Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 21 Agustus 2010

22 Agustus - Yes 66:18-21; Ibr 12:5-7.11-13; Luk 13:22-30

"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu!"

 

Mg Biasa XXI : Yes 66:18-21; Ibr 12:5-7.11-13; Luk 13:22-30



Kebiasaan menyontek di antara para murid/pelajar/mahasiswa di dalam ulangan umum atau ujian masih marak di dunia pendidikan Indonesia. Kebiasaan itu sering memperoleh dukungan atau bahkan dorongan dari para guru atau dosen. Kebiasaan jalan pintas atau 'budaya instant' itulah yang sungguh memprihatinkan dan merusak sikap mental atau kepribadian manusia Indonesia. Kebiasaan itu menggejala dalam bentuk lain antara lain: ingin cepat-cepat menikmati enaknya hubungan seksual di antara muda-mudi maupun mereka yang bernafsu seks besar, yang berakibat dengan pengguguran atau perpecahanan keluarga atau perceraian. Ada juga orang ingin ingin cepat-cepat kaya dan kemudian tergerak untuk melakukan korupsi atau mencuri/merampok,dst.. Mereka menelusuri 'jalan tol/bebas hambatan' yang leluasa dalam waktu singkat, dan dampaknya mereka akan menderita dalam waktu yang panjang atau bahkan seumur hidup. Memang untuk hidup baik, berbudi pekerti luhur, bermoral, dicintai oleh Tuhan dan sesama, harus menghadapi aneka tantangan, masalah maupun hambatan, sebagaimana disabdakan oleh Yesus:"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat" (Luk 13: 24). Maka sebagai umat beriman yang berhasrat untuk setia dalam penghayatan iman, marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus tersebut.

 

"Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat" (Luk 13:24).

Mengikuti atau menjadi murid-murid Yesus Kristus berarti harus menelusuri jalan salib untuk mendaki bukit Kalvari alias siap sedia untuk menderita bersamaNya. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dan bertindak mengikuti 'proses', sedikit-sedikit dan lama-lamaan menjadi bukit. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal panggilan dan tugas masing-masing, sejauh mana hidup dan bertindak mengikuti proses yang benar dan menuju ke keselamatan atau kebahagiaan sejati:

1)                  Peserta didik/pelajar/mahasiswa: Kami harapkan para peserta didik, pelajar dan mahasiswa dalam melaksanakan tugas utama belajar bersemangat mengikuti 'proses mengajar-belajar' dan 'eksplorasi'. Keutamaan mendengarkan dengan rendah hati yang mendalam sangat dibutuhkan di dalam belajar, yang disertai keterbukaan dan kesiap-sediaan akan segala kemungkinan dan kesempatan untuk belajar, tumbuh dan berkembang. Hendaknya minimal selama 8 (delapan) jam per hari secara efektif melaksanakan tugas belajar, entah di dalam sekolah maupun rumah. Maka ketika di sekolah kurang lebih selama 6(enam)jam efektif belajar, hendaknya di rumah belajar, entah mengulangi apa yang tadi diajarkan atau mempersiapkan pelajaran yang akan datang selama 2 (dua) jam efektif. Mengikuti proses berarti jujur dan disiplin serta tidak menyontek dalam ulangan atau ujian, sedang bersemangat 'eksplorasi' berarti senantiasa merasa haus dan lapar akan aneka pengetahuan dan dengan demikian belajar terus menerus, 'auto-didak'. Usahakan agar semakin terampil dalam belajar. 

2)                  Para pekerja: Kami berharap kepada para pekerja setia pada jati dirinya sebagai pekerja, dengan kata lain pertama-tama dan terutama manfaatkan waktu kerja untuk sungguh-sungguh bekerja dengan semangat belajar dan eksplorasi. Hendaknya berpegang pada ajaran Yesus bahwa seorang pekerja layak memperoleh upah atau imbal jasa yang memadai. Semangat belajar dalam dan selama bekerja berarti senantiasa siap sedia diberi tugas atau pekerjaan baru, sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan usaha dimana anda bekerja. Hendaknya bekerja keras dengan jujur dan disiplin, serta jauhkan menggunakan waktu kerja untuk urusan pribadi atau bercanda, ngobrol saja.   Usahakan agar anda semakin terampil bekerja.

