Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 01 April 2011

1 April - Hos 14:2-10; Mrk 12:2-34

"Hukum manakah yang paling utama?"
(Hos 14:2-10; Mrk 12:2-34)

"Seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban
 sembelihan." Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!" Dan seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus" (Mrk 12:28-34), demikian kutipan Warta Gembira  hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Aneka macam hukum hemat saya dijiwai oleh kasih dan diundangkan agar mereka yang berada di bawah hukum tersebut hidup saling mengasihi. Yesus mengajarkan kepada kita agar kita menghayati kasih sebagai hukum utama dan pertama, yaitu saling mengasihi "dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu". Kasih yang demikian ini hemat saya telah dan pernah dihayati oleh suami-isteri yang diikat oleh dan dalam kasih, yaitu ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual. Hemat saya hubungan seksual sejati merupakan perwujudan kasih sebagaimana diajarkan oleh Yesus. Symbol saling mengasihi antar suami-isteri terjadi ketika sedang saling menerimakan sakramen perkawinan atau  meresmikan relasi berdua sebagai suami-isteri dengan saling mengenakan cincin pada jari manis pasangannya. Cincin yang bulat, tanpa ujung pangkal,  melambangkan kasih tanpa batas alias bebas serta total. Dikenakan pada jari
 manis dengan harapan mereka yang mengenakannya senantiasa menghadirkan diri secara manis, menarik dan mempesona secara lahir batin. Memang hidup saling mengasihi, ketika sedang memadu kasih dalam hubungan seksual akan terasa manis semuanya. Maka kami berharap kepada para suami dan isteri untuk dapat menjadi saksi kasih, teladan hidup saling mengasihi dengan segenap jiwa, segenap hati, segenap akal budi dan segenap kekuatan. Segenap berarti seutuhnya, total, maka jika tidak total berarti sakit, yaitu sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi/bodoh atau sakit tubuh. Bukankah mereka yang sedang menderita sakit akan merasa sulit untuk mengasihi, dan lebih tergerak mohon dikasihi. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita masing-masing akan menyadari dan menghayati diri sebagai yang sedang sakit atau berdosa, maka baiklah dengan rendah hati kita siap sedia untuk dikasihi, artinya diperingatkan, dinasihati, dikritik dst.
•       "Siapa yang bijaksana, biarlah ia memahami semuanya ini; siapa yang paham, biarlah ia mengetahuinya; sebab jalan-jalan TUHAN adalah lurus, dan orang benar menempuhnya, tetapi pemberontak tergelincir di situ" (Hos 14:10), demikian peringatan Hosea. Kita semua dipanggil untuk menempuh dan menelusuri 'jalan-jalan Tuhan yang lurus'. Dengan kata lain kita dipanggil untuk senantiasa setia pada panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan atau kewajiban kita masing-masing, serta tidak menyeleweng, berselingkuh atau berkorupsi sedikitpun. Kita semua dipanggil untuk berdisiplin dalam melakukan atau melaksanakan aneka tugas, tata tertib atau aturan.  "Berdisiplin adalah sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada  suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka
 –Jakarta 1997, hal 10). Berlatih dan memperdalam berdisiplin hemat saya dengan membiasakan hidup dan bertindak sesuai dengan tata tertib terus-menerus. Secara phisik atau yang kelihatan rekan-rekan tentara/militer atau polisi kiranya dididik dan dibiasakan untuk berdisiplin, namun sayang hal itu tidak berkesinambungan dalam cara hidup dan bertindak, apalagi sungguh merasuk ke dalam hati dan jiwa, tentu saja tidak semuanya. Sebagai contoh: ada polisi atau tentara/militer yang terlibat dalam aneka tindak koruspi, penyelewengan atau perselingkuhan, atau melindungi aneka koruspi, penyelewengan dan perselingkuhan. Kami berharap kepada rekan-rekan umat beragama untuk terus menjadi teladan dan berjuang dalam hal berdisiplin, entah dalam menghayati ajaran agamanya maupun dalam aneka kesibukan dan pelayanan sehari-hari.

"Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!" (Mzm 81:7-9)
Jakarta, 1 April 2011




Mg Prapaskah IV - 1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41

"Percayakah engkau kepada Anak Manusia?"

