Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 04 Agustus 2012

Minggu Biasa XVIII


Mg Biasa XVIII: Kel 16:2-4.12-15: Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal"

Sikap mental budaya instant kiranya begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang masa kini, sebagai dampak maraknya atau membanjirnya aneka jenis makanan dan minuman instant di pasaran begitu bebas. Ada orang yang ingin cepat-cepat kaya dan untuk itu dengan seenaknya melakukan korupsi dalam tugas pekerjaan atau jabatannya, ada muda-muda atau generasi muda tergesa-gesa ingin menikmati hubungan seksual, padahal belum menjadi suami-isteri, dan yang cukup memprihatikan serta mendasari semuanya itu adalah para pelajar atau siswa ingin cepat naik kelas atau lulus ujian tetapi tidak pernah belajar, belajar ketika menjelang ulangan atau ujian. Budaya instant  sangat dekat dengan budaya materialistis, dimana kesuksesan atau keberhasilan hidup, penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas kewajiban berpedoman pada buah harta benda atau uang yang dapat diperoleh dan dikumpulkan. Orang bangga dengan memiliki harta benda atau uang banyak sekali, bangga memiliki gedung/rumah megah dan sarana-prasarana modern dan canggih, sehingga banyak orang mengaguminya, tetapi menjadi pertanyaan apakah mereka juga mengasihinya. Kami mengajak anda sekalian untuk hidup dan bekerja tidak terbatas pada kesuksesan materi, yang dapat musnah dalam sesaat, melainkan mengusahakan sesuatu yang bertahan sampai kekal, selamanya, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini.

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh 6:27)

Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup sebenarnya ada di dalam atau melekat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari, jika kita sungguh hidup baik dan bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan yang berlaku. Dengan kata lain 'bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal' , yaitu mengusahakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, hemat kami berupa memperjelas dan menyingkapkan nilai atau keutamaan yang telah kita hayati dalam hidup maupun kerja. "Values clarification" = pencerahan atau penyingkapan nilai-nilai, itulah yang harus kita usahakan bersama-sama dalam hidup dan kerja kita.

Para pendidik dan pemerhati pendidikan yang sungguh beriman dan bermoral mengusulkan pendidikan nilai atau keutamaan dalam proses pembelajaran atau pendidikan di masa awal Reformasi, yang dikoordinir oleh Prof Dr Edi Sedyawati dan menerbitkan buku kecil berjudul "Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur" (Balai Pustaka – Jakarta 1997). Dalam buku kecil ini diuraikan secara singkat apa yang dimaksudkan dengan budi pekerti luhur, yang antara lain berisi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan seperti "bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tatap janji, terbuka, ulet". Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya secara inklusif ada dalam cara hidup dan cara bertindak kita maupun saudara-saudari kita, maka marilah kita singkapkan, dan kemudian kita perdalam.

Saya tak jemu-jemunya mengingatkan dan mengajak para orangtua agar dalam mendidik dan membina anak-anaknya senantiasa lebih mengutamakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibiasakan untuk menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut di atas, dan para orangtua kiranya dapat memilih nilai atau keutamaan mana yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak maupun lingkungan hidupnya. Selanjutnya kami berharap kepada para pengurus, pengelola atau pelaksana karya pendidikan atau sekolah, lebih mengutamakan agar para peserta didik lebih unggul dan handal dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas, bukan dalam hal kepandaian atau kepintaran. Akhirnya kami berharap kepada para orangtua dan pendidik/guru dapat menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas.

"Kamu telah belajar mengenal Kristus.Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya" (Ef 4:20-24).

Kutipan di atas ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, entah secara formal maupun informal atau siapapun yang berkehendak baik. Kita dipanggil untuk "menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya". Menjadi manusia baru berarti hidup suci atau kudus serta menghayati dan menyebarluaskan aneka kebenaran.

Suci atau kudus berarti membaktikan diri seutuhnya kepada kehendak dan perintah Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari dimana pun dan kapan pun, sehingga senantiasa memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Tuhan, tidak mengikuti caranya sendiri atau seenaknya sendiri. Maka kepada siapapun yang masih hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, hendaknya setia menghayati atau melaksanakan janji-janji yang telah dikrarkan ketika mulai menempuh dan mengarungi hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, hidup berkeluarga maupun hidup membujang.