3)                  Yang merasa terpanggil untuk hidup berkeluarga/menjadi suami-isteri: Kami berharap kepada para suami-isteri untuk menghayati 'sakramen perkawinan' atau 'janji perkawinan' sebagai 'SIM'/ Surat Izin Mengasihi, awal langkah untuk membuktikan bahwa anda berdua saling mengasihi. Maka baiklah ajaran Paulus perihal kasih ini menjadi pedoman atau pegangan dalam saling mengasihi, yaitu: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan" (1Kor 13:4-8a). Saling mengasihi harus dijiwai dengan saling berkorban dengan rendah hati, dan jika anda berdua sungguh saling mengasihi maka anda berdua semakin lama semakin nampak sebagai manusia kembar. Usahakan agar anda berdua terampil dalam mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. 

4)                  Yang merasa terpanggil untuk hidup sebagai imam, bruder atau suster: Sebagai yang terpanggil untuk 'hidup wadat atau tidak menikah demi Kerajaan Allah', kami harapkan semakin dikuasai atau dirajai oleh Allah dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dalam aneka kesibukan, pelayanan atau tugas pekerjaan, dengan kata lain semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama  manusia. Siapapun yang bertemu dengan atau melihat kita sebagai yang terpanggil tergerak untuk semakin beriman, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada. Tuhan. Kesaksian hidup dan kerja anda sebagai yang terpanggil merupakan cara utama dan pertama dalam rangka promosi panggilan.

 

"Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibr 12:5-6)

     

Kutipan dari surat Ibrani di atas ini kiranya baik menjadi permenungan dan pegangan kita semua sebagai orang beriman, orang-orang yang dikasihi Tuhan. Marilah kita menghayati diri sebagai anak yang sedang dididik agar tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Kita sadari dan hayati kebodohan dan kedegilan kita serta kebutuhan untuk dididik dan ditumbuh-kembangkan. Bentuk tindakan mendidik tidak semuanya enak di tubuh, hati, jiwa maupun akal budi, dan sering membuat kita kesakitan atau menderita. Sakit dan menderita karena setia pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka ketika anda harus sakit dan menderita hendaknya tidak menjadi putus asa, melainkan semakin berharap kepada atau menggantungkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi/Tuhan. Kita diingatkan bahwa 'janganlah anggap enteng didikan Tuhan'. Didikan Tuhan antara lain kita terima melalui arahan, nasihat, ajaran, petuah, ketedanan dst.. dari mereka atau siapapun yang mengasihi kita, maka hendaknya semuanya itu tidak disikapi bagaikan 'angin berlalu', melainkan sebagai peringatan yang memacu kita semua untuk terus melangkah maju. Dididik berarti dirubah dan siap sedia berubah, dan setiap perubahan membutuhkan pengorbanan dan perjuangan serta harapan. "Jer basuki mowo beyo" = untuk hidup mulia dan damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban.

 

"Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!"

 (Mzm 117)

      

Jakarta, 22 Agustus 2010


21 Agustus - Yeh 43:1-7a; Mat 23:1-12

"Barangsiapa terbesar hendaklah ia menjadi pelayan".

(Yeh 43:1-7a; Mat 23:1-12)

"Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Pius X, Paus, dengan ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para Uskup ketika mendoakan Doa Syukur Agung senantiasa menyatakan diri sebagai 'hamba yang hina dina', sedangkan Paus menyatakan diri sebagai 'hamba dari para hamba yang hina dina'. Dengan pernyataan tersebut baik para Uskup maupun Paus, yang terbesar di dalam Gereja Katolik, berhasrat untuk sungguh melayani umat Allah yang menjadi tanggungjawabnya, menghayati panggilan dengan semangat melayani dengan rendah hati yