Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 14 Oktober 2011

MInggu Biasa XXIX


Mg Biasa XXIX : Yes 45:1.4-6; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."
Orang Farisi memang sungguh licik seperti ular namun tidak tulus seperti burung merpati, dengan kata lain mereka pandai tetapi jahat. Dengan kelicikan dan kejahatannya mereka mencoba menjebak Yesus untuk menjatuhkanNya dengan bertanya perihal kewajiban membayar pajak. "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Mat 22:1-17), demikian pertanyaan jebakan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Jika Yesus menjawab 'jangan membayar pajak', maka berarti Yesus tidak taat pada tata tertib hidup bermasyarakat, sedangkan jika Yesus menjawab "bayarlah pajak" bersama Ia sama dengan mereka, yaitu orang-orang yang taat kepada penjajah atau perampas. Maka dengan cerdas Yesus menanggapi jebakan jahat mereka "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21). Marilah kita renungkan jawaban cerdas dan cemerlang dari Yesus ini.
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Mat 22:21)
Kaisar atau pemimpin Negara memiliki tugas dan kewajiban hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan mendatangi atau mengujungi warganya kiranya jarang sekali atau tak pernah mengunjunginya. Wewenang atau kuasanya terbatas pada daerah atau wilayah tertentu atau suku atau bangsa tertentu. Sedangkan Allah wilayah kerjaNya tidak terbatas oleh ruang dan waktu, melainkan kapan saja dan dimana saja alias terus menerus bekerja dalam dan melalui seluruh ciptaanNya. Sebagai warganegara atau manusia kita berurusan dengan kaisar serta para pembantunya kadang-kadang saja, sedangkan sebagai manusia kita berurusan terus menerua dengan Allah. Dengan kata lain sebenarnya waktu dan tenaga kita lebih banyak berurusan dengan Allah dari pada dengan kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya. Maka marilah pertama-tama  waktu dan tenaga kita lebih terarahkan kepada Allah dari pada kaisar atau pemimpin Negara beserta para pembantunya.Secara khusus saya mengajak siapapun yang langsung bergaul atau melayani sesama manusia, misalnya para guru atau pendidik serta para pejabat di akar rumput.
Para guru/pendidik hendaknya lebih memperhatikan anak-anak atau para peserta didik daripada atasan mereka seperti  kepala sekolah, pengurus yayasan, pejabat pemerintah dalam aneka tingkatan di bidang pendidikan dst.. Serahkan waktu dan tenaga anda sepenuhnya kepada anak-anak atau para peserta didik ketika anda sedang bertugas di sekolah; takutlah jika anak-anak atau para peserta didik tidak tumbuh berkembang menjadi cerdas beriman dan jangan takut kepada para pimpinan anda di tingkat apapun. Hal yang senada kami harapkan dari para orangtua terhadap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka: hendaknya orangtua sungguh berani boros waktu dan tenaga bagi anak-anaknya, lebih-lebih dan terutama selama masa balita anak-anak. Memang meninggalkan anak-anak balita kemudian diseerahkan kepada pembantu atau perawat terasa lebih mudah, karena mereka tak akan protes, namun anda akan dirugikan di kemudian hari karena anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya.   
Yang kami maksudkan para pejabat di akar rumput tidak lain adalah lurah beserta para pembantunya, yang pada umumnya dipilih oleh rakyatnya serta dekat dengan rakyat yang telah memilihnya dan kemudian harus dipimpinnya. Dan tentu saja kami juga berharap kepada para pejabat di atasnya sampai pada presiden. Hendaknya sebagai pejabat sungguh setia dalam mengabdi atau melayani rakyat. Ingatlah dan sadari bahwa anda digaji dan karya anda dibeayai oleh dana yang terkumpul dari pajak, yang notabene dana yang berasal dari rakyat. Para pejabat harus berpihak dan bersama dengan rakyat jika mendambakan masyarakatnya damai, sejahtera dan makmur. Para pejabat hendaknya jangan bersikap mental Farisi, yaitu hanya mencari keuntungan atau kenikmatan pribadi, untuk memperkaya diri sendiri, keluarga maupun kerabatnya. Kesuksesan kinerja dan pelayanan para pejabat berupa kesejahteraan rakyat. Rakyat tidak sejahtera berarti para pejabat bejat moralnya,.
"Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami"(1Tes 1:2)
Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini hendaknya menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak para pemimpin, pengajar atau pembina di tingkat atau di bidang apapun. Pertama-tama hendaknya sungguh bersyukur dan berterima kasih karena telah terpilih dalam fungsi pelayanan tersebut. Wujudkan syukur dan terima kasih anda dengan menjalankan fungsi pelayanan tersebut sebaik dan seoptimal mungkin dalam semangat pelayanan. Selain melayani secara langsung hendaknya setiap hari dalam doa-doa anda juga mendoakan mereka yang anda ajar atau bina atau pimpin. Mendoakan orang lain berarti juga mengasihi atau memperhatikan mereka.
Tentu saja kami juga berharap kepada segenap orangtua untuk berpedoman pada kata-kata Paulus di atas. Pertama-tama hendaknya suami-isteri saling bersyukur dan berterima kasih karena Tuhan telah mempertemukan anda berdua untuk hidup bersama sebagai suami-isteri, saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh. Kemudian hendaknya bersyukur dan berterima kasih karena telah dianugerahi anak-anak oleh Tuhan. Syukur dan terima kasih orangtua diwujudkan dalam mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang sungguh beriman atau cerdas spiritual. Anak-anak selama masa balita hendaknya diberi gizi yang baik dan memadai, entah secara material maupun spiritual. Secara material berarti anak-anak diberi makanan dan minuman yang bergizi dan variatif sesuai dengan pedoman 'empat sehat lima sempurna'; bayi hendaknya diberi ASI secara memadai dalam jangka waktu yang cukup. Sedangkan secara spiritual antara lain berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak, dan ketika berjauhan dari anak-anak karena tugas atau pekerjaan hendaknya mendoakannya.
Saling bersyukur, berterima kasih serta mendoakan hendaknya juga kita hayati sebagai umat beragama atau beriman. Pertama-tama antar kakak-adik dalam satu keluarga hendaknya saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan. Sebagai umat beriman atau beragama kami harapkan kita saling bersyukur, berterima kasih dan mendoakan tanpa membedakan agama, suku atau ras, sehingga terjadilah kerukunan umat beriman atau beragama yang menarik, mempesona dan memikat. Sebagai umat beriman atau beragama marilah kita renungkan dan hayati seruan Yesaya ini: "Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain" (Yes 45:5-6).
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit" (Mzm 96:1.3-5)
Ign 16 Oktober 2011
 
