Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 11 September 2010

12 Sept - Mg Biasa XXIV: Kel 32:7-11.13-14; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32(Luk 15:1-10

"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

Mg Biasa XXIV: Kel 32:7-11.13-14; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32(Luk 15:1-10


 

Masa Puasa bagi saudara-saudari kita umat Islam baru saja berlalu dan kiranya pada hari-hari ini kebanyakan dari kita masih bersenang-senang merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satu kebijakan yang mewarnai selama masa Puasa antara lain semua tempat hiburan seperti 'café, karaoke, panti pijat, tempat pelacuran, dst.' harus ditutup guna menghormati mereka yang sedang berpuasa. Menyikapi kebijakan tersebut ada yang berkomentar "Apakah kebijakan tersebut tidak merupakan sandiwara, karena setelah Puasa alias setelah hari raya Idul Fitri mereka boleh buka atau bekerja lagi". Mereka yang berkarya di tempat-tempat hiburan maupun yang mendatangi dinilai sebagai orang-orang berdosa, dan mungkin demikian adanya. Paradigma atau cara berpikir manusia memang berbeda dengan paradgima atau cara berpikir Tuhan: manusia lebih cenderung menyingkirkan dan mengurung orang-orang berdosa atau yang dinilai sebagai sampah masyarakat, sedangkan Tuhan menghendaki agar mereka dirangkul dan diampuni dosa-dosanya agar bertobat. Hemat saya para pendosa atau mereka yang dinilai sebagai sampah masyarakat tersebut dalam perjalanan hidup kurang menerima dan menghayati kasih sayang maupun kasih pengampunan, maka mereka hendaknya disikapi, didekati dan diperlakukan dengan kasih saya dan kasih pengampunan yang dijiwai oleh kerendahan hati yang mendalam, sebagaimana dihayati oleh Yesus.

 

"Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."(Luk 15:10)

Yesus adalah Penyelamat Dunia, Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, maka dimana ada yang tidak selamat Dia datangi untuk diselamatkan, antara lain orang-orang berdosa. Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk melakukan apa yang Ia lakukan, meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, antara lain dengan rendah hati 'menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'. Siapakah orang-orang  berdosa di lingkungan hidup kita? Orang-orang berdosa yang ada di lingkungan hidup kita tidak lain adalah mereka yang kita pandang dan nilai 'kurang dari pada kita' alias kita nilai bodoh, nakal, kurang ajar, bermasalah, egois, kurang/tidak sosial, dst.., dan mereka ini mungkin ada di dalam keluarga, komunitas atau tempat kerja/tugas kita  masing-masing. Dengan kata lain marilah kita menedalan cara hidup dan cara bertindak Yesus di komunitas basis kita masing-masing, dimana kita tinggal dan hidup di dalamnya.

 

'Mempertobatkan orang-orang berdosa' memang tidak mudah, butuh pengorbanan dan kerja keras serta kerendahan hati yang mendalam. Ada kemungkinan kita 'dirasani' tidak  baik atau dilecehkan, sebagaimana orang-orang Farisi mengomentari Yesus yang 'menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka'. Ada kemungkinan kita juga ditolak oleh orang-orang yang hendak kita ajak untuk bertobat. Namun sebagaimana disabdakan oleh Yesus 'akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang dosa yang bertobat', marilah kita tetap tegar dan sabar dalam membantu pertobatan orang lain, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta masalah.  Jika kita mampu membantu pertobatan seseorang, betapa bahagianya kita sebagai umat beriman dan kebahagiaan kita tak akan mudah luntur atau musnah. Dalam membantu pertobatan orang lain hendaknya tidak melupakan doa, berdoa mohon rahmat pertobatan atau kasih pengampunan bagi saudara atau saudari kita yang kita dambakan untuk bertobat, karena yang benar adalah bahwa Tuhan sendiri yang mampu mempertobatkan orang-orang berdosa, sedangkan kita hanya menjadi sarana bantuan saja. Doa-berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beriman atau beragama, maka jangan sampai kita melupakan hidup doa kita masing-masing.

 

"Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal" (1Tim 1:15-16)

 

Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa, yang dikasihi dan dipanggil Tuhan. Kebenaran itulah yang juga menghidupi Paulus, rasul agung. "Di antara mereka akulah yang paling berdosa', demikian kata Paulus, yang sebaiknya kita renungkan dan refleksikan. Menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa juga berarti menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah, dengan dengan demikian hidup dengan penuh syukur dan terima kasih. Syukur dan terima kasih ini kita hayati dan teruskan kepada saudara-saudari kita, antara lain dengan senantiasa mengampuni mereka yang telah menyakiti kita atau bersalah terhadap kita.

