Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 16 April 2011

18 April - Yes 42: 1-7; Yoh 12: 1-11

"Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu".

(Yes 42: 1-7; Yoh 12: 1-11)

 

"Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus." (Yoh 12:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yudas Iskariot kiranya termasuk salah satu murid atau rasul Yesus yang bersikap mental materialistis, maka ketika melihat Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya ia berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" . Cintakasih memang mengatasi segalanya, termasuk perhatian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, dan pada umumnya perilaku cintakasih sejati memang sering sulit terpahami dengan logis atau akal sehat. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri: sejauh mana cintakasih kita kepada Tuhan, sehingga dengan penuh syukur dan terima kasih kita bersembah-sujud kepadaNya, yang secara konkret kita wujudkan dalam bentuk perhatian kepada mereka yang tidak lama lagi akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari kiranya hal itu terjadi, yaitu: dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita mengunjungi dan mendampingi mereka yang tak lama lagi akan dipanggil Tuhan. Memang ada kemungkinan kita tidak tahu persis kapan saudara-saudari kita yang sedang menderita sakit akan segera dipanggil Tuhan, maka baiklah kita senantiasa mengasihi mereka yang dekat dengan kita setiap hari, entah di rumah atau di tempat kerja. Boroskan waktu dan tenaga atau jika perlu harta atau uang anda bagi yang terkasih.

·   "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara." (Yes 42:6-7), demikian firman Allah kepada Yesaya, kepada kita semua umat beriman. Kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan, antara lain 'untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dst..". Mungkin yang buta atau terhukum secara phisik tidak ada atau hanya sedikit, namun yang secara  spiritual atau rohani cukup banyak. Maka marilah kita perhatikan mereka yang buta dan terhukum secara spiritual, antara lain mereka yang bersikap mental materialistis, tentu saja dari diri kita sendiri diharapkan tidak bersikap mental materialistis. Kita hayati tiga keutamaan utama yaitu: iman, harapan dan cintakasih, dan yang terbesar adalah cintalasih. Wujud keutamaan cintakasih antara lain 'sabar, murah hati, tidak pemarah, siap sedia mengharapkan, menanggung dan mengerjakan segala sesuatu" (lihat 1Kor 13:4-7). Murah hati itulah yang mungkin kita hayati dan sebarluaskan. Murah hati secara harafiah berarti hatinya dijual murah alias memberi perhatian kepada siapapun tanpa pandang bulu, dan tentu saja lebih-lebih mereka yang buta dan terhukum secara spiritual. Hendaknya tidak takut dan gentar dalam menyelamatkan mereka, karena tangan Tuhan senantiasa memegang tangan kita alias Tuhan senantiasa menyertai kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengasihi siapapun tanpa pandang bulu.

 

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya."(Mzm 27:1-3) .

 

Jakarta, 18 April 2011

Jumat, 15 April 2011

17 April - Hari Minggu Palma - Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mat 26:14-27:66

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

HARI MINGGU PALMA: Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mat 26:14-27:66

 

Mulai hari ini kita memasuki Minggu Suci, diawali dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan Malam Paskah. Setelah sejak Rabu Abu kita berparitisipasi dalam matiraga dengan berpuasa, berpantang serta dalam aneka Aksi Puasa Pembangunan, entah yang bersifat phisik atau spiritual, kiranya kita semakin mengenal diri kita sendiri, lingkungan hidup, sesama kita serta Yesus yang kita imani. Maka kami berharap kita semua tergerak untuk semakin mengenal dan mengikuti cara hidup dan cara bertindak Yesus, sebagaimana disarankan oleh Paulus kepada umat di Filipi: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Fil 2:5-7)

 

"Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya."(Mat 21:7)

Dalam rangka memenuhi tugas pengutusanNya untuk mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib, Yesus harus memasuki kota Yerusalem kembali. Yesus adalah Raja Abadi, dan Ia memasuki kota Yerusalem dengan naik keledai, dan mungkin pada saat itu keledai merupakan salah satu bantuan transportasi yang sering digunakan, apakah hal itu tergolong mewah atau sederhana tergantung cara memandang dan menyikapinya. Hemat kami Ia dengan kesederhanaan memasuki kota Yerusalem dan umat yang percaya kepadaNya dengan sederhana pula mengelu-elukan, apa adanya dan tidak bermewah-mewah atau bersandiwara. Marilah kita masuki Minggu Suci dengan sederhana, apa adanya, sesuai dengan keberadaan atau jati diri kita.

 

Jati diri kita yang benar dan mendasar adalah sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah. "Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.Karena itu manusia harus mempergunakannya  sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap lepas bebas  terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan"  (St Ignatius Loyola: LR no 23)

 

Umat ada yang melepaskan pakaian mereka untuk mengelu-elukan Yesus memasuki kota Yerusalem, hal itu menunjukkan bahwa mereka sungguh lepas bebas terhadap apa yang mereka miliki, kuasai dan nikmati saat ini serta menghayatinya sebagai anugerah Allah guna memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian dalam memasuki Minggu Suci ini sungguh dalam keadaan lepas bebas, agar dapat "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus", memiliki budaya Yesus: cara melihat->cara merasa->cara berpikir-> cara bersikap -> cara bertindak Yesus. Lepas bebas berarti tidak memiliki kelekatan teratur terhadap ciptaan-ciptaan Allah lainnya di bumi serta serta hasil karya atau ciptaan manusia.

