Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 08 April 2011

Minggu Prapaskah V - Yeh 37:12-14; Rm 8:8-11; Yoh 11:1-45

"Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."

Mg Prapaskah V: Yeh 37:12-14; Rm 8:8-11; Yoh 11:1-45


Dalam membina atau mendampingi para peserta didik, SMP Kanisius-Jakarta antara lain menyelengga-rakan live in, tinggal, hidup dan bekerja  bersama mereka yang miskin dan berkekurangan di pedesaan wilayah Jawa Tengah. Untuk melatih partisipasi dalam suka dan duka orang miskin dan berkekurangan para Pembina memutuskan agar dalam perjalanan dari Jakarta ke Jawa Tengah menggunakan bus tak ber AC. Namun hal itu mendapat tanggapan negatif dari beberapa orangtua peserta didik dan di antara mereka, yang kebetulan pengelola bus antar provinsi, kurang setuju serta menawarkan sumbangan bus ber AC. Tawaran itupun akhirnya diterima dan yang bersangkutan mempersiapkan empat bus ber AC beserta sopirnya yang terbaik, dengan harapan para peserta didik dengan enak sampai di tujuan dengan selamat. Selesai kegiatan biasanya saya menanyakan pengalaman mereka selama live in, tentu saja tidak hanya kepada para peserta didik, tetapi juga kepada para sopir. Kepada para sopir saya tanyakan pengalaman mereka selama di perjalanan. Cukup mengesan salah satu sharing mereka, yaitu : "Wah, pater, selama di perjalanan saya sempat stress/tertekan, karena boss saya hampir setiap jam menilpon via HP saya bertanya perihal perjalanan serta berpesan agar hati-hati". Mengapa sharing mereka begitu mengesan pada saya, karena mereka adalah sopir terbaik dan bus yang mereka kemudikan juga yang terbaik. Yang menjadi pertanyaan saya adalah 'Bukankah sang boss kurang percaya kepada para sopir yang terbaik tersebut'. Percaya memang tidak mudah, jika orang kurang percaya kepada saudaranya atau sesama manusia, kiranya mereka juga sulit untuk percaya kepada Tuhan.

 

"Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."(Yoh 11:27)   

 

Warta Gembira hari ini menceriterakan kisah kematian Lazarus, saudara Marta dan Maria, sahabat Yesus. Ketika Yesus datang disambut oleh Marta dan ia berkata kepadaNya :"Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya."(Yoh 11: 21-22). Dan Yesus pun berkata kepadanya: : "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"(Yoh 11:25-26), dan Marta pun menjawab : "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia."(Yoh 11:27). Baiklah jawaban Marta ini kita jadikan bahan permenungan atau refleksi kita.

 

Selama menjalani masa Prapaskah ini kiranya kebanyakan dari kita berpartisipasi dalam aneka kegiatan Prapaskah dalam rangka untuk semakin mengenali dan mengimani Yesus, Mesias, Penyelamat Dunia. Apakah kita semakin mengenal dan mengimani bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia, Anak Allah, yang berarti cara hidup dan cara bertindak kita semakin menyerupai cara hidup dan cara bertindakNya? Apakah kita percaya kepadaNya bahwa kehadiran dan kedatanganNya di dunia untuk membangkitkan yang lemah dan lesu, menggairahkan yang frustrasi dan putus asa? Jika kita semakin percaya kepadaNya berarti kita semakin bergairah dalam menghayati iman atau ajaran agama kita masing-masing. Marilah kita imani doa Yesus ini : "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku."(Yoh 11:41-42).

 

Kita didoakan agar percaya babwa Yesus adalah Almasih, Utusan Allah untuk menyelamatkan dunia dan bumi seisinya. Percaya pada masa kini cukup banyak digerogoti oleh atau mengalami erosi karena HP (Hand Phone). Ketika belum ada HP kiranya anda jarang sekali menghubungi pasangan hidup anda, suami atau isteri anda, pacar atau tunangan anda, anak-anak anda dst, yang sedang bepergian atau bertugas, namun ketika memiliki HP mungkin hampir setiap jam menghubunginya. Jika anda jujur mawas diri kiranya menghubungi dengan HP tersebut lebih merupakan kecugiaan alias kurang percaya daripada bentuk cintakasih. Jika kita kurang atau tidak mudah percaya kepada saudara-saudari kita yang dekat dengan kita, kiranya sulit atau tak mungkin kita dapat percaya kepada Tuhan, percaya bahwa Yesus adalah Almasih, Penyelamat Dunia, percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi.

