Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 24 September 2011

Minggu Biasa XXVI

"Sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Mg Biasa XXVI: Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32
Dalam setiap kunjungan pastoralnya ke berbagai Negara atau wilayah Gerejani Paus Yohanes Paulus II senantiasa mohon agar diundang tamu-tamu "VVIP" (Very very important person), dan kepada mereka inilah sebelum Perayaan Ekaristi akan pertama kali dicium dan diberkati satu persatu. Dalam kunjungan pastoral di wilayah Keuskupan Agung Semarang, bertempat di lapangan Angkatan Udara Adi Sucipta, Maguwaharja, Yogyakarta, diundang tamu VVIP sebagaimana diharapkan. Mereka itu adalah "bayi, lansia, orang cacat, orang miskin, pasien sakit berat/hampir mati, dll." berjumah  20(dua puluh) orang. Bukankah hal ini berarti mereka yang pada umumnya dalam kehidupan biasa sehari-hari kurang diperhatikan atau tersingkir, namun didahulukan, mendahului orang-orang lainnya? Maka marilah kita renungkan kutipan Warta Gembira hari ini.   
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mat 21:31)
Rekan-rekan perempuan yang menjadi pelacur atau 'menjual diri' kepada kaum laki-laki demi pemuasan seksual kiranya merupakan korban-korban alias terpaksa melacurkan diri karena kesewenangan atau kebejatan moral kaum laki-laki. Ada yang melacurkan diri karena diingkari oleh pacarnya yang telah merenggut keperawanannya sehingga hamil dan sang pacar melarikan diri, ada yang melacurkan diri sebagai balas dendam terhadap suaminya yang telah dengan seenaknya berbuat serong terhadap perempuan lain, dst.. , begitulah sebagaimana sering diberitakan dalam aneka mass media. Dengan kata lain sebenarnya mereka adalah orang-orang baik yang dijerumuskan ke dalam dosa oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab. Hal yang sama terjadi dalam diri para pemungut cukai, yang terjebak dalam dosa structural.
Pemungut cukai dan perempuan sundal sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira hari ini merupakan symbol orang-orang yang haus dan lapar akan kasih dan kebenaran, maka ketika ada orang yang mengasihi atau menyalurkan kebenaran kepadanya dengan sikap dan cepat mereka menanggapinya. Kesadaran dan penghayatan diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan itulah yang dimaksudkan dengan 'pemungut cukai dan perempuan sundal'. Maka, baiklah sebagai orang-orang beriman atau beragama, marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa
Menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan berarti memiliki sikap mental 'terbuka', yaitu "sikap dan perilaku yang menunjukkan keleluasaan dalam menerima apa saja dari luar, membuka diri terhadap umpan balik, dan mampu memuat informasi apa saja dengan obyektif" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 28). Anak-anak kecil pada umumnya lebih terbuka daripada orang-orang dewasa atau orang tua. Keterbukaan diri terhadap sesamanya tanpa pandang bulu, yang berarti hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga terbuka terhadap sesamanya di satu sisi merupakan wujud keterbukaan diri kepada Tuhan dan di sisi lain merupakan modal dan pendalaman keterbukaan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain keterbukaan diri terhadap Tuhan tak dapat dipisahkan dari keterbukaan diri terhadap sesama manusia dan sebaliknya. Orang yang terbuka berarti juga bersikap mental belajar terus-menerus sampai mati. Dalam hal keterbukaan ini saya pribadi terkesan dari dan terdidik oleh ibu/simbok saya yang beberapa waktu lalu telah dipanggil Tuhan, dimana ia selalu membuka diri terhadap aneka informasi, entah melalui siaran TV maupun ceritera dari orang lain, dan kemudian diolahnya sebagai sapaan, peringatan atau sentuhan Tuhan. Kami berharap anak-anak sedini mungkin terus diperdalam sikap mental keterbukaan yang telah dimilikinya, antara lain dengan teladan konkret dari para orangtuanya di dalam keluarga.
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Flp 2:5-8)
Pikiran dan perasaan sangat mempengaruhi atau dominan dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Ada orang yang dalam cara hidup dan cara bertindaknya begitu dikuasai oleh pikirannya dan sebaliknya ada yang dalam cara hidup dan cara bertindaknya begitu dikuasai oleh perasaannya, itulah dua ekstrim yang berlawanan dan sering terjadi. Hemat saya yang baik adalah integrasi atau  sinerji antara pikiran dan perasaan, perkawinan antara pikiran dan perasaan, yang dalam psiko-religius sering disebut sebagai cintakasih yang rational.
Secara cintakasih rational kita yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya yang sangat rendah hati. Telah berkali-kali dan tak jemu-jemunya saya mengangkat masalah rendah hati, mengingat dan mempertimbangkan masih banyak orang yang hidup dan bertindak dengan sombong. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).     
"Menjadi sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa" itulah yang dihayati oleh Yesus. Ajakan menjadi sama bagi kita tidak berarti kita mau sama dengan mereka yang lebih dari kita, melainkan menjadi sama dengan mereka yang kurang dari kita, dengan kata lain kita diharapkan 'menunduk' bukan 'menengadah', melihat ke bawah bukan melihat ke atas. "Yen mlaku  dungkluk, ojo ndlangak" (= Jika berjalan hendaknya menunduk, jangan menengadah), demikian kata orang Jawa. Yang dimaksudkan dengan 'mlaku/berjalan' di sini hemat saya adalah cara hidup dan cara bertindak kita, yaitu hendaknya senantiasa melihat ke bawah, memperhatikan dan mengasihi mereka yang kurang beruntung atau kurang berbahagia atau selamat dibandingkan dengan keberadaan kita.   
Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam hal rendah hati atau 'melihat ke bawah' ini. Hendaknya para pemimpin atau atasan sering 'turba', turun ke bawah, untuk memperhatikan dan menyapa mereka: para buruh, pekerja, rakyat  atau komunitas. Kami berharap kepada mereka yang berada di dalam poros 'badan publik' maupun poros 'bisnis' untuk senantiasa bersama rakyat atau komunita di dalam perjalanan melaksanakan tugas panggilan atau menghayati fungsinya.
"Ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat."
(Mzm 25:4b-8)
Ign 25 September 2011

