Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 25 Februari 2011

Minggu Biasa VIII - Yes 49:14-15; 1Kor 4:1-5; Mat 6:24-34

"Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

Mg Biasa VIII: Yes 49:14-15; 1Kor 4:1-5; Mat 6:24-34


Beberapa tahun lalu Indonesia pernah diberitakan akan mengalami krisis pangan. Maka tidak sedikit orang kaya atau berduit tergoda untuk memborong aneka bahan makanan dan minum di supermarket-supermarket atau di mall-mall. Waktu itu kebetulan saya menjadi Pater Unit, salah satu komunitas para frater SJ, yang sedang tugas belajar di STF Driyarkara – Jakarta. Beberpa frater mengusulkan sesuatu kepada saya, yaitu mohon izin dan dukungan untuk berbelanja bahan mentah makanan yang dapat disimpan cukup lama untuk jangka waktu tiga atau empat bulan, entah itu beras, gula, mie instant dst… Mereka khawatir kalau sungguh terjadi krisis pangan dan tidak dapat makan selayaknya seperti biasa. Mendengarkan usulan tersebut dengan tegas saya tolak: "Kalau anda menumpuk makanan, maka kasihan mereka yang miskin dan berkekurangan". Memang orang-orang kaya atau berduit pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menumpuk atau mengumpulkan kekayaan untuk 'tujuh turunan', sehingga cukup banyak orang menderita kekurangan. Begitulah sikap hidup materialistis yang masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang. Maka baiklah kita renungkan sabda Yesus hari ini.

 

"Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"(Mat 6:25)

 

Hidup memang butuh makanan secukupnya dan memadai, yang kami maksudkan adalah makanan yang sehat dan bergizi sesuai dengan kebutuhan hidup. Namun dalam kenyataan sering orang begitu menekankan makanan enak, yang sebenarnya tidak atau kurang sehat, sehingga mengganggu hidup. Agar kita dapat hidup sehat, segar bugar dan tak pernah jatuh sakit dibutuhkan selain makanan bergizi yang memadai juga butuh olahraga dan istirahat atau rekreasi secukupnya. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dibiasakan makan sesuai dengan pedoman 'empat sehat lima sempurna' serta berolahraga. Olahraga yang baik adalah 'jogging' yaitu: berjalan cepat, lari atau renang. Yang murah meriah dan dapat dilakukan siapa saja hemat saya adalah berjalan cepat atau lari. Kami berharap anda semua menikmati makanan yang sehat dan bergizi, makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak dan tidak enak.

 

Yang mungkin menarik juga untuk kita bicarakan adalah relasi antara tubuh dan pakaian. Kita diingatkan bahwa tubuh lebih penting daripada pakaian. Fungsi utama pakaian adalah melindungi tubuh agar tetap sehat wal'afiat dan tahan atau tabah terhadap aneka ancaman penyakit atau virus. Namun jika dicermati apa yang terjadi masa kini adalah bahwa pakaian berfungsi untuk pamer kekayaan atau gengsi. Maaf, pada umumnya yang suka akan pamer pakaian, assesori atau perhiasan berlebihan adalah rekan-rekan perempuan, termasuk juga jenis parfum yang menusuk hidung, dst.. Baiklah kami ingatkan pada kita semua: marilah kita berpakaian dengan sederhana saja, yang penting sehat bagi tubuh dan jauhkan cara berpakaian atau menggunakan aneka perhiasan yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa, entah tergerak untuk mencopet, menodong atau merampok dan 'ngrasani' yang pada umumnya berbicara yang jelek dan kurang sopan.

 

Hidup kita masing-masing adalah anugerah Tuhan, maka kita tidak dapat hidup seenaknya melainkan harus sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan. Karena hidup adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dengan demikian selayaknya kita hidup penuh syukur dan terima kasih, dan kemudian memfungsikan syukur dan terima kasih tersebut dengan berbuat baik kepada saudara-saudari atau sesama kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita fungsikan semua anggota tubuh kita sesuai kita diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, sehingga gerak dan derap langkah anggota-anggota tubuh kita mendorong orang lain untuk semakin berbakti kepada Allah, semakin beriman. Maka baiklah kita renungkan ajakan atau kesaksian Paulus di bawah ini. 

 

"Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." (1Kor 4:1-2).   

 

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita kiranya boleh disebut 'sebagai hamba-hamba Kristus'. Seorang hamba yang baik senantiasa setia dan taat kepada 'tuan'nya, ia melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh tuannya, ia dapat dipercaya oleh tuannya. Maka sebagai hamba Kristus berarti dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita senantiasa berusaha untuk melaksanakan kehendak atau ajaran Yesus Kristus. Seluruh ajaran atau kehendak Yesus Kristus hemat saya dapat diringkas atau dipadatkan dalam kehendak atau perintah untuk 'saling mengasihi' sebagaimana Allah telah mengasihi. Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama manusia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga.

 

Saling mengasihi yang demikian itu kiranya pernah dialami atau dihayati oleh suami dan isteri yang saling mengasihi, yang antara lain ditandai dengan hubungan seks, yang memungkinkan berbuahkan kasih, yaitu anak manusia. Bukankah anda sebagai suami isteri ketika melakukan hubungan seks merupakan perwujudan saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan? Maka kami berharap anda bersama-sama dapat menjadi teladan sebagai 'hamba-hamba Kristus', dan dengan demikian juga layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus Kristus.

 

Menjadi orang yang dapat dipercaya dan saling percaya satu sama lain pada masa kini kiranya sungguh merupakan tantangan atau masalah.  Ada gejala yang sungguh menarik: ketika belum ada HP kiranya anda jarang menghubungi/menilpon suami, isteri, anak, sahabat atau rekan anda, namun ketika masing-masing memiliki HP mungkin begitu sering berkomunikasi atau menilpon, yang antara lain menanyakan keberadaan masing-masing. Suatu pertanyaan: kalau saya sering menilpon suami, isteri atau anak saya itu merupakan tanda kasih atau curiga? Jika jujur menjawab pertanyaan ini kiranya kebanyakan dari kita akan menjawab bahwa karena curiga alias kurang percaya. Dengan kata lain hemat saya HP dapat merongrong atau mengurangi saling percaya antar kita. Jika kita mudah curiga dan kurang percaya kepada saudara-saudari atau sahabat-sahabat kita, kiranya kita juga kurang percaya kepada Allah dan kita sendiri sebenarnya juga sulit untuk dipercaya. Maka baiklah saya mengingatkan kita semua: hendaknya memfungsikan HP untuk lebih saling memperdalam kepercayaan antar kita, dengan kata lain ketika anda merasa curiga pada suami, isrteri atau anak anda, hendaknya segera berdoa saja: persembahkan suami, isteri atau anak anda kepada Allah.

 

"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita."(Mzm 62:6-9)

 

Jakarta, 27 Februari 2011


Kamis, 24 Februari 2011

26 Feb - Sir 17:1-15; Mrk 10:13-16

"Orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."

(Sir 17:1-15; Mrk 10:13-16)

 

"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka."(Mrk 10:13-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Anak-anak atau generasi muda hemat saya lebih suci daripada orangtua atau generasi tua. Mengapa? Karena tambah usia dan pengalaman pada umumnya juga bertambah dosa-dosanya, dengan kata lain semakin tua semakin banyak dosanya. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus :"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya". Anak-anak kecil pada umumnya bersifat polos, jujur dan terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang terus menerus alias berubah terus menerus menuju ke kedewasaan. Maka marilah kita senantiasa hidup dengan jujur dan terbuka. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang ,berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur- Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Orang jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mulia dan mujur untuk selamanya. Hidup jujur pasti akan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, maka baiklah melengkapi hidup jujur kita terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan. Marilah siap sedia dan terbuka terhadap aneka macam bantuan dan dukungan dari orang lain dalam menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. Hidup jujur serta menjadi pejuang dan pembela kebenaran harus berani membuka diri terhadap aneka macam sapaan dan sentuhan dari orang lain, entah yang bersifat melawan maupun mendukung.


·   "Langkah laku manusia selalu terbentang di hadapan Tuhan, dan tak tersembunyi bagi mata-Nya" (Sir 17:15). Kutipan ini kiranya merupakan dukungan bagi hidup jujur dan terbuka, sebaliknya merupakan tantangan dan peringatan  bagi para penipu, pembohong dan koruptor. Kutipan di atas ini kiranya senada dengan peribahasa  "Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga". Maka kami mengingatkan para penipu, pembohong dan koruptor untuk bertobat. Lebih baik mengakui kesalahan saat ini daripada nanti harus diadili di muka umum karena kejahatan anda. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaharui atau bertobat. Ingatlah hai para penipu dan pembohong, karena sekali menipu dan berbohong ada kemungkinan anda akan tergerak untuk lebih menipu dan berbohong. Ketika ada tuduhan atas penipuan dan kebohongan anda, kiranya anda akan semakin menipu dan berbohong dalam menanggapi tuduhan tersebut. Akhirnya semakin menipu dan berbohong akan segera ketahuan juga kebejatan moral anda. Maka dengan ini kami berseru kepada mereka yang terlibat dalam kasus korupsi dalam 'kasus Bank Century maupun kasus Gayus' untuk jujur dan terbuka dengan segera. Cukup menarik jika mencermati pemberitaan dalam aneka media massa, misalnya TV. Kami melihat kasus ketegangan agama dibuat-buat dan dibesar-besarkan dengan harapan masyarakat terkuras perhatiannya pada masalah kerukunan hidup beragama dan mengesampingkan masalah korupsi. Ingatlah hai para penipu, pembohong dan koruptor bahwa masyarakat masa kini cukup terdidik dan kritis terhadap aneka bentuk penyelewengan. "Mata-mata Tuhan" ada dimana-mana, karena Tuhan berkarya kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kejahatan para penipu, pembohong dan koruptor telah menjadi bahan pembicaraan di masyarakat kita, bagaikan 'proses pengadilan' yang pada waktunya dapat meledak dalam bentuk revolusi sebagaimana baru saja terjadi di Tunisia dan Mesir, yang kemudian menggema di negara-negara wilayah Timur Tengah. Sarana komunikasi memang membantu hidup jujur dan terbuka.