 

"Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Rm 8:9-11)

        

Percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi berarti percaya kepada karya Roh Kudus, yang kemudian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya dan tidak mengikuti kehendak sendiri atau kemauan daging. Jika selama di dunia ini kita hidup dari dan oleh Roh Kudus, maka setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia nanti kita akan hidup mulia selamanya di sorga oleh 'Roh yang telah membangkitkan tubuh kita yang fana'. Maka baiklah saya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tetap setia hidup dari dan oleh Roh sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23)

 

"Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN." (Yeh 37:14), demikian firman Allah kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeheskiel. Bangsa terpilih dalam keadaan bagaikan 'tulang-tulang', yang tak berarti apa-apa alias mati, frustrasi dan lesu. Karena anugerah Roh mereka hidup bergairah kembali serta dengan penuh harapan menantikan hari kemenangan atau penebusan, artinya hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri, panggilan atau tugas pengutusannya. Hari-hari mendatang atau mungkin sudah mulai dilakukan, kiranya di gereja atau wilayah anda ada kesempatan untuk mengaku dosa, menyadari dan mengakui dosa-dosa secara pribadi serta mohon kasih pengampunan Ilahi/Tuhan. Baiklah jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengaku dosa ini, untuk membangkitkan semangat atau gairah hidup kita dengan menerima anugerah kasih pengampunan Allah.

 

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi" (Mzm 130:1-6)

 

Jakarta, 10 April 2011


Kamis, 07 April 2011

9 April - Yer 11:19-20; Yoh 7:40-53

"Mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,"

(Yer 11:19-20; Yoh 7:40-53)


'Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: "Dia ini benar-benar nabi yang akan datang." Yang lain berkata: "Ia ini Mesias." Tetapi yang lain lagi berkata: "Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal." Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya.Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: "Mengapa kamu tidak membawa-Nya?" Jawab penjaga-penjaga itu: "Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: "Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!"Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:"Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?" Jawab mereka: "Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea." Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya," (Yoh 7:40-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terjadi ketegangan antar orang-orang yang percaya kepada Yesus dan yang tak percaya, itulah isi Warta Gembira hari ini. Berbagai ketegangan macam ini juga sedang terjadi di negeri kita tercinta Indonesia ini maapun dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dimanapun juga. Di Indonesia misalnya akhir-akhir ini terjadi ketegangan sekitar PSSI, yang mengurus persepak-bolaan di Indonesia, pertandingan dan ketegangan tidak hanya terjadi antar klub sepak bola yang sedang bermain di lapangan, tetapi juga terjadi antara pengurus PSSI dan para calon penggantinya beserta para pendukungnya. Ketegangan politik juga terjadi dan dibelokkan menjadi ketegangan hidup bergama. Akhirnya "mereka pulang, masing-masing ke rumahnya", artinya hidup dan bertindak menurut kemauan dan keinginan sendiri, bahkan hal ini juga telah mempengaruhi masyarakat sehingga anggota masyarakat juga hidup dan bertindak seenaknya sendiri. Kami berharap kepada rekan-rekan beriman dan beragama untuk tetap setia pada iman dan ajaran agamanya, serta bekerja sama membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati di tengah-tengah ketegangan yang sedang terjadi masa kini. Hendaknya kita tidak terjebak pada pancingan atau rayuan dari mereka yang bersikap mental materilistis atau tidak beriman.

·   "TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku" (Yer 11:20), demikian keyakinan iman nabi Yeremia, yang sedang menghadapi aneka ancaman untuk disingkirkan. Hidup terpanggil menjadi nabi memang tak akan terlepas dari aneka tantangan, hambatan atau masalah. Sebagai orang beriman atau beragama kita memiliki dimensi kenabian dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka marilah kita hayati dimensi kenabian tersebut dalam hidup kita bersama dimanapun, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat. Nabi adalah pembawa dan pewarta kebenaran, penyambung 'lidah Allah', maka menghayati dimensi kenabian berarti senantiasa membawa dan mewartakan kebenaran dimana saja dan kapan saja. Memang di tengah-tengah masih maraknya kebohongan dan keserakahan masa kini, menjadi pembawa dan pewarta kebenaran pasti akan menghadapi ujian berat: diancam dan ada kemungkinan ditangkap serta kemudian dibawa ke pengadilan untuk diadili. Ada kemungkinan juga harus mengahadapi pengadilan informal dari mereka yang kurang senang terhadap kebenaran. Baiklah dalam menghadapi pengadilan kita tidak perlu takut dan gentar, persembahkan atau percayakan semuanya kepada Penyelenggaraan Ilahi seraya berdoa "kepada-Mulah kuserahkan perkaraku". Percayalah bahwa kebenaran pasti akan menang terhadap kebohongan dan kebencian. Allah mahatahu dan maha adil, biarkanlah Allah sendiri yang akan mengadili dan menentukan keputusan. Sekiranya pengadilan manusia memutuskan kita harus dipenjara, terimalah dengan rela dan besar hati, serta manfaatkan waktu di penjara untuk mawas diri.

