Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hari Raya SP Maria Diangkat ke Surga


HR SP MARIA DIANGKAT KE SORGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk  1:39-56
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu"

"Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut(LG 59). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain" (Katekismus Gereja Katolik no 966). Katekismus Gereja Katolik merupakan ajaran-ajaran perihal iman Katolik, dan mulai bulan Oktober 2012 ini selama setahun ke depan dinyatakan sebagai Tahun Iman, ajakan Pimpinan Gereja Katolik agar segenap umat Katolik mempelajari dan mendalami kembali aneka dokumen resmi Gereja Katolik. SP Maria Diangkat ke sorga merupakan salah satu iman Katolik, maka dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Diangkat ke sorga hari ini saya kutipkan dari Katekismus Gereja Katolik, dan marilah kita renungkan atau refleksikan bersama.

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:42-45)

Kutipan di atas ini merupakan pujian Elisabeth, yang karena Roh Kudus dalam usia tuanya sedang mengandung anaknya yang pertama, kepada SP Maria yang juga sedang mulai mengandung karena Roh Kudus, mengandung dan akan melahirkan Penyelamat Dunia, yang kedatangan atau kelahiranNya sangat dinantikan oleh umat manusia yang mendambakan keselamatan abadi. Hemat saya rekan-rekan perempuan memang lebih menentukan nasib bangsa manusia, karena mereka yang mengandung anak-anak, generasi mendatang. Pribadi seorang ibu dengan segala cirikhas fisik, spiritual, emosional maupun sosialnya akan sangat mempengaruhi anak yang dikandung dan dilahirkannya. Maka kata-kata Elisabeth terhadap SP Maria "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu", kiranya layak menjadi permenungan rekan-rekan perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya.

Di dalam rahim perempuanlah tumbuh dan berkembang berkat Tuhan, dan dari rahim perempuan lahirlah berkat Tuhan yang membahagiakan, anak manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Karena SP Maria diimani sebagai teladan hidup beriman, maka kami mengharapkan segenap umat beriman dapat meneladannya, antara lain dari cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menjadi berkat atau kasih karunia bagi orang lain atau sesama manusia dimana pun dan kapan pun. Menjadi berkat atau kasih karunia antara lain kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa mengundang dan memotivasi orang lain tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan alias semakin beriman atau semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari.

Dalam kutipan Katekismus di atas dikatakan bahwa SP Maria "sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya.". Kiranya kita semua mendambakan bahwa sesudah menyelesaikan perjalanan hidup kita di dunia ini alias setelah meninggal dunia kita juga segera hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga, maka marilah kita sungguh-sungguh hidup dan bertindak sebagai orang yang memiliki dambaan atau kerinduan mulia tersebut. Untuk itu hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa berusaha untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, tidak melakukan tindakan jahat atau amoral sekecil apapun. Marilah kita sadari dan hayati  bahwa ketika baru saja dilahirkan dari rahim ibu, di dunia ini, kita dalam keadaan baik dan suci, maka hendaknya kita sungguh-sungguh mempertahankan dan memperteguh serta memperkembangkan kesucian hidup tersebut. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau kesaksian iman Paulus di bawah ini.

"Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan" (1Kor 15:22-24)

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita telah "dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus", maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan bahwa kita berada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Bersekutu dengan Yesus Kristus berarti menjadi 'alter Christi', karena kita sungguh meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabdaNya. Marilah kita tunjukkan persekutuan tersebut dengan hidup bersaudara atau bersahabat dengan siapapun serta senantiasa mengusahakan persaudaraan atau persahabatan sejati di antara umat manusia di bumi ini.

Persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Pada masa kini masih banyak orang yang menyombongkan kekuasaan dan kekuatannya dalam pemerintahan, serta menggunakan kuasa dan kekuatannya hanya untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya, sehingga menimbulkan ketegangan dan percekcokan di sana-sini. Marilah kita binasakan bersama Tuhan orang-orang yang demikian itu, karena mereka sungguh menjadi pemecah belah dan penghancur hidup bersama. Sikap mental bisnis atau materialistis memang masih begitu mendominasi hidup bersama di mana-mana, dan marilah kita hancurkan.

"Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.  Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. aka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya." (Why 12:3-5). Penglihatan yang dilukiskan oleh penulis Kitab Wahyu di atas ini kiranya mengingatkan kita akan pepatah yang berbunyi "sorga ada di telapak kaki ibu". Dengan kata lain jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera hendaknya jangan pernah melupakan kasih ibu yang luar biasa kepada kita, sebagaimana sebuah nyanyian mengenangkannya :"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia"

"Di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!" (Mzm 45:10-12)
Ign 12 Agustus 2012

11 Agt


"Apakah yang akan kami peroleh?"
(Flp 3:8-14; Mat 19:27-29)

"Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Mat 19:27-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Klara, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Bagi seorang gadis, keperawanan merupakan sesuatu yang paling berharga atau bernilai bagi dirinya. Keperawanannya pasti akan diserahkan atau dipersembahkan kepada yang terkasih, yang paling dikasihinya. Tentu saja saja jika ia dipanggil untuk hidup berkeluarga sebagai suami isteri, maka ia akan mempersembahkan keperawannya kepada pasangan hidupnya, suaminya, tetapi ketika ia terpanggil untuk tetap hidup sebagai perawan alias tidak menikah, maka ia mempersembahkan keperawanan atau kesuciannya kepada Yang Terkasih, Tuhan yang telah menciptakan dan mengasihiNya. Hari ini kita kenangkan St.Klara, yang mempersembahkan keperawanannya kepada Tuhan dengan "meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya", yang kemudian "menerima kembali seratus kali lipat dan memperoleh hidup yang kekal". Kami berharap kepada kita semua, umat beriman atau beragama, untuk senantiasa menjaga dan memperdalam kesucian kita masing-masing, dan untuk itu hendaknya senantiasa mempersembahkan diri kepada Tuhan, yang secara konkret melayani atau mempersembahkan diri kepada sesamanya, dengan kata lain marilah kita saling melayani dan mempersembahkan diri. Jika kita hidup saling melayani dan mempersembahkan diri, maka percayalah kita akan menerima anugerah atau rahmat berlipat ganda atau melimpah dan kelak menerima hidup kekal, mulia selamanya di sorga bersama Tuhan dan orang-orang kudus atau suci yang telah mendahului perjalanan kita menghadap Tuhan di sorga. Kepada rekan-rekan gadis, perempuan yang belum menikah atau tidak menikah, kami harapkan setia menjaga keperawanannya, dan jangan seenaknya dijual-belikan kepada laki-laki yang kurang atau tidak bermoral.

·   "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan." (Flp 3:8-9), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua, umat beriman. Hidup mesra, bersama dan bersatu dengan Tuhan memang tak ternilai, tak dapat dijelaskan dengan akal sehat, dan hanya mungkin diimani dan dihayati. Merenungkan kesaksian Paulus di atas, saya teringat akan Ibu Teresa dari Calcuta, yang meninggalkan gedung mewah beserta kemegahan dan yang ada di dalamnya, sekolah favorit, dan kemudian menyatukan diri dengan orang-orang miskin, yang kurang diperhatikan dan kurang dikasihi, yang berada di jalanan atau tumpukan sampah, yang kotor dan menjijikkan. Karena pengenalannya dengan Yesus Kristus, yang meskpun kaya telah memiskinkan Dirinya, yang miskin dan senantiasa berpihak dan bersama dengan mereka yang miskin dan kekurangan, Ibu Teresa telah menganggap sampah kemegahan dan kemewahan duniawi ini. Kita semua tahu Ibu Teresa yang masih hidup saat itupun sudah dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci, padahal orang suci adalah orang yang telah meninggal dunia dan dinyatakan suci. Memang ibu Teresa telah meninggalkan sikap mental duniawi atau materialistis ini untuk memeluk Yang Ilahi, yang hidup dalam diri mereka yang miskin, berkekurangan dan terlantar. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan Ibu Teresa, yang telah dinyatakan sebagai "Beata", Yang Berbahagia, hidup dalam kepercayaan dan kebenaran Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun.
"Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mzm 16:5.7-8)
Ign 11 Agustus 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

