangkutan pun juga menjadi wahana atau sarana kerja Allah, karena apa yang dilakukan senantiasa sesuai dengan kehendak dan perintah Allah, maka yang bersangkutan pun senantiasa 'membawa damai' bagi siapapun yang dijumpai.

"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah." (Mat 5:9)

"Orang yang membawa damai" kemana pun dan dimana pun berarti menjadi sahabat-sahabat Allah, karena Allah senantiasa mendambakan damai di bumi. "Mereka akan disebut anak-anak Allah", orang yang senantiasa kehadiran dan sepak terjangnya dimana pun dan kapan pun merupakan perwujudan kehendak dan perintah Allah, Allah sungguh hidup dan berkarya dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Sebagai orang beriman sering kita juga disebut sebagai Umat Allah, maka marilah kita saling membawa damai bagi saudara-saudari kita, dan dimana ada pertentangan atau permusuhan hendak kita segera datang untuk mendamaikan. 

"Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Mat 5:10)

Pada masa kini pembawa damai atau pewarta kebenaran pasti tak akan terlepas dari aneka bentuk penganiayaan atau penderitaan, mengingat dan memperhatikan pertentangan dan kebohongan masih marak di sana-sini. Kepada mereka yang harus mengalami penganiayaan atau penderitaan karena mewartakan damai dan kebenaran, kami harapkan tetap setia melakukannya seraya mengenangkan Yesus yang rela menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan dan kebahagiaan umat manusia seluruh dunia. Pandang dan nikmati Dia yang tergantung di kayu salib, karena dengan demikian anda telah 'empunya Kerajaan Sorga', artinya sewaktu-waktu anda meninggal dunia akan langsung menikmati hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga.    

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat." (Mat 5:11)

Akhirnya menjadi orang yang hidup dan bertindak dalam kuasa Allah alias dirajai atau dikuasai oleh Allah dan secara konkret hidup baik, jujur, disiplin, menghayati rahmat kenabian yang berarti pada suatu saat harus melawan arus, maka yang bersangkutan akan mengalami celaan dan aniaya maupun fitnah. Jangan menjadi kecil hati atau penakut jika harus mengalami yang demikian itu, tetapi tetap berbahagia dan bergembiralah, karena para santo dan santa pelindung kita dan menandai nama kita, telah mengalami yang sama. Nikmati dan hayati aneka celaan, aniaya dan fitnah sebagai kesempatan menghayati iman kita kepada Yang Tersalib. Marilah kita renungkan kutipan ini : "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (1Yoh 3:1-3)

"TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu." (Mzm 24:1-4) . Ign 1 November 2012