Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 24 Juni 2011

26 Juni - HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS: Ul 8:2-3.14b-16a; 1Kor 10: 16-17; Yoh 6:51-58

"Akulah roti hidup yang turun dari sorga"

HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS: Ul 8:2-3.14b-16a; 1Kor 10: 16-17; Yoh 6:51-58

Pada masa kini di pasaran dijual aneka macam jenis roti, entah roti basah atau roti kering, dengan harga murah atau mahal dst.. Dan cukup banyak orang yang memiliki simpanan roti kering dalam kaleng atau kemasan dalam rangka persiapan menjamu tamu atau bekal dalam perjalanan agar tidak kelaparan. Bahkan juga ada jenis makanan dalam bentuk tablet yang dapat berfungsi sebagai pengganti makanan biasa, demi kepraktisan atau effisiensi.  Aneka macam jenis makanan kemasan atau minuman yang tidak sehat seperti roti, minuman berwarna, dll melanda rakyat miskin di desa-desa atau anak-anak sekolah desa/miskin. Karena begitu dominan mengkonsumsi jenis makanan kemasan yang tak sehat tersebut, maka tidak mengherankan bahwa kesehatan warga masyarakat rendah atau menurun, dan lebih memprihatinkan lagi ada kemalasan bergerak atau olahraga. Dengan kata lain boleh dikatakan ada aneka jenis makanan atau minuman dalam kemasan yang mematikan bukan menghidupkan. Memang untuk mengkosumsi makanan atau minuman sehat lebih butuh waktu dan tenaga alias harus sabar dan kerja keras, sehingga hanya sedikit orang yang menempuhnya. Makanan dan minuman sehat dibutuhkan oleh tubuh kita agar kita hidup sehat, bergairah, dinamis, tidak bermalas-malas, dst… Hari ini kita kenangkan "Tubuh dan Darah Kristus", jenis makanan khusus yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, yang dapat kita terima selama berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Apa arti atau maknanya setiap kali kita menerima Tubuh Kristus? Marilah kita renungkan sabda Yesus pada hari ini.

"Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia"(Yoh 6:51)      

Kita semua mendambakan hidup berbahagia, damai sejahtera selama di dunia ini serta hidup selama-lamanya di sorga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus kiranya kita percaya kepada sabda Yesus di atas ini, yaitu dengan menerima 'Tubuh Kristus' berarti kita akan hidup mulia selama-lamanya di sorga setelah meninggal dunia maupun hidup berbahagia dan damai sejahtera selama di dunia ini. Baiklah kepercayaan tersebut tidak hanya manis di mulut, tetapi juga menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Dengan kata lain setiap kali kita menerima Tubuh Kristus berarti kita diingatkan bahwa kita hidup dijiwai oleh semangat hidupNya, bertindak dengan meneladan cara bertindakNya.

Semangat dan cara bertindak Yesus kiranya dapat kita lihat dan fahami melalui atau dalam Kitab Suci, maka hendaknya rajin membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci untuk lebih atau semakin mengenal semangat dan cara bertindak Yesus. Semangat dan cara bertindak Yesus antara lain: kepada anak-anak Ia menciumi dan memangkunya, kepada yang lapar diberi makan, kepada yang haus diberi minum, kepada yang berdosa diampuni, yang berbuat jangan atau melanggar tata tertib ditegor keras, yang munafik dikritik pedas, yang lemah dikuatkan, yang letih lesu didampingi dan dibombong, yang frustrasi dan putus asa digairahka, yang tidak selamat diselamatkan, dst.. Tentu saja agar kita dapat meneladan semangat dan cara bertindak Yesus tersebut kita sendiri sungguh telah menjadi sahabat-sahabatNya, artinya kita sendiri dalam keadaan selamat, bahagia dan damai sejahtera, sehat wal'afiat lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Apakah kita yang sering menerima TubuhNya sungguh dalam keadaan demikian ini?

Menjadi sahabat-sahabat Yesus antara lain senantiasa hidup dan bertindak melayani sesamanya dengan rendah hati, penuh dengan kasih pengampunan. Melayani berarti senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan yang dilayani, dan seorang pelayan sejati yang baik senantiasa tidak marah atau mengeluh dan menggerutu, meskipun harus bekerja berat serta menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Secara khusus kami berharap kepada para gembala umat/pastor beserta para pembantunya dapat menjadi teladan dalam semangat dan sikap hidup melayani dengan rendah hati; kami berharap kepada para gembala/pastor beserta para pembantunya tidak pernah marah, menggerutu atau mengeluh dalam melayani umat, meskipun harus menghadapi tantangan, masalah dan hambatan. Selanjutnya marilah kita renungkan atau refleksikan sapaan atau peringatan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

"Karena roti itu adalah satu, maka kita, sekalipun banyak adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dari roti yang satu itu" (1Kor 10:17)

Makan bersama memang sungguh menyatukan dan masing-masing merasa dalam persaatuan atau persahabatan sejati. Makan bersama sering juga menjadi tanda kasih untuk semakin memperdalam dan memperkuat persahabatan atau persaudaraan sejati. Di dalam berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi, dimana kita diberi kesempatan untuk menerima dan menyantap Tubuh Kristus, kiranya kita juga merasakan kebersamaan atau persahabatan sebagai umat Allah, paguyuban umat yang beriman kepada Yesus Kristus. Maka baiklah kita rasa kebersamaan atau persaudaraan tersebut terus kita perdalam dan perkuat dalam hidup sehari-hari, tidak hanya selama dalam ibadat atau Perayaan Ekaristi saja.

"Sekalipun banyak kita adalah satu tubuh", inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Paulus menggambarkan kebersamaan atau persaudaraan kita bagaikan aneka macam anggota yang ada dalam tubuh kita. Ada aneka macam anggota tubuh kita, dan sungguh saling bekerjasama dan bergotong-royong dalam menjalankan fungsinya; tidak ada iri hati, tidak ada sabotase, tidak saling memojokkan, dan masing-masing bangga dalam fungsinya. Ambil contoh: tugas makan -> mata melihat makanan, hidung mencium makanan, tangan mengambil makanan lalu memasukkannya ke mulut, mulut mengunyah makanan seperlunya dan segera diteruskan ke perut melalui leher dan perut/usus pun langsung bekerja untuk memilah dan memilih sari makanan yang berguna bagi kesehatan dan kesematan seluruh tubuh. Jika dicermati kinerja antar anggota tubuh tersebut sungguh cepat, cekatan, akurat, saling memperhatikan dan taat, dst..

Kebersamaan hidup dan kerja kita setiap hari diharapkan bagaikan kebersamaan anggota tubuh kita tersebut. Maka marilah kita mawas diri perihal kebersamaan atau persaudaraan kita. Pertama-tama kami berharap bapak-ibu atau  orangtua dapat menjadi teladan dalam hal persaudaraan atau persahabatan sejati, dimana anda pernah mengalami persahabatan sejati dalam saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang antara lain ditandai dengan hubungan seksual, saling memberi dan menerima dengan gembira dan gairah.  Masing-masing dari kita adalah korban kebersamaan atau persaudaraan sejati, korban kasih, diadakan dalam dan oleh kasih, dan dalam kebersamaan bapak-ibu juga kita dididik dan dikembangkan dengan bantuan rahmat Tuhan. Dengan kata lain dalam diri kita masing-masing ada benih-benih atau modal hidup persaudaraan atau persahabatan sejati, maka hendaknya benih tersebut terus menerus diperhatikan dan dipupuk, sehingga terus tumbuh berkembang menjadi persaudaraan sejati dalam hidup sehari-hari.

Pada masa kini hanya orang yang siap sedia dan rela bekerja sama dalam kasih dan pengorbanan dapat survival. Tidak bekerjasama dengan yang lain hemat kami berarti ingkar jati diri alias tidak setia pada jati diri kita masing-masing sebagai buah kerjasama. Kepada mereka yang egois dan sombong kami harapkan bertobat dan memperbaharui diri jika anda mendambakan sehat wal'afiat, damai sejahtera dan selamat. Marilah kita fungsikan aneka macam jenis sarana komunikasi yang canggih saat ini sebagai sarana untuk mengembangkan, memperkuat dan memperdalam hidup persaudaraan sejati antar kita.

"Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia memberi kesejaheraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum terbaik. Ia menyampaikan perintahNya ke bumi, dengan segera firmanNya berlari" (Mzm 147: 12-15)

Ign 26 Juni 2011


25 Juni - Kej 18:1-15; Mat 8:5-17

"Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya"

(Kej 18:1-15; Mat 8:5-17)

" Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:  "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."  Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."  Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.  Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."  Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.  Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,  sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."  Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. . Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Mat 8:5-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Beriman atau percaya dengan sepenuh hati kepada Tuhan dan sesamanya pada masa kini kiranya sungguh berat, sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan, sehingga dengan mudah orang ragu-ragu terhadap Penyelenggaraan Ilahi maupu terhadap sesamanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri perihal keimanan atau kepercayaan kita kepada Tuhan maupun sesama kita, dengan cermin seorang perwira yang dengan rendah hati menghadap Yesus untuk mohon belas kasih dan rahmatNya. Kita tahu seorang prajurit, tentara atau perwira militer pada umumnya begitu mengandalkan pada kekuatan pribadinya secara phisik daripada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi, namun perwira sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira ini sungguh lain atau berbeda dari pada umumnya. Imannya kepada Tuhan telah menyembuhkan penyakit hambanya yang cukup parah. Sembuh dari penyakit, sehat atau sakit memang erat kaitannya dengan beriman atau tidak beriman. Jika kita mendambakan hidup sehat wal'afiat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual, marilah kita setia menghayati iman kita dalam situasi dan kondisi macam apapun, dimanapun dan kapanpun. Beriman berarti setia pada kehendak Tuhan atau melaksanakan janji dan tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita sehari-hari. "Pulanglah", demikian sabda Yesus kepada sang perwira, yang bagi kita berarti "setialah pada panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban anda"  Dengan kata lain tidak pernah melakukan kejahatan sedikitpun dan senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudari atau sesama kita.

·   "Mengapakah Sara tertawa dan berkaa: Sungguhkah aku akan melahirkan seorang anak, sedangkan aku sudah tua? Adakah sesuatupun yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan mendapatkan engkau , pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki" (Kej 18:13-14), demikian firman Tuhan melalui malaikat, utusanNya, kepada Abram. Keragu-raguan itulah yang terjadi pada Sara. Manusia boleh saja ragu-ragu, namun Tuhan tetap setia, itulah kebenaran yang ada. Ada kemungkinan di dalam perjalanan hidup dan panggilan kita setiap hari kita sering ragu-ragu juga, karena harus menghadapi keterbatasan, tantangan, hambatan dan masalah, namun demikian marilah kita tetap percaya bahwa Tuhan setia pada janjiNya. Memang dari pihak kita dituntut kesabaran. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Pada masa kini memang sarat dengan rangsangan yang dapat membuat kita tidak sabar, misalnya rangsangan seksual di kalangan muda-mudi, rangsangan untuk cepat kaya atau pandai, rangsangan untuk hidup seenaknya dst.. Apa yang merangsang memang sungguh menarik dan memikat, maka barangsiapa tidak sabar pasti terjerat. Ingatlah juga bahwa ada pepatah "Orang sabar disayangi Tuhan", maka jika kita sungguh ber-Tuhan, marilah kita sabar dalam menghadapi aneka rangsangan dan masalah.