10 Agt


"Jika ia mati akan menghasilkan banyak buah"
(2Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)
" Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Terpanggil menjadi diakon berarti membantu tugas para rasul untuk melayani 'meja', artinya memperhatikan kebutuhan hidup sehari-hari umat Allah, dengan kata lain merasul dalam hal pelayanan harta benda atau seluk-beluk duniawi. Memang untuk masa kini terlibat atau mengelola harta benda duniawi sungguh butuh orang yang beriman, karena tanpa iman terlibat dalam harta benda/uang atau mengelolanya pasti akan cenderung untuk berkorupsi. Dengan kata lain semakin mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi harus semakin beriman. Maka dalam rangka mengenangkan St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dalam hal penghayatan rahmat kemartiran kita. Hemat saya mengelola atau mengurus harta benda duniawi atau seluk-beluk duniawi dengan baik dan benar pada masa kini merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran yang mendesak dan up to date kita hayati dan sebarluakan pada masa kini. Mereka yang bertugas mengelola atau mengurus harta benda dan uang dengan jujur dan disiplin memang 'harus berani mati' artinya ada kemungkinan dibenci dan diamat-amati terus-menerus dengan tujuan jahat atau jelek. Di jajaran pemerintahan Indonesia masa lalu sampai kini rasanya orang jujur dan benar maupun pejuang kebenaran dan kejujuran senantiasa harus siap sedia disingkirkan, bahkan siap sedia mati. Dalam hal ini saya teringat pada tokoh Munir, dari Kontras, yang penyebab kematiannya sampai kini masih dijadikan misteri. Kasus kerusuhan bermotif agama di Pandeglang maupun Temanggung tahun lalu hemat saya merupakan usaha mematikan pejuang kebenaran dan kejujuran dalam rangka membongkar korupsi di negeri ini, dengan kata lain bukan kerusuhan agama, melainkan pembelokan perhatian rakyat dari masalah korupsi alias bermotif ekonomi atau duniawi. Begitulah sikap mental orang-orang duniawi yang seenaknya menghabisi kebenaran dan kejujuran.
·   "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan" (2Kor 9:6-8). Kutipan di atas ini kiranya megingatkan kita semua bahwa manusia maupun harta benda pada dirinya sendiri sebenarnya bersifat sosial, maka jika kita sungguh beriman diharapkan senantiasa hidup dan bertindak sosial dimana pun dan kapan pun. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban gotong-royong, antara Tuhan dan orangtua, dan bapak serta ibu kita masing-masing. Ada dan pertumbuhan serta perkembangan diri kita sampai kini karena dan oleh gotong-royong, maka jika kita tidak hidup bergotong-royong atau sosial berarti kita mengingkari jati diri kita masing-masing. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, maka segala jenis dan bentuk harta benda yang tercipta oleh manusia juga bersifat sosial. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang untuk hidup sosial, hendaknya jangan hanya berkelebihan dalam hal harta benda atau uang saja, tetapi juga berkelebihan dalam hal kebajikan-kebajikan. Semakin kaya akan harta benda atau uang kami harapkan juga semakin kaya akan kebajikan-kebajikan. Maklum cukup banyak orang yang kaya akan harta benda atau uang di Indonesia saat ini sering begitu teliti dan penuh dengan hitung-hitungan sehingga tumbuh berkembang ke bersikap mental bisnis alias materialistis, kurang atau tidak sosial.
"Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya." (Mzm 112:5-8)
Ign 10 Agustus 2012