Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 20 April 2012

Minggu Paskah III

Minggu Paskah III

Kis 3:13-15.17-19; 1Yoh 2:1-5a: Luk 24:35-48

"Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?"

Anggota keluarga atau anak-anak yang baru saja ditinggal mati oleh orangtuanya, sehingga tidak punya orangtua lagi, pada umumnya pada hari-hari setelah kematian tersebut bercakap-cakap untuk membicarakan masalah warisan orangtua, entah itu yang bersifat phisik maupun spiritual. Secara phisik mungkin bercakap-cakap bagaimana membagi warisan kekayaan harta benda atau uang, sedangkan secara spiritual adalah saling mensharingkan pengalaman pribadinya perihal aneka nasehat, teladan, pengalaman dst..dari orangtua, yang begitu mengesan dalam hati serta mempengaruhi cara hidup dan cara bertindaknya. Dalam percakapan macam itu pasti ada pribadi-pribadi tertentu yang was-was, ragu-ragu atau dalam kekhawatiran. Namun jika suatu saat ingat akan nasehat atau petuah yang baik dari orangtuanya kiranya yang bersangkutan menjadi tenang, tidak ragu-ragu lagi. Begitulah kiranya yang terjadi di lingkungan para murid, yang sedang bercakap-cakap perihal segala sesuatu yang mereka dengar perihal penampakan Yesus yang telah bangkit dari mati, tiba-tiba Ia menampakkan Diri kepada mereka. Untuk mengobati keraguan mereka, maka Yesus pun minta makanan untuk dimakan, sehingga  mereka tahu dan mengimani apa yang dikisahkan dalam Kitab Suci, "Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci".

"Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" (Luk 24:36).

Jika kita sedang mengalami frustrasi atau ragu-ragu hendaknya kita bercakap-cakap atau bercurhat tentang segala sesuatu yang telah terjadi atau secara pribadi mengadakan refleksi. Awali percakapan atau refleksi anda dengan doa, agar dalam terang RohNya anda menerima pencerahan, penerangan atau penyingkapan hal baik yang membuat anda tidak ragu-ragu lagi, melainkan diteguhkan dan dikuatkan dalam menghadapi aneka masalah kehidupan, serta dalam memahami atau mengerti isi Kitab Suci. Kami percaya bahwa dalam hidup bersama maupun pribadi terdapat apa yang baik lebih banyak dari pada apa yang buruk atau jahat, maka pertama-tama dalam percakapan atau refleksi hendaknya dicari atau ditemukan apa-apa yang baik.

Di dalam percakapan bersama carilah pertama-tama kekuatan dan kesempatan atau peluang, baru kemudian kelemahan dan ancaman, demikian juga dalam refleksi atau mawas diri secara pribadi. Ada baiknya juga dalam percakapan bersama juga ada makan bersama apa adanya, tidak perlu mewah dan enak, namun sehat meskipun sederhana. Ia yang telah bangkit hadir dan berkarya dalam diri mereka yang berkehendak baik berupa kekuatan serta keberanian untuk mengaplikasikan kekuatannya menerobos aneka kesempatan atau peluang untuk berbuat baik, melakukan apa yang baik, benar dan menyelamatkan. Jika anda mampu melihat dan mengimani cukup banyak kekuatan dan peluang yang ada, maka 'damai sejahtera' akan menyertai anda, sehingga hati, jiwa, akal budi dan tubuh anda dalam keadaan segar, ceria dan gembira.

Kesegaran, keceriaan dan kegembiraan hati, jiwa, akal budi dan tubuh merupakan modal atau kekuatan luar biasa untuk mengerti dan memahami isi Kitab Suci maupun aneka dokumen penting dalam kehidupan bersama. Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati memang senantiasa menampakkan Diri kepada mereka yang percaya kepadaNya untuk menyampaikan damai sejahtera. Damai sejahtera merupakan dambaan dan kerinduan semua orang, dan kiranya damai  sejahtera hanya dapat diusahakan dengan sukses dalam kesegaran, keceriaan dan kegembiraan, sebagai penghayatan bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Beriman kepadaNya pasti senantiasa segar, ceria dan gembira kapan pun dan dimana pun. Kami berharap kepada para orangtua dapat menjadi teladan dalam kesegaran, keceriaan dan kegembiraan bagi anak-anaknya, karena Allah sungguh hidup dan berkarya dalam diri anda sebagai suami-isteri. Senantiasa ceria dan gembira juga tahan terhadap aneka serangan virus penyakit, sehingga tidak mudah jatuh sakit.

