Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 19 November 2011

HR Kristus Raja


HR YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM: Yeh 34:11-12.15-17; 1Kor 15:20-26a.28; Mat 25:31-46
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku"
"Bapak teko, awake dewe poso" (= Bapak berkunjung, kita semua berpuasa), demikian keluh kesah atau gerutu para pedagang kaki lima dan tukang becak di wilayah kota Semarang ketika Presiden Suharta berkunjung ke Semarang guna membuka Konggres Bahasa Jawa di sebuah hotel beberapa tahun lalu. Mengapa para pedagang kali lima dan tukang becak menggerutu dan merasa harus berpuasa, karena selama dua hari mereka 'tidak boleh bekerja' alias tidak boleh berdagang dan 'mbecak', demi kebersihan jalan-jalan kota Semarang yang mendapat kunjungan Presiden. Tidak bekerja berarti tak ada masukan sedikitpun bagi mereka, maka benarlah bahwa mereka mengatakan harus berpuasa. Pada tahun yang sama secara kebetulan Paus Yohanes Paulus II berkunjnng ke Indonesia, antara lain ke Yogyakarta bagi umat wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pada peristiwa kunjungan Paus di Yogyakarta ini baik pedagang kaki lima maupun tukang becak sungguh diuntungkan, karena banyak orang yang memakai jasa mereka. Dan memang Paus pun juga minta agar diundang 20 tamu VVIP dalam kunjungannya, dan yang dimaksudkan dengan tamu VVIP tidak lain adalah mereka yang sakit, cacat, lansia, bayi dst.. . Pemimpin dunia memang berbeda dengan pemimpin agama, menejemen bernegara memang berbeda dengan menejemen menggereja. Pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita diajak untuk mengenangkan dan merefleksikan makna 'raja' serta fungsinya sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, maka marilah kita renungkan isi Warta Gembira hari ini.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Mat 25:40)
Yesus, Raja Semesta Alam, datang dan melayani dalam kesederhanaan dan kemiskinanNya serta berpihak pada/bersama dengan yang miskin dan berkekurangan atau 'yang paling hina'. Sebagai umat beriman atau beragama, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladanNya, khususnya mereka yang berfungsi sebagai pemimpin maupun yang berpartisipasi dalam kepemimpinannya. Paus, pemimpin Gereja Katolik senantiasa menyatakan diri sebagai 'hamba dari para hamba yang hina dina', sedangkan  para uskup menyatakan diri sebagai 'hamba yang hina dina'.
"Preferential option for/with the poor" = Keberpihakan kepada/bersama yang miskin, itulah salah satu prinsip hidup menggereja sebagai paguyuban umat beriman, yang harus kita hayati dan sebarluaskan. Untuk itu kita sendiri hendaknya hidup dan bertindak secara sederhana serta memiliki sifat-sifat sebagaimana dihayati oleh orang-orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur. Maka baiklah di akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semakin tumbuh berkembang dalam iman sehingga semakin meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang sederhana dan miskin serta datang untuk memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dengan rendah hati. Orang-orang miskin dan hina baik secara material maupun spiritual kiranya ada di sekitar kita, berada di lingkungan hidup maupun kerja kita, maka marilah kita perhatikan mereka dengan penuh pelayanan dan kerendahan hati. Cirikhas orang miskin yang baik dan berbudi pekerti luhur, antara lain: bekerja keras dan senantiasa siap sedia untuk mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan kepadanya.
Berinspirasi pada Warta Gembira hari ini kita diharapkan memperhatikan mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara dan sakit, entah secara material maupun spiritual. Untuk itu kita memang harus siap sedia berjuang dan berkorban. Memperhatikan secara material berarti siap sedia untuk mengorbankan sebagian kekayaan atau harta benda/uang kita bagi mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, terpenjara atau sakit. Sedangkan secara spiritual antara lain kita harus dengan suka rela dan jiwa besar berani memboroskan waktu dan tenaga kita bagi mereka yang 'terasing, terpejara dan sakit' maupun 'lapar, haus dan telanjang' secara spiritual alias mereka yang kurang diperhatikan alias yang paling hina. Kunjungan bersama kepada mereka  yang sedang dipenjara, yang diasuh di aneka panti asuhan kiranya juga merupakan salah satu bentuk penghayatan iman kepada Yesus, Raja Semesta Alam, yang berpihak pada/bersama yang miskin dan berkekurangan. Selanjutnya marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.
"Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1Kor 15:22)
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua perihal janji baptis, yaitu ketika dibaptis kita berjanji 'hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan'. Maka baiklah pada Hari Minggu Terakhir tahun Liturgy atau Hari Raya Tuhan kndaita Yesus Kristus Raja Semesta Alam hari ini kita mawas diri perihal perkembangan penghayatan janji baptis, yang telah kita ikrarkan dengan bangga dan gembira ketika dibaptis.
Pertama-tama marilah kita mawas diri perihal 'mati dalam persekutuan dengan Adam' atau janji menolak semua godaan setan: apakah kita senantiasa menolak godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan dalam menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan untuk 'gila terhadap harta benda/uang, jabatan/pangkat/kedudukan atau kehormatan duniawi'. Yang paling menggoda pada masa kini kiranya harta benda atau uang sebagaimana telah menguasai para koruptor, karena dengan uang orang dapat hidup dan bertindak menurut kemauannya sendiri, meskipun untuk itu akhirnya akan menderita selamanya. Orang yang dirajai atau dikuasai oleh uang ketika tidak memiliki uang lagi pasti akan gila atau sinthing. Harta benda atau uang adalah 'jalan ke neraka atau jalan ke sorga', maka marilah sebagai umat beriman kita hayati uang sebagai 'jalan ke sorga', yang berarti semakin kaya akan uang hendaknya semakin suci, berbakti sepenuhnya kepada Tuhan.
"Mengabdi Tuhan Allah" berarti menjadikan Allah adalah Raja kita dan kita dikuasai atau dirajai olehNya. Kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintahNya, dan kiranya semua perintah atau kehendakNya dalam dipadatkan ke dalam perintah untuk 'saling mengasihi satu sama lain sebagaimana Allah telah mengasihi' kita. Allah telah mengasihi kita secara total sehingga kita dapat hidup sebagaimana adanya pada saat ini. Saling mengasihi berarti saling memboroskan waktu dan tenaga satu sama lain, maka marilah kita saling memboroskan waktu dan tenaga alias saling memperhatikan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita sungguh mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Raja Semesta Alam. 
"Jikalau Aku membuat binatang buas berkeliaran di negeri itu, yang memunahkan penduduknya, sehingga negeri itu menjadi sunyi sepi, dan tidak seorang pun berani melintasinya karena binatang buas itu, dan biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang tadi, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak-anak lelaki maupun anak-anak perempuan; hanya mereka sendiri akan diselamatkan, tetapi negeri itu akan menjadi sunyi sepi. Atau jikalau Aku membawa pedang atas negeri itu dan Aku berfirman: Hai pedang, jelajahilah negeri itu!, dan Aku melenyapkan dari negeri itu manusia dan binatang"(Yeh 14:15-17). Kutipan dari Kitab Yehiskiel di atas ini kiranya menunjukkan betapa maha kuasanya Allah. Mereka yang tidak beriman kepadaNya pasti akan segera dimusnahkan atau dihancurkan. Dengan kata lain kehancuran serta aneka macam musibah dan bencana alam yang sering terjadi masa kini antara lain karena kejahatan atau keserakahan manusia, buah ketidak-taatan manusia kepada Allah, Raja Semesta Alam.
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya "(Mzm 23:1-3)
Ign 20 November 2011