 

15 Okt


"Roh  Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan"
(Rm 4:13.16-18; Luk 12:8-12)
"Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." (Luk 12:8-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresia dari Yesus, perawan dan pujangga Gereja, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup sebagai perawan alias tidak menikah sampai mati atau menjadi biarawati pada masa kini kiranya sarat dengan tantangan, hambatan maupun masalah, apalagi untuk menjadi perawan suci. Bertahan tetap perawan alias tidak pernah berhubungan seksual sebelum menikah menjadi suami-isteri pun kiranya juga penuh dengan tantangan dan godaan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak gadis masa kini tidak perawan lagi. Hidup sebagai perawan yang tidak menikah sampai mati atau biarawati berarti membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian diharapkan hidup dijiwai oleh Roh Kudus. Orang yang bersangkutan menghayati sabda Yesus bahwa "pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan". Sebenarnya semua orang beriman atau beragama juga diharapkan hidup dijiwai oleh Roh Kudus alias mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan kapanpun. Ketika menghadapi situasi, pribadi orang atau pekerjaan yang kurang jelas atau menakutkan, hendaknya dengan rendah hati mendengarkan dan melihat guna menemukan cara atau terobosan yang ditunjukkan oleh Roh Kudus untuk menanganinya. Percayalah dan imanilah bahwa jika kita sungguh percaya pada Penyelenggaraan Ilahi, maka kita akan menemukan celah-celah yang harus kita lalui untuk mengatasi aneka tantangan, hambatan atau masalah. Marilah kita cari dan akui aneka kehendak baik dari saudara-saudari kita atau mencari orang-orang baik di sekitar kita, sebagai kepanjangan "Roh Kudus yang akan mengajar kita apa yang harus kita katakan maupun lakukan" 
·   "Bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman." (Rm 4:13), demikian kata Paulus kepada umat Roma. Sebagai umat beriman kita adalah keturunan Abraham dan kita dianugerahi dunia seisinya untuk kita olah atau urus dalam "kebenaran, berdasarkan iman". Dengan kata lain kita diharapkan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan atau dengan semangat iman, atau iman kita harus menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Kami berharap kita tidak membesar-besarkan perbedaan karena agama/keyakinan, suku atau ras, melainkan marilah kita kita angkat dan perdalam sama antar kita yaitu sama-sama umat beriman. "Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cintakasih" (Vatikan II GS no 69). Maka marilah dunia atau bumi yang telah 'menjadi milik kita bersama' kita olah dan urus sedemikian rupa dengan tujuan kemakmuran atau kesejahteraan seluruh umat manusia. Jika masih ada orang menderita kelaparan atau kehausan atau berkekurangan dalam hal sandang dan pangan berarti ada orang-orang tertentu yang serakah alias tidak hidup dan bertindak berdasarkan imannya. Maka kami berharap kepada mereka yang serakah untuk bertobat dan kepada yang kaya akan harta benda atau uang kami harapkan berjiwa social dengan membantu dan memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan, menyisihkan sebagian harta benda atau uangnya bagi mereka.
"Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihi segala allah. TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya; Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya. Dialah yang memukul mati anak-anak sulung Mesir, baik manusia maupun hewan" (Mzm 135:5-8)
Ign 15 Oktober 2011