 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu." (Kel 16:12), demikian firman Tuhan kepada Musa, yang sedang memimpin bangsa terpilih menuju 'tanah terjanji' . Firman ini kiranya baik untuk kita renungkan ketika di dalam perjalanan penghayatan hidup atau panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita menghadapi kesulitan, tantangan atau masalah berat, yang dengan mudah membuat kita mengeluh atau menggerutu. Baiklah jika kita mengeluh atau menggerutu, hendaknya diarahkan kepada Tuhan, dengan kata lain berdoa untuk mohon rahmat dan pencerahan serta kekuatan dari Tuhan. Percayalah jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan, maka Tuhan juga akan menganugerahkan aneka kebutuhan dan sarana-prasarana yang kita butuhkan, sehingga kita dengan bantuan rahmat Tuhan mampu menuntaskan panggilan maupun tugas pengutusan kita.

"Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit; setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah." (Mzm 78:23-25)

Ign 5 Agustus 2012


Jumat, 03 Agustus 2012

4 Agt


"Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

(Yeh 3:16-21; Mat 9:35-10:1)

"Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan." (Mat 9:35-10:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes Maria Vianney, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil untuk menjadi imam berarti harus berpartisipasi dalam karya penyelamatan Yesus, antara lain "mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan". St.Yohanes Maria Vianney, yang terkenal dengan pembaktian dirinya untuk menerimakan Sakramen Pengakuan di kamar pengakuan sampai berjam-jam setiap hari, kiranya lebih menghayati perutusan untuk 'melenyapkan segala penyakit dan kelemahan'. Ia juga menjadi pelindung bagi para imam, dengan harapan para imam dapat meneladan cara hidup dan cara bertindaknya dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk meneladan St.Yohanes Maria Vianney dalam pelayanan pastoralnya dalam karya macam apapun. Secara konkret memang para imam hendaknya senantiasa siap sedia kapan saja untuk menerimakan Sakramen Pengampunan bagi mereka yang memintanya, dan dalam cara hidup serta cara bertindaknya senantiasa mengampuni mereka yang bersalah, entah bersalah terhadap imam sendiri maupun orang lain. Kasih pengampunan hemat saya merupakan anugerah Tuhan yang telah kita terima secara melimpah ruah, maka selayaknya kita meneruskannya kepada orang lain dimana pun dan kapan pun. Yang terpanggil untuk hidup saling mengampuni kiranya tidak hanya para imam saja, melainkan kita semua umat beriman atau beragama. Marilah kita dimanapun dan kapanpun senantiasa hidup dan bertindak saling mengampuni satu sama lain, saling berusaha menyembuhkan aneka penyakit dan kelemahan.

·   "Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu." (Yeh 3:19-21). Apa yang difirmankan oleh Tuhan melalui nabi Yeheskiel ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita semua, umat beriman atau beragama. Kita semua dipanggil untuk segera mengingatkan dan menegor orang-orang berdosa atau yang melakukan kesalahan untuk bertobat atau memperbaharui diri. Jika kita tahu ada orang berdosa atau bersalah dan kita tidak mengingatkan atau membiarkan saja, maka kita bersalah, dan dari pihak kita dituntut tanggungjawab oleh Tuhan. Sebaliknya kami juga berharap kepada kita semua: ketika kita bersalah dan diingatkan atau ditegor oleh saudara-saudari kita hendaknya tidak melawan atau mempertahankan diri, melainkan dengan rendah hati ditanggapi dengan kata-kata singkat "terima kasih". Sadari dan hayati bahwa semua sapaan, sentuhan, tegoran atau peringatan sekeras apapun dan menyakitkan hati kita, hemat saya hal itu merupakan wujud kasih mereka terhadap kita, maka hendaknya disikapi dengan 'terima kasih'. Orang tak mungkin menegor, mengingatkan dan memarahi kita jika mereka tak mengasihi kita. Kita semua juga diingatkan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat jahat atau berdosa dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

"Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku; sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan" (Mzm 88:2-5)

Ign 4 Agustus 2012


Kamis, 02 Agustus 2012

3 Agustus


"Dari mana diperolehNya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat itu?"

