Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 30 Juni 2012

Minggu Biasa XIII


Mg Biasa XIII: Keb 1:13-15; 2:23-24; 2Kor 8:7.9.13-15; Mrk 5:21-43

"Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!"

Jika ada orang meninggal dunia pada umumnya keluarga yang bersangkutan maupun tetangga-tetangganya sibuk, bahkan ada yang ribut dan menangis. Memang secara manusia ketika ada salah satu saudara atau saudari kita meninggal dunia pada umumnya kita juga langsung sedih dan menangis, namun demikian hendaknya secara imani kita tidak perlu sedih dan menangis, bukankah mati berarti 'dipanggil Tuhan'? Artinya yang bersangkutan hidup mulia kembali di sorga bersama dengan Tuhan, dan dengan demikian kita memiliki saudara atau saudari di sorga, yang senantiasa mendoakan kita selama masih harus hidup dan berjuang di dunia ini dengan penuh tantangan, hambatan dan masalah. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini.

"Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!" (Mrk 5:39)

Hidup atau mati adalah milik Tuhan, maka mati dan hidup kita sungguh tergantung dari Tuhan. Tuhanlah yang menciptakan kita serta menganugerahi aneka macam kebutuhan untuk hidup kita, dan Tuhan juga yang berkuasa untuk memanggil kita alias menentukan kematian kita. Maka sebenarnya jika selama hidup di dunia ini kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, baik kita sendiri ketika akan dipanggil Tuhan maupun saudara-saudari kita dipanggil Tuhan kita tidak perlu sedih dan menangis. Sebagaimana selama hidup di dunia senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, maka ketika dipanggil Tuhan juga akan bersatu dan bersama dengan Tuhan secara personal tanpa dihambat oleh keingingan atau nafsu-nafsu manusiawi sedikitpun.

Baiklah kata 'tertidur' dalam sabda Yesus di atas juga kita fahami dan hayati sebagai lesu, lemah dan tak berdaya alias tak bergairah untuk hidup. Sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita bangkitkan mereka yang lesu, lemah dan tak bergairah untuk hidup. Mereka yang merasa lesu, lemah dan tak bergairah untuk hidup pada umumnya terlalu berpikir negatif, baik terhadap dirinya sendiri maupun saudara-saudarinya, maka salah satu cara membangkitkannya tidak lain adalah dengan mengangkat hal-hal positif yang ada dalam diri orang yang bersangkutan maupun dalam diri saudara-saudarinya. Kami percaya dalam diri kita masing-masing akan lebih banyak apa yang positif daripada apa yang negatif.

Kita juga dapat meneladan Yairus yang dengan rendah hati dan penuh iman mohon kepada Yesus untuk membangkitkan anak perempuannya yang telah meninggal dunia. Tentu seja sekali lagi mati kita hayati sebagai putus asa atau marah, dimana secara manusiawi tak mungkin kita ajak untuk bertobat atau memperbaharui diri, maka baiklah dengan rendah hati dan penyerahan diri kita menghadap Tuhan mendoakan orang yang bersangkutan. Doa-berdoa merupakan salah satu cirikhas orang hidup beriman atau beragama, dan tentu saja kita sungguh berdoa dan tidak hanya formal belaka, artinya seraya mendoakannya hendaknya kita senantiasa berpikiran positif terhadap yang bersangkutan dan tidak pernah melecehkan atau merendahkannya.

Mungkin baik juga saya angkat hal 'ribut-ribut'. Ribut-ribut pada umumnya membuat lingkungan hidup kacau atau amburadul, karena ada kemungkinan banyak orang juga ikut rebut-ribut. Orang yang mudah ribut-ribut biasanya yang bersangkutan merasa terancam atau kurang diperhatikan  dan melakukan keributan untuk menutupi ketakutannya atau minta diperhatikan, maka baiklah kita perhatikan secara konkret, antara lain ditemani dalam dan dengan kasih maupun kerendahan hati alias mau boros waktu dan tenaga bagi mereka dengan duduk bersama-sama. Coba perihal rebut-ribut direfleksikan juga dengan 'angin ribut' yang memang sungguh memporak-porandakan lingkungan hidup, maka orang rebut-ribut memang merusak kehidupan bersama. Baiklah sabda Yesus yang mempertanyakan mengapa ribut dan menangis kita tanggapi secara jujur.

"Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan." (2Kor 8:13-15)

"Supaya ada keseimbangan" inilah ajakan Paulus kepada umat di Korintus yang sebaiknya kita renungkan atau refleksikan. Ajakan itu dapat digabungkan dengan kutipan yang diangkat oleh Paulus bahwa "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan". Kutipan yang diangkat Paulus ini hemat saya sungguh merupakan kebenaran konkret: perhatikan saja apa yang terjadi yaitu orang-orang yang kaya raya semakin kaya karena keserakahannya dan meskipun demikian juga merasa kurang terus, sedangkan orang miskin menerima apa adanya.

Kita semua diingatkan untuk menjaga keseimbangan dalam berbagai hal, artinya tidak terlalu banyak perbedaan antar kita, sehingga dapat menimbulkan kecurigaan, irihati atau kesalah-fahaman yang dapat membawa ke aneka macam keributan. Selama masih ada jurang yang dalam dan lebar antara yang kaya dan yang miskin, yang pandai/cerdas dan yang bodoh, dst.. memang kehidupan bersama dapat terganggu. Jurang dalam dan lebar dapat disebabkan oleh keserakahan dari mereka yang berkelebihan atau sebaliknya oleh kemalasan dari mereka yang berkekurangan. Mengingat dan memperhatikan kehidupan bersama yang damai, tentram dan sejahtera menjadi idaman atau dambaan kita semu, maka marilah kita saling membuka diri untuk bergotong-royong atau bekerjasama dalam aneka hal kebutuhan hidup bersama. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban kerjasama, dapat hidup dan tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini hanya karena dan oleh kerjasama.

Kita semua diharapkan hidup dan bertindak sederhana, tidak berfoya-foya atau memboroskan harta benda dan uang seenaknya. Dalam kesederhanaan kita dapat bergembira dan kiranya juga dijauhka dari aneka perilaku yang dengan cepat dapat mematikan kita. Maka selanjutnya marilah kita renungkan apa yang dikatakan oleh Kitab Kebijaksanaan ini.   

"Memang maut tidak dibuat oleh Allah, dan Iapun tak bergembira karena yang hidup musnah lenyap. Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya supaya ada, dan supaya makhluk-makhluk jagat menyelamatkan. Di antaranyapun tidak ada racun yang membinasakan, dan dunia orang mati tidak merajai bumi. Maka kesucian mesti baka." (Keb 1:13-15). Maut disini baiklah kita hayati sebagai yang loyo atau putus asa, yang pada umumnya karena keterbatasan manusia. Allah menghendaki kita semua agar tetap gembira dan bergairah, maka marilah kita yang beriman kepada Allah senantiasa mengusahakan untuk tetap gembira dan bergairah. Allah hidup dan bekarya terus-menerus siang malam tanpa kenal waktu dan tempat, maka dalam kondisi dan situasi apapun marilah kita imani karya dan pendampingan Allah yang tak pernah melupakan kita sedikitpun  

"Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku. TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku. TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur. Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus! Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai "

(Mzm 30:2-6).

Ign 1 Juli 2012

 

 

 


Jumat, 29 Juni 2012

30 Juni


"Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."

(Rat 2:2.10-14.18-19; Mat 8:5-17)

" Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Ia pun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Mat 5:8-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk menyelamakan seluruh dunia seisinya, tentu saja terutama manusia. Maka mereka yang sakit disembuhkan, yang berdosa diampuni, yang kesepian diperhatikan, yang lapar dan haus diberi makan dan minum dst.. Dalam kisah Warta Gembira hari ini dikisahkan Yesus menyembuhkan orang-orang sakit serta mengusir setan. "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita", demikian firman yang disampaikan nabi Yesaya perihal Penyelamat Dunia. Maka baiklah kita semua yang beriman kepadaNya hidup dan bertindak meneladanNya: hendaknya kita senantiasa siap sedia memikul kelemahan dan menanggung penyakit orang lain. Yang lemah kita kuatkan dan yang sakit kita sembuhkan, tentu saja tidak hanya secara fisik saja, melainkan juga secara spiritual, yaitu mereka yang sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi. Pertama-tama dan terutama marilah kita perhatikan mereka yang sakit hati dan sakit jiwa, dimana pada umumnya mereka mudah ngambeg atau marah-marah. Tentu saja menghadapi mereka yang mudah ngambeg dan marah-marah dibutuhkan kerendahan hati serta kasih pengampunan. Mereka yang mudah ngambeg atau marah-marah pada umumnya mengalami krisis afeksi, merasa kurang dikasihi dan terancam terus-menerus, maka hendaknya jangan dilecehkan atau direndahkan lagi, entah dengan kata-kata maupun tindakan. Angkatlah apa yang baik dan mengesan di hati mereka agar mereka sembuh dari sakit hati atau sakit jiwanya. Jika kita tak mampu membantu menyembuhkan, baiklah meneladan perwira sebagaimana dikisahkan hari ini, marilah kita datang menghadap Tuhan artinya mendoakannya.