 

"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu" (Mzm 103:13-17)

 

Jakarta, 26 Februari 2011


25 Feb - Sir 6:5-17; Mrk 10:1-12

"Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"

(Sir 6:5-17; Mrk 10:1-12)

 

"Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan dan di situ pun orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula. Maka datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya: "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Apa perintah Musa kepada kamu?" Jawab mereka: "Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." (Mrk 10:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Jumlah perceraian di Indonesia telah mencapai angka yang sangat fantastis. Tercatat, pada tahun 2007, sedikitnya 200 ribu pasangan melakukan pisah ranjang alias cerai. Meski angka perceraian di negara ini tidak setinggi di Amerika Serikat dan Inggris (mencapai 66,6% dan 50% dari jumlah total perkawinan), namun angka perceraian di Indonesia ini sudah menjadi rekor tertinggi di kawasan Asia Pasifik." (http://arifjulianto.wordpress.com). Godaan untuk bercerai pada umumnya ada pada kaum lelaki, yang dengan mudah menyeleweng atau berselingkuh. Hal ini kiranya juga terjadi pada zaman Yesus, maka ada pertanyaan kepadaNya "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?". Maka baiklah dengan ini kami mengingatkan dan mengajak rekan laki-laki untuk tidak menyeleweng dan berselingkuh, secara khusus kami berpesan pada rekan pemuda atau jejaka untuk tidak dengan mudah tergoda dan melakukan hubungan seksual dengan pacarnya atau lawan jenisnya. Kita semua dipanggil untuk setia pada panggilan dan jati diri kita masing-masing. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Ingat bahwa anda yang menjadi suami-isteri telah berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untuk maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Kami berharap para suami-isteri dapat menjadi saksi saling mengasihi sampai mati.


·   "Sahabat setiawan merupakan perlindungan yang kokoh, barangsiapa menemukan orang serupa itu sungguh mendapat harta. Sahabat setiawan tiada ternilai, dan harganya tidak ada tertimbang. Sahabat setiawan adalah obat kehidupan, orang yang takut akan Tuhan memperolehnya. Orang yang takut akan Tuhan memelihara persahabatan dengan lurus hati, sebab seperti ia sendiri demikianpun temannya."(Sir 6:14-17). Sahabat dalam bahasa Latin adalah socius, yang dapat berarti bersama-sama, bersatu, terikat. Persahabatan sejati diikat oleh cintakasih, yang bersifat bebas, tak terbatas. Tidak terbatas tersebut dalam ikatan suami-isteri disimbolkan dengan saling mengenakan cincin yang bulat, tiada ujung dan pangkalnya alias tak terbatas.Cincin dikenakan pada jari manis dengan harapan dalam saling mengasihi senantiasa dalam keadaan manis dan lurus hati. Manis sejati memang muncul atau lahir dari hati yang lurus atau suci. Tanda orang saling bersahabat dan mengasihi antara lain mereka semakin mirip satu sama lain, dan bagi suami-isteri semakin nampak bagaikan manusia kembar, meskipun berbeda satu sama lain. Sekali lagi kami mengingatkan:  hendaklah aneka perbedaan antar kita dijadikan daya tarik untuk saling mendekat, mengenal dan bersahabat, sebagaimana laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tergerak untuk saling mendekat dan mengenal. Persahabatan sejati senantiasa saling menjunjung tinggi harkat martabat manusia, saling menghormati dan melayani, saling membahagiakan dan menyelamatkan. Kami juga berharap kepada segenap anggota keluarga dan komunitas, sebagai komunitas basis, dapat menjadi teladan dalam hidup bersahabat satu sama lain; hendaknya sering diselenggarakan curhat antar anggota keluarga, berdoa dan bercakap-cakap bersama.

 

"Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan. Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu."(Mzm 119:12.16-17)

         

Jakarta, 25 Februari 2011