Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 31 Desember 2011

1 Jan 2012

HR SP MARIA BUNDA ALLAH: Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21

"Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya."

Pertama-tama kami ucapkan 'SELAMAT TAHUN BARU 2012', Selamat menelusuri tahun baru dan semoga dengan semangat baru juga kita mengarungi tahun 2012 ini. Hari ini tepat delapan hari setelah kelahiran Penyelamat Dunia, dan menurut tradisi pada hari ke delapan ini Sang Bayi Penyelamat Dunia harus diberi nama, "ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya". Hari ini selain Hari raya SP Maria Bunda Allah juga merupakan Hari Perdamaian Sedunia, dan bagi anggota Serikat Yesus juga merupakan hari Pesta Nama Serikat.  Bunda Maria juga sering disebut sebagai Ratu Perdamaian, maka baiklah di awal tahun ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal perdamaian yang menjadi dambaan semua orang di dunia ini, dan untuk itu pertama-tama marilah kita bercermin pada Bunda Maria.

"Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (Luk 2:19)

Di dalam masyarakat kita masa kini dalam hidup dan kerja bersama kiranya cukup banyak perkara yang muncul, ada perkara yang ringan , sedang dan berat. Di dalam pergaulan sehari-hari kita sering menghadapi hal-hal yang tidak enak, tidak sesuai dengan selera atau keinginan pribadi, yang pada umumnya membuat kita akan marah, menggerutu atau mengeluh. Marah, menggerutu atau mengeluh hemat saya merupakan bentuk permusuhan yang lembut alias kebalikan dari damai atau perdamaian. Maka kami berharap kepada anda sekalian untuk meneladan semangat Bunda Maria, ketika menghadapi sesuatu yang kurang jelas baginya atau perkara maka ia "menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya", yang berarti mempersembahkan perkara itu kepada Tuhan untuk mohon penccrahan dan bimbingan dalam menghadapinya.

Kami percaya kita semua menghadapi banyak perkara di dalam hidup sehari-hari, entah besar atau kecil. Meneladan Bunda Maria serta menjadi saksi dan pewarta perdamaian berarti menjadi perkara tersebut bahan doa atau permenungan di hadapan Tuhan. Dalam doa atau permenungan kami yakin bahwa kita akan menerima pencerahan dari Tuhan, yaitu agar kita dengan semangat kasih pengampunan menghadapi atau menyelesaikan perkara tersebut. "There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness" (=Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa pengampunan), demikian tema pesan Perdamaian Sedunia dari Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium ketiga ini, 1 Januari 2000. Kiranya pesan tersebut masih up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan.  

Kami percaya para ibu memiliki pengalaman menghayati kasih pengampunan tersebut, yaitu ketika sedang merawat dan mengasuh bayinya atau anak balitanya: bukankah ketika sang bayi rewel atau mengganggu anda sebagai ibunya, anda tidak mengeluh, menggerutu atau marah, melainkan dengan kasih pengampunan menimang, memeluk dan mencium sang bayi? Hendaknya pengalaman tersebut diperdalam dan diteguhkan dalam hidup sehari-hari serta disebarluaskan kepada saudara-saudarinya dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan. Ingat akan lagu "Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia". Dengan kata lain kepada rekan-rekan perempuan, khususnya para ibu kami harapkan dapat menjadi teladan perdamaian yang dijiwai oleh kasih pengampunan atau kerahiman. Ingatlah bahwa anda sebagai perempuan memiliki rahim dan di dalam rahimlah tumbuh berkembang yang terkasih dalam kasih pengampunan atau kerahiman. Selanjutnya kepada kita semua kami ajak untuk merenungkan perihal pemberian nama kepada Sang Bayi Penyelamat dunia, nama Yesus, sebagaimana dikatakan oleh malaikat sebelum Ia dikandung dan dilahirkan oleh Bunda Maria.

"Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya" (Luk 2:21)

Nama Yesus kurang lebih berarti Allah menyelamatkan, maka Sang Bayi yang baru saja lahir diberi nama Yesus karena Ia adalah Penyelamat dunia. Hari ini bagi kami, anggota Serikat Yesus, merayakan pesta nama Serikat Yesus, maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan Yesuit untuk menghayati diri sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang berarti berpartisipasi dalam Penyelamatan Dunia. Pada masa kini, setelah pembelajaran kurang lebih selama satu tahun, Provinsi Serkat Yesus Indonesia mencanangkan opsi pelayanan dalam tiga bidang atau masalah, yaitu : kemiskinan, lingkungan hidup dan persaudaraan sejati. Jika kita cermati kemiskinan di Indonesia masih menjadi keprihatinan, demikian juga lingkungan hidup yang terus menerus dirusak oleh orang-orang yang serakah, serta persaudaraan sejati yang dirongrong oleh sekelompok ekstrimis di Indonesia ini.

"Karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." (Gal 4:6-7). Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Galatia di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi untuk berpartisipasi dalam gerakan-gerakan pemberantasan kemiskinan, pelestarian lingkungan hidup maupun pemba-ngunan dan pemantapan persaudaraan sejati. Kita semua sama-sama ahli waris, dengan kata lain kita sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama, meskipun kita berbeda satu sama lain. Kita sama-sama anak, maka selayaknya kita hidup saling mengasihi, memperhatikan dan menghormati, sehingga ketika ada saudara kita yang miskin kita entaskan, ketika ada yang merusak lingkungan hidup kita tegor dan ingatkan dengan rendah hati, dan ketika ada yang merongrong persaudaraan atau persahabatan sejati kita dekat dalam dan dengan kasih serta rendah hati dan lemah lembut.

Sebagai anak atau ahli waris kita memiliki Roh yang sama, semangat yang sama, yang menjadi nyata dalam keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Dalam rangka mengatasi kemiskinan, lingkungan hidup yang semakin rusak dan persaudaraan yang dirongrong, hemat saya keutamaan 'penguasaan diri' memadai untuk kita hayati dan sebarluaskan. Karena ada orang-orang yang tidak dapat menguasai diri sehingga terjadi kemiskinan, perusakan lingkungan hidup maupun perongrongan persaudaraan sejati. Menguasai diri memang tidak mudah, tetapi siapapun yang dapat menguasai diri pada umumnya tidak serakah serta sikap hidup terhadap orang lain senantiasa melayani, menghormati dan memuliakan. Sebaliknya orang yang tak dapat menguasai diri maka sikap terhadap orang lain akan menindas atau menyengsarakan.

Buah penguasaan diri adalah lembah lembut, sabar dan rendah hati dan dari hatinya bersuara "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bil 6:24-26). Kami berharap keutamaan penguasaan diri ini sedini mungkin dididikkan dan dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan dan melalui teladan orangtua atau bapak-ibu.

"Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya,  supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu."

 (Mzm 67:2-3.5-6)

'SELAMAT TAHUN BARU 2012, DAN MARILAH HIDUP BARU SESUAI DENGAN KARISMA ATAU VISI-MISI KITA MASING-MASING"

Ign 1 Januari 2012


Kamis, 29 Desember 2011

31 des


"Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya tetapi dunia tidak mengenalNya"

(1Yoh 2:18-21; Yoh 1:1-18)

"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. " (Yoh 1:1-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus, Penyelamat Dunia, telah mendunia, hadir di tengah-tengah kita, Allah menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Namun sebagaimana diwartakan oleh penginjil Yohanes tidak semua orang mengenalNya atau bahkan juga ada yang menolakNya, karena Ia tidak sebagaimana mereka impikan atau dambakan. Kiranya cukup banyak orang yang mendambakan bahwa Ia datang dengan kebesaranNya, namun Ia datang dalam kemiskinan dan kesederhanaanNya dan dengan demikian hanya mereka yang berjiwa miskin dan sederhana mampu menerima dan mengenalNya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup berjiwa miskin dan sederhana dalam hidup sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Berjiwa miskin dan sederhana antara lain berarti senantiasa dengan rendah hati terbuka terhadap segala kemungkinan dan kesempatan. Maka kami mengajak anda sekalian marilah di tahun yang akan datang ini kita dengan rendah hati terbuka terhadap segala kemungkinan dan kesempatan, terutama terbuka terhadap Penyelenggaraan Ilahi. Dengan kata lain kami berharap semoga di tahun baru yang akan datang kita sungguh hidup baru, yang ditandai oleh "penuh kasih karunia dan kebenaran".

