Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 17 Desember 2011

19 Des


"Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku"

(Hak 13:3-7.24-25a; Luk 1:5-25)

"Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya." Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya:"Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang." (Luk 1:11-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini kita diingatkan akan anugerah agung Allah kepada hambanya yang taat dan setia pada iman serta senantiasa berbakti kepada Allah kapan pun dan dimana pun. Elisabeth, isteri Zakharia, yang telah lansia mengandung dan akan melahirkan anaknya. Saya percaya suami-isteri yang telah lama menikah dan tidak dianugerahi anak pasti akan merasa aib atau rendah diri, namun ketika pada suatu saat dianugerahi anak pasti akan berkata seperti Elisabeth "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang". Anak adalah anugerah Tuhan Allah, itulah kebenaran iman yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Jika anak adalah anugerah Tuhan Allah, maka selayaknya anak-anak dididik dan dibesarkan sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan Allah, dan tentu saja pertama-tama orangtua/bapak-ibu harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah seperti Zakharia dan Elisabeth. Menghayati anak sebagai anugerah Allah berarti juga menghayati diri sebagai anugerah Allah karena juga pernah menjadi anak, dengan kata lain kita semua diharapkan dan dipanggil untuk menghayati diri sebagai anugerah Allah, dan dengan demikian senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah serta menghayati semua yang ada pada diri kita, entah kecantikan/ketampanan, kesehatan, kepandaian/kecerdasan, kekayaan dan umur panjang sebagai buah perbuatan Tuhan Allah bagiku.

·   "Lalu perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki dan memberi nama Simson kepadanya. Anak itu menjadi besar dan TUHAN memberkati dia. Mulailah hatinya digerakkan oleh Roh TUHAN di Mahane" (Hak 13:24-25a), demikian kutipan perihal kelahiran Simson, anugerah Allah, sehingga ketika telah dilahirkan "hatinya digerakkan oleh Roh Tuhan". Sebagai orang yang beriman, secara khusus yang beriman kepada Yesus Kristus, hendaknya hati kita juga digerakkan oleh Roh Tuhan, tidak hanya mengikuti keingingan atau kerinduan hati pribadi, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita akan menghasilkan buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Ingatlah dan sadari bahwa yang kita sambut kedatanganNya adalah pembawa sukacita dan damai sejahtera, maka selayaknya kita yang menantikan kedatanganNya juga berusaha untuk senantiasa hidup dalam sukacita dan damai sejahtera. Hidup dalam sukacita dan damai sejahtera berarti senantiasa ceria, gembira, dinamis, penuh harapan dalam menghadapi segala sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Jika kita dengan demikian itu menghadapi segala sesuatu yang mendatangi kita, maka kita akan mampu mengerjakan dan menghayati dengan baik dan sukses, dan dengan demikian kita juga akan semakin bersukacita dan damai sejahtera. Sukacita dan damai sejahtera menjadi dambaan atau kerinduan semua umat manusia di bumi ini, maka hendaknya kita bersama-sama mengusahakan, memperdalam dan menghayatinya, sehingga damai sejahtera dan sukacita sungguh menjadi nyata di bumi.

"Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja! Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib" (Mzm 71:16-17)

Ign 19 Desember 2011


Minggu Adven IV


Mg Adven IV : 2Sam 7:1-5.8b-12.14a.16; Rm 16:25-27; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu"


Allah adalah Mahasetia, maka apapun yang pernah dijanjikanNya pasti akan menjadi nyata atau terwujud. Memang janji Allah akan menjadi nyata atau terwujud butuh kerjasama manusia untuk mewujudkannya, dengan kata lain  butuh kesanggupan total manusia agar janji menjadi nyata. Dalam Minggu Adven IV atau terakhir menjelang Hari Raya Kelahiran Penyelamat Dunia ini, kepada kita ditampilkan tokoh Maria, teladan umat beriman, yang menerima tugas atau panggilan untuk mengandung dan melahirkan Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Maria adalah seorang perawan dan akan mengandung serta melahirkan anak, padahal belum bersuami. Anda rekan remaja putri kiranya dapat membayangkan bagaimana jika anda belum bersuami atau belum menikah tiba-tiba diketahui hamil, dan tidak diketahui siapa sebenarnya yang menghamili. Bukankah anda akan dicibir, direndahkan dan ada kemungkinan disingkirkan alias harus menanggung malu dengan penuh derita dan sengsara? Perasaan macam itu kiranya juga dialami Maria ketika diberi tahu bahwa ia akan mengandung karena Roh Kudus dan melahirkan anak. Namu karena hal itu merupakan panggilan Allah, maka Maria pasrah dan taat, serta menanggapi tawaran atau panggilan Allah dengan berkata "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk 1:38). Marilah kita yang beriman kepada Bunda Maria mawas diri: sejauh mana kita juga memiliki kesiap-siagaan menyambut kehahiran Penyelamat Dunia atau merayakan Natal dengan benar?