Jumat, 23 September 2011

Mg Biasa XXVI

Mg Biasa XXVI: Yeh 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32

"Sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal
akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah."
Dalam setiap kunjungan pastoralnya ke berbagai Negara atau wilayah
Gerejani Paus Yohanes Paulus II senantiasa mohon agar diundang
tamu-tamu "VVIP" (Very very important person), dan kepada mereka
inilah sebelum Perayaan Ekaristi akan pertama kali dicium dan
diberkati satu persatu. Dalam kunjungan pastoral di wilayah Keuskupan
Agung Semarang, bertempat di lapangan Angkatan Udara Adi Sucipta,
Maguwaharja, Yogyakarta, diundang tamu VVIP sebagaimana diharapkan.
Mereka itu adalah "bayi, lansia, orang cacat, orang miskin, pasien
sakit berat/hampir mati, dll." berjumah  20(dua puluh) orang. Bukankah
hal ini berarti mereka yang pada umumnya dalam kehidupan biasa
sehari-hari kurang diperhatikan atau tersingkir, namun didahulukan,
mendahului orang-orang lainnya? Maka marilah kita renungkan kutipan
Warta Gembira hari ini.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan
perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam
Kerajaan Allah." (Mat 21:31)
Rekan-rekan perempuan yang menjadi pelacur atau 'menjual diri' kepada
kaum laki-laki demi pemuasan seksual kiranya merupakan korban-korban
alias terpaksa melacurkan diri karena kesewenangan atau kebejatan
moral kaum laki-laki. Ada yang melacurkan diri karena diingkari oleh
pacarnya yang telah merenggut keperawanannya sehingga hamil dan sang
pacar melarikan diri, ada yang melacurkan diri sebagai balas dendam
terhadap suaminya yang telah dengan seenaknya berbuat serong terhadap
perempuan lain, dst.. , begitulah sebagaimana sering diberitakan dalam
aneka mass media. Dengan kata lain sebenarnya mereka adalah
orang-orang baik yang dijerumuskan ke dalam dosa oleh orang-orang yang
tak bertanggungjawab. Hal yang sama terjadi dalam diri para pemungut
cukai, yang terjebak dalam dosa structural.

