Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 26 Mei 2012

Hari Raya Pentekosta


 HR PENTAKOSTA: Kis 2:1-11; Gal 5:16-25; Yoh 15:26-27;16:12-15

"Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran"

"Bila kita merasa rikuh, makan saja nasi di tempat. Bila kita sombong dan angkuh, Roh Tuhan tiada tempat", demikian bunyi salah satu bait pantun karya Bp.Paulus Lion BA. Hari ini adalah Hari Raya Pentakosta. Pentakosta adalah "Hari raya Yahudi yang disebut demikian agak belakangan (abad II SM), karena dirayakan pada hari kelima puluh sesudah Paskah. Ia bertepatan waktunya dengan hari raya 'tuaian, sebuah hari syukuran pada hari itu, sehabis tujuh pekan (inilah kira-kira waktu penuaian) dipersembahkan 'hasil pertama bumi'; inilah 'pesta buah-buah pertama, hari raya ketujuh pekan. Hari itu menjadi kesempatan untuk 'berziarah ke Yeerusalem', yang menggemakan dan memahkotai ziarah Paskah. Para nabi akan memandangnya kemudian sebagai peringatan tahunan akan 'Perjanjian, akan hari pemberian Hukum di Sinai" ( Xavier-Dufour: Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius  1990,  hal 251-252). Bagi kita saat ini Hari Raya Pentakosta adalah pemahkotaan masa Paskah dan novena Roh Kudus, yang kemudian kita akan memasuki masa Biasa dalam tahun Liturgi. Marilah kita renungkan sabda-sabda Tuhan di Hari Raya Pentakosta ini.

"Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." (Kis 2:7-11)

Sebagaimana kami kutipkan di atas bahwa tradisi perayaan Pentakosta telah dikenangkan cukup lama oleh bangsa Yahudi sebagai syukur dan terima kasih kepada Allah atas panenan atau hasil bumi yang melimpah. Mereka merayakannya di kota suci Yerusalem dan segala suku bangsa yang ada waktu itu datang ke Yerusalem,  berkumpul bersama sebagai saudara dan sahabat. Apa yang dicatat dalam Kisah Para Rasul di atas ini kiranya meneguhkan dan memperdalam syukur dan terima kasih: "Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah", demikian tanggapan aneka suku bangsa atas kesaksian para rasul perihal kisah tentang Penyelamat Dunia, Yesus Kristus.

Selama lima puluh hari kita telah mengenangkan Yesus Kristus, yang telah wafat dan bangkit demi keselamatan dan kebahagiaan seluruh dunia. Kita mempersiapkan Pesta Pentekosta dengan novena Roh Kudus selama sembilan hari dengan dambaan dan harapan menerima anugerah Roh Kudus, sehingga kita hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan atau dorongan Roh Kudus. Hidup dan bertindak sesuai dengan bisikan atau dorongan Roh Kudus berarti menghayati atau melaksanakan keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Marilah keutamaan-keutamaan ini pertama-tama dan terutama kita hayati dengan dan melalui 'bahasa tubuh' sehingga suku atau bangsa apapun dengan mudah dapat saling memahami dan berkomunikasi dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati di antara semua suku dan bangsa di dunia ini.

Bagi anggota Gereja atau paguyuban orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pentakosta hari ini juga dihayati sebagai awal berdirinya Gereja, yang satu, katolik dan apostolik. Katolik berarti umum, maka sebagai anggota Gereja Katolik kami harapkan menghayati diri fungsional demi kepentingan atau kesejahteraan umum/bersama, bukan diri sendiri atau kelompok atau golongan, suku dan bangsa sendiri. Dengan kata lain jika kita sungguh menghayati keutamaan sebagai anugerah Roh Kudus dengan dan melalui bahasa tubuh, maka cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun akan difahami dan dimengerti orang lain, dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa membangun, memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan sejati.

"Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku." (Yoh 16:13-15)

Roh Kudus telah mendatangi kita, maka kita yang beriman kepadaNya diharapkan hidup dan bertindak dalam kebenaran, karena Ia adalah Roh Kebenaran. Hidup dan bertindak dalam kebenaran berarti senantiasa melaksanakan perintah dan sabda Tuhan, dan kita yang beriman kepada Yesus Kristus berarti melaksanakan semua sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil. Marilah kita baca, renungkan, refleksikan dan hayati sabda-sabdaNya setiap hari, dan kiranya kita dapat berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Kalendarium Liturgi sebagaimana saya usahakan setiap hari.

