Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 07 Januari 2012

9 Jan


"KepadaMulah Aku berkenan"

(Kis 10:34-38; Mrk 1:7-11)

" Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." (Mrk 1:7-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan 'Pesta Pembaptisan Tuhan' hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Baptis adalah "gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan" (KHK kan 849). Dalam kutipan di atas ini kiranya dapat kita fahami bahwa ada baptis lahir dan baptis batin. Entah telah menerima baptis lahir atau batin, dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk menjadi pribadi-pribadi yang berkenan pada Tuhan. Tuhan telah mengasihi kita dengan melimpah ruah melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita atau memperhatikan kita, maka selayaknya kita tanggapi dengan hidup dan bertindak yang berkenan kepada Tuhan. Yang berkenan kepada Tuhan tidak lain adalah yang menghayati janji baptis dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari, yaitu 'hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan'. Abdi atau pelayan yang baik memang yang senantiasa melaksanakan perintah, arahan, nasihat dan tuntunan tuannya, maka mengabdi Tuhan berarti senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan yang utama, yaitu hidup dan bertindak saling mengasihi sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita. Kita hendaknya juga menolak dengan tegas semua godaan setan tanpa ambil kompromi sedikitpun, termasuk hal-hal yang merangsang kita untuk melakukan dosa atau berbuat jahat.

·    "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang" (Kis 10:34-36), demikian kesaksian iman Petrus kepada para pendengarnya. "Allah tidak membedakan orang dan Yesus Kristus adalah Tuhan dari semua orang", inilah yang hendaknya kita renungkan, hayati dan sebarluaskan. Dengan kata lain kita dipanggil untuk mengusahakan, memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita yang berbeda satu sama lain. Milyardan atau jutaan manusia di bumi ini tidak ada yang sama, melainkan berbeda satu sama lain, maka tidak mengherankan sering terjadi ketegangan dan tawuran sampai pembunuhan atau perusakan-perusakan karena orang lebih menekankan perbedaan daripada kesamaan. Untuk membangun, memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan sejati hendak lebih mengutamakan dan mengedepankan apa yang berbeda antar kita, sehingga apa yang berbeda antar kita akan memperteguh persaudaraan. Ingatlah dan sadari bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain (phisik, sifat, usia dst.) tetapi ada daya tarik dan daya pikat, sehingga saling menarik dan memikat maupun bersahabat, bahkan sampai bersatu sebagai suami-isteri. Dengan kata lain perbedaan menjadi daya tarik atau daya pikat, maka hendaknya aneka perbedaan antar kita dijadikan daya tarik dan daya pikat untuk saling mengenal dan akhirnya bersahabat. Memang untuk itu butuh kerendahan hati agar kita tertarik dan terpikat apa yang berbeda antar kita. Kami berharap para suami-isteri, yang memiliki pengalaman mendalam dapat bersahabat dan bersatu, mengembangkan dan memperdalam serta menyebarluaskan dalam kehidupan bersama yang lebih luas. Kami ingatkan juga bahwa dalam ilmu phisika dikenal adanya dua kutup listrik, yaitu negatif dan positif, yang saling bertolak belakang. Namun ketika yang negatif dan positif bersatu terjadilah sinar terang yang membahagiakan dan menyelamatkan. Semoga apa yang terjadi dalam relasi antar laki-laki dan perempuan serta kutup negatif dan positif dalam phisika tersebut dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam membangun, memperdalam dan menyebarluaskan persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita umat manusia di bumi ini.

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan." (Yes 12:2-3)

Ign 9 Januari 2012


Hari Raya Penampakan Tuhan


HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12

"Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Para nelayan pada umumnya bekerja di malam hari dalam rangka mencari atau menangkap ikan di laut. Mereka juga terampil dalam hal melihat bintang di langit sebagai petunjuk arah, dengan kata lain bintang yang bertebaran di langit pada malam hari bagi mereka sungguh merupakan 'jalan hidup' menuju ke keselamatan dan kebahagiaan. Bintang-bintang di langit di malam hari bagi para nelayan juga merupakan kehidupan, dan mungkin bagi kebanyakan orang hanya sekedar keindahan di malam hari. Pada hari ini dalam warta gembira dikisahkan orang-orang majus dari Timur yang melihat bintang sebagai tanda kedatangan Penyelamat Dunia, dan bintang tersebut menjadi petunjuk arah ke mana ia harus mencari tempat dimana Penyelamat Dunia dilahirkan dan berada. Maka dari jauh dengan petunjuk bintang mereka berjalan menuju Yerusalem, dimana bintang yang dilihatnya menunjukkannya. Penampakan Tuhan bagi mereka ditandai dengan simbol bintang, dan memang Sang Penyelamat Dunia kiranya juga boleh dikatakan sebagai Bintang Sejati yang menerangi dan memberi petunjuk jalan bagi semua orang untuk mengarah ke keselamatan atau kebahagiaan sejati. Maka marilah kita yang beriman kepadaNya mawas diri: apakah kita juga dapat menjadi bintang-bintang bagi saudara-saudari kita dalam hidup dan kerja kita setiap hari kapan pun dan dimana pun.

"Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:2)

Pertama-tama marilah kita lihat kehadiran dan karya Tuhan dalam diri saudara-saudari kita, yang nampak atau menggejala dalam aneka perbuatan baik, yang bermoral dan berbudi pekerti luhur. Apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur dalam diri saudara-saudari kita merupakan bintang-bintang yang menunjukkan jalan bagi kita semua untuk menuju ke kebahagiaan atau keselamatan sejati, yaitu kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia. Kami percaya dalam diri saudara-saudari kita dapat kita jumpai lebih banyak apa yang baik daripada tidak baik, yang bermoral daripada yang tidak bermoral, yang berbudi pekerti luhur daripada yang tidak berbudi pekerti luhur. Kita tiru dan hayati dalam diri kita apa yang kita temukan atau jumpai dalam diri saudara-saudari kita agar kita pun juga semakin dapat menjadi bintang-bintang bagi orang lain.

Menjadi bintang pada umumnya menjadi sorotan atau perhatian banyak orang, misalnya bintang penyanyi, bintang pelajar/mahasiswa, dst.. Maka kami berharap anda tidak menjadi malu ketika menjadi perhatian dan sorotan dari banyak orang serta juga tidak menjadi sombong, melainkan hendaknya bersyukur dan berterima kasih serta kemudian menghayati syukur dan terima kasih tersebut dengan berbuat baik kepada mereka yang memperhatikan dan menyoroti. Jika perbuatan baik tak mungkin  dilakukan dengan tindakan-tindakan phisik, baiklah dilakukan secara spiritual, yaitu dengan mendoakan mereka. Dengan kata lain menjadi bintang berarti juga menjadi pendoa sejati, yaitu orang yang senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan kapan pun dan dimana pun.       

Kami berharap kepada anda semua tidak meniru sikap raja Herodes, yang pura-pura juga ingin melihat dan berbakti kepada Sang Penyelamat Dunia, namun sebenarnya dalam hatinya iri dan merasa disaingi karena konon ada raja baru yang muncul dan lebih berwibawa. "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia." (Mat 3:8), demikian kata-kata raja Herodes kepada para majus yang datang menghadapnya. Irihati dan kebohongan Herodes dikemas dalam kata-kata yang indah, dan memang begitulah sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehar-hari dalam diri orang yang irihati dan bohong. Para penjahat pada umumnya menggunakan kata-kata mesra dan indah untuk mengelabui sasarannya. Maka dengan ini kami juga berharap kepada anda untuk peka, hati-hati dan cermat terhadap kata-kata mesra dan indah, jangan-jangan hal itu merupakan jebakan atau rayuan bagi kita untuk menjadi korban kejahatan dan mungkin juga bagi para gadis menjadi korban perkosaan.

"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu, yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia, tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus,yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Berita Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus" (Ef 3:2-3a.5-6)

Menjadi orang beriman atau beragama pertama-tama bukan karena ikatan darah atau suku, melainkan karena Roh yang dianugerahkan kepada kita. Dengan kata lain yang unggul dalam hidup beriman atau beragama adalah mereka yang hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya menghasilkan buah-buah Roh Kudus seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus kita juga memiliki tugas merasul, maka marilah kita hayati dan sebarluaskan buah-buah Roh Kudus di atas dalam hidup dan kerja kita sehari-hari kapan pun dan dimana pun.

Kita juga diingatkan "bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus". Warta Injil diperuntukkan bagi seluruh manusia atau bangsa di dunia tanpa pandang bulu atau SARA. Peringatan di atas ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa bukan ikatan darah atau suku, yang diutamakan dalam keanggotaan Umat Allah, melainkan ikatan dalam Roh Kudus, artinya budi pekerti luhur atau kecerdasan spiritual yang menjadi ikatan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Penyelamat dunia, Ia datang untuk menyelamatkan seluruh dunia. Atas dasar iman inilah para Gembala Gereja Katolik di dalam Konsili Vatikan II berani menyatakan atau mengajarkan bahwa "mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendakNya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan" (Vatikan II: LG no 16).