Kamis, 17 November 2011

19 Nov


"Di hadapan Dia semua orang hidup."
(1Mak 6:1-13; Luk 20:27-40)
" Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus." (Luk 20:27-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Sesuatu yang kontradiktif, tidak percaya akan kebangkitan orang mati menanyakan perihal kebangkitan orang mati, itulah orang-orang Saduki. Tidak percaya kepada kebangkitan orang mati berarti tidak percaya kepada Allah, maka menanggapi pertanyaan orang-orang Saduki, Yesus menjawab: "Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup". Maka baiklah kami mengajak semua umat beriman atau beragama untuk merefleksikan sabda Yesus di atas ini, yaitu bahwa 'di hadapan Dia/Allah semua orang hidup'. Berada di hadapan Allah mau tak mau akan tunduk atau taat pada Allah dan dikuasai oleh Allah, harus melaksanakan kehendak atau perintah Allah. Apakah kita sebagai umat beriman atau beragama semakin tambah usia dan berpengalaman dalam hidup juga semakin berada 'di hadapan Allah'?  Kami percaya bahwa sebagai umat beragama sering berdoa atau bahkan setiap hari berdoa, berusaha untuk berada 'di hadapan Allah', namun apakah hal itu terjadi secara formal atau liturgis melulu serta kurang dihayati, kiranya boleh dipertanyakan. Jika setiap berdoa kita sungguh berdoa alias berada 'di hadapan Allah', maka selayaknya kita semakin mesra hidup bersama dan bersatu dengan Allah, dan dengan  demikian juga percaya bahwa setelah mati atau meninggal dunia nanti akan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga, dan selama hidup di dunia ini juga lebih mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi daripada pada manusia, harta benda atau uang.
·   "Teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang. Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing" (1Mak 6:12-13), demikian kata sang raja setelah menerima berbagai peringatan dari orang yang mendatanginya. Kutipan di atas ini mungkin baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para koruptor, yang dengan seenaknya mengambil milik atau hak orang lain. Namun sayang, mungkin para koruptor tidak membaca renungan saya ini, maka kepada mereka yang menerima email saya, silahkan diteruskan kepada para koruptor. Tindakan korupsi atau tindakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama busuk alias tidak sedap lagi, tidak menarik, tidak mempesona dan tidak memikat. Perilaku korupsi sebenarnya sudah terlatih sejak masih dalam sekolah atau dunia pendidikan yaitu 'kebiasaan menyontek', maka kami berharap kepada para pengelola atau pelaksana pendidikan/guru untuk memberlalukan 'dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian' di lingkungan sekolahnya. Membiarkan atau memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk menyontek baik dalam ulangan maupun ujian hemat saya berarti mempersiapkan diri para koruptor untuk masa depan. Sadarlah bahwa kebiasaan menyontek menjadi modal untuk berbuat jahat: mencuri atau korupsi.
"Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu. Engkau telah menghardik bangsa-bangsa, telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya" (Mzm 9:2-4.6)
Ign 19 November 2011