·   "Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita" (1Yoh 2:18-19). Kutipan ini mengingatkan kita agar dalam menempuh tahun 2012 yang akan datang kita sungguh hati-hati dan peka terhadap aneka godaan atau rayuan yang mengajak kita untuk berbuat jahat atau melakukan dosa. Cermati bahwa akan muncul orang-orang yang tak beriman yang berkehendak menggerogoti iman kita dengan dan melalui tawaran seperti uang/harta benda, kedudukan/jabatan atau kehormatan duniawi. Orang-orang yang bersikap mental materialistis pada umumnya dengan lembut dan halus merayu kita agar mengikuti cara hidup dan cara bertindaknya yang materialistis. Sekali lagi saya mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah kita berjiwa miskin dan sederhana agar tidak mudah jatuh ke dalam dosa, mengikuti keinginan mereka yang bersikap mental materialistis. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita diciptakan oleh Allah untuk memuji, menghormati, melayani dan memuliakanNya demi keselamatan jiwa kita. Dengan kata lain marilah kita lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia daripada apa-apa yang bersifat phisik dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Hendaknya memfungsikan apa-apa yang bersifat phisik seperti harta benda/uang, jabatan/kedudukan dan kehormatan duniawi sebagai bantuan atau wahana untuk lebih memuliakan, mengabdi, menghormati dan melayani Allah alias agar semakin suci, semakin beriman, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia.   

"Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, maka segala pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya." (Mzm 96:11-13)

Ign 31 Desember 2011


Rabu, 28 Desember 2011

30 des


"Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat"

(Kej 15:1-6; 21:1-3; Luk 2:36-40)

" Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya" (Luk 2:36-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta Keluarga Kudus hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Keluarga adalah dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beriman serta menggereja, maka ketika keluarga sungguh kuat, dalam arti damai sejahtera dan selamat oleh ikatan kasih, hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara, beriman dan menggereja akan dalam keadaan damai sejahtera dan selamat juga. Kanak-kanak Yesus di dalam keluarga kudus di Nasareth karena asuhan 'orangtua'Nya telah "bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padaNya". Maka dengan ini kami berharap keluarga-keluarga dapat meneladan Keluarga Kudus, Yesus, Maria dan Yosef. Kami berharap anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah kepada orangtua/ bapak-ibu dididik dan dibersarkan dalam cintakasih dan kebebasan Injili. Dalam cintakasih berarti bapak-ibu sungguh memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, sedangkan dalam kebebasan Injili berarti bapak-ibu berfungsi sebagai penyiram sedangkan Allah-lah yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan. Dengan kata lain orangtua tidak dapat memaksa anak-anak hanya mengikuti kehendak dan keinginan orangtuanya bagi masa depan mereka, melainkan biarlah Allah sendiri yang menyentuh dan memanggilnya untuk jadi apa masa depan anak-anak. Agar anak-anak bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada mereka, hendaknya masa balita anak-anak sungguh memperoleh kasih dan perhatian orangtua yang memadai. Hendaknya tidak dengan mudah menyerahkan anak-anak balita kepada para pembantu atau kakek-neneknya, karena ada kecenderungan untuk dimanja dan dengan demikian anak-anak tidak akan tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Allah.

·   "TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej 15:5-6). Abram/Abraham adalah teladan umat beriman, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk meneladan bapa Abraham, yaitu percaya kepada firmanNya. Percaya atau beriman kepada firmanNya berarti senantiasa menghayati firman-firmanNya dalam hidup sehari-hari alias membaktikan diri sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dengan kata lain hendaknya kita tidak begitu percaya diri alias sombong, melainkan rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya". (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Tak jemu-jemunya saya mengutip makna rendah hati, karena rendah hati merupakan keutamaan yang utama dan pertama harus kita hayati dan sebarluaskan. Para orangtua hendaknya menjadi teladan rendah hati bagi anak-anaknya serta mendidik dan membesarkan anak-anak untuk hidup dan bertindak rendah hati. Kita juga dapat meneladan Yosef dan Maria yang rendah hati dalam mendampingi kanak-kanak Yesus. Ingatlah dan sadari bahwa anda yang berkeluarga dan dianugerahi anak-anak akan memiliki keturunan yang banyak, yang sulit anda bayangkan, maka semoga keturunan anda kelak juga hidup dan bertindak dengan rendah hati, karena mengenangkan anda yang rendah hati. Biarlah anda nanti dikenang oleh keturunan anda, sebagaimana orang mengenang bapa Abraham maupun Yosef dan Maria. Secara khusus kepada mereka yang mengenakan nama Yosef atau Maria untuk meneladan Keluarga Kudus.

"Serukanlah nama-Nya, perkenalkanlaRh perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!" (Mzm 105:1b-6)

Ign 30 Desember 2011.