 

"Inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah" (1Yoh 2:3-5a)

Kita semua berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah ketika dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Kita akan kembali kepada Allah, hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga jika dalam perjalanan hidup dan tugas kita di dunia ini kita sungguh mengenal Allah, yang berarti senantiasa menuruti dan melaksanakan semua firman Allah dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Orang yang senantiasa menghayati firman Allah berarti 'sungguh sudah sempurna kasih Allah' dalam dirinya.

Mungkin bagi kita semua sulit untuk menjadi sempurna dalam kasih Allah, namun demikian hendaknya kita terus berusaha dengan keras, tekun dan rajin terus menerus. Pelatihan untuk tumbuh berkembang dalam kasih Allah antara lain dapat kita usahakan dengan saling mengenal antar kita dalam keluarga, tempat kerja, komunitas dst.., sehingga juga saling mengasihi. Maka pertama-tama marilah kita usahakan agar kita yang setiap hari hidup dan bekerja bersama sungguh saling mengenal satu sama lain. Ingat pepatah Jawa  "witing tresno, jalaran kulino" (= pohon atau awal kasih adalah kebiasaan bertemu), maka usahakan selalu hadir dalam pertemuan bersama di dalam keluarga, komunitas atau tempat kerja dst…

"Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan" (Kis 3:17-19), demikian kata/kotbah Petrus kepada para pendengarnya. Jika kita jarang atau tidak pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan saudara-saudari kita, maka piciklah pengetahuan kita, dan kita tidak tumbuh berkembang sebagaimana kita rindukan atau dambakan. Peringatan Petrus "sadarlah dan bertobatlah", merupakan ajakan bagi kita semua untuk senantiasa membuka diri terhadap aneka informasi, perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi di masyarakat maupun di dunia ini, sehingga kita diperbaharui terus menerus.

Jika dalam pertemuan atau percakapan kita bicarakan atau sharingkan apa-apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, maka kita akan diperkarya dengan pengetahuan atau pemahaman isi Kitab Suci dan ada kemungkinan untuk bertobat atau diperbaharui terus menerus. Mereka yang dulu tidak percaya kepada Yesus Kristus menjadi percaya dan kemudian minta dibaptis sebagai bukti pertobatan mereka, atau yang semua berbuat jahat kemudian bertobat dengan senantiasa berbuat baik, melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, khususnya keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Semakin kaya akan pengetahuan ada kemungkinan semakin bijak dalam cara hidup dan bertindak serta dengan demikian senantiasa hidup dalam damai sejahtera dalam situasi dan kondisi apapun.

"Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku! Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya. Banyak orang berkata: "Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?" Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN! Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mzm 4:2.4.7.9)

Ign 22 April 2012

 


21 April

"Aku ini jangan takut"

(Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21)

"Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui" (Yoh 6:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup adalah sebuah perjalanan, sejak kita dilahirkan sampai mati atau dipanggil Tuhan. Memang di dalam perjalanan kita tidak tanpa beban, tugas atau pekerjaan, entah berat atau ringan. Kita berjalan terus agar tumbuh bekembang menjadi pribadi sebagaimana kita harapkan atau dambaan. Kiranya dalam perjalanan ini kita sering merasa takut atau khawatir, karena harus menghadapi 'gelombang kehidupan' berupa tantangan, masalah atau hambatan. Jika kita mengandalkan kekuatan atau kemampuan pribadi selayaknya kita takut atau khawatir, tetapi jika kita berjalan bersama dengan Tuhan tiada ketakutan atau kekhawatiran sedikitpun. "Aku ini, jangan takut", demikian sabda Yesus kepada para murid yang ketakutan karena dalam perjalanan di danau diombang-ambingkan oleh gelora gelombang karena angin kencang. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup kita melalui RohNya. Hadapilah aneka tantangan, masalah dan hambatan dalam dan oleh Roh, dengan kata lain hadapi dengan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan ini, yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan ini kita pasti akan sukses dalam mengerjakan atau melaksanakan aneka tugas, pekerjaan dan kewajiban kita; kita dapat mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan dengan baik. Hendaknya kita tidak menjadi penakut, melainkan pemberani, bukan dengan mengandalkan kekuatan atau kemampun diri pribadi, melainkan rahmat atau anugerah Ilahi, pendampingan dan penyertaan Roh yang terus-menerus berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya." (Kis 6:7), demikian berita gembira perihal buah karya pelayanan para rasul. Kesuksesan pelayanan para rasul ini terjadi karena Tuhan senantiasa menyertai atau mendampingi mereka dan mereka mengimani sepenuhnya penyertaan atau pendampinganNya. Hal ini kiranya menjadi pelajaran yang baik bagi kita semua umat beriman dalam rangka melaksanakan aneka tugas, pekerjaan dan kewajiban. Hendaknya dalam semangat iman kita bekerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Para pendiri bangsa atau bapak bangsa kita, yang terdiri dari aneka suku pada waktu itu hemat dalam dan dengan semangat iman mereka memaklumkan kemerdekaan Negara serta mengisi kemerdekaan dengan membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan melalui pemberian diri bagi bangsanya, sehingga Negara kita berdiri teguh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Kami juga berharap kepada segenap umat beriman atau beragama: jika anda mendambakan iman atau agama anda tumbuh berkembang, semakin banyak orang menggabungkan diri ke dalam iman atau agama anda, hendaknya senantiasa menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Aneka pengetahuan agama, kitab suci atau iman hendaknya tidak berhenti dalam pengetahuan saja, melainkan menjadi nyata dalam penghayatan. Hemat saya semua agama mengajarkan cintakasih sebagai ajaran yang utama, maka marilah kita segenap umat beragama hidup dan bertindak dalam dan dengan cintakasih. Ingat dan sadari bahwa suami-isteri saling mengasihi sehingga bertambahlah keturunan atau anak-anak; maka hal yang sama juga akan terjadi yaitu jika kita hidup dan bertindak dimana pun dan kapan pun dengan saling mengasihi, percayalah buah melimpah yang menyelamatkan  dan membahagiakan akan terwujud.

"Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN." (Mzm 33:1-2.4-5)

Ign 21 April 2012

Note: kepada segenap rekan perempuan kami ucapkan selamat merayakan RA Kartini, semoga semangat RA Kartini menjiwai cara hidup dan cara bertindak anda sekalian.  


Rabu, 18 April 2012

20 April


"Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan"

(Kis 5:34-42; Yoh 6:1-15)

"Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang danau Galilea, yaitu danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.Dan Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?" Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" Kata Yesus: "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." Maka mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri." (Yoh 5:1-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kisah sebagaimana diceriterakan dalam Warta Gembira hari ini divisualisasikan ke dalam sebuah ikon (kaca) yang terpasang di atas tabernakel di kapel Kolese Kanisius – Jakarta. Kisah ini juga mengingat-kan saya akan suatu pengalaman yang sangat mengesan, yaitu ketika saya bepergian/dalam penerbangan dengan pesawat KLM dari Jakarta ke Amsterdam. Kebetulan di dalam pesawat tersebut saya memperoleh tempat  duduk dekat gang dan disamping saya adalah anak kecil, laki-laki, kurang lebih berusia 13 tahun, bersama ibunya yang duduk di kursi dekat jendela. Di tengah perjalanan, di tengah malam, tiba-tiba sang anak minta diambilkan tas kecil di dalam bagasi, dan kemudian dibukanya tas itu serta diambil roti-roti yang terbungkus plastik. Tiba-tiba anak tersebut menegor saya seraya mengulurkan bungkusan roti yang telah terbuka :"Please, take one". Saya sunggu terharu pada anak kecil ini. Bukankah apa yang dilakukan anak ini sesuai dengan anak dalam kisah Warta Gembira hari ini, yang memiliki 'lima potong roti dan dua ikan', kemudian dipersembahkan kepada Tuhan Yesus, diberkati dan berlipat-gandalah roti dan ikan tersebut sehingga ribuan orang lapar dapat makan sampai kenyang? "Berbagi dan peduli", itulah tema APP yang baru saja kita renungkan dan refleksikan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk hidup dan bertindak social, peka terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita. Jauhkan aneka bentuk keserakahan dalam hidup anda.

·   "Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus. Dan setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias" (Kis 5:41-42). "Menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus", inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati. Dalam melaksanakan tugas pengutusanNya Yesus telah menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari mati, maka selayaknya jika kita setia sebagai murid, pengikut atau sahabat Yesus pada suatu saat harus menderita aneka penghinaan, pelecehan atau cemoohan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang hidup dan bertindak tanpa iman. Penderitaan yang lahir atau muncul karena kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusanm adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka ketika harus menderita demikian itu hendaknya tatap bergembira dan bergairah. Keberanian anda dalam Nama Tuhan untuk menderita akan menghasilkan buah-buah keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang membahagiakan dan menyelamatkan. Sabar datangnya dari penderitaan harus menunggu atau antri, lemah lembut dan rendah hati datang ketika direndahkan atau dilecehkan, dst… Marilah kita setia untuk melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, meskipun untuk itu kita harus menerima aneka penderitaan.

"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN"

(Mzm 27:13-14)

Ign 20 April 2012