 

"TUHAN mengadili bangsa-bangsa. Hakimilah aku, TUHAN, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas. Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil. Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati; Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat" (Mzm 7:9-12)     

 

Jakarta, 9 April 2011 .


8 April - Keb 2:1a.12-22; Yoh 7:1-2.10.25-30

"Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal."
(Keb 2:1a.12-22; Yoh 7:1-2.10.25-30)

"Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun.  Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Ia pun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. Beberapa orang Yerusalem berkata: "Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorang pun yang tahu dari mana asal-Nya." Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: "Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku." Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba" (Yoh 7:1-2.10.25-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Ketegangan antara Yesus dengan mereka yang tidak percaya kepadaNya mulai terjadi. Yesus tahu bahwa mereka yang tidak percaya kepadaNya akan menyingkirkanNya alias membunuhNya, maka ketika Ia datang ke Yerusalem untuk `hari raya Pondok Daun', Ia datang dengan sembunyi-sembunyi, `sebab saat-Nya belum tiba'. Kisah ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Ada kemungkinan karena kesetiaan kita terhadap panggilan atau tugas pengutusan, kita harus menghadapi ancaman untuk disingkirkan, sebagaimana pernah dialami oleh Munir, pejuang hak azasi dan kebenaran. Kami berharap anda tetap setia pada panggilan atau tugas pengutusan, meskipun harus menghadapi ancaman untuk disingkirkan, percayalah bahwa `saatnya belum tiba'. Dengan kata lain selama masih dapat berjuang demi kebenaran dan keadilan hendaknya terus berjuang, dan mungkin tidak harus terang-terangan, artinya kita tidak harus maju atau melangkah sendiri, melainkan dengan minta bantuan orang lain, misalnya seorang tokoh yang cukup berpengaruh dan mendukung perjuangan kita. Kita tidak perlu menyombongkan diri dengan pasang bendera atau kebesaran kita, melainkan dengan rendah hati minta bantuan orang lain. Yang penting atau utama adalah tujuan tercapai, dan siapapun yang membantu pencapaian tujuan tersebut kita dukung atau doakan. Ketika secara phisik atau social tak mungkin berjuang, baiklah kita berjuang secara spiritual dengan mendoakan, berdoa demi keberhasilan cita-cita atau tujuan perjuangan kita. Sekali lagi saya angkat di sini marilah kita berdoa 3x Salam Maria dan setiap kali diselingi dengan refren "Ya Allah, bebaskanlah bangsa kami dari perbudakan keserakahan". Hendaknya doa ini setiap hari kita doakan demi pertobatan Indonesia tercinta.

•    "Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan" (Keb 2:12-13). Orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur memang akan menghadapi aneka masalah, tantangan atau hambatan., dihadang oleh oknum-oknum tertentu, yang dibayar oleh orang berduit atau yang gila akan kekuasaan, harta benda dan kehormatan duniawi. Bukankah hal macam ini akhir-akhir ini juga terjadi di negeri kita yang tercinta ini, dimana para tokoh yang berduit dan serakah akan kekuasaan, harta benda serta kehormatan dunia dengan uangnya membayari preman-preman untuk menimbulkan kekacauan dan kerusuhan, guna menakut-nakuti orang-orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur? Orang yang bersikap mental materialistis memang tidak memiliki cintakasih dan tidak manusiawi. Mereka juga sering memutar-balikkan perkara dan kebenaran. Kami berharap kepada semua umat beriman untuk tetap setia pada imannya serta menghayati imannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari; demikian juga kami berharap kepada para poltikus atau tokoh-tokoh hidup bermsayarakat, berbangsa dan bernegara untuk menjiwai sepak terjang dan pelayanan dengan iman, dan secara konkret senantiasa berlaku adil, benar dan baik. Marilah kita tidak malu menghayati diri sebagai `anak Tuhan', artinya orang yang senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari.

"Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu" (Mzm 34:17-20)

Jakarta, 8 April 2011