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk 1:38)

"Hamba Tuhan" berarti menjadi pelayan atau pesuruh Tuhan, dan karena Tuhan Maha Segalanya maka apa yang diperintahkan atau disabdakan oleh Tuhan mau tak mau harus melaksanakannya, tak kuasa menolak atau menyingkirinya. Sebagai orang beriman kiranya kita juga memiliki panggilan untuk menjadi hamba-hamba Tuhan, yang senantiasa dalam keadaan siap-siaga untuk melaksanakan semua perintah atau sabda Tuhan dalam keadaan atau kondisi apapun, dimana pun dan kapan pun. Menjadi hamba Tuhan juga berarti senantiasa 'membahagiakan Tuhan', dan dengan demikian secara otomatis juga membahagiakan saudara-saudarinya melalui cara hidup dan cara bertindaknya.

Pesta Natal yang akan segera kita rayakan juga merupakan pesta kebahagiaan, bahagia karena kelahiran Penyelamat Dunia, Pembawa Damai Sejahtera. Maka marilah di hari-hari menjelang Pesta Natal ini kita mempersiapkan diri dengan mawas diri: apakah kita senantiasa berusaha membahagiakan saudara-saudari kita sehingga di Pesta Natal nanti kita saling membahagiakan. "Jadilah padaku menurut perkataanmu itu", demikian pernyataan lebih lanjut dari Maria setelah ia menjatakan diri sebagai hamba Tuhan. Beranikah kita juga berkata seperti Maria ini, dan tentu saja tidak hanya para sabda Tuhan, tetapi juga melalui kepanjangan sabda seperti kehendak baik, saran dan nasihat baik dari saudara-saudari kita?

Kami percaya kebanyakan orang berkehendak baik, dan karena keterbatasan maupun kelemahannya kehendak baik tersebut dapat sedikit berbeda atau berlainan satu sama lain, dan mungkin juga tidak sesuai dengan kehendak baik kita. Namun marilah kita sadari dan hayati bahwa kehendak baik kita juga terbatas dan belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain marilah dengan berpkiran positif kita saling membuka diri terhadap kehendak kita, sehingga tiada permusuhan atau perseteruan di antara kita, melainkan semakin terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati di antara kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa panggilan Tuhan melalui malaikatNya kepada Maria untuk mengandung dan melahirkan Penyelamat Dunia juga merupakan 'empati' atau panggilan persaudaraan dari Tuhan kepada umat manusia. Dengan belaskasih dan kemurahanNya Tuhan menjadikan kita orang-orang berdosa, yang melawan sabda atau perintah Tuhan, saudara-saudariNya. Kita tanggapi belaskasih dan kemurahanNya dengan menyalurkan belas kasih dan kemurahan Tuhan kepada saudara-saudari kita, dan dengan demikian kita saling berbelas kasih dan bermurah hati, artinya kita memperhatikan siapapun tanpa pandang bulu, SARA, usia, pengalaman, jabatan dst…

"Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, -- menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman -- bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin." (Rm 16:25-27)

Kutipan di atas ini merupakan kata-kata terakhir surat Paulus kepada umat di Roma. "Menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman", kutipan inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama di hari-hari terakhir menjelang Pesta Natal yang akan segera datang. Kami percaya kita semua telah mendengarkan dan mungkin juga merefleksikan dan merenungkan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab para nabi, entah secara pribadi maupun bersama dalam ibadat atau doa bersama. Apakah dengan itu semua kita semakin taat pada iman kita, artinya hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita kapan pun dan dimana pun?

Kita akan menyambut kedatangan Allah menjadi Manusia, Yesus Kritus, yang taat untuk mewujudkan janji Allah untuk menyelamatkan seluruh dunia. Maka baiklah kita mempersiapkan diri dengan mawas diri: sejauh mana kita taat pada iman kita. Hidup dan bertindak dijiwai oleh iman akan mulia kini dan selamanya, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagaimana sering dicanangkan sebagai visi-misi aneka LSM Kristiani dalam anggaran dasarnya. Maka pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan para pemimpin atau pengurus aneka lembaga atau gerakan untuk dapat menjadi teladan dalam cara hidup dan cara bertindak yang dijiwai oleh iman.