 

Sebagai yang telah dikasihi dan diampuni kita juga dipanggil untuk menjadi saksi kesabaran alias hidup dengan penuh kesabaran. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sabar kiranya merupakan salah satu keutamaan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan kita sehari-hari masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang/tidak sabar, sebagaimana dapat kita lihat dan cermati di antara para pengendara di jalanan. Ketidak-sabaran juga menjangkiti banyak generasi muda masa kini, antara lain dalam hal menikmati hubungan seksual, dimana cukup banyak muda-mudi yang sedang berpacaran berhubungan seks, sehingga sang gadis hamil. Dampak ketidak-sabaran adalah kehancuran atau musibah yang membekas dalam hati.

 

"Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya." Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya" (Kel 32:13-14), demikian berita perihal pengalaman bangsa terpilih yang telah berdosa, tidak sabar di dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Ketidak-sabaran mereka mendorong mereka hidup dan bertindak seenaknya, sehingga Tuhan merancang untuk mendatangkan malapetaka bagi mereka, namun karena doa salah satu dari mereka yang memimpin dalam perjajalanan, akhirnya Tuhan membatalkan untuk mendatangkan malapetaka.  Maka baiklah kita meneladan pengalaman bangsa terpilih yang sedang dalam perjalanan tersebut, bukan meneladan ketidak-sabaran dan hidup seenaknya, melainkan meneladan doanya, ingat akan Tuhan di dalam perjalanan. Dengan kata lain marilah kita awali perjalanan hidup, tugas, pekerjaan dan langkah-langkah atau kepergian kita dengan doa, dan selama perjalanan tidak melupakan untuk berdoa kepada Tuhan mohon perlindungan dan pendampinganNya agar selamat dalam perjalanan dan sampai tujuan.

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"

 (Mzm 51:3-4.12-13)

             

Jakarta, 12 September 2010

 

     


Jumat, 10 September 2010

11 Sept - 1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49

"Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya".

(1Kor 10:14-22a; Luk 6:43-49)

 

"Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.""Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya -- Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan --, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya." (Luk 6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Orang-orang Barat/Eropah  adalah 'pemakan' daging, maka cerdas-cerdas, sedangkan orang-orang Indoneisa adalah 'pemakan' rumput, maka 'bodo koyo kebo'/bodoh seperti kerbau", demikian rumor atau sindiran yang disampaikan seorang penceramah dalam lokakarya pendidikan. Memang di suhu yang panas ini makan sayur-sayuran lebih nikmat, sedangkan di suhu yang dingin mengkonsumsi daging sungguh penting. Maksud rumor atau sindiran tersebut antara lain adalah soal opsi dalam program pemerintahan, dimana Negara-negara Barat/Eropah pada umumnya opsi program untuk pendidikan cukup besar, sedangkan di Indonesia pendidikan kurang memperoleh perhatian, hal ini nampak dari 'buah atau hasil' pendidikan atau sekolah-sekolah. "Setiap pohon dikenal pada buahnya", demikian sabda Yesus. Para alumni atau konsumen adalah buah-buah pelayanan, maka kwalitas pelayan dapat diketahui pada kwalitas alumni atau pengalaman konsumen. "Pohon' yang perlu memperoleh perhatian yang baik dan memadai pada hemat saya adalah 'karya pelayanan pendidikan' , entah formal maupun informal, di dalam kelurga maupun di sekolah-sekolah atau tempat-tempat kursus. Jika kita mencita-citakan atau mendambakan anak-anak atau generasi muda ketika mereka menjadi dewasa sungguh baik dan cerdas spiritual, maka tidak ada jalan lain selain memperhatikan pendidikan. Kepada para penyelenggara maupun pengelola dan pelaksana pendidikan di sekolah-sekolah kami harapkan sungguh mendidik anak-anak atau peserta dididik yang diserahkan oleh orangtua mereka untuk dididik dan dibina, sehingga selesai belajar mereka menjadi pribadi dewasa yang handal, cerdas beriman dan tidak dapat digoyahkan oleh aneka macam godaan setan atau untuk berbuat jahat.

