Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 17 Februari 2012

Minggu Biasa VII

Minggu Biasa VII: Yes 43:18-19.21-22.24b-25; 2Kor 1:18-22; Mrk 2:1-12

"Yang begini belum pernah kita lihat."

Ketika ada dukun sakti yang dapat menyembuhkan aneka macam penyakit dalam waktu singkat serta murah meriah beayanya, pada umumnya orang lalu berbondong-bondong mendatanginya untuk mohon penyembuhan dari penyakitnya. Yang biasanya tidak berobat serta tidak merasakan sakit yang dideritanya pun juga tergerak untuk mendatanginya. Tentu saja yang sungguh dapat disembuhkan hemat saya adalah hanya penyakit-penyakit ringan yang terjadi  karena stress atau tekanan batin, sedangkan mereka yang menderita sakit parah kiranya tak akan menjadi sembuh. Mengapa yang menderita sakit ringan dapat sembuh? Salah satu atau yang utama sebagai alasan penyembuhan adalah kepercayaan: mereka percaya bahwa sang dukun dapat menyembuhkannya. Ketika mereka mulai percaya berarti sudah terjadi proses penyembuhan dari dalam, karena telah berkurang atau hilang stress-nya atau tekanan batinnya. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan seorang lumpuh yang digotong oleh empat temannya untuk mohon penyembuhan dari Yesus. Dengan susah payah mereka menghadapkan si lumpuh sampai di depan Yesus. Ketika terjadi mujizat atau penyembuhan orang lumpuh tersebut oleh Yesus, maka orang banyak yang melihat atau menyaksikan berkata "Yang begini belum pernah kita lihat."

"Mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" (Mrk 2:4-5)

Orang lumpuh diimani sebagai orang yang berdosa besar, entah itu dosa yang bersangkutan atau orangtuanya yang melahirkan, lebih-lebih sang ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Pengalaman dan informasi menunjukkan bahwa para ibu atau wanita yang cara hidup dan cara bertindaknya tidak baik memiliki kemungkinan ketika mereka mengandung dan melahirkan anak, maka anaknya cacat phisik. Para ibu atau wanita yang kurang gizi ada kemungkinan akan melahirkan anak yang sakit-sakitan juga, demikian juga mereka yang hobbynya mengkonsumsi minuman keras atau obat-obat terlarang. Bahwa anak yang dilahirkan cacat dan kemudian dapat sembuh dan sehat sungguh merupakan mujizat.

Untuk membantu penyembuhan orang sakit parah memang butuh dukungan dari saudara-saudarinya, apalagi jika berpenyakit lumpuh. Mungkin baik kiranya jika 'lumpuh' difahami secara spiritual atau rohani alias tak bermoral, seperti para penjahat, pemalas, pengganggu orang, dst.. , yang cara hidup dan cara bertindaknya sungguh menghancurkan dirinya sendiri maupun merusak hidup orang lain. Mereka tidak menyadari bahwa sedang menghancurkan diri sendiri dan merusak orang lain, maka dibutuhkan uluran kasih saudara-saudarinya untuk menyadari 'kelumpuhannya' serta kemudian siap sedia untuk disembuhkan.

Kebersamaan dalam usaha menyembuhkan mereka yang 'lumpuh' merupakan dukungan kuat dan handal untuk penyembuhan si lumpuh, dan kemudian bersama-sama menghadap Tuhan alias berdoa bersama dengan ujud mohon penyembuhan si lumpuh. Perjuangan dan pengorbanan bersama untuk membantu penyembuhan si lumpuh sungguh dibutuhkan. Percayalah bahwa jika kita bersama-sama berjuang dan berkorban dalam membantu penyembuhan si lumpuh seraya berdoa bersama, pasti terjadi mujizat: si lumpuh sembuh. Mereka yang menyaksikan kebersamaan dalam perjuangan, pengorbanan dan doa bersama serta penyembuhan si lumpuh akan berkata " Yang begini belum pernah kita lihat".

Kasih pengampunan sungguh merupakan obat mujarab dalam proses penyembuhan. Maka kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman dan beragama untuk menghayati kasih pengampunan Tuhan serta menyebarluaskannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Hidup dan bertindak dalam kasih pengampunan Tuhan juga merupakan bentuk preventif untuk menangkal aneka macam penyakit. Mereka yang kemudian menjadi penjahat, pemalas atau penganggu orang lain, hemat saya merupakan bentuk protes karena tidak merasa menerima kasih pengampunan dari orangtuanya maupun saudara-saudarinya alias merasa kurang dikasihi. Usaha penyembuhan bagi mereka tidak lain adalah mengajak mereka untuk menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah dikasihi. Dekati dan sikapi mereka dalam dan dengan kasih pengampunan Tuhan

"Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan "Amin" untuk memuliakan Allah. Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita" (2Kor 1:20-22)

Allah telah "memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita", inilah yang hendaknya kita renungkan dan refleksikan bersama. Apa saja yang telah disediakan oleh Tuhan bagi kita semua, umat beriman? Pertama-tama kita semua telah dianugerahi hidup dan kemudian juga dianugerahi segala sesuatu yang kita butuhkan agar kita dapat hidup dalam damai sejahtera, selamat dan bahagia, misalnya: saudara-saudari kita, aneka sarana-prasarana, harta benda, jabatan, kedudukan, fungsi, kesehatan, keterampilan, ketampanan atau kecantikan dst.. Semuanya ini akan mendukung dan membantu kita menuju ke keselamatan jiwa kita di akhir hidup kita, hidup mulia selamanya di sorga bersama Tuhan untuk selamanya setelah meninggal dunia, jika semuanya itu kita hayati dan fungsikan di dalam Roh Kudus alias kita hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus.

Hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus berarti menghayati keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Jika anda hidup dan bertindak menghayati keutamaan-keutamaan di atas ini, maka percayalah bahwa anda tidak akan pernah jatuh sakit apapun dan anda juga akan tumbuh berkembang sebagai pribadi yang semakin beriman, semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian ada jaminan bahwa ketika dipanggil Tuhan atau meninggal dunia segera hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga bersama Tuhan dan semua orang kudus yang telah mendahului perjalanan kita kembali ke sorga.

Dari keutamaan-keutamaan di atas yang kiranya baik kita renungkan dan hayati pada masa kini adalah kesetiaan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan serta hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau kemauan pribadi. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Secara kebetulan hari ini diselenggarakan Novena ke 7 di Seminari Mertoyudan-Magelang dalam rangka merayakan 100 tahun Seminari Mertoyudan dengan tema "Beriman untuk bertindak", yang dipimpin oleh Mgr.Ign.Suharya PR, Uskup Agung Jakarta. Marilah kita mawas diri apakah kita setia pada iman kita, yang menjadi nyata dalam perilaku atau tindakan. Iman tanpa perbuatan atau tindakan pada dasarnya mati, demikian kata Yakobus. Keunggulan hidup beriman adalah dalam tindakan atau perilaku. Semoga kita umat beriman setia pada iman kita dan dengan demikian senantiasa juga bertindak baik dan benar, melakukan apa saja yang baik dan benar demi keselamatan jiwa manusia.

"Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya. Kalau aku, kataku: "TUHAN, kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!"(Mzm 41:2-5)

Ign 19 Februari 2012


18 Feb

"Betapa bahagianya kami berada di tempat ini"

(Yak 3:1-10; Mrk 9:2-13)

"Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."  Lalu mereka bertanya kepada-Nya: "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?"  Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dahulu dan memulihkan segala sesuatu. Hanya, bagaimanakah dengan yang ada tertulis mengenai Anak Manusia, bahwa Ia akan banyak menderita dan akan dihinakan?  Tetapi Aku berkata kepadamu: Memang Elia sudah datang dan orang memperlakukan dia menurut kehendak mereka, sesuai dengan yang ada tertulis tentang dia." (Mrk 9:2-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman 'terhendak dan terpesona', suatu pengalaman iman yang sungguh mengesan dan mengena, menyentuh hati sehingga tergerak untuk segera melakukan sesuatu. Di dalam pengalaman atau perjalanan hidup kita masing-masing kiranya kita juga memiliki pengalaman yang demikian itu, sehingga kita menjadi pribadi yang ada pada saat ini. Maka dengan ini kami mengajak anda semua untuk mengenangkan pengalaman yang baik, entah yang bersitat menghentak atau mempesona, yang mendorong dan memotivasi kita untuk melakukan sesuatu yang baik, yang membuat kita semakin tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman, pengalaman yang membuat kita bergairah dan dinamis serta ceria dalam menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan. Jika pada masa kini kita merasa lesu, kurang bersemangat atau kurang bergairah, baiklah kita kembali ke pengalaman yang mengesan tersebut di atas. Untuk mendukung hal ini kiranya baik jika kita sering meluangkan waktu untuk mawas diri setiap hari atau mengadakan rekoleksi bulanan atau retret tahunan. Di dalam kesempatan mawas diri tersebut kita diajak untuk mengenangkan pengalaman yang menghentak atau mempesona tersebut. 

·   " Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya " (Yak 3:1-2). Maksud Yakobus di atas ini kiranya merupakan ajakan atau peringatan bagi kita semua agar kita tidak saling menggurui, yang berarti merendahkan atau melecehkan orang lain, melainkan saling belajar dengan rendah hati. Secara khusus kami ajak dan peringatkan siapapun yang menjadi guru atau pendidik: hendaknya melaksanakan tugas pengutusannya dengan semangat belajar yang rendah hati. Dengarkan dan cermati apa yang menjadi pengalaman para peserta didik atau murid, apa yang telah mereka miliki dan kuasai, dan kemudian bersama mereka mengembangkan pengalaman atau apa yang telah mereka miliki. Dengan kata lain marilah kita hayati salah satu motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yaitu 'ing madyo ambangun karso' (=pemberdayaan). Kehadiran dan pelayanan para guru/pendidik hendaknya membuat para peserta didik/murid menjadi bergairah dalam belajar serta mengembangkan aneka pengalaman dan keterampilan atau kecerdasan yang telah dimilikinya. Hal yang sama kami harapkan dari para orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya. Baik para guru/pendidik maupun orangtua kami ajak untuk menghayati fungsinya sebagai pendidik dalam semangat cintakasih dan kebebasan, dimana para peserta didik atau anak-anak sungguh merasa dikasihi dan diperhatikan serta diberi kebebasan untuk mengembangkan diri dalam cintakasih. Kita semua juga diingatkan dalam hal berkata-kata: semoga kata-kata yang keluar melalui mulut kita tidak membuat orang lain menjadi sakit hati, marah atau kecewa.

