Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 11 Mei 2012

12 Mei


 "Ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu"

(Kis 16:1-10; Yoh 15:18-21)

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku" (Yoh 15:18-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika saya masih belajar di sekolah rakyat/dasar di Sekolah Rakyat/Dasar Kanisius desa Murukan, Wedi-Klaten, setiap hari saya berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sendirian. Jaraknya sekitar 3 km dari desa saya ke sekolah dan hampir setiap hari berpapasan atau bersamaan dengan anak-anak yang sedang belajar di Sekolah Rakyat Muhamadiyah/Islam; mereka ini tinggal di desa dimana setiap hari saya harus melintasinya. Ketika berpapasan dengan mereka saya sering diejek, karena mereka tahu saya belajar di sekolah katolik, antara dengan kata-kata sebagai berikut :"Katolik, katol cilik, yen mati dadi babi dll." (=Katolik, kecil sekali, kalau mati jadi babi). Tentu saya sebagai anak kecil dan sendirian saya tak berani menanggapi apalagi melawan, melainkan dalam hati berdoa semoga mereka tidak menyakiti saya secara fisik. Sedangkan ketika mengikuti pelajaran agama/katekese di desa pada Sabtu sore/malam Minggu kami senantiasa menerima terror dari teman-teman simpatisan PKI. Saya angkat pengalaman saya ini setelah membaca dan merenungkan sabda Yesus hari ini, dimana Ia bersabda "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu". Menjadi murid atau pengikut setia Yesus Kristus memang sering harus menghadapi aneka tantangan atau masalah, bahkan kebencian dari mereka yang tidak senang pada kita, sebagaimana sering dilakukan oleh kelompok ekstrim yang menamakan diri "FPI".  Baiklah jika anda setia pada iman dan agama anda harus menghadapi kebencian dan ancaman, hendaknya diamkan saja seraya berdoa kepada Tuhan. Pengalaman saya di atas sampai kini masih mengesan dan membekas di hati saya sehingga saya tidak mudah takut menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan dalam penghayatan iman maupun pelaksanan tugas panggilan.

·   "Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana" (Kis 16:9-10). Inilah awal karya missioner atau pewartaan Injil di wilayah Eropa, yang dilakukan oleh Paulus karena perintah Tuhan melalui penampakan. Tanpa takut dan gentar Paulus berusaha mencari kesempatan untuk menyeberang dari wilayah Asia ke wilayah Eropa melalui laut. Tuhan memanggil pasti akan menganugerahi bekal dan menunjukkan jalan, itulah keyakinan iman kita. Panggilan Tuhan dapat berupa permohonan atau ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, maka hendaknya tidak takut untuk berbuat baik kepada siapapun, meskipun kita belum mengenal mereka. Percayalah bahwa Tuhan pasti menyertai perjalanan kita, melindungi dan menguatkan kita sehingga kita mampu menanggapi secara positif ajakan atau permohonan untuk melakukan apa yang baik, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan ancaman. Carilah kesempatan dengan tenang dalam Tuhan untuk mengatasi aneka tantangan, masalah dan ancaman, kerena dengan demikian Tuhan pasti menganugerahi jalan atau cara yang baik, memadai dan menyelamatkan. Jika anda menerima pengalaman sebagaimana dialami oleh Paulus, yaitu penampakan Tuhan yang memanggil dan mengutus, hendaknya segera ditanggapi, tanpa ditunda-tunda.

"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun"

(Mzm 100:1-3.5)

Ign 12 Mei 2012


Kamis, 10 Mei 2012

11 Mei

"Supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu"
(Kis 15:22-31; Yoh 15:12-17)

" Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh 15:12-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Perintah hidup saling mengasihi kiranya diajarkan oleh semua agama, namun mengapa sering terjadi tawuran, permusuhan dan pembunuhan, saling membenci dst.., meskipun mereka mengakui diri sebagai umat beragama. Mengapa suami-isteri telah sekian tahuh menikah serta dianugerahui anak-anak kemudian bercerai?  Hemat saya hal itu disebabkan oleh kesalahfahaman atau keterbatan pengertian perihal cintakasih. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita. Pedoman atau barometer cintakasih atau cintakasih Tuhan kepada kita, manusia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita diajak dan dipanggil untuk hidup dan bertindak saling mengasihi dengan meneladan cintakasihNya kepada kita semua. Yesus telah menyerahkan atau mempersembahkan Diri seutuhnya sehingga menderita, wafat di kayu salib demi keselamatan dan kebahagiaan kita. CintakasihNya kepada kita sungguh total tanpa syarat. Marilah kita wujudkan saling mengasihi dengan saling memberikan diri satu sama lain tanpa syarat, dan tentu saja kami berharap pertama-tama dan terutama hal ini dihayati oleh para suami-isteri yang telah saling berjanji baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit, sampai mati. Keteladanan anda sebagai suami-isteri dalam saling mengasihi bagi anak-anak anda sungguh dibutuhkan, sehingga anak-anak kelak kemudian ketika menjadi dewasa akan hidup dan bertindak saling mengasihi. Kepada kita semua, segenap umat beriman, kami ajak untuk menghayati diri sebagai yang dikasihi oleh Tuhan secara melimpah ruah dan kemudian meneruskan atau menyalurkannya bagi sesamanya dimana pun dan kapan pun.