Mg Prapaskah IV: 1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41



Aneka macam bentuk penyakit yang diderita oleh umat manusia pada umum secara umum lebih disebabkan oleh dosa-dosa atau ketidak-imanan manusia, entah dosa orang yang sedang menderita sakit sendiri atau dosa orang lain. Sebagai contoh ketika orangtuanya, khususnya sang ibu kena penyakit HIV karena pergaulan seks bebas, atau peminum minuman keras atau perokok dst.., maka ada kemungkinan anak yang dikandung dan dilahirkan dalam keadaan cacat, entah secara phisik, psikologis atau spiritual. Begitulah yang dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini dimana ada seseorang yang buta sejak dilahirkan, hemat saya hal itu terjadi karena kekurangan atau dosa orangtuanya, khususnya ibunya yang telah mengandungnya dan melahirkannya. Ketika anak dalam keadaan cacat pada umumnya orangtua berusaha keras untuk menyembuhkannya, entah minta tolong dokter spesialis atau melalui aneka macam pengobatan alternative. Namun, hemat saya cacat phisik, psikologis atau spiritual sejak bayi kiranya sulit untuk disembuhkan, dan jika dapat sembuh hemat kami sungguh merupakan mujizat, sebagaimana dialami oleh si buta dalam warta gembira hari ini. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk lebih percaya pada penyelenggaraan Ilahi daripada usaha manusiawi.

 

"Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" (Yoh 9:35)

 

Penyembuhan si buta menimbulkan polemik atau ketegangan di antara para tokoh Yahudi maupun masyarakat pada umumnya, sehingga si buta yang telah sembuh dan dapat melihat tersebut diusir dari rumahnya. Mereka tidak percaya bahwa yang menyembuhkan si buta adalah, Yesus, Mesias, Penyelamat Dunia, yang sebenarnya kedatanganNya mereka dambakan. Mendengar bahwa ia diusir dari rumahnya, maka Yesus dengan belas kasihan mencari dan menemuinya, dan kepadanya Ia bersabda: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia? ". Menanggapi pertanyaan Yesus ini ia pun menjawab: "Aku percaya, Tuhan!"(Yoh 9:38). Selanjutnya Yesus bersabda: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yoh 9:39).

 

Kita mungkin tidak buta mata phisik kita, tetapi ada kemungkinan buta mata hati atau jiwa kita, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Maka baiklah kita mawas diri dengan rendah hati dan jujur: apakah kita buta hati dan buta jiwa alias kurang percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi dan lebih percaya pada apa-apa yang kelihatan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa apa-apa yang kelihatan, entah itu manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan atau aneka harta benda karya manusia, tak pernah lepas dari Penyelenggaraan Ilahi atau karya Tuhan. Marilah kita "memandang, bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya: dalam unsur-unsur memberi 'ada'nya; dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh; dalam binatang-binatang, daya rasa; dalam manusia memberi pikiran; jadi Allah juga tinggal dalam aku, memberi aku ada, hidup berdaya rasa dan berpikiran. Bahkan dijadikan olehNya aku bait-Nya, karena aku telah diciptakan serupa dan menurut citra yang Mahaagung" (St. Ignatius Loyola: LR no 235).

 

Percaya kepada 'Anak Manusia', Yesus Penyelamat Dunia, berarti dengan rendah hati menghayati karya Tuhan atau RohNya dalam ciptaan-ciptaanNya. Marilah kita buka dengan rendah hati mata hati dan mata jiwa kita maupun mata akal budi untuk melihat karya Tuhan atau Penyenggaraan Ilahi dalam ciptaan-ciptaanNya. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dan bertindak dalam dan dengan kecerdasan spiritual, yang antara lain memiliki cirikhas sebagai berikut:

1.      mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan)- hidup dari Roh/kehendak Tuhan

2.      memiliki kesadaran diri yang tinggi – menghati diri sebagai pendosa yang dicintai dan diutus oleh Tuhan

3.       mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan - salib –> kebodohan bagi orang Yunani, batu sandungan bagi orang Yahudi, keselamatan bagi yang percaya

4.      mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit - mengikuti Yesus -> menelusuri jalan salib

5.       hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai – hidup dan bertindak sesuai dengan konstitusi, pedoman, asas-dasar, anggaran dasar ??

6.      enggan untuk menyakiti orang lain – hidup dalam kasih pengampunan

7.      melihat hubungan dari yang beragam (holistik) – membangun dan memperdalam persaudaraan sejati

8.      bertanya 'mengapa' dan 'apa jika' untuk mencari jawaban mendasar – memiliki semangat magis, ongoing formation

9.       kemampuan/kemudahan untuk 'melawan perjanjian' - reformator, bertobat terus menerus

 

"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu." (Ef 5:8-11)

Paulus mengingatkan orang-orang Efesus dan kita semua umat beriman bahwa "sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan"  dan dengan demikian  buah cara hidup dan cara bertindak kita adalah "kebaikan dan keadilan dan kebenaran'. Kita juga diingatkan untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan atau aneka bentuk kejahatan. Pertama-tama dan terutama marilah kita berusaha dengan rendah hati dan dalam rahmat Tuhan senantiasa melakukan apa yang baik, benar dan adil dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Secara konkret hal itu berarti cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan baik bagi diri kita sendiri maupun sesama kita, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa.