Hidup dan bertindak dijiwai oleh iman merupakan salah satu bentuk penghayatan rahmat kenabian yang dianugerahkan kepada kita semua umat beriman. Menghayati rahmat kenabian berarti senantiasa menjadi saksi dan menyebarluaskan kebenaran-kebenaran serta dengan berani dan gigih, tanpa takut dan tanpa gentar menghadapi dan memberantas aneka kebohongan, yang masih marak pada masa kini. Maka menghayati rahmat kenabian harus hidup dan bertindak jujur. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997 hal 17). Hidup jujur memang akan hancur untuk sementara, tetapi akan mulia dan bahagia selamanya. Marilah kita biasakan dan didik anak-anak kita untuk hidup dan bertindak jujur kapan pun dan dimana pun.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

  Ign 18 Desember 2011


17 Des

"Inilah silsilah Yesus Kristus"

(Kej 49:2.8-10; Mat 1:1-17)

"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia, Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus." (Mat 1:1-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kita memasuki hari pertama dalam Pekan Khusus Adven, dengan kata lain satu minggu lagi kita akan segera merayakan Natal, hari raya kelahiran Yesus Kristus, Penyelamat Dunia. Kepada kita ditampilkan silsilah Yesus Kristus, suatu ajakan untuk menyadari dan menghayati bahwa kelahiran Yesus Kristus, Penyelamat Dunia, merupakan pemenuhan janji Allah kepada umatNya, yang menantikan penebusan atas dosa-dosanya. Maka mungkin baik jika hari ini kita mawas diri perihal janji Allah kepada kita masing-masing terkait dengan jati diri dan panggilan kita sebagai orang katolik, yang telah dibaptis, sebagai suami/isteri, imam, bruder dan suster, dimana kepada kita dijanjikan bahwa jika kita setia menghayati janji-janji yang telah kita ikhrarkan, maka kebahagiaan atau kesejahteraan sejati sudah ada di ambang pintu. Dengan kata lain jika kita setia pada janji-janji, maka dengan penuh keyakinan dan kemantapan kita akan bahagia dan sejahtera. Sejauh mana kita setia atau melanggar janji-janji yang pernah kita ikhrarkan? Jika kita merasa kurang setia atau telah melanggar marilah dengan rendah hati mengakui kesalahan dan dosa kita serta mohon kasih pengampunan dari Allah. Pada hari-hari selama Pekan Khusus Adven ini kiranya ada kesempatan bagi kita semua untuk menerima Sakramen Pengampunan dalam pengakuan dosa, maka hendaknya kesempatan untuk mengaku dosa yang telah disediakan dimanfaatkan sungguh-sungguh, dan jangan dilewatkan.

·   "Yehuda, engkau akan dipuji oleh saudara-saudaramu, tanganmu akan menekan tengkuk musuhmu, kepadamu akan sujud anak-anak ayahmu. Yehuda adalah seperti anak singa: setelah menerkam, engkau naik ke suatu tempat yang tinggi, hai anakku; ia meniarap dan berbaring seperti singa jantan atau seperti singa betina; siapakah yang berani membangunkannya? Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa" (Kej 49:8-10). Kutipan ini hendaknya kita renungkan atau refleksikan, yaitu jika kita setia pada janji-janji yang telah kita ikrarkan, maka kita akan dikenang oleh anak-cucu atau keturunan kita. Cara hidup dan cara bertindak kita akan menjadi teladan, panutan atau inspirasi bagi generasi berikutnya, maka hendaknya kita sungguh memiliki cara hidup dan cara bertindak yang layak dikenang atau diabadikan oleh anak-cucu, keturunan atau generasi penerus. Tentu saja cara hidup dan cara bertindak yang baik dan berbudi pekerti luhur, yang membuahkan damai sejahtera dan kebahagiaan atau keselamatan sejati itulah yang hendaknya kita usahakan bersama-sama dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita mempesona, memikat dan menarik orang lain karena baik dan berbudi pekerti luhur, dan siapapun yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita akan mengikutinya. Marilah kita wariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang membahagiakan dan menyelamatkan kepada anak-cucu, keturunan dan generasi penerus kita, bukan harta benda atau uang yang kita wariskan. Nilai dan keutamaan hidup tak akan mudah hancur dan musnah karena aneka tantangan, masalah dan hambatan, sebaliknya akan semakin handal dan teguh.

"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin" (Mzm 72:1-4b)

Ign 17 Desember 2011