·    "Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat." (Kis 15:28-29), demikian tanggapan para rasul dan penatua di Yerusalem kepada usulan Paulus dan Barnabas atas nama umat. Dalam pengalaman hidup dan kerja kita, kiranya kita sering menghadapi aneka masalah atau soal, maka hendaknya hal itu dibicarakan bersama dalam terang Roh Kudus, untuk selanjutnya diambil kebijakan sesuai dengan ilham Roh Kudus. Apa yang dilakukan oleh para rasul dan penatua ini pada masa kini senantiasa juga dilakukan oleh para gembala kita, yang sering mengadakan sinode atau sidang tahunan. Di Indonesia misalnya setiap tahun para gembala/uskup berkumpul untuk berbicara dan bertukar pengalaman bersama di kantor KWI perihal aneka macam masalah atau soal yang muncul dalam penggembalaan mereka. Sumbang-saran dan percakapan dalam Tuhan atau terang Roh Kudus akhirnya mengasilkan kebijakan pastoral yang membahagiakan dan menyelamatkan umat. Kebijakan pastoral memang senantiasa dibutuhkan para imam atau gembala dalam menghayati panggilannya, maka kami harapkan para imam atau pastor paroki sungguh bertindak bijaksana dalam menggembalakan umat, bukan kebijakan pribadi melainkan kebijakan yang lahir dari percakapan atau perjumpaan bersama dalam Tuhan, dalam Roh Kudus, dengan rekan sekerja atau para pembantu dalam tugas penggembalaan. Ingat dan sadari bahwa anda sebelum ditahbiskan menjadi imam harus lulus dalam ujian kebijakan pastoral dan telah dinyatakan lulus, maka hendaknya hal itu terus diperkembangkan dan diperdalam terus menerus: kebijakan pastoral dalam penggembalaan umat.

"Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah! Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi!" (Mzm 97:8-12)

Ign 11 Mei 2012   

10 Mei


"Tinggallah di dalam kasihKu itu"

(Kis 15:7-21; Yoh 15:9-11)

 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh" (Yoh 15:9-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Perintah yang paling utama dari Tuhan adalah saling mengasihi, yang berarti siap sedia untuk mengasihi maupun dikasihi. Hemat saya pengalaman yang paling membekas dalam diri kita ialah dikasihi daripada mengasihi, maka hendaknya pengalaman dikasihi ini terus menerus diperdalam dan diperkembangkan. Bukankah setelah dilahirkan dari rahim ibu kita terus menerus dikasihi sehingga dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini, sehingga kita senantiasa senang dan rindu tinggal bersama orangtua kita masing-masing, karena memang mereka lah yang kita hayati sebagai yang lebih banyak mengasihi daripada orang lain. Namun jika sebagai orang beriman kita mawas diri dengan jujur dan benar kiranya kita akan mengakui dan menyadari, serta tentu saja juga kami harapkan menghayati, bahwa Tuhan lah yang paling banyak telah mengasihi dan memperhatikan kita. Di mana pun kita berada atau kemana pun kita pergi Tuhan senantiasa mendampingi atau menyertai, antara lain melalui malaikat pelindung. Sebagaimana karena kasih orangtua kita senang tinggal bersama orangtua, maka karena Tuhan mahasegalanya dan kasihNya yang luar biasa kepada kita, mau tidak mau kita  senantiasa tinggal di dalam kasihNya. Tinggal di dalam kasihNya berarti melaksanakan kehendak atau perintahNya, senantiasa hidup dan bertindak dengan saling mengasihi. Jika kita senantiasa hidup saling mengasihi maka sukacita kita akan menjadi penuh, kita tidak akan pernah sedih, frustrasi atau menderita.

·   "Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah" (Kis 15:19-20), demikian usul atau pendapat Paulus dan Barnabas dalam menanggapi perkembangan jumlah umat yang menimbulkan pertanyaan atau masalah. "Kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah", inilah yang hendaknya kita tanggapi dan laksanakan. Jangan mengahalang-halangi atau mempersulit orang untuk berbuat baik, itulah yang harus kita hayati. Saya sungguh merasa prihatin bahwa izin untuk mendirikan rumah ibadat (kapel, gereja) lebih sulit daripada izin membangun losmen/ tempat penginapan, hotel, dst…, padahal rumah ibadat merupakan sarana untuk membantu orang semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, sementara itu telah menjadi rahasia umum bahwa tempat-tempat penginapan saat ini sering disalahgunakan untuk perbuatan maksiat atau pelacuran. Maka dengan ini kami berharap kepada para pejabat atau kepala daerah untuk tidak mempersulit izin pendirian atau pembangunan rumah ibadat. Demikian juga hendaknya tidak dilarang penggunaan rumah atau tempat tinggal untuk kegiatan ibadat atau doa bersama. Hidup beragama merupakan hak asasi manusia, maka para pejabat pemerintah tidak mungkin mempersulit kehidupan umat beragama, dan jika mempersulit berarti mereka tidak beriman. Dan tentu saja tidak hanya para pejabat, melainkan kita semua demikian juga, yaitu jika mempersulit penghayatan hidup beragama orang lain berarti tidak beriman atau tidak ber-Tuhan. Marilah kita bangun, kembangkan dan perdalam kehidupan bersama antar umat beragama, dan hendaknya jangan mudah tergoda oleh jabatan atau uang untuk mengacau kehidupan umat beragama.

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)

Ign 10 Mei 2012