Para majus yang menerima penampakan bukan orang Yahudi. Secara konkret yang menjadi anggota Gereja Katolik pada masa kini mayoritas juga bukan orang Yahudi dan tergerak untuk menjadi anggota Gereja Katolik karena kesaksian iman mereka yang telah menjadi anggota Gereja Katolik, yang telah menampakkan rahmat Allah melalui cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian, entah keyakinan atau agamanya apapun, untuk lebih mengutamakan penghayatan iman bukan pengungkapan iman, dengan kata lain lebih mengutamakan cara hidup dan cara bertindak yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur daripada ajaran, wacana atau omongan. Marilah kita hayati tugas merasul (berdkwah) dengan dan melalui cara hidup dan cara bertindak, bukan dengan omongan atau provokasi.

"Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin"

 (Mzm 72:10-13)

Ign 8 Januari 2012


7 Jan


"Mereka kehabisan anggur"

(1Yoh 5:14-21; Yoh 2:1-11)

"Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang." Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya." (Yoh 2:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ibu atau perempuan pada umumnya lebih peka akan kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari daripada bapak atau laki-laki. Itulah yang terjadi di pesta perkawinan di Kana dimana Bunda Maria dan Yesus hadir, Bunda Maria melihat sesuatu yang kurang dalam pesta tersebut dan jika tidak segera dibereskan akan memalukan tuan rumah yang mengundang sekian banyak tamu. Bunda Maria percaya bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu demi keselamatan pesta perkawinan tersebut. Maka pertama-tama saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan ibu atau perempuan untuk memperdalam dan mengembang-kan kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan kecil dan penting dalam hidup bersama, entah di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Memang masalah makanan dan minuman pada umumnya menjadi urusan atau tugas pelayanan bagi para ibu atau perempuan untuk dilaksanakan sebaik mungkin, entah di dalam keluarga maupun masyarakat dan tempat kerja atau aneka macam pesta bersama. Ketika makanan dan minuman yang disajikan baik pada umumnya mereka yang mengkomsumsi sungguh gembira dan bahagia, meskipun tidak tergerak untuk memuji siapa yang mempersiapkan atau mengurusnya. Sebaliknya ketika makanan atau minuman yang disajikan tidak berkenan di hati atau selera pribadi, pada umumnya orang lalu mencari-cari siapa yang mengurusnya alias melecehkannya. Melalui makanan atau minuman memang orang dapat membahagiakan atau merusak, yang merusak misalnya sebagaimana dilakukan oleh para penipu kepada para penumpang kendaraan umum, yang sering terjadi di sekitar Idul Fitri. Semoga melalui makanan dan minuman kita dapat saling membahagiakan dan menyelamatkan.

·   Dalam warta gembira hari ini dikisahkan adanya mujijat 'air menjadi anggur'. Kita semua sebagai umat beriman juga dipanggil untuk mengubah 'air menjadi anggur', artinya membuat apa yang tidak enak menjadi enak, yang enak menjadi lebih enak. Memang dalam kenyataan belum tentu apa yang dihadapkan atau disajikan atau yang kita lihat dan nikmati sebenarnya tidak enak atau tidak sesuai dengan selera  pribadi. Dekati dan sikapi apa yang tidak enak dalam dan oleh kasih, dengan demikian akan menjadi enak adanya. "Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya." (1Yoh 5:14-15). Apa yang dikatakan oleh Yohanes dalam suratnya di atas ini kiranya dapat menjadi pegangan atau pedoman dalam rangka mengubah 'air menjadi anggur', yang tidak enak menjadi enak. Kita hendaknya percaya kepadaNya, dengan kata lain sungguh beriman. Jika kita sungguh beriman maka hadapi dan segala sesuatu dalam dan oleh iman. Sekali lagi kembali soal makanan; makanlah dalam iman, maka apa yang kita makan enak dan menyelamatkan, tentu saja makanan tersebut sehat. Makanan sehat belum tentu enak atau sesuai dengan selera pribadi kita, apalagi makanan suku-suku atau bangsa-bangsa tertentu yang asing bagi kita. Makan dalam dan dengan iman berarti saya makan yang tidak enak dan biasa dimakan orang setempat tersebut pasti tidak mati. Enak dan tidak enak hitungannya hanya detik: mau melewati yang tidak enak dan sehat pasti akan selamat dan bahagia.

"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mzm 149:1-4)

Ign 7 Januari 2012