·   "Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri Sion, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kauberikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan!" (Rat 2:18-19). Kutipan ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar siang malam, kapan pun dan dimana pun tidak melupakan doa. Doa yang benar dan baik hemat saya bukan panjangnya kata-kata atau gerak-gerik anggota tubuh, melainkan hati yang terarah kepada Yang Ilahi, sehingga cara hidup dan cara bertindak senantiasa sesuai dengan kehendak Yang Ilahi. Maka baiklah kita senantiasa membuka hati, jiwa dan akal budi kita akan aneka masukan kehendak baik saudara-saudari kita sebagai kepanjangan kehendak Yang Ilahi. Tentu saja secara konkret kita juga harus membuka diri terhadap mereka yang sungguh membutuhkan perhatian dan sapaan kita, yaitu mereka yang miskin dan berkekurangan dalam aneka hal kebutuhan hidup sehari-hari yang layak. Kami ingatkan juga bahwa meskipun kita dalam keadaan sendirian di jalanan atau di rumah untuk tidak melakukan hal-hal yang jahat atau tak bermoral, ingatlah dan sadari mungkin tidak ada orang lain yang tahu, tetapi Tuhan mengetahui semuanya.

"Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami. Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus." (Mzm 74:1-3)

Ign 30 Juni 2012


Kamis, 28 Juni 2012

HARI RAYA ST PETRUS DAN ST. PAULUS Rasul

HARI RAYA  ST PETRUS DAN ST. PAULUS


Kis 12:1-11; 2Tim 4:6-8.17-18; Mat 16:13-19


Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga Di dalam Gereja Katolik ada jabatan Paus, Uskup yang dibantu oleh para pastor paroki alias Hirarki dan Lembaga Hidup Bakti (biarawan dan biarawati). Hirarki merupakan kepanjangan peran Petrus sebagai wakil Yesus Kristus alias Pemimpin Gereja Katolik, sedangkan Lembaga Hidup Bakti merupakan kepanjangan dari peran Paulus sebagai Rasul Agung, yang dalam penghayatan panggilannya senantiasa bepergian ˜keliling dunia. Dua tokoh Gereja ini memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda dirayakan bersama-sama sebagai wujud penghayatan iman bahwa kerjasama dalam pelayanan pastoral, mewartakan Kabar Baik harus bekerjasama satu sama lain, di antara kita yang sungguh saling berbeda ini. Kerjasama hemat saya merupakan cirikhas pribadi kita masing-masing, karena masing-masing dari kita adalah buah atau korban kerjasama cintakasih antara orangtua atau bapak-ibu kita masing-masing. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus dan St.Paulus hari ini marilah kita mawas diri perihal kerjama, dan tentu saja pertama-tama juga harus mawas diri perihal anugerah, keterampilan dan kecakapan pribadi kita masing-masing (untuk itu dua santo ini dapat menjadi bahan mawas diri). Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Mat 16:19)


Ada kata yang sering diucapkan, yaitu Roma berkata, habis perkara. Kata-kata ini merupakan pengakuan iman bahwa Paus, Pemimpin Gereja Katolik, yang tinggal di Roma memiliki kuasa mengajar yang harus ditaati oleh semua anggota Gereja Katolik. Paus merupakan penerus Petrus, yang menerima tugas dari Yesus Kristus, sebagaimana disabdakan dalam kutipan di atas ini. Cukup banyak ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Pemimpin Gereja Katolik beserta Staf Kepausan: ada yang bersifat yuridis, dekrit, pastoral, anjuran, himbauan dst..


Maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk membaca dan mempelajari aneka okumen kepausan tersebut, dan kebetulan tahun yang akan datang dimaklumkan sebagai Tahun Iman, suatu ajakan untuk mengadakan gerakan pendalaman dokumen-dokumen kepausan.