Aneka macam rahmat dan anugerah Allah telah kita terima setiap hari melalui aneka macam kebaikan dan perhatian saudara-saudari kita, maka marilah kita senantiasa hidup dengan penuh syukur. "Saat sukses kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada di dalam rasa bersyukur", demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Kami berharap rasa bersyukur ini senantiasa dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dengan teladan konkret dari para orangtua, dan kemudian dilanjutkan dan diperdalam serta diperkembangkan di sekolah-sekolah oleh para guru/pendidik bagi para peserta didiknya. 

Sebagai orang beriman kita diharapkan tidak berkata-kata atau bertindak mengikuti keinginan atau kehendak sendiri/pribadi, melainkan sesuai dengan iman kita masing-masing, sehingga dalam semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kami berharap para pemimpin masyarakat, bangsa dan Negara dapat menjadi teladan dalam penghayatan iman, dan di Indonesia masa kini antara lain dengan hidup dan bertindak disiplin serta jujur, tidak melakukan korupsi sedikitpun. Tindakan korupsi adalah tindakan pembusukan atau perusakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berbau busuk sebagaimana adanya pada saat ini. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi tanpa takut dan gentar, karena dengan rahmat atau anugerah Roh Kudus kita pasti mampu mengalahkan para koruptor; kita dukung para pejuang dan pembela kebenaran-kebenaraan di negeri tercinta ini.

"Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!Biarlah renunganku manis kedengaran kepada-Nya! Aku hendak bersukacita karena TUHAN." (Mzm 104:9bc-31.34)

Ign 27 Mei 2012


Jumat, 25 Mei 2012

26 Mei

"Supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka."

(Flp 4:4-9; Yoh 17:20-26)

" Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." (Yoh 17:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Filipus Neri, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil menjadi imam kiranya boleh dikatakan sebagai yang sungguh dikasihi oleh Tuhan dan juga ada kemungkinan dikasihi oleh umat yang digembalakan atau dilayaninya melalui berbagai cara dan bentuk. Maka sebagai imam kami harapkan dapat menjadi teladan bagi umatnya sebagai 'yang terkasih' sehingga senantiasa hidup penuh syukur dan terima kasih, serta kemudian menyalurkan kasih dan syukur itu kepada umat yang dilayani maupun warga masyarakat. Imam berasal dari umat/masyarakat dan akhirnya menjadi pelayan bagi umat/masyarakat. Rekan-rekan imam hendaknya menyadari dan mengingat bahwa selama dalam masa pendidikan atau pembinaan sebagai persiapan untuk menjadi imam senantiasa didukung dan didoakan oleh umat, dukungan itu antara lain melalui harta dan uang guna penyelenggaraan proses pendidikan calon imam.  Maka marilah kita, para imam, meneladan Yesus yang mendoakan para murid setelah Ia menyampaikan kehendak dan perintah Allah agar para murid setia melaksanakan kehendak dan perintah Allah. Kami percaya rekan-rekan imam setiap hari berdoa, entah dengan mempersembahkan Perayaan Ekaristi bagi umat maupun mendoakan Ibadat Harian, maka kami harapkan dalam doa-doa tersebut senantiasa mendoakan umat dan warga masyarakat, lebih-lebih mereka yang harus kita doakan, yaitu para pemimpin serta mereka yang miskin dan berkekurangan. Selain berdoa para imam hendaknya dengan besar hati dan semangat berkorban berani memboroskan waktu dan tenaga bagi umat yang harus dilayaninya.

