Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 28 Juli 2012

Minggu Biasa XVII


Mg Biasa XXVII: 2Raj 4:42-44: Ef 4:1-6; Yoh 6:1-15

"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"

Orang-orang yang tergolong miskin di Indonesia masih cukup banyak, meskipun untuk sementara orang semakin kaya dan sejahtera. Jika dicermati anggaran pemerintah Indonesia telah dialokasikan jumlah yang cukup besar, melalui Departemen Sosia, Agama maupun Pendidikan, namun jumlah dana yang langsung disampaikan kepada orang-orang miskin hanya sedikit dan sebagian dana anggaran dikorupsi oleh para pejabat maupun para pegawai yang terkait dan berkarya dalam departemen-departemen tersebut di atas. Indonesia ini sebenarnya kaya akan hasil bumi serta pendapatan dari pajak cukup besar, dan dengan demikian sebenarnya memiliki kekayaan yang memadai untuk seluruh rakyat guna hidup sejahtera dan bahagia. Sekali lagi korupsi dalam pengelolaan atau pengurusan pajak masih meraja lela, demikian juga hasil bumi hanya dinikmati oleh segelintir orang, maka rakyat miskin semakin bertambah. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan Yesus karena tergerak hatiNya oleh belaskasihan menggandakan roti dan ikan untuk memberi makan ribuan orang yang sedang kelaparan, maka kami berharap anda sekalian berbesar hati dan rela berkorban, meneladan seorang anak yang rela mempersembahkan semuanya bekal lima roti dan dua ekor ikan kepada Tuhan, untuk dibagikan kepada mereka yang miskin dan kelaparan.

"Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki" (Yoh 6:11)

Berdoa dan bersyukur itulah yang dilakukan oleh Yesus dalam mengadakan mujizat penggandaan roti dan ikan. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk senantiasa berdoa dan bersyukur dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Memang hemat saya isi doa kita yang utama dan pertama-tama hemat saya adalah syukur, bersyukur karena kita dianugerahi hidup serta segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup, sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Sekali lagi kami ingatkan kita semua bahwa segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai serta telah kita nikmati sampai kini adalah anugerah Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita, mengasihi dan memperhatikan kita melalui aneka cara dan bentuk.

Allah telah menyediakan aneka kebutuhan bagi manusia agar dapat hidup sejahtera dan damai bahagia, dan segala jenis harta benda yang tercipta berkat kerjasama kita manusia juga pada dirinya bersifat sosial, maka semakin memiliki aneka jenis harta benda hendaknya senantiasa hidup sosial. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kiranya setiap hari kita berdoa Bapa Kami, yang diajarkan oleh Yesus, dan diantaranya kita berdoa "Berilah kami rejeki hari ini".  Isi doa ini tidak lain adalah permohonan kita agar kita senantiasa hidup sederhana dan tidak berfoya-foya, tidak serakah sebagaimana dilakukan banyak orang yang berusaha mengumpulkan harta benda dan uang untuk tujuh turunan, sehingga orang lain tidak memperoleh bagian. Kita dapat meneladan tokoh dunia, misalnya Mahadma Gandi dan Ibu Teresa dari India, yang sungguh hidup sangat sederhana serta memperhatikan mereka yang miskin, berkekurangan, dan kurang diperhatikan.

Kepada mereka yang mempekerjakan orang dalam usahanya kami harapkan memberi imbal jasa atau gaji yang memadai untuk hidup layak kepada para pegawai, buruh atau pembantunya. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa segala usaha maupun hasil usaha anda sangat tergantung dari mereka, yang bekerja membantu dan menjalankan usaha anda, tanpa mereka usaha anda tidak dapat berlangsung dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Sebagai warga masyarakat kami harapkan kita peka terhadap saudara-saudari kita yang miskin, menderita dan berkekurangan, dan hendaknya kita solider terhadap mereka dengan memberikan sebagian harta benda dan kekayaan kita bagi mereka.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kiranya kita juga dipanggil meneladan kenabianNya, sehingga siapapun yang bertemu dengan kita atau kita layani akan berkata sebagaimana orang-orang yang telah menikmati penggandaan roti dan ikan berkata "Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia" . Dengan kata lain biarlah mereka yang bertemu dengan kita atau kita layani senantiasa menyaksikan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah kita sebarluaskan kebenaran ilahi antara lain bahwa manusia adalah makhluk sosial, demikian juga aneka jenis harta benda pada dirinya bersifat sosial.

"Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Ef 4:1-2)

Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak "rendah hati, lemah lembut, sabar dan saling membantu dalam kasih". Maka kepada mereka yang hidup dan bertindak sombong, kasar dan tergesa-gesa serta kurang mengasihi dan membantu alias egois kami harapkan bertobat atau memperbaharui diri menjadi rendah hati, lemah lembut, sabar dan saling membantu dalam kasih. Sekali lagi kami ingatkan dan angkat bahwa penghayatan rendah hati pada masa kini antara lain dapat kita wujudkan dengan tidak mengeluh atau menggerutu ketika kita harus menghadapi masalah, tantangan, hambataan atau gangguan dalam cara hidup dan cara bertindak kita yang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan. Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar dan utama yang harus kita hayati dan sebarluaskan.

