Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 05 Agustus 2011

Minggu Biasa XIX - 1Raj 19:9a.11-13a; Rm 9:1-5; Mat 14:22-33

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Mg  Biasa XIX: 1Raj 19:9a.11-13a; Rm 9:1-5; Mat 14:22-33

"Besi batanganpun jika digosok terus menerus pasti akan menjadi sebatang jarum yang tajam", demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Memang ada syaratnya yaitu keteguhan hati alias tidak bimbang dan ragu selama menggosok besi batangan tersebut. Hidup dan bekerja pada masa kini memang harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan kesulitan berat, sehingga dengan mudah orang menjadi bimbang, ragu-ragu, cemas atau bahkan mengundurkan diri dan kemudian mencari jalan pintas yang mudah. Tumbuh berkembang untuk menjadi pribadi yang baik, cerdas secara spiritual butuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang siap sedia untuk mengarunginya. Tanda atau gejala bahwa orang enggan atau  malas berjuang dan berkorban antara lain dengan masih maraknya korupsi yang terus terjadi, dan mereka yang berwenang dan bertugas untuk memberantas korupsi pun takut bertindak. Saat ini ada kesan dari banyak orang bahwa presiden kita, SBY, takut melakukan sesuatu dalam pemberantasan korupsi dan nampaknya hanya cari aman sendiri, maka protes dan kritikan muncul di sana-sini. Aneka protes, saran dan kritikan dari para pengamat dan pemerhati hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara ditanggapi  dengan kata-kata "Saya prihatin…". Sabda Yesus hari ini menghentak dan mengajak kita untuk mawas diri: sejauh mana penghayatan iman kita menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak?

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14:31)

Percaya kiranya sama dengan beriman, yang berarti 'mempersembahkan diri seutuhnya kepada sesuatu, entah yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, terutama kepada yang tak kelihatan'. Sebenarnya masing-masing dari kita telah memiliki pengalaman percaya yang cukup banyak dan mendalam, yaitu dalam hal-hal biasa dan sederhana setiap hari, misalnya dalam hal makan dan minum. Bukankah, entah di rumah atau rumah makan atau di dalam pesta/perjamuan bersama, kita tidak pernah bimbang dan ragu perihal makanan dan minuman yang disajikan untuk kita santap atau nikmati? Bukankah kita percaya bahwa penyanji makanan dan minuman tidak akan mencelakakan kita, melainkan membahagiakan kita? Kiranya masih banyak pengalaman lain yang pernah kita alami dalam hidup sehari-hari bahwa dengan mudah kita percaya pada sesuatu.

Tuhan hidup dan berkarya kapan saja dan dimana saja, tidak terikat waktu dan tempat, dan Ia juga hidup dan berkarya dalam hal-hal biasa dan sederhana setiap hari dalam kehidupan dan kerja kita. Marilah kita lihat, imani dan hayati karyaNya dalam hidup kita sehari-hari  KaryaNya antara lain menjadi nyata dalam diri orang-orang yang berkehendak baik; dan kami percaya bahwa orang-orang yang berkehendak baik lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang yang berbuat jahat, sedangkan kesan berkehendak jahat sering terjadi karena kesalahfahaman yang disebabkan oleh keterbatasan kita masing-masing

Perjalanan penghayatan hidup dan panggilan kita pada masa kini memang bagaikan sedang berada di dalam perahu di tengah-tengah lautan yang bergelombang, sehingga kita diombang-ambingkan oleh ombak. Ombak itu pada masa kini dapat berupa aneka godaan, tantangan dan hambatan yang memang akan membuat kita mudah ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan atau bahkan ada yang tegerak untuk bunuh diri. Hendaknya aneka 'ombak' yang mengombang-ambingkan tersebut dihadapi dengan iman atau kepercayaan penuh bahwa Tuhan senantiasa menyertai atau mendampingi perjalanan kita. Godaan-godaan untuk berbuat jahat atau ragu-ragu berasal dari setan atau roh jahat; Tuhan senantiasa dapat mengatasi atau mengalahkan roh jahat, maka bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan selamat. Kita dapat belajar dari para rasul, yaitu menghadapi godaan dengan berdoa "Tuhan, tolonglah aku". Berdoalah dengan sepenuh hati dengan kata-kata itu, artinya saya sungguh mengandalkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam menghadapi godaan, tantangan atau masalah berarti menjadikan godaan, tantangan atau masalah tersebut sebagai wahana pendewasaan kepribadian, keimanan dan kepercayaan kita. Iman dan kepercayaan kita memang selayaknya sering dicobai agar semakin mantap, handal dan kuat.

"Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani." (Rm 9:1-3)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Roma di atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita perihal 'kebenaran'. "Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdosa", inilah kata-kata yang hendaknya juga menjadi acuan atau pedoman kita di dalam hidup dan kerja kita setiap hari. Hendaknya kita senantiasa tidak berdusta, melainkan jujur dalam kesibukan, kerja dan pelayanan kita.

"Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Bertindak jujur dan rela membela kebenaran bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan, dan keutamaan ini kiranya mendesak dan  up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan kejujuran maupun kebenaran semakin menjadi langka, bahkan orang jujur menjadi korban kekerasan masyarakat yang tidak suka kejujuran. Dengan kata lain nampaknya masyarakat kita memang sedang menderita sakit kedustaan dan kebohongan.

Pertama-tama dan terutama hendaknya masing-masing dari kita berusaha dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan untuk jujur terhadap diri sendiri serta tidak mendustai diri sendiri. Jika kita terhadap diri sendiri senantiasa jujur dan tidak berdusa atau tidak berbohong, maka dengan mudah kita jujur dan tidak berdusta terhadap lingkungan dan masyarakat maupun Tuhan. Tuhan memang tak mungkin kita dustai atau bohongi karena Ia Maha Tahu atau Maha Segalanya. Jujur dan tidak mendustai atau membohongi diri memang tak mudah. Kita sendirian di dalam kamar atau di perjalanan akan tergoda untuk hidup seenaknya sendiri sampai melakukan hal-hal yang tidak baik atau tak berkenan di hati Tuhan misalnya berbuat porno atau amoral, seperti mabuk-mabukan atau pemuasan gairah seksual yang tak wajar.

Kejujuran dan tidak berdusta terhadap masyarakat dan lingkungan yang mudah atau sulit, tergantung dari kita masing-masing, adalah dalam hal masalah harta benda atau uang. Jika terhadap yang kelihatan seperti harta benda atau uang saja kita tak dapat jujur serta berdusta, maka kita tak mungkin dapat jujur dan tidak berdusta dalam hal-hal lainnya, yang tak kelihatan. Pengahayatan kejujuran dan tidak berdusta alias kebenaran dalam hal harta benda atau uang hemat saya merupakan 'ibu dan benteng hidup beriman atau beragama'. Ingat bahwa orang yang tak mengasihi dan berterima kasih kepada ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui serta berkorban bagi anaknya, yaitu kita semua, berarti orang yang bersangkutan berdusta alias tak bermoral, tak berbudi pekerti luhur. Jika benteng mulai keropos maka ada bahaya besar apa yang ada di dalam benteng akan hancur berantakan. Maka jika orang sungguh jujur dan benar dalam pengelolaan harta benda atau uang, orang yang bersangkutan boleh atau dapat dikatakan jujur terhadap diri sendiri, lingkungan hidup/masyarakat maupun Tuhan.  Kami berharap kejujuran dan kebenaran ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari bapak-ibu atau orangtua.

"Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan."

