Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 15 September 2012

Minggu Biasa XXIV


Mg Biasa XXIV: Yes 50:5-9a; Yak 2:14-18; Mrk 8:27-35
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

Dalam kehidupan bersama para imam, bruder, suster maupun awam sering terjadi ketegangan karena adanya perbedaan, entah antara tua dan muda maupun antara mereka yang bergelar sarjana, doktor atau professor dan mereka  yang hanya berijasah sekolah menengah atau sarjana biasa. Dengan kata lain ada orang-orang yang menyombongkan dirinya dengan pangkat, gelar, usia dst.., atau hidup dan bertindak hanya mengikuti selera dan keinginan pribadi, kurang atau tidak menghayati imannya. Dalam suatu kesempatan memberi rekoleksi pada suster Tarekat tertentu saya ingatkan akan apa yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu "Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat"(KHK kan 679). Mendengar masukan saya ada suster senior yang bergelar sarjana marah-marah dan cukup lama membenci saya. Memang pada masa ini juga terjadi kemerosotan moral atau penghayatan iman hampir di seluruh bidang kehidupan, dimana orang hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus hari ini.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya" (Mrk 8:34-35)

Nyawa adalah yang menghidupkan dan menggairahkan, maka nyawa bagi kita masa ini hemat saya dapat diartikan sebagai 'cita-cita, harapan, dambaan atau impian dst..", yang hemat saya sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita mengintegrasikan cita-cita, harapan, dambaan atau impian pada iman kita atau secara konkret hidup dan bertindak sesuai dengan visi, charisma atau spiritualitas yang telah kita akui dan usahakan untuk digeluti atau dihayati. Kami harapakan kita semua, umat beriman sungguh dalam semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apa yang dimaksudkan dengan "memikul salibnya"  antara lain adalah setia melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan pokok sehari-hari, tidak pernah mangkir sedikitpun dari tugas utama atau pokok. Sebagai pelajar atau mahasiswa hendaknya belajar sungguh-sungguh setiap hari, baik selama proses pembelajaran di dalam kelas maupun belajar sendiri atau kelompok di luar jam pembelajaran di dalam kelas. Jika anda mendambakan sukses dalam tugas belajar, kami harapkan diusahakan setiap hari belajar selama kurang lebih 7 s/d 8 jam, artinya jika proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung selama 5 jam, maka belajar sendiri di luar kelas atau di rumah kurang lebih selama 2 atau 3 jam, dimana selama belajar sendiri ini dapat mengulang atau memperdalam apa yang telah diajarkan atau mempersiapkan pelajaran hari yang akan datang/hari esok. Kami percaya ketika selama tugas belajar orang setia sebagaimana saya katakan di atas, maka ketika mereka menjadi dewasa pasti akan setia juga melaksanakan tugas-tugas utama atau pokok maupun setia menghayati panggilannya.

Kita juga dipanggil untuk setia 'mengikuti Tuhan', artinya senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Secara konkret hal ini kiranya dapat kita hayati dengan setia dan taat melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan kita masing-masing. Dengan kata lain kita tidak hanya setia dalam hal waktu tetapi juga setia mengisi waktu dengan melakukan pekerjaan atau tugas-tugas yang terkait dengan panggilan kita masing-masing. Kita semua mendambakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, maka marilah dambaan itu mulai kita wujudkan sedini mungkin alias mulai saat ini juga. Marilah kita hayati hidup ini adalah persiapan untuk mati alias dipanggil Tuhan, maka selama hidup ini hendaknya senantiasa terbiasa bergaul dan bertemu dengan Tuhan alias senantiasa berbuat atau melakukan apa yang baik, sehingga ketika dipanggil Tuhan secara personal kita tidak takut dan tidak melawan, melainkan dengan rela dan besar hati mempersembahkan diri seutuhnya alias menyambut kematian dengan ceria, penuh senyum dan gairah.

"Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yak 2:14-17)

Keunggulan hidup beriman memang terletak dalam penghayatan atau perbuatan, bukan wacana atau omongan. Maka kami berharap kepada kita semua, umat beriman, untuk saling membantu dan bekerjasama dalam penghayatan iman dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Wujud konkret penghayatan iman pada masa kini yang harus dihayati sungguh-sungguh serta disebarluaskan hemat saya adalah hidup jujur dan disiplin serta tidak melakukan korupsi sedikitpun (hal ini perlu dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak atau peserta didik selama tugas belajar, yaitu anak-anak atau peserta didik dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian).

"Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya daan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban demi kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Sedangkan "berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan"  (ibid. hal 10).
Kedua keutamaan di atas ini hemat saya bernilai pada dirinya sendiri, artinya saya akan hidup jujur dan disiplin atau tidak jujur dan tidak disiplin akan sangat menentukan diri kita sendiri. Jika kita tidak jujur dan tidak disiplin yang rugi dan celaka pertama-tama dan terutama adalah diri saya sendiri dan baru kemudian orang lain di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing. Ada rumor: "jujur akan hancur", memang benar jujur akan hancur, tetapi hancur untuk sementara dan  akan bahagia, mulia dan damai sejahtera selama-lamanya. Baik hidup jujur maupun hidup disiplin memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dan pada masa kini hidup jujur dan disiplin juga harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita hayati bahwa beriman kepadaNya berarti siap sedia untuk menderita dan berkorban, sebagaimana Ia telah menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia seluruh dunia.

"Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia"
(Mzm 115:1-4)
Ign 16 September 2012

Kamis, 13 September 2012

15 sept


"Inilah ibumu!"
(1Kor 10:14-22; Yoh 19:25-27)

"Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya" (Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Berdukacita hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Setelah mengenangkan Salib Suci Yesus kita diajak untuk mengenangkan BundaNya, SP Maria Berdukacita, Bunda Maria yang berpartisipasi dalam penderitaan dan salib Yesus. Seorang ibu pada umumnya memang sangat dekat dengan anaknya. Di dalam hidup sehari-hari seorang ibu pada umumnya lebih tahan menderita daripada seorang bapak, dan kasih seorang ibu kepada anak-anaknya juga lebih besar, sebagaimana tercermin dalam sebuah lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Dan juga ada motto "sorga ada di bawah telapak kaki ibu". Maka pertama-tama kami mengajak kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk meningkatkan dan memperdalam devosi kepada SP Maria, entah dengan berdoa rosario atau berziarah ke tempat-tempat perziarahan SP Maria. Tentu saja juga tak  boleh dilupakan untuk meneladan SP Maria yang rendah hati, hidup sederhana, taat kepada kehendak dan perintah Tuhan. Marilah kita kenangkan dan hayati juga kasih ibu kita masing-masing yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik kita dengan penuh pengorbanan. Tidak mengakui dan menghayati kasih ibu berarti menjadi orang yang tak tahu kasih, dan pada umumnya juga menjadi orang kurangajar, suka membuat orang lain menderita dan sengsara. Sebagai anak, dan kiranya kita semua pernah atau sedang berposisi sebagai anak, hendaknya menghayati sikap mental 'kemuridan', yaitu sikap mental rendah hati dan belajar terus menerus sampai mati. Kita dapat belajar dalam dan melalui aneka peristiwa atau kejadian sehari-hari, dan untuk itu perlu memperdalam keutamaan melihat dan mendengarkan. Sekali lagi semoga kita tidak melupakan ibu kita masing-masing kapan pun juga.
·   "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan! Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu." (1Kor 10:14-17). Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus berarti juga menjadi putera-puteri SP Maria, dengan kata lain kita semua adalah saudara. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk membangun, memperkembangkan dan memperdalam hidup persaudaraan sejati. Ingatlah dan sadari bahwa SP Maria juga dihormati oleh penganut agama lain, misalnya Islam. Persaudaraan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka bentuk permusuhan, kebencian dan ketegangan masih marak di sana-sini di dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap kepada para pemimpin dalam hidup bersama dimana pun dan kapan pun untuk memperhatikan masalah persaudaraan sejati ini, tanpa membedakan SARA, Suku, Ras dan Agama. Untuk itu pertama-tama dan terutama marilah kita hayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal, agar dengan demikian apa yang berbeda antar kita fungsional memperdalam dan meneguhkan persaudaraan. Marilah kita cermati bahwa laki-laki dan perempuan yang berbeda satu sama lain saling tarik menarik, tergerak untuk mendekat, mengenal dan bersahabat, dan bahkan ada yang akhirnya bersatu menjadi suami-isteri. Hendaknya aneka perbedaan yang ada pada kita menjadi bahan pembelajaran, dan dengan demikian kita saling belajar. Marilah kita hayati motto bangsa kita "Bineka Tunggal Ika", satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.
"Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku!Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku. Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia" (Mzm 31:2-6)
Ign 15 September 2012