 

Memasuki Minggu Suci ini mungkin kita juga dapat membayangkan bahwa tak lama lagi kita akan dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Bukankah jika kita tahu tidak lama lagi akan dipanggil Tuhan akan tergerak untuk mawas diri secara mendalam, mengumpulkan sanak-saudara untuk mohon doa dan kasih pengampunan kepada mereka? Bukahkah kita tergerak untuk menelanjangi diri, dengan besar hati melepaskan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini? Dengan kata lain memasuki Minggu Suci ini marilah memasuki Minggu Suci dengan semangat rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataanya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24)

 

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:4-6)

            

Kutipan dari Kitab Yesaya di atas ini kiranya menggambarkan semangat Yesus dalam memahkotai tugas pengutusanNya dengan wafat di kayu salib, yang hendaknya juga menjiwai semangat kita dalam memasuki Minggu Suci  Kerendahan hati dan ketaatan itulah semangat atau jiwa yang harus kita hayati dalam memasuki Minggu Suci; kerendahan hati dan ketaatan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan, orang yang rendah hati pada umumnya taat dan sebaliknya orang yang taat juga rendah hati. Perihal kerendahan hati sudah saya angkat di atas, maka perkenankan disini saya mengangkat ketaatan untuk kita refleksikan.

 

Refleksi atau belajar perihal ketaatan antara lain kita dapat bercermin pada anggota-anggota tubuh kita. Bukankah anggota-anggota tubuh kita saling taat satu sama lain? Perhatikan sebagai contoh: mata melihat makanan, hidung mencium bau makanan, yang kemudian secara otomatis ada perintah kepada tangan untuk mengambil makanan, tanganpun segera mengirimkannya ke mulut, mulut mengunyah seperlunya dan langsung diteruskan ke usus/perut melalui leher. Yang paling taat dan rendah hati hemat saya adalah leher, termasuk tidak korupsi sedikitpun. Makanan ada kemungkinan ada yang tersisa atau tertinggal di tangan, di mulut, tetapi tak mungkin tertinggal di leher. Saling taat dan rendah hati satu sama lain dalam melaksanakan satu tugas makan itulah yang terjadi demi kesehatan atau kebugaran seluruh tubuh. Maka kami berharap kita saling taat satu sama lain dalam hidup dan kerja bersama, dengan kata lain masing-masing tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi. Jika kita dapat saling taat satu sama lain, kiranya aneka tata tertib tidak akan menjadi beban bagi kita melainkan menjadi kebutuhan. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama dapat menjadi teladan penghayatan ketaatan dan kerendahan hati. Orang yang taat dan rendah hati ketika diejek atau dilecehkan orang lain pada umunya juga tak akan marah atau mengeluh, bahkan ejekan atau pelecehan tersebut semakin membuat taat dan rendah hati.

 

"Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" (Mzm 22;8-9)

Jakarta, 17 April 2011

 


16 April - Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56

"Lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."

(Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56)

"Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"(Yoh 11:45-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir sebelum kita memasuki Minggu Suci, yang diawali dengan Minggu Palma, dimana dalam Perayaan Ekaristi dibarakan Kisah Sengsara Yesus sampai wafat di kayu salib. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan seorang imam agung bernama Kayafas berkata "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa".  Dalam tradisi berbagai bangsa atau suku ada yang disebut 'kambing hitam', yaitu orang benar yang harus menjadi korban demi keselamatan sesamnya. Maka hemat saya Yesus juga dijadikan 'kambing hitam' demi keselamatan seluruh bangsa. Maka marilah kita siapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki Minggu Suci, dan kiranya jika perlu kita juga merelakan diri sebagai 'kambing hitam', artinya demi kelancaran perayaan Minggu Suci marilah kita sumbangkan tenaga dan waktu kita, meskipun ada kemungkinan kita juga langsung dipekerjakan seenaknya oleh saudara-saudari kita; marilah kita siap sedia untuk berkorban diri demi keselamatan atau kebahagiaan saudara-saudari kita.

·   "Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." (Yeh 37:26-27). "Tempat kediamanKu pun akan ada pada mereka dan Aku pun menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu", inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan dalam rangka memasuki Minggu Suci yang akan datang. Sebagai umat beriman kita juga dinamai sebagai umat Tuhan, artinya adalah orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain Tuhan sungguh hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita mendorong atau memotivasi orang lain untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dalam keadaan atau situasi apapun dan dimanapun serta kapanpun hendaknya kita tetap setia sebagai umat Tuhan, sehingga kebersamaan hidup kita juga merupakan paguyuban umat Tuhan yang menarik, mempesona dan memikat orang lain untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Semoga dalam memasuki Minggu suci yang akan datang ini kita senantiasa membuka diri juga terhadap Penyelenggaraan Ilahi, sehingga kita juga siap sedia untuk berpartisipasi dalam persembahan Diri Yesus di kayu salib demi kesematan seluruh bangsa. "Selamat memasuki Minggu Suci seraya terus menerus menyucikan diri"

 

"Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya." (Yer 31:10-11)

     

Jakarta,. 16 April 2011