Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 22 Januari 2011

Mg Biasa III - Yes 8:23b-9:3; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23

"Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang."

Mg Biasa III : Yes 8:23b-9:3; 1Kor 1:10-13.17; Mat 4:12-23



Pelaksanaan aneka aturan, tata tertib dan hukum di Indonesia sungguh memprihatinkan: amburadul. Yang membuat amburadul tidak lain adalah uang: uang sungguh menjadi raja, yang dengan penuh kuasa dapat mengacaukan atau memutar-balikkan pelaksanaan aneka aturan, tata tertib dan hukum di negeri tercinta Indonesia ini. Kasus Bank Century, joki napi, bandar narkoba di penjara/bui, Gayus yang dapat bepergian seenaknya padahal menjadi tahanan, dst.. membuat semakin gelap pelaksanaan aturan, tata tertib dan hukum di negeri kita. Maka sedikit banyak boleh dikatakan bahwa 'bangsa ini diam dalam kegelapan', dan jika tidak segera muncul 'Terang' ada bahaya rakyat akan menjadi penegak pelaksanaan aturan, tata tertib dan hukum dengan secara langsung mengadili para koruptor di negeri ini. Suara-suara kritis sebagai 'Terang' telah muncul di sana-sini, maka semoga mereka tidak jemu-jemu untuk terus menyampaikan kritiknya agar bangsa ini segera diam dalam terang, bebas dari aneka macam bentuk korupsi, kebohongan dan ke-amburadulan pelaksanaan aturan, tata tertib maupun hukum. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan suara dari 'Terang Sejati' di bawah ini.

 

"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4:17)   

 

Kerajaan Sorga berarti Sorga atau Allah yang meraja dan menguasai. Wujud penguasaan atau meraja antara lain menjadi nyata dalam manusia yang berkehendak baik, tanpa pandang bulu atau SARA. Kehendak baik tersebut antara lain disampaikan melalui lisan maupun tertulis: secara lisan misalnya dalam aneka macam diskusi atau pidato politik, sedangkan secara tertulis misalnya dalam aneka media cetak dalam bentuk karangan ilmiah, yang berusaha mewartakan kebenaran-kebenaran. Dengan kata lain benarlah bahwa "Kerajaan Sorga sudah dekat", maka 'Bertobatlah'.

 

Bertobat berarti memperbaharui diri dengan meninggalkan apa yang jahat atau jelek dan kemudian mengusahakan apa yang benar atau  baik. Untuk itu orang harus siap sedia dan rela berubah. Ingat dan hayati bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan, maka barangsiapa tidak berubah akan ketinggalan dan tergilas oleh aneka perubahan yang sedang dan terus berlangsung. Perubahan atau pembaharuan diri hendaknya dimotori atau diawali oleh mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, entah di dalam keluarga, masyarakat, bangsa atau Negara, mengingat dan memperhatikan sikap feodal atau paternalistik begitu menjiwai hidup kita. Mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama ini antara lain: bapak/ibu, para pemuka agama, para pejabat pemerintah dari lurah sampai presiden beserta para pembantunya, dst..

 

Jujur atau kejujuran hemat kami merupakan nilai atau keutamaan ke arah mana kita harus berubah, sehingga kejujuran sungguh menjiwai kita semua.  "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahann, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap jujur ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan bimbingan dan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu dan  kemudian ditindak-lanjuti dan diperdalam di sekolah-sekolah dengan bimbingan dan teladan para guru/pendidik. Jika kita semua hidup dan bertindak dengan jujur kapanpun dan dimanapun, maka "Terang yang besar"  menyinari kita semuanya, sehingga semua orang hidup dalam kebenaran serta tanpa takut memerangi aneka kebohongan dan kecurangan. Kepada mereka yang masih berbohong dan bertindak curang kami dambakan segera bertobat. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri.

"Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir" (1Kor 1:10)

Hidup persaudaraan atau persahabatan sejati sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan kita bersama masa kini dimanapun dan kapanpun, mengingat dan memperhatikan aneka macam bentuk percekcokan dan permusuhan atau saingan yang tidak sehat masih marak di sana-sini. Kita semua diharapkan 'erat bersatu dan sehati sepikir', dalam kesatuan hati dan budi meskipun tindakan konkret dapat berbeda atau beraneka macam. Sebagai warganegara Indonesia marilah kita hayati motto 'bineka tunggal ika', keragaman dalam kesatuan atau kesatuan dalam keragaman.