 

Masa kini kiranya masih merajalela perbuatan-perbuatan kegelapan seperti "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya" (Gal 5:19-21). Hendaknya tanpa takut dan gentar menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan yang dihayati oleh saudara-saudari kita, dan tentu saja hal itu mengandaikan kita sendiri tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Baiklah jika kita saling membantu baik dalam hidup dan bertindak adil, benar dan baik maupun dalam menelanjangi perbuatan-perbuatan jahat. Dalam kebersamaan kita akan lebih kuat, handal dan mampu daripada sendirian. Perbuatan-perbuatan kegelapan yang kiranya perlu kita perhatikan masa kini, lebih-lebih di kalangan remaja atau muda-mudi adalah 'percabulan, kemabukan dan pesta pora', antara lain terkait dengan narkoba. Dalam era maraknya warnet maupun internet secara pribadi atau di rumah maupun dengan BB, rasanya dengan mudah para remaja dan muda-mudi tergoda untuk melakukan percabulan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua untuk sungguh memperhatikan anak-anaknya dalam memfungsikan aneka macam sarana komunikasi modern masa kini seperti BB maupun computer untuk internetan dst..

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (Mzm 23)

  

Jakarta, 3 April 2011


2 April - Hos 6:1-6; Luk 18:9-14

"Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini."

(Hos 6:1-6;  Luk 18:9-14)

 

"Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."(Luk 18:9-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·  Orang sombong senantiasa memamerkan kemana-mana apa yang telah ia kerjakan atau capai dalam kehidupan ini, misalnya: gelar, kedudukan, kekayaan, pangkat dst.. Yang sering melakukan hal ini pada umumnya adalah para pemimpin, direktur, manajer, dst.., padahal kesuksesan usaha atau peran mereka tak pernah lepas dari jasa dan kinerja sekian banyak orang yang membantunya seperti para pegawai, buruh atau bawahan. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa bersikap rendah hati seperti pemungut cukai, yang berdoa kepada Tuhan "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini". Doa ini mengingatkan kami akan apa yang telah dimaklumkan oleh para Yesuit dalam Konggregasi Jendral ke 32, yang memaklumkan bahwa "Yesuit adalah pendosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan-Nya".  Marilah kita sadari dan hayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita, atau kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan yang telah kita terima melalui saudara-saudari kita yang telah berbuat baik kepada kita melalui aneka cara dan bentuk. Karena semuanya adalah anugerah Tuhan, maka tidak ada alasan untuk menjadi sombong, dan jika sombong berarti tidak beriman. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama untuk dapat menjadi teladan hidup rendah hati, sebagaimana juga diusahakan dan senantiasa dinyatakan oleh para gembala Gereja Katolik, para uskup bahwa  dirinya adalah hamba yang hina dina.  

·   "Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran" (Hos 6:6), demikian firman Tuhan melalui nabi Hosea. Kasih setia dan pengenalan akan Allah itulah yang didambakan dari kita semua umat beriman.  Masa Prapaskah juga merupakan kesempatan untuk mawas diri perihal kasih setia dan pengenalan kita akan Allah. Pertama-tama marilah kita kenali, sadari dan hayati bahwa Allah telah mengasihi kita begitu melimpah ruah tanpa batas, dan meskipun kita sering kurang atau tidak mengimani kasihNya Ia tetap setia mengasihi kita, maka Allah adalah yang maha kasih setia. Kami berharap para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi teladan dalam penghayatan kasih setia satu sama lain, sebagaimana pernah saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati atau selama-lamanya. Suami-isteri hendaknya bekerjasama dalam mengasihi anak-anaknya, mengingat dan memperhatikan bahwa anak adalah hasil atau buah kerjasama antar suami-isteri. Kebersamaan dalam mengasihi anak akan mengesan bagi anak-anak, dan dengan demikian anak-anak akan tumbuh berkembang dalam kasih setia juga. Setia berarti tidak mengurangi sedikitpun atas apa yang telah dijanjikan. Kasih setia hendaknya juga dihayati oleh para pekerja atau pegawai, para pejabat atau pemimpin, yaitu dengan tidak melakukan korupsi sedikipun. Kata bahasa Latin 'corruptio' (1) secara aktif berarti  hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan. Sedangkan kata bahasa Latin 'corruptor' berarti perusak, pembusuk, penggoda, pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata 'corruptio'  di atas kiranya dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri   Melakukan korupsi berarti melakukan pembusukan.

 

"Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. Lakukanlah kebaikan kepada Sion menurut kerelaan hati-Mu bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem! Maka Engkau akan berkenan kepada korban yang benar, korban bakaran dan korban yang terbakar seluruhnya; maka orang akan mengorbankan lembu jantan di atas mezbah-Mu" (Mzm 51:18-21)

 

Jakarta, 2 April 2011