(Yer 26:1-9; Mat 13:54-58)

" Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ" (Mat 13:54-58), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Heran dan kagum sering kita alami ketika melihat atau mengalami sesuatu yang baru dan luar biasa. Namun pada umumnya orang akan lebih mengagumi pembaharuan dan kehebatan orang lain yang jauh daripada mereka yang dekat. Maklum terhadap mereka yang dekat, hidup dan bekerja bersama sehari-hari pada umumnya orang begitu mengenal kelemahannya, melebihi kekuatan atau kehebatannya. Maka ketika ada sesuatu yang baru dan luar biasa yang terjadi atau dilakukan oleh saudara-saudarinya yang dekat pada umumnya orang heran dan curiga, sebagaimana dihayati oleh orang-orang Nazaret terhadap Yesus. Menanggapi keheranan dan kecurigaan orang-orang Nazaret Yesus berkata bahwa "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya". Kami harapkan kita semua saling menghargai dan menjujung tinggi kekuatan, anugerah, bakat, keterampilan saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerjasama dengan kita, yang kemudian menghasilkan aneka pembaharuan maupun hikmat atau mujizat. Tentu saja pertama-tama kami berharap hal ini terjadi di antara suami-isteri maupun kakak-adik di dalam keluarga. Dalam kenyataan dapat kita lihat dan saksikan bahwa tokoh-tokoh hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang penuh hikmat pada umumnya berasal dari keluarga-keluarga miskin dan sederhana, karena mereka terbiasa dalam hidup sehari-hari harus menderita menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yamg mereka hayati sebagai wahana membina dan mendidik dirinya.

·   "Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, -- tetapi kamu tidak mau mendengarkan -- maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." (Yer 26:4-6). Melalui nabi Yeremia kita semua diingatkan untuk senantiasa mendengarkan firman Tuhan dan kehendakNya, yang antara lain diusahakan oleh orang-orang beriman menjadi aneka aturan dan tata tertib hidup dan bekerja bersama. Dengan kata lain jika kita mendambakan desa, daerah atau kota tempat kita hidup dan bekerja dalam keadaan baik serta enak dan nikmati untuk ditinggali maupun bekerja, marilah kita taati dan laksanakan aneka tata tertib atau aturan yang berlaku. Sekali lagi kami angkat dan tekankan bahwa keunggulan hidup beriman atau beragama adalah dalam pelaksanaan atau penghayatan, bukan dalam wacana atau omongan. Marilah kita rawat dengan baik rumah/tempat tinggal maupun tempat kita masing-masing, dimana setiap hari kita memboroskan waktu dan tenaga kita. Jaga dan usahakan kebersihan serta keindahan lingkungan hidup, rawat baik-baik aneka sarana-prasarana hidup atau kerja. Untuk itu hendaknya entah hidup atau kerja dihayati sebagai ibadah kepada Tuhan, sehingga lingkungan hidup, tempat kerja maupun tempat hidup bagaikan tempat ibadah, dan rekan hidup dan kerja bagaikan rekan beribadah, sedangkan merawat aneka sarana-prasarana bagaikan merawat sarana-prasarana ibadah. Bukankah sikap kita ketika sedang beribadah maupun sikap kita terhadap rekan ibadat dan sarana-prasarana ibadat penuh kasih dan syukur. Maka hendaknya dalam hidup dan kerja sehari-hari kita saling berterima kasih dan bersyukur. Jika kita saling berterima kasih dan bersyukur, maka kami percaya bahwa hidup bersama sungguh enak dan nikmat , dan dengan demikian lingkungan hidup, desa, daerah atau kota kita baik adanya, aman tenteram, tiada kejahatan sedikitpun. Semoga motto atau semboyan kota-kota di Indonesia ini, yang tertulis di jalanan, tidak hanya sekedar tertulis, tetapi menjadi kenyataan.

"Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang-orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas. Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku; sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku." (Mzm 69:5.8-10)

Ign 3 Agustus 2012