18 Nov


"Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ"
(1Mak 4:36-37.52-59; Luk 19:45-48)
" Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ,  kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia" (Luk 19:45-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Bait  Allah berarti 'tempat Allah bertahta atau tempat tinggal Allah' alias tempat suci, seperti gereja/ kapel, masjid/surau, candi, tempat peziarahan dst.. Siapa pun yang datang ke tempat suci pada umumnya memiliki harapan atau kerinduan agar dirinya semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Allah atau agar dirinya pun juga semakin menjadi 'bait Allah'. Dengan kata lain sebenarnya kita sebagai umat beriman atau beragama diharapkan dapat menjadi 'bait Allah' alias dalam keadaan suci. Maka baiklah di hari-hari terakhir tahun Liturgi ini saya mengajak kita semua, khususnya umat Katolik, untuk mawas diri apakah semakin tambah usia dan berpengalaman juga semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, tidak materialistis.  Melalui orang suci orang dapat mengintip siapa sebenarnya Tuhan dan sesama manusia dan apa harta benda atau uang. Manusia adalah gambar atau citra Tuhan, sedangkan aneka macam jenis harta benda atau uang merupakan bantuan bagi manusia agar dapat menjadi gambar atau citra Tuhan yang baik. Harta benda atau uang adalah sarana bukan tujuan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak bersikap mental materialistis, lebih-lebih bagi para pemimpin agama maupun mereka yang terlibat dalam kepemimpinan agama, seperti dewan paroki, pengurus gereja/masjid, dst.. Kami sering mendengar masih ada seksi-seksi social di paroki-paroki yang bersikap mental materialistis, yang berarti berlawanan atau bertolak belakang dengan fungsinya. Kami juga berharap kepada para orangtua maupun guru/pendidik untuk mendidik anak-anak atau peserta didik agar tidak bersikap mental materialistis.
·   "Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah korban bakaran, korban keselamatan dan korban pujian. Bagian depan Bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya. Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus" (1Mak 4:56-58). Kutipan dari Kitab Makabe di atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita bersama. Marilah kita hiasai bait Allah atau gereja, masjid atau tempat ibadat kita sebaik mungkin sehingga menarik dan memikat semua orang untuk berdoa atau beribadat. Hendaknya aneka sarana-prasarana ibadat dirawat sebaik mungkin, kebersihan lingkungan tempat ibadat, entah bagian luar maupun dalam sungguh diperhatikan, dst.. Kita sering melihat lingkungan rumah begitu indah dan asri, tetapi lingkungan tempat ibadat kelihatan kumuh, demikian juga pakaian dan perhiasan yang dipakai umat bagus dan baru, tetapi pakaian para petugas ibadat seperti pakaian misdinar, kasula dll kelihatan kotor.  Bukankah hal ini menunjukkan bahwa umat kurang memperhatikan perawatan atau pemeliharaan tempat ibadat beserta lingkungannya maupun sarana-prasarananya? Secara khusus kami ingatkan juga perihal tujuan kepemilikan harta benda gerejawi, misalnya uang, yaitu untuk "mengatur ibadat ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan" (KHK kan 1254). Kami berharap para pastor paroki maupun dewan paroki dalam hal pengelolaan harta benda atau uang sungguh berpedoman pada tujuan di atas ini. Fungsikan harta benda atau uang gereja untuk membina umat Allah agar semakin suci dan beramal kasih. Ingatlah bahwa uang atau harta gereja berasal dari umat Allah, maka hendaknya juga difungsikan bagi pelayanan umat Allah.
"Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan" (1Taw 29:11-12)
Ign 18 November 2011