Pemungut cukai dan perempuan sundal sebagaimana diwartakan dalam Warta
Gembira hari ini merupakan symbol orang-orang yang haus dan lapar akan
kasih dan kebenaran, maka ketika ada orang yang mengasihi atau
menyalurkan kebenaran kepadanya dengan sikap dan cepat mereka
menanggapinya. Kesadaran dan penghayatan diri sebagai pendosa yang
dipanggil Tuhan itulah yang dimaksudkan dengan 'pemungut cukai dan
perempuan sundal'. Maka, baiklah sebagai orang-orang beriman atau
beragama, marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa
Menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan
berarti memiliki sikap mental 'terbuka', yaitu "sikap dan perilaku
yang menunjukkan keleluasaan dalam menerima apa saja dari luar,
membuka diri terhadap umpan balik, dan mampu memuat informasi apa saja
dengan obyektif" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi
Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 28). Anak-anak kecil
pada umumnya lebih terbuka daripada orang-orang dewasa atau orang tua.
Keterbukaan diri terhadap sesamanya tanpa pandang bulu, yang berarti
hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga terbuka terhadap sesamanya di
satu sisi merupakan wujud keterbukaan diri kepada Tuhan dan di sisi
lain merupakan modal dan pendalaman keterbukaan diri kepada Tuhan.
Dengan kata lain keterbukaan diri terhadap Tuhan tak dapat dipisahkan
dari keterbukaan diri terhadap sesama manusia dan sebaliknya. Orang
yang terbuka berarti juga bersikap mental belajar terus-menerus sampai
mati. Dalam hal keterbukaan ini saya pribadi terkesan dari dan
terdidik oleh ibu/simbok saya yang beberapa waktu lalu telah dipanggil
Tuhan, dimana ia selalu membuka diri terhadap aneka informasi, entah
melalui siaran TV maupun ceritera dari orang lain, dan kemudian
diolahnya sebagai sapaan, peringatan atau sentuhan Tuhan. Kami
berharap anak-anak sedini mungkin terus diperdalam sikap mental
keterbukaan yang telah dimilikinya, antara lain dengan teladan konkret
dari para orangtuanya di dalam keluarga.
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan
mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan
dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Flp 2:5-8)
Pikiran dan perasaan sangat mempengaruhi atau dominan dalam cara hidup
dan cara bertindak kita. Ada orang yang dalam cara hidup dan cara
bertindaknya begitu dikuasai oleh pikirannya dan sebaliknya ada yang
dalam cara hidup dan cara bertindaknya begitu dikuasai oleh
perasaannya, itulah dua ekstrim yang berlawanan dan sering terjadi.
Hemat saya yang baik adalah integrasi atau  sinerji antara pikiran dan
perasaan, perkawinan antara pikiran dan perasaan, yang dalam
psiko-religius sering disebut sebagai cintakasih yang rational.
Secara cintakasih rational kita yang beriman kepada Yesus Kristus
dipanggil untuk meneladan cara hidup dan cara bertindakNya yang sangat
rendah hati. Telah berkali-kali dan tak jemu-jemunya saya mengangkat
masalah rendah hati, mengingat dan mempertimbangkan masih banyak orang
yang hidup dan bertindak dengan sombong. "Rendah hati adalah sikap dan
perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu
dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya
lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan
dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti
Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

"Menjadi sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa" itulah yang
dihayati oleh Yesus. Ajakan menjadi sama bagi kita tidak berarti kita
mau sama dengan mereka yang lebih dari kita, melainkan menjadi sama
dengan mereka yang kurang dari kita, dengan kata lain kita diharapkan
'menunduk' bukan 'menengadah', melihat ke bawah bukan melihat ke atas.
"Yen mlaku  dungkluk, ojo ndlangak" (= Jika berjalan hendaknya
menunduk, jangan menengadah), demikian kata orang Jawa. Yang
dimaksudkan dengan 'mlaku/berjalan' di sini hemat saya adalah cara
hidup dan cara bertindak kita, yaitu hendaknya senantiasa melihat ke
bawah, memperhatikan dan mengasihi mereka yang kurang beruntung atau
kurang berbahagia atau selamat dibandingkan dengan keberadaan kita.
Kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam hidup bersama
dapat menjadi teladan dalam hal rendah hati atau 'melihat ke bawah'
ini. Hendaknya para pemimpin atau atasan sering 'turba', turun ke
bawah, untuk memperhatikan dan menyapa mereka: para buruh, pekerja,
rakyat  atau komunitas. Kami berharap kepada mereka yang berada di
dalam poros 'badan publik' maupun poros 'bisnis' untuk senantiasa
bersama rakyat atau komunita di dalam perjalanan melaksanakan tugas
panggilan atau menghayati fungsinya.

"Ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam
kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan
aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. Ingatlah segala rahmat-Mu
dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak
purbakala. Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku
janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih
setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar;
sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat."
(Mzm 25:4b-8)

Ign 25 September 2011

Kamis, 22 September 2011

24 spt


"Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."
(Za 2:1-5.10-11a; Luk 9:43b-45)
"Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya
itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Dengarlah dan camkanlah
segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan
manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya
tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan
mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya" (Luk
9:43b-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Yesus datang ke dunia untuk untuk menyelamatkan seluruh umat
manusia, dan untuk itu Ia harus diserahkan ke dalam tangan manusia.
Para murid tidak jelas apa arti 'diserahkan ke dalam tangan manusia'
dan mereka tidak berani bertanya sedikitpun kepada Yesus.  Diserahkan
ke dalam tangan manusia berarti senantiasa siap sedia dan rela
diperlakukan apapun oleh manusia demi keselamatan manusia yang
bersangkutan. Dengan kata lain orang tak mungkin hidup dan bertindak
hanya mengikuti keinginan  atau kemauan pribadi, melainkan harus
mengikuti kehendak dan harapan orang lain yang mendambakan kebahagiaan
dan keselamatan terutama jiwanya. Saya kira pada masa kini orang yang
bersikap mental demikian itu tidak banyak, mengingat dan memperhatikan
mereka yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster menurun,
sementara itu cukup banyak mereka yang terpanggil mengundurkan diri
dalam perjalanan. Panggilan menjadi imam, bruder dan suster hemat saya
merupakan salah satu bentuk 'penyerahan diri ke dalam tangan manusia',
dengan kata lain orang sungguh "to be man/woman with/for others". Maka
kepada semuanya kami berharap untuk hidup dan bertindak sosial;
ingatlah, sadarilah dan hayatilah bahwa jati diri sejati kita sebagai
manusia adalah sebagai 'makhluk sosial'. Sikap mental sosial dapat
kita kembangkan dengan solidaritas, yang berarti dengan rendah hati
dan rela memperhatikan dan mengasihi mereka yang kurang beruntung jika
dibandingkan dengan diri kita sendiri. Sikap mental solider dapat kita
hayati dengan melepaskan aneka kebesaran yang kita miliki agar dapat
menjadi sama dengan yang lain, sebagaimana telah dihayati oleh Yesus,
Penyelamat Dunia, yang 'melepaskan ke AllahanNya' dan menjadi manusia
hina seperti kita kecuali dalam hal dosa.
•       "Bersorak-sorailah dan bersukarialah, hai puteri Sion, sebab
sesungguhnya Aku datang dan diam di tengah-tengahmu, demikianlah
firman TUHAN; dan banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN
pada waktu itu" (Za 2:10-11a). Yang dimaksudkan dengan 'puteri Sion'
kiranya adalah umat Allah, umat beriman. Sebagai umat Allah atau umat
beriman kita diharapkan untuk senantiasa 'bersorak-sorai dan
bersukaria' , karena Tuhan berada di dalam diri kita, hidup dan
berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Orang yang
senantiasa bersorak-sorai dan bersukaria pasti akan menarik dan
mempesona, sehingga banyak orang tergerak untuk mendekat dan
menggabungkan diri. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk
senantiasa penuh senyum seperti orang gila, serta tidak pernah melukai
atau menyakiti yang lain sedikitpun. Coba perhatikan dan cermati orang
gila: ia senantiasa senyum-senyum dan tak pernah marah, karena
kemarahannya sudah habis atau ditinggalkan atau dilampaui. Karena
Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita serta Ia Maha segalanya, maka
selayaknya mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan
perintah dan kehendakNya, dan secara konkret berarti setia kepada
aneka janji yang telah diikrarkan, mentaati dan melaksanakan aneka
tata tertib yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan dan
pekerjaan kita masing-masing. Maka hendaknya dengan segenap hati,
segenap jiwa , segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh
berusaha keras melaksanakan aneka tata tertib atau aturan. Kerja keras
merupakan salah satu kunci kesuksesan atau keberhasilan dalam
menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan. Orang-orang
sukses di dunia ini adalah orang-orang pekerja keras dalam profesi
atau tugas yang menjadi miliknya. "Bekerja keras adalah sikap dan
perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka
berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam
melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi
Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 10).  Kami berharap
anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dilatih dan dibina untuk
bekerja keras serta dijauhkan dari aneka bentuk pemanjaan, antara lain
dengan teladan konkret dari bapak-ibu atau orangtua.
"Sebab Aku menyertai engkau, demikianlah firman TUHAN, untuk
menyelamatkan engkau: segala bangsa yang ke antaranya engkau
Kuserahkan akan Kuhabiskan, tetapi engkau ini tidak akan Kuhabiskan.
Aku akan menghajar engkau menurut hukum, tetapi Aku sama sekali tidak
memandang engkau tak bersalah." (Yer 30:10-11)

Ign 24 September 2011