·   "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Flp 4:4-6), demikian ajakan Paulus kepada umat di Filipi. Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi kita, maka tidak ada alasan sedikitpun untuk tidak bersukacita. Hidup sekali hendaknya untuk bersukacita dan bergembira terus menerus, dan tentu saja juga kemudian senantiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun, sehingga kebaikan hati kita diketahui semua orang, dengan kata lain kita dikenal sebagai orang yang baik hati. Memang ada orang yang tidak senantiasa bersukacita atau bergembira atau sebenarnya mayoritas dari kita demikian adanya karena adanya kekhawatiran atau ketakutan tertentu. Misalnya: mereka yang sedang belajar khawatir tidak naik klas atau lulus ujian, yang sedang bekerja khawatir dikeluarkan, yang sedang menjadi penumpang dalam kendaraan khawatir kecelakaan dst.. Orang yang khawatir atau takut memang rentan terhadap aneka penyakit alias dengan mudah jatuh sakit. Marilah kita senantiasa bersukacita dan bergembira, sehingga menarik, memikat dan mempesona siapapun, sehingga ketika kita dalam kesulitan akan didekati oleh orang lain yang siap membantu kita. Sebaliknya jika kita sedih dan muram tentu orang lain akan enggan mendatangi kita atau bahkan menjauhi kita, sehingga kita senantiasa dalam kesedihan dan kemuraman terus menerus.

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu." (Mzm 34:2-6)

Ign 26 Mei 2012


Kamis, 24 Mei 2012

25 Mei


"Engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

(Kis 26:13b-21; Yoh 21:15-19)

" Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku." (Yoh 21:15-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Injil hari ini sering digunakan sebagai bacaan dalam rangka upacara tahbisan imam atau pelantikan uskup, dengan kata lain menjadi bahan permenungan maupun refleksi bagi para gembala umat. Maka baiklah saya mengajak segenap gembala umat maupun para pembantunya untuk merenungkan dengan baik serta kemudian menjadikannya acuan dan pegangan dalam penghayatan panggilan dan pelaksanaan tugas pengutusan. Dengan sederhana saya mau mencoba untuk mereflesikannya, dan mungkin berguna bagi anda sekalian. Sebagai gembala umat atau pembantu gembala umat kita harus dengan rendah hati mendengarkan suka-duka umat serta kemudian menanggapinya, dengan kata lain kita diharapkan menghayati panggilan dan tugas pengutusan dengan semangat pelayanan. Sebagaimana seorang pelayan yang baik senantiasa mengikuti dan melaksanakan perintah dan kehendak tuannya, demikian halnya hendaknya para gembala sungguh mendengarkan dan menanggapi suka-duka umat Allah. Tujuan utama pelayanan yang demikian itu tidak lain adalah demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat Allah. Sabda hari ini kiranya juga berguna bagi para pemimpin atau atasan dalam kehidupan dan kerja dalam bentuk apapun dan dimana pun. Tanda atau bukti bahwa seorang pemimpin atau atasan sungguh menghayati fungsi kepemimpinannya dengan baik dan benar adalah mereka yang dipimpin bahagia dan selamat, baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani, fisik maupun spiritual. Jika yang dipimpin tidak bahagia dan sejahtera berarti sang pemimpin hanya cari enak sendiri dan tidak memperhatikan dan melayani mereka yang harus dilayani. Marilah kita dengarkan bisikan Roh Kudus yang menggejala dalam aneka kehendak baik saudara-saudari kita dan kemudian kita tanggapi dengan rendah hati.

·   "Oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa yang kuberitakan itu tidak lain dari pada yang sebelumnya telah diberitahukan oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu, bahwa Mesias harus menderita sengsara dan bahwa Ia adalah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain." (Kis 26:22-23), demikian kesaksian iman Paulus yang selayaknya menjadi pembelajaran kita semua. "Memberi kesaksian kepada orang-oarng kecil dan orang-orang besar", itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati, lebih-lebih  atau terutama bagi para pemimpin. Kami percaya bahwa sebagai pemimpin senantiasa harus menghadapi dan melayani aneka macam orang: besar-kecil, tua-muda, pandai-bodoh, kaya-miskin dst.. , dengan kata lain seorang pemimpin harus menyeluruh pandangan atau orientasinya artinya memberi perhatian semua pribadi yang harus dipimpin atau dilayani tanpa pandang bulu. Tentu pertama-tama dan terutama kami berharap kepada anda sekalian untuk lebih memperhatikan mereka yang kecil, muda, bodoh dan miskin, meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang senantiasa berpihak kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. "Preferential option for/with the poor" = keberpihakan bagi yang miskin dan berkekurangan, hendaknya menjadi acuan atau pedoman kita semua, umat beriman, entah iman atau agamanya apapun.

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mzm 103:1-2)

Ign 25 Mei 2012.