Marilah kita saling membantu dalam dan dengan kasih, lembah lembut dan sabar satu sama lain. Hendaknya pertama-tama kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini karena bantuan orang lain yang begitu banyak dan melimpah, sejak kita dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing. Kasih tidak dapat dibatasi, maka hendaknya kita membantu siapapun, tanpa pandang bulu atau SARA, lebih-lebih mereka yang miskin dan berkekurangan. "Sabar adalah sikap daan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak-gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah. Ini diwujudkan dalam perilaku dan sikap dan menerima apa pun. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Dalam membantu orang lain kiranya kita tak akan terlepas dari aneka rangsangan dan masalah yang mendorong kita untuk marah, menggerutu, mengeluh atau tidak sabar.

"Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan, sebab beginilah firman TUHAN: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya." (2Raj 4:43), demikian firman Tuhan melalui Elisa. Kutipan ini kiranya semakin memperjelas, memperteguh dan menguatkan kita untuk saling membantu satu sama lain dalam hidup dan kerja bersama. Sekali lagi anda semua kami ajak untuk memperhatikan dan membantu saudara-saudari kita yang kelaparan karena keterbatasan-keterbatasannya. Jika anda tidak tahu kepada siapa harus membantu, maka salurkan bantuan anda melalui yayasan sosial yang dapat dipercaya atau secara langsung mendatangi panti-panti asuhan yang mengasuh mereka yang miskin dan berkekurangan maupun yang mengurus dan mengelola bayi-bayi sebagai korban perkosaan atau pergaulan seks bebas.

"Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup. TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan" (Mzm 145:15-18)

Ign 29 Juli 2012   

         


Jumat, 27 Juli 2012

28 Juli


" Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai"

(Yer 7:1-11: Mat 13:24-30)

"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (Mat 13:24-30) ,demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Allah memang sungguh menganugerahkan kebebasan luar biasa kepada manusia, sejak manusia diciptakan. Namun sungguh memprihatinkan bahwa cukup banyak manusia menyalagunakan kebebasan yang dianugerahkan oleh Allah tersebut, antara lain dengan hidup dan bertindak menurut kemauan atau keinginan pribadi, mengikuti hawa nafsunya, misalnya dalam kenikmatan tidur/istirahat, makan dan minum maupun hal-hal seksual. Dampaknya adalah bahwa manusia di bumi ini merupakan ciptaan tertinggi dan termulia akhirnya dijajah oleh ciptaan-ciptaan lainnya maupun aneka hasil ciptaan atau kreasinya sendiri. Memang selama hidup dan bekerja ini kita berada di persimpangan jalan, ada di antara daya tarik Roh Kudus atau daya tarik Setan, dorongan untuk berbuat baik atau berbuat jahat. Untuk menghadapi keberadaan kita yang ada di persimpangan jalan ini hemat saya penting sekali bagi kita untuk terampil dalam hal pembedaan roh atau spiritual discernment. Keterampilan ini dapat kita latih dengan tekun dan setia melakukan pemeriksaan batin atau refleksi setiap hari. Maka hendaknya setiap hari melakukan pemeriksaan batin, yaitu malam menjelang istirahat malam. Pemeriksaan batin dapat dilakukan dimana saja. Selain pemeriksaan batin kami mengharapkan kita semua agar dalam hidup dan bekerja sehari-hari senantiasa menanggapi secara positif aneka ajakan dan dorongan untuk melakukan apa yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa manusia, sebaliknya kami juga berharap untuk senantiasa menolak ajakan atau dorongan untuk melakukan apa yang jahat, misalnya korupsi yang marak masa kini. Kita semua sudah tahu buah dari mereka yang melakukan korupsi, sebagaimana hampir setiap hari diberitakan dalam mass media: para koruptor menderita dan sengsara buahnya.