·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala! Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan" (1Kor 10:14-15), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Berhala-berhala pada masa kini antara lain menggejala dalam bentuk 'harta benda/uang, jabatan/kedudukan/pangkat, kehormatan duniawi', dan rasanya yang paling banyak adalah dalam bentuk 'harta benda/uang', sebagaimana sering dikatakan dalam sindiran "UUD" (=Ujung-Ujungnya Duit/uang). Uang memang dapat menjadi jalan ke neraka atau ke sorga; uang akan menjadi jalan ke neraka ketika kita dikuasai oleh uang, dimana kita sudah menjadi orang yang 'mata duiten, kaki duiten, mulut duiten, dst..', artinya mau bertindak ketika dibayar atau ada uang. "Menjauhi penyembahan berhala uang" berarti memfungsikan uang sebagai jalan ke sorga, demi keselamatan dan kebahagiaan serta kesejahteraan jiwa manusia. Maka marilah kita fungsikan uang sesuai dengan 'maksud pemberi' (intentio dantis), misalnya uang sekolah difungsikan untuk memajukan, mengembangkan sekolah; uang jalan untuk membeayai perjalanan dst.. , pajak adalah berasal dari rakyat maka uang pajak harus difungsikan demi kesejahteraan rakyat.  Marilah kita fungsikan atau gunakan harta benda atau uang dengan jujur dan disiplin. Kami percaya jika dalam hal yang kelihatan itu dapat jujur dan disiplin, maka akan terjadi kemudahan untuk jujur dan disiplin dalam bidang-bidang yang lain.

 

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya"

 (Mzm 116:12-13.17-18)

 

Jakarta, 11 September 2010


Rabu, 08 September 2010

10 Juli - 1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42

"Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu"

(1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42)

 

"Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Luk  6:39-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertama-tama saya ucapkan "Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin" bagi yang sedang merayakannya. Pada hari ini kiranya banyak di antara kita sedang saling bersilaturahmi, bersalam-salaman dan saling memaafkan, dan rasanya juga bertindak sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini, yaitu 'mengeluarkan balok dari mata' alias mengakui dan menghayati kesalahan serta kekurangannya dan kemudian mohon kasih pengampunan pada sesamanya. Semoga apa yang terjadi dan dilakukan pada hari-hari ini terus menjiwai dalam perjalanan hidup dan kerja selanjutnya, sehingga dalam hidup dan kerja sehari-hari kita tidak saling 'melihat selumbar di dalam mata saudaramu'. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka bentuk kemunafikan dalam kehidupan kita bersama, hendaknya masing-masing dari kita dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang diampuni dan dipanggil Tuhan untuk menyalurkan kasih pengampunanNya kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dimanapun dan kapanpun. "Seorang murid tidak lebih daripada gurunya", kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, Sang Guru Sejati, yang datang ke dunia untuk melayani dengan rendah hati yang mendalam. Marilah kita meneladan Guru Sejati dengan hidup saling melayani dengan rendah hati yang mendalam serta saling berpikiran positif terhadap orang lain. Semoga saling memaafkan yang terjadi pada hari-hari ini tidak munafik dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita selanjutnya. Semoga di dalam hidup sehari-hari kita tidak munafik dalam hidup dan bertindak.

·   "Jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil" (1Kor 9:16), demikian kesaksian iman Paulus sebagai pewarta Injil, pewarta Kabar Gembira. Injil adalah Warta Gembira, maka mewartakan Injil berarti mewartakan atau menyebar-luaskan apa-apa yang menggembirakan serta menyelamatkan. Hari ini adalah hari gembira bagi yang sedang merayakan  Idul Fitri, hari kemenangan atas dosa dan kejahatan. Maka apa yang terjadi hari ini sungguh inspiratif dan kiranya memotivasi kita untuk berani berkata dan bersaksi seperti Paulus, yaitu "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil, celakalah aku, jika aku tidak menyebar-luaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan" . Paulus juga bersaksi bahwa upah mewartakan kabar baik atau kabar gembira adalah dalam mewartakan kabar gembira atau baik tersebut. Memang kegembiraan dari berbuat baik kepada orang lain tak mungkin dihargai dengan uang atau harta benda, dan kiranya tak akan mudah hilang atau musnah. Orang yang senantiasa gembira dan ceria juga tabah dan tegar terhadap aneka macam serangan penyakit atau virus, karena secara phisik metabolisme darah dan kinerja syarat berjalan secara prima sebagai anti-body atau benteng kuat melawan aneka serangan penyakit dan virus. Kita semua memiliki keharusan untuk mewartakan kabar baik atau kabar gembira, dan tentu saja kita juga harus gembira dan ceria terus menerus. "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya" (1Kor 9:24). Marilah kita berlomba, saling mendahului dengan cepat, dalam mewartakan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Jauhkan aneka kemalasan dan kelesuan dalam berbuat baik kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dalam hidup sehari-hari.

 

"SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1431 H, maaf lahir dan batin "

"Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah" (Mzm 84:3-6)

 

Jakarta, 10 September 2010