 

Dalam menghayati atau membangun persaudaraan atau persahabatan sejati kiranya kita dapat berpedoman pada saran atau nasihat Paulus ini, yaitu : "Sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita."(1Kor 12:12-26)

   

Dalam hidup bersama hendaknya tidak ada iri hati, dan masing-masing pada tempatnya berfungsi seoptimal mungkin. Masing-masing dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan bekerja dan berfungsi sesuai dengan tugas, pekerjaan dan kewajibannya. Hendaknya mereka yang nampak lemah dan kurang dihormati lebih diperhatikan dan dihormati, yang dalam anggota tubuh kita tidak lain adalah alat kelamin, lemah namun terhormat. (Ingat memperkosa gadis berarti merampas kehormatannya!). Hendaknya masing-masing dari kita menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan kejahatan.

 

"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"

(Mzm 27:13-14)

 

Jakarta, 23 Januari 2011


Jumat, 21 Januari 2011

22 Jan -Ibr 9:2-3.11-14; Mrk 3:20-21

"Kata mereka Ia tidak waras lagi"

(Ibr 9:2-3.11-14; Mrk 3:20-21)

 

"Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makan pun mereka tidak dapat. Waktu kaum keluarga-Nya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi."(Mrk 3:20-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kegiatan dalam rangka menyambut kunjungan pastoral Paus Yohanes Paulus II di Indonesia, antara lain di Yogyakarta, wilayah Keuskupan Agung Semarang, cukup menyita tenaga dan waktu saya. Maklum waktu itu saya sebagai Ekonom KAS sekaligus bertanggungjawab perihal pembeayaan dll, sehingga saya harus cukup banyak menghadiri rapat dan mengerjakan aneka tugas, lebih-lebih minggu-minggu/hari-hari terakhir menjelang hari 'H". Dengan kata lain selama kurang lebih dua minggu terakhir menjelang hari 'H' saya kurang istirahat dan tidur, serta makan pun sering terlupakan. Senior kami, seorang Yesuit, yang kebetulan menjadi staf Provinsi SJ di Indonesia, memperhatikan saya, maka ia memberi nasihat:"Nanti setelah kunjungan Paus kamu harus istirahat/libur, supaya jangan jatuh sakit". Setelah kunjungan Paus saya tak istirahat atau libur serta tetap bekerja seperti biasa, dan tidak jatuh sakit. Pengalaman pribadi ini saya angkat setelah merenungkan kutipan di atas dimana karena Yesus bekerja keras dalam rangka menjalankan tugas pengutusanNya sehingga 'makan pun mereka tidak dapat' , dinilai tidak waras lagi. Bekerja atau melaksanakan tugas pengutusan dengan gembira, ceria dan bergairah memang tak merasa lelah, meskipun kurang istirahat, makan atau tidur, itulah pengalaman saya pribadi. Nikmati saja apa yang ada di depan anda, yang harus dikerjakan atau dilaksanakan: nikmati dengan gembira, gairah dan ceria. Menghadapi atau mengerjakan segala sesuatu dengan gembira, ceria dan gairah berarti 'otak sadar' dan 'otak bawah sadar' kita berfungsi secara prima, sehingga kita tetap tegar dan tabah serta sehat wal'agiat, segar bugar, tak akan merasa lelah serta kemungkinan jatuh sakit kecil sekali. Sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk mewartakan kabar gembira, maka selayaknya kita hayati dengan gembira dan ceria pula. Nikmati dan cintailah segala sesuatu yang harus anda hadapi dan kerjakan.


·   "Jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup"(Ibr 9:13-14). Yesus, Penyelamat Dunia, telah mempersembahkan Diri seutuhNya kepada Allah, dengan menyelamatkan dunia seisinya sampai Ia wafat di kayu salib. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, dan iman harus menjadi nyata dalam perbuatan. Perbuatan nyata hidup beriman berarti dengan sukarela dan sepenuh hati mempersembahkan diri kepada saudara-saudari kita maupun aneka macam pekerjaan, tugas pengutusan atau kewajiban. Maka kami berharap kepada anda sekalian untuk menghadapi dan mengerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Hadapi dan kerjakan segala sesuatu dengan positif, gigih dan sungguh-sungguh. Hendaknya jangan melakukan pekerjaan yang sia-sia. Bekerja keras perlu diimbangi atau disertai dengan doa: "Ora et Labora" (Berdoalah dan bekerjalah). Berdoa hendaknya menjiwai bekerja dan sebaliknya bekerja menjiwai berdoa, sehingga entah berdoa atau bekerja sungguh berkwalitas, bermakna atau bernilai. Dengan kata lain hayati bekerja bagaikan sedang berdoa, sehingga suasana kerja bagaikan suasana doa, rekan bekerja bagaikan rekan berdoa, sikap bekerja bagaikan sikap berdoa, perawatan sarana kerja bagaikan perawatan sarana doa dst.. Temukan atau hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam segala sesuatu, hayati segala sesuatu dalam dan bersama dengan Tuhan.