 (Mzm 85:9-10.13-14)

Ign 7 Agustus 2011


6 Agustus


"Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini"

(2Ptr 1:16-19; Mat 17:1-9)

" Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati." (Mat 17:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Yesus Menampakkan KemuliaanNya hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Setiap dari kita kiranya memiliki suatu pengalaman yang sangat mengesan dan menyentuh hati kita, sehingga pengalaman tersebut menggerakkan dan memotivasi kita untuk melakukan apa yang terbaik dalam perjalanan hidup maupun penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas kewajiban kita, sebagaimana dialami oleh tiga murid/rasul di 'sebuah gunung yang tinggi'. Pengalaman berada di puncak gunung yang tinggi memang sungguh mengesan dan mempesona, maka (maaf kalau sedikit porno) bagi seorang lelaki 'berada di puncak gunung nona' alias mencium payudara pasti mengesan, baik bagi sang lelaki sendiri maupun sang nona yang bersangkutan. Dalam perjalanan hidup, penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas kewajiban, kiranya kita sering mengalami frustrasi, putus-asa atau tak bergairah alias lesu. Jika anda sedang mengalami yang demikian itu kami ajak untuk mengenangkan pengalaman yang pernah menyentuh dan mengesan, yang kemudian menggerakkan dan menggairahkan cara hidup dan cara bertindak kita. Pengalaman itu antara lain saat-saat kita memasuki hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster ataupun pelajar dan pekerja baru. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa kembali ke pengalaman tersebut alias 'back to basic'. Atau marilah kita hayati doa ini dalam hidup kita sehari-hari, yaitu " Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Rap 3:22-23). Kasih setia Tuhan nampak dan menjadi nyata dalam dan melalui aneka sentuhan, sapaan, perhatian dan perlakuan orang lain terhadap diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu" (2Ptr 1:18-19), demikian kesaksian Petrus atas pengalaman penampakan Yesus dalam KemuliaanNya. Marilah apa yang dikatakan oleh Petrus ini juga menjadi kata-kata kita atau keyakinan iman kita. Suara Tuhan antara lain menggema dalam hati yang jernih dan bersih alias suci, sehingga menjadi suara hati atau dalam aneka ajakan dan kehendak baik dari saudara-saudari kita. Saudara-saudari kita tersebut antara lain orangtua, para guru/pendidik, pastor/pendeta/kyai, orang bijak dst.. , yang sering menyampaikan apa-apa yang baik dan bijak, yang menyinari cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga kita dapat berjalan di jalan yang benar. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mengenangkan aneka nasihat, ajaran, petuah, saran, tegoran dst.. dari orangtua, guru/pendidik, pastor/ pendeta/kyai dst..yang pernah kita terima dalam dan melalui aneka kesempatan. Mengenangkan berarti mengingat-ingat dan mencecap dalam-dalam nasihat, ajaran, petuan, saran dan tegoran tersebut, sehingga menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Maka mungkin baik jika ada kata-kata yang mengesan dan menyentuh hati kita, hendaknya ditulis dan kemudian pasang saja tulisan tersebut di tempat-tempat dimana setiap hari kita dapat melihatnya. Biarlah kata-kata mutiara yang mengesan dan menyentuh tersebut senantiasa menyinari cara hidup dan cara bertindak kita. Biarlah hati kita senantiasa bersinar, yang menjadi nyata dalam keceriaan dan kegembiraan kita dalam kondisi maupun situasi apapun.

"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita!Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya.Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya" (Mzm 97:1-2.5-6)

Ign 6 Agustus 2011


Kamis, 04 Agustus 2011

5 Agustus


"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?"

(Ul 4:32-40; Mat 16:24-28)

" Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."(Mat 16:24-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sikap mental materialistis atau duniawi menjiwai cukup banyak orang pada masa kini, yang antara lain ditandai semakin maraknya korupsi di hampir semua bidang; tidak hanya di kalangan pejabat pemerintah saja korupsi dilakukan tetapi juga di antara wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR, katanya mewakili rakyat namun dalam kenyataannya memperkaya diri sendiri. Ada impian sementara orang, dan beberapa orang telah mampu mewujudkan impian tersebut, yaitu "menumpuk atau mengumpulkan harta benda/uang untuk tujuh turunan", dengan kata lain yang bersangkutan boleh dikatakan sebagai 'pengumpul'. Memiliki harta benda atau uang sebanyak apapun ketika meninggal dunia atau dipanggil Tuhan tidak akan terbawa; apalagi ketika ahli waris yang ditinggalkan tidak rukun dan tak dapat kerjasama maka peninggalan harta benda atau uang akan menjadi masalah besar. Maka dengan ini kami mengharapkan kita semua untuk lebih mengutamakan keselamatan jiwa daripada tubuh, lebih berpedoman pada "human investment' daripada 'material investment", lebih mengutamakan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya daripada mewariskan harta benda atau uang. Saya pribadi sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua atau bapak-ibu saya yang miskin lebih mengutamakan pendidikan kami, anak-anaknya, daripada bangunan rumah atau harta benda lainnya. Kami berharap kepada para orangtua maupun para pengelola, pengurus dan pelaksana pendidikan/sekolah untuk lebih mengutamakan agar anak-anak atau peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral atau berbudi pekerti luhur daripada pandai alias cerdas otaknya saja. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita untuk menhayati atau memfungsikan harta benda atau uang sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan yaitu 'bersifat sosial'; dengan kata lain semakin banyak memiliki harta benda atau uang hendaknya semakin hidup sosial, semakin banyak sahabat, karena juga semakin dikasihi oleh Tuhan maupun sesamanya.

·   " Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain. Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu yang kemudian, dan supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk selamanya."(Ul 4:39-40).. Apa yang menjadi 'ketetapan dan perintah Tuhan'  bagi saya hari ini? Semua ketetapan atau perintahNya kiranya dapat dipadatkan atau disimpulkan dalam perintah 'saling mengasihi sebagai sesama manusia' sebagai perwujudan terima kasih kita kepada Allah yang telah mengaruniai aneka macam kebutuhan hidup kepada kita.  Hemat saya tidak ada ajaran agama di dunia ini yang tidak mengajarkan 'saling mengasihi satu sama lain'; mengaku beragama tetapi membenci orang lain hemat saya pembohong atau bidaah. Mengasihi maupun dikasihi hemat saya butuh pengorbanan atau penyerahan diri serta keterbukaan. Tanpa pengorbanan, penyerahan diri dan keterbukaan kasih bukanlah kasih, melainkan hanya merupankan upacara liturgis atau formal belaka. Salah satu perwujudan kasih yang tak boleh ditinggalkan adalah 'boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih', bukan uang atau harta benda. Maka kami mengharapkan anda tidak pelit dalam hal waktu dan tenaga bagi yang anda kasihi. Tentu saja kami mengharapkan hal ini terjadi di dalam keluarga, yaitu suami-isteri saling memboroskan waktu untuk pasangannya, dan bersama-sama sebagai orangtua memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak yang dianugerahkan Tuhan. Kami berharap kita semua menjauhi 'ASRI", yaitu Asyik Sibuk Sendiri. Maklum aneka macam sarana teknologi modern seperti computer yang dapat digunakan untuk internet pada masa kini tanpa sadar telah mendorong orang untuk asyik sibuk sendiri, tidak ada waktu dan tenaga lagi untuk berkomunikasi secara konkret, curhat dengan saudara-saudarinya, bahkan dengan saudara-saudari dalam satu keluarga. Komputer dengan internetnya, BB atau iPad telah membuat banyak orang menjadi begitu egois dan kurang sosial. Saya orang-orang kaya begitu memanjakan anak-anaknya dengan sarana-sarana modern tersebut, sehingga nampak krasan tinggal di rumah, tidak mengganggu orang lain, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah proses pengurungan diri untuk menjadi egois. Marilah sedini mungkin anak-anak kita bina untuk siap sedia 'memboroskan waktu dan tenaga bagi yang terkasih' alias kita bina kepekaan sosialnya.

" Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa" (Mzm 77:12-15).

Ign 5 Agustus 2011