"Tolonglah kiranya, TUHAN, sebab orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia. Mereka berkata dusta, yang seorang kepada yang lain, mereka berkata dengan bibir yang manis dan hati yang bercabang. Biarlah TUHAN mengerat segala bibir yang manis dan setiap lidah yang bercakap besar, dari mereka yang berkata: "Dengan lidah kami, kami menang! Bibir kami menyokong kami! Siapakah tuan atas kami?" (Mzm 12:2-5)

Ign 18 Februari 2012


Kamis, 16 Februari 2012

17 Feb


"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi ia kehilangan nyawanya"

(Yak 2:14-24.26; Mrk 8:34-9:1)

" Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus." Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Mrk 8:34-9:1), demikian kutipan Warta  Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sikap konsumptif dan materialistis sungguh telah merasuki atau menjiwai hampir semua bidang kehidupan dan pelayanan bersama di negeri kita ini. Hal itu juga didukung oleh salah satu cirikhas negeri kita yaitu sebagai pasar yang menarik dan mempesona bagi para produsen baik luar negeri maupun dalam negeri, termasuk narkoba dan aneka macam jenis sarana-prasarana elektronik. Sikap mental komsumptif, materialistis dan pasar ini kelihatan jelas dalam gejala dengan mudahnya orang membeli produk-produk baru, yang lama masih layak pakai dengan cepat ganti yang baru. Orang begitu menikmati hasil produksi tetapi tak tahu sama sekali bagaimana produk tersebut diproses. Rasanya hal ini merupakan buah system pendidikan yang lebih menekankan hafalan dan kurang memberi perhatian pada eksplorasi, lebih menekankan hasil belajar/ujian/ulangan daripada proses pembelajaran.  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.", demikian sabda Yesus yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Menyerahkan nyawa karena Tuhan berarti mengarahkan dan mengandalkan cara hidup dan cara bertindak kepada Tuhan. Dengan kata lain semakin orang mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk dunia, hendaknya semakin suci atau semakin beriman, bukan semakin materialistis. Fungsikan aneka jenis harta benda dan kekayaan sebagai sarana untuk memuji, memuliakan dan mengabdi Tuhan demi keselamatan jiwa anda sendiri dan orang lain.

·   "Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (Yak 2:26), demikian kesaksian iman Yakobus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Keunggulan hidup beriman terletak dalam tindakan atau perilaku atau perbuatan, bukan dalam wacana atau omongan. Maka marilah kita hayati apa yang sering menjadi semangat aneka lembaga swadaya masyarakat, yaitu "Dalam semangat iman kristiani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara". Semangat kristiani berarti semangat Yesus Kristus, yang telah menyerahkan nyawaNya demi keselamatan jiwa seluruh umat manusia di dunia ini. Marilah kita boroskan waktu dan tenaga kita melalui aneka pekerjaan, tugas, kesibukan, jabatan, fungsi dst..demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Tolok ukur atau barometer keberhasilan atau kesuksesan adalah keselamatan jiwa, bukan banyaknya harta benda atau uang, pangkat atau pengalaman dst.. Dalam lingkungan hidup atau kerja kita kiranya ada orang-orang yang perlu diselamatkan dan kita dipanggil tuntuk menyelamatkannya, tentu saja diri kita sendiri senantiasa dalam keadaan selamat, yaitu hidup dan bertindak senantiasa dijiwai oleh iman kita. Yakobus memberi contoh perihal orang yang kurang layak berpakaian dan kelaparan, dan hemat saya di lingkungan hidup kita ada orang-orang yang berkekurangan dalam hal pakaian dan makanan, maka hendaknya kita sumbang mereka pakaian dan makanan sesuai dengan kebutuhan mereka. Kiranya jika tidak ada orang yang menumpuk pakaian atau makanan di rumah atau gudangnya, hemat saya tidak ada lagi yang berkekurangan dalam hal pakaian atau makanan, tetapi karena ada orang-orang serakah dan pelit, maka terjadilah orang kelaparan dan berpakaian tidak layak. Bongkarlah simpanan anda dan sumbangkan kepada mereka yang sungguh membutuhkan.

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya.Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya." (Mzm 112:1-6)

Ign 17 Februari 2012