·   "Perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu di tempat ini. Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi" (Yer 7:3-4), demikian firman Allah melalui nabi Yeremia. Panggilan utama seorang nabi memang untuk mengajak manusia memperbaiki tingkah lakunya yang jahat. Ajakan macam ini kiranya juga sering kita dengarkan melalui berbagai kesempatan, misalnya dalam kotbah di dalam ibadat-ibadat, dalam kesempatan mengikuti rekoleksi atau retret dst.. Kami berharap ketika mendengarkan ajakan-ajakan untuk memperbaiki tingkah laku kita segera ditanggapi secara positif, alias segera dilaksanakan tanpa ditunda-tunda. Marilah kita gunakan kebebasan yang dianugerahkan oleh Allah untuk memperbaiki tingkah laku kita yang tidak baik atau jahat. Kita juga diingatkan untuk menjadi peka terhadap aneka perkataan dusta atau bohong, yang juga marak di sana-sini dalam hidup kita sehari-hari. Tentu saja dari pihak kita sendiri hendaknya kita juga tidak pernah berkata dusta atau bohong, melainkan senantiasa berusaha berkata benar, apa adanya, sebagai penghayatan rahmat kenabian yang dianugerahkan kepada kita. Kita semua dipanggil untuk senantiasa hidup dan bertindak dengan jujur. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Hidup dan bertindak jujur ini antara lain dapat dilatih dan dibiasakan di sekolah-sekolah dengan tidak melakukan dan membiarkan tindakan menyontek dalam ulangan maupun ujian. Melakukan atau membiarkan tindakan menyontek dalam ulangan atau ujian berarti menyuburkan tingkah laku jahat seperti korupsi.

"Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau" (Mzm 84:3-6a)

Ign 28 Juli 2012


Kamis, 26 Juli 2012

27 Juli

"Yang ditaburkan di tanah yg baik ialah orang yang mendengar dan mengerti firman itu"

(Yer 3:14-17: Mat 13:8-23)

" Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar dan mengerti firman itu , dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Mat 13:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kami percaya bahwa kita semua ditaburkan alias dilahirkan dalam keluarga yang baik-baik dan senantiasa juga ditaburi aneka ajaran, nasihat, petuah, tegoran, didikan atau binaan yang baik, dan jarang sekali yang tidak baik. Maka selayaknya kita semua juga tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Namun, mungkin karena kelalaian, ketidaktahuan, kesambalewaan orangtua atau para pendidik, kita tumbuh berkembang sebagaimana tidak dikehendaki oleh Allah. Dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan pentingnya keutamaan mendengarkan dan kemudian mengerti atau memahami. Keutamaan ini kiranya penting sekali untuk dihayati oleh siapapun yang sedang memiliki tugas pengutusan sedang belajar maupun anak-anak di dalam keluarga atau para anggota, bawahan, pekerja dalam hidup atau bekerja bersama dimana pun dan kapan pun. Maka baiklah pertama-tama kami mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk mendidik dan membina anak-anaknya dalam hal keutamaan 'mendengarkan dengan baik', yang kemudian diharapkan dapat mengerti atau memahami apa yang didengarkannya. Jika di dalam keluarga anak-anak dibina dan dididik dalam hal keutamaan ini, maka hemat saya ketika mereka kelak belajar di sekolah akan dapat dengan mudah mendengarkan pengajaran atau informasi yang disampaikan oleh para guru atau pendidik, dan dengan demikian mereka akan sukses dalam tugas belajar. Kita semua juga dipanggil untuk menjadi pendengar-pendengar yang baik dalam hidup sehari-hari, mengingat dan memperhatikan bahwa setiap hari ada informasi baru yang baik dan berguna bagi hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita melalui aneka macam media massa atau pergaulan. Marilah kita perdalam keutamaan 'mendengarkan dan mengerti atau memahami' dalam hidup dan kerja kita sehari-hari.

·   "Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion. Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian" (Yer 3:14-15). Kutipan ini kiranya bagus sekali untuk dijadikan permenungan atau refleksi bagi mereka yang 'murtad', nakal, kurang ajar, kurang terdidik atau terbina. Memang dari diri mereka sendiri kiranya sangat sulit diharapkan untuk bertobat atau memperbaiki diri tanpa turun tangan atau bantuan para 'gembala' (orangtua, guru, pendidik dst..). Maka kepada mereka yang berfungsi dalam tugas pengutusan penggembalaan, kami harapkan dengan rendah hati dan cintakasih 'menggembalakan dengan pengetahuan dan pengertian'. Yang nakal dan kurang ajar kita beri ajaran, yang kurang tahu diberi tahu, yang kurang mengerti diberi pengertian dst… Dalam memberikan hendaknya dalam semangat cintakasih dan kebebasan sejati, karena dengan demikian yang menerima akan membuka diri dengan suka rela dan berjiwa besar serta rendah hati, sehingga mampu menerima, mengerti dan memahami apa yang diberikan dalam dan dengan cara apapun. Kepada mereka yang 'murtad', bodoh, kurang ajar, kurang terdidik dst…kami harapkan ketika didekati oleh para 'gembala' kami harapkan dengan rendah hati menerimanya, serta berusaha untuk mengerti dan memahami apa yang akan disampaikan oleh para gembala. Secara khusus kami ingatkan segenap umat yang berpartisipasi dalam ibadat, hendaknya mendengarkan dengan rendah  hatik kotbah atau ajaran yang disampaikan dalam ibadat oleh pengkotbah, sebaliknya kepada para pengkotbah kami harapkan menyampaikan kotbahnya sedemikian rupa sehingga dapat didengarkan seluruh umat yang hadir.

"Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya." (Yer 31:10-11)

Ign 27 Juli 2012