Pelaksanaan ˜kuasa mengajar Paus didelegasikan juga dalam hal-hal tertentu kepada para Uskup dan para Uskup kemudian juga mendelegasikan beberapa hal kepada para pastor, entah yang berkarya di paroki/territorial, sosial, pendidikan dst.. Hemat saya para pastor setiap minggu atau setiap hari dalam Perayaan Ekaristi senantiasa menyampaikan ajaran-ajaran yang bersumber pada Injil/Kitab Suci, aneka dokumen kepausan atau keuskupan maupun aneka refleksi iman sebagaimana tertulis dalam buku-buku. Maka kami berharap kepada segenap umat ketika berpartisipai dalam ibadat maupun kegiatan pendalaman iman untuk dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan meresapkan atau mencccap dalam-dalam aneka masukan, informasi, nasihat dst.. yang disampaikan oleh pengkotbah maupun surat-surat edaran pastoral.


Setiap tahun paling tidak dua kali, yaitu selama masa Prapaskah atau masa Adven kita diajak untuk berpartisipasi ke dalam aneka kegiatan pendalaman iman, yang dikemas sesuai dengan tema-tema terpilih sesuai dengan situasi masyarakat, dengan harapan umat dapat dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka kami berharap kesempatan pendalaman iman selama masa Prapaskah maupun masa Adven sungguh diperhatikan; seluruh umat kami harapkan dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, dan sekiranya tak mungkin dilakukan di lingkungan tempat tinggal, baiklah dilakukan di tempat kerja. Sabda Yesus kepada Petrus di atas kiranya juga perlu kita renungkan atau refleksikan terkait dengan ikatan-ikatan atau janji-janji yang telah kita ikrarkan. Kami percaya ketika kita sedang berjanji, yaitu janji nikah, kaul, janji imamat, janji pegawai, janji pelajar dst .. kiranya kita menghayatinya sebagai rahmat atau anugerah Tuhan, dengan kata lain memang Tuhan lah yang mengikat janji-janji tersebut. Karena yang mengikat adalah Tuhan, maka hendaknya kita jangan seenaknya saja memutuskan atau membuat ikatan menjadi kendor atau pudar. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kiranya ikatan semakin kuat dan erat, tak terpisahkan. Selanjutnya marilah kita refleksikan apa yang terkait dengan pengalaman iman St Paulus sebagai rasul agung.


Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.(2Tim 4:6-8)

Paulus memang dikenal sebagai pekerja keras dalam melaksanakan tugas pengutusan atau menghayati panggilannya dan seorang rasul ia juga tidak mau menjadi beban bagi umat, melainkan ia mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri dengan membuat kemah untuk dijual. Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat�, demikian sharing iman Paulus, yang kiranya layak untuk kita renungkan atau refleksikan. Fungsi darah dalam tubuh kita tidak lain adalah menghidupkan seluruh anggota tubuh sehingga semua anggota tubuh fungsional semuanya sesuai dengan fungsi masing-masing dan dengan demikian tubuh sehat walafiat, segar bugar. Maka dari itu anda semua untuk mengusahakan dan merawat tubuh tetap segar bukan, dan untuk itu hendaknya senantiasa menikmati makanan yang bergizi sesuai dengan pedoman empat sehata lima sempurna disertai olahraga yang memadai. Hendaknya dijauhkan aneka jenis makanan dalam kemasan atau instant. St Paulus kiranya dapat menjadi teladan bagi rekan-rekan anggota Lembaga Hidup Bakti yang bersifat mondial, yang senantiasa siap sedia untuk diutus kemana pun. Namun demikian hemat saya juga dapat menjadi teladan bagi siapapun yang tugas pekerjaannya senantiasa bepergian, tidak menetap di kantor terus-menerus. Hendaknya dimana pun berada atau kemana pun pergi senantiasa menjadi pewarta kabar baik, artinya jati dirinya senantiasa baik sehingga kehadirannya tanpa melakukan sesuatu pun membuat lingkungan hidupnya semakin baik, apalagi ketika melakukan sesuatu akan menggembirakan dan membahagiakan orang lain tanpa pandang bulu.


Semua orang kiranya mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera, maka meskipun kita berbeda satu sama lain, seperti Petrus dan Paulus, hendaknya kita bekerjasama dalam pelayanan dan hidup bersama. Secara konkret kami harapkan para pelayan territorial bekerjasama dengan mereka yang bekerja di fungsional: Lembaga Hidup Bakti kehadirannya di suatu wilayah keuskupan hendaknya bekerja sama dalam pelayanan, Hirarki bekerjasama dengan Kharisma. Memang secara konkret akhirnya kami harapkan para biarawan-biarawati di wilayah paroki tertentu bekerja sama dengan pastor paroki setempat, dan tentu saja pastor paroki setempat juga harus memperhatikan kehidupan rohani para anggota lembaga hidup bakti di wilayahnya.


Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! (Mzm 34:2-9)

Ign 29 Juni 2012