Rabu, 12 Oktober 2011

14 Okt


"Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh"

(Rm 4:1-8; Luk 12:1-7)

" Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Luk 12:1-7), demikian kutipan warta gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang beriman atau beragama kita tidak boleh takut menghayati iman atau ajaran agama dimanapun dan kapanpun, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun masalah, termasuk juga ketika direndahkan atau dilecehkan atau diejek. Pelecehan atau ejekan kiranya hanya sebatas mulut saja dan sekiranya sampai menyakiti anggota tubuh kita pun kiranya tidak menyakitkan. Aneka pelecehan atau ejekan hemat saya berasal atau bersumber dari setan, maka hadapilah bersama dengan Tuhan atau diamkan saja, maka akan berhenti dengan sendirinya. "Jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit", demikian sabda Yesus. Setiap anggota tubuh kita sekecil apapun sungguh berharga atau bernilai dihadapan Tuhan, maka marilah kita hargai dan hormati semua anggota tubuh kita sebaik mungkin, artinya kita fungsikan sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita fungsikan setiap anggota tubuhnya sesuai dengan fungsinya, dan semua fungsi kiranya dapat padatkan ke dalam fungsi 'melayani, menghormati dan memuji Tuhan melalui ciptaan-ciptaanNya'. Hormatilah dan pujilah aneka ejekan, cemoohan atau pelecehan sebagai perhatian atau kasih Tuhan kepada kita, sehingga kita tidak takut diejek, diccmooh atau dilecehkan. Tidak mungkin orang mengejek, melecehkan atau menyakiti kita jika mereka tidak mengasihi kita.  Tanggapi ejekan, cemoohan dan pelecehan dengan bertanya "Mengapa?', dan kemudian carilah dengan rendah hati apa yang menyebabkan mereka melecehkan, mencemooh atau mengejek kita.

·   "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." (Rm 4:7-8), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita telah melakukan banyak kesalahan namun 'tidak diperhitungkan Tuhan', berarti kita senantiasa diampuni, maka selayaknya kita juga mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, sebagaimana selalu kita doakan dalam doa Bapa kami "ampunilah kami seperti kami pun senantiasa mengampuni mereka yang bersalah kepada kami".  Balaslah mereka yang menyalahi, mengejek, mencemooh dan melecehkan anda dengan kasih pengampunan. Percayalah dan imanilah bahwa kasih pengampunan pasti dapat mengalahkan kebencian maupun balas dendam.  Hendaknya kita tetap ceria dan bahagia ketika dilecehkan, direndahkan atau dicemooh, karena dengan demikian kita memiliki kesempatan emas untuk mewujudkan atau meneruskan kasih pengampunan kepada mereka. Kami berharap kembali kepada segenap orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin mendidik dan membina anak-anaknya hidup penuh syukur dan terima kasih karena telah menerima kasih pengampunan secara melimpah ruah dari Tuhan melalui sesamanya, terutama melalui anda berdua sebagai orangtua. Pengalaman yang telah diterima atau diperoleh di dalam keluarga akan membekas atau mengakar dalam hati sanubari anak-anak dan kemudian dapat diperdalam dan diperkembangkan terus di dalam pendidikan di sekolah maupun masyarakat. Hidup bersama masa kini masih dicemari oleh orang-orang egois dan fanatik sempit, yang mencoreng persaudaraan sejati, maka menghayati dan menyebarluaskan kasih pengampunan pada masa kini sungguh mendesak dan up to date.

"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."

(Mzm 32:1-2.5)

Ign 14 Oktober 2011