 

"Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah " (Mzm 47:2-3.6-7)

 

Jakarta, 22 Januari 2011


Kamis, 20 Januari 2011

21 Jan - Ibr 8:6-13; Mrk 3:13-19

"Ia memanggil orang yang dikehendakiNya"

(Ibr 8:6-13; Mrk 3:13-19)

 

"Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia."(Mrk 3:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agnes, perawan dan martir, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   "Maaf,saya sudah mempunyai kekasih. Ia mencintaiku dan saya pun mencintaiNya. Dialah Yesus Kristus", demikian jawaban Agnes, gadis cantik, yang berada di dalam penjara ketika dirayu oleh seorang pemuda agar ia sudi menjadi isterinya. Agnes kiranya sungguh menghayati panggilannya untuk 'memberitakan Injil atau Kabar Baik', meneladan Kekasihnya,Yesus Kristus, sebagaimana juga menjadi tugas pengutusan para rasul, yang telah dipilih oleh Yesus untuk menyertaiNya dalam tugas pengutusan. Mereka dipanggil oleh Yesus untuk menjadi sahabat-sahabat atau kekasih-kekasihNya. Kita semua yang beriman kepadaNya juga memiliki tugas pengutusan untuk senantiasa 'memberitakan Kabar Baik', maka marilah kita mawas diri sejauh mana dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita menunjukkan bahwa kita adalah sahabat-sahabat atau kekasih-kekasih Tuhan. Sebagai yang dikasihi Tuhan atau menjadi sahabat Tuhan mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Aneka macam godaan, tantangan, masalah atau pencobaan tak akan dapat memisahkan kita dari cintakasih Tuhan, itulah tanda bahwa kita sungguh menjadi sahabat atau kekasih Tuhan. Segala macam godaan, tantangan, masalah dan pencobaan justru menjadi wadah atau sarana penggemblengan iman kita, sebagaimana dihayati oleh Agnes, ketika ia dibakar tetap senyum gembira. Ingat dan hayati menjadi sahabat Yesus Kristus berarti harus senantiasa siap sedia untuk 'disalibkan', berkorban dan berjuang demi kebenaran, kebaikan dan kesucian.


·   "Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku" (Ibr 8:10-11). "Hukum Tuhan ada dalam akal budi dan tertulis dalam hati" siapapun yang terpanggil oleh Tuhan atau menjadi sahabat dan kekasih Tuhan. Cara hidup dan cara bertindak kita sangat dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam akal budi atau hati kita, maka sebagai sahabat atau kekasih Tuhan mau tak mau kita akan melasanakan 'hukum Tuhan'. Hukum Tuhan yang paling utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain, Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi maka tak ada lagi tuan dan hamba, guru dan murid di antara kita, karena kita adalah sama-sama sahabat atau kekasih Tuhan. Saling mengasihi antara lain berarti saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan, dan dengan demikian kita akan saling bersembah-sujud, memuliakan dan membahagiakan, sehingga kita semua dalam keadaan sehat wal'afiat, segar bugar baik jasmani maupun rohani. Tejadilah kesatuan hati dan budi di antara kita, meskipun wujud tindakan atau pelayanan konkret berbeda satu sama lain. Perbedaan yang ada di antara kita menjadi dukungan untuk semakin saling mengasihi, saling tertarik dan memikat serta mendekat, sebagaimana laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, memikat dan tergerak untuk bersatu dan bersahabat. Sekali lagi kami berharap kepada para bapak-ibu atau orangtua untuk dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam saling mengasihi satu sama lain, dua insan yang berbeda namun sepadan. 

 

"Mataku merana karena sengsara. Aku telah berseru kepada-Mu, ya TUHAN, sepanjang hari, telah mengulurkan tanganku kepada-Mu. Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepada-Mu? Diketahui orangkah keajaiban-keajaiban-Mu dalam kegelapan, dan keadilan-Mu di negeri segala lupa? Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu." (Mzm 88:10-11.13-14)

 

Jakarta, 21 Januari 2011