14 sept

"Orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal."
(Fil 2:6-11; Yoh 3:13-17)

"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia" (Yoh 3:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini , saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, khususnya yang beragama Katolik, setiap kali berdoa atau mengawali suatu acara atau tugas pekerjaan kita membuat tanda salib seraya berkata "Dalam Nama Bapa, Putera dan Roh Kudus". Entah sudah berapa kali kita membuat tanda salib mungkin tak sempat menghitung, dan mungkin kita juga tidak sadar lagi apalagi menghayatinya. Maka dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini saya mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk mawas diri apa arti membuat tanda salib. Membuat tanda salib hemat saya berarti kita akan hidup dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, tidak mengikuti atau menurut selera dan keinginan pribadi. Dengan kata lain kita hidup dan bertindak meneladan Yang Tersalib, yaitu senantiasa membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan atau kebahagiaan orang lain, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Untuk itu orang dengan jiwa besar dan hati rela berkorban siap sedia untuk menderita demi keselamatan atau kebahagiaan orang lain. Cara hidup dan cara bertindaknya dimana pun dan kapanpun senantiasa merupakan perwujudan iman pada Yang Tersalib, memiliki cara melihat, cara berpikir, cara merasa, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan Yang Tersalib, yaitu melayani sesamanya dengan rendah hati. Kita semua kiranya mendambakan hidup kekal, bahagia dan damai sejahtera selamanya di sorga, setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, maka marilah cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan diri sebagai orang yang memiliki dambaan hidup kekal, bahagia dan damai sejahtera selamanya. Dengan kata lain selama hidup di dunia ini dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa bergembira, bergairah dan ceria, karena Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Kita bagaikan orang gila/sinthing yang terus tersenyum dan tidak pernah menyakiti orang lain sedikitpun.
·   "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8), demikian peringatan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Peringatan ini kiranya mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati. Salah satu bentuk penghayatan rendah hati pada masa kini yang mendesak dan up to date adalah tidak mengeluh atau tidak menggerutu dalam situasi dan kondisi apapun, termasuk dalam situasi dan kondisi yang sulit dan berat, yang sarat dengan aneka tantangan, masalah dan hambatan. Secara konkret dalam hal-hal biasa setiap hari, misalnya dalam hal makan, minum dan tidur. Makanan dan minuman yang tidak enak namun sehat tetap dinikmati dengan ceria, demikian juga tidur dimana pun tak ada masalah. Ketika orang memiliki masalah dalam hal makanan, minuman dan tidur yang sehat berarti yang bersangkutan sedang menderita sakit, sebagaimana terjadi di rumah sakit. Sebaliknya jika orang tak memiliki masalah dalam hal makanan, minuman dan tidur pada umumnya yang bersangkutan juga tidak akan mengeluh atau menggerutu ketika harus melakukan tugas pekarjaan berat, yang sarat dengan tantangan, masalah maupun hambatan. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk membiasakan dan mendidik anak-anak sedini mungkin dalam hal makan, minum dan tidur yang sehat, jangan hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Tentu saja orangtua dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal makan, minum dan tidur yang sehat.
"Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Allah; mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya" (Mzm 78:34-37)
Ign 14 September 2012