"Jiwaku memuliakan Tuhan,  dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,  sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus." (Luk 1:46-49)

 Ign. 25 Juni 2011


Rabu, 22 Juni 2011

23 Juni - Kej 16:1-12.15-16; Mat 7:21-29

 "Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan"

(Kej 16:1-12.15-16; Mat 7:21-29)

"Bukan setiap yang berseru kepadaku : Tuhan, Tugan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang disorga. Pada hari  terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu kamu sekalian pembuat kejahatan!" . "Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksanam yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah  hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukakannya , ia sama dengan orang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itum sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, tajublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, sebab ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,  tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka" (Mat 7: 21-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·      Ada orang dengan sombong menceriterikan kemana-mana bahwa dirinya adalah anggota dewan paroki, aktivis aneka organisasi gerejani seperti Karismatik, rajin menghadiri novena serta berziarah ke tempat peziarahan Bunda Maria dan tak pernah melupakan doa Rosario setiap hari dst.. Suatu saat orang yang bersangkutan meninggal dunia dan dirinya dengan penuh keyakinan pasti naik ke sorga, hidup mulia selamanya bersama Tuhan. Ternyata ia tidak langsung naik ke sorga, maka ia protes terhadap Tuhan, katanya: " Tuhan mengapa saya tidak langsung diperkenankan masuk sorga, karena saya adalah anggota dewan paroki, aktivis organisasi gerejani, doa Rosario setiap hari, dst..". Mendengar protes tersebut, Tuhan menjawab: "Enyahlah dari padaKu kamu pembuat kejahatan! Kamu hanya manis di mulut, pandai bermain sandiwara kehidupan, banyak omong tetapi tak pernah melakukan apa yang diomongkan. Kamu tidak pernah memperhatikan anak-anak dan isterimu, kamu koruptor di kantor…dst.". Begitulah nasib orang yang bersikap mental formalistis dan liturgis. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua sebagai orang beriman atau beragama untuk lebih mengutamakan perilaku atau tindakan daripada wacana atau omongan. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk menjadi unggul dan handal dalam hal pelaksanaan aneka tata tertib, ajaran, nasihat, perintah dst.., sehingga tidak mudah jatuh karena aneka godaan atau rayuan, serta tetap tenang dan setia pada tugas, panggilan dan kewajiban dalam situasi atau kondisi sesulit dan rumit berbelit-belit apapun.

·      "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau."(Kej 16:5), demikian kata Sarai kepada Abram, suaminya, yang telah menghamili Hagar, pembantunya. Abram mungkin merasa bahwa Tuhan tidak setia kepadanya, karena isterinya sudah lanjut usia belum dianugerahi anak, padahal Tuhan menjanjikan kepadaNya akan menjadi bapa bangsa yang besar. Sarai pun merasa terhina, apalagi ia dipandang rendah oleh pembantunya yang hamil karena Abram. Sarai kiranya boleh dikatakan setia kepada janji Tuhan. Hal ini kiranya juga menjadi cermin bagi kaum laki-laki/para suami yang sering mudah tidak setia pada janji perkawinan dengan berselingkuh. Dan memang laki-laki berselingkuh sakali mungkin sulit diketahui, tetapi perempuan berselingkuh sekali akan lebih mudah diketahui, apalagi ketika perselingkuhannya berbuah dengan kehamilan dirinya. Maka baiklah kami berharap kepada rekan-rekan perempuan atau para ibu/isteri untuk meneladan Sarai yang setia pada janji Tuhan, tidak mudah menyeleweng atau bersilingkuh. Namun  ketika mengetahui suami atau pasasangan hidupnya berselingkuh, hendaknya segera diingatkan atau ditegor atau didoakan agar bertobat. Kmai berharap kepada kita semua untuk senantiasa setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, entah janji baptis, janji perkawinan, kaul, janji pegawai, sumpah jabatan dst..

"Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik. Bahwasanya kasih setiaNya untuk selama-lamanya. Siapakah yang tidak memberitakan keperkasaan Tuhan, memperdengarkan segala pujian kepadaNya? Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hokum, yang melakukan keadilan di segala waktu" (Mzm 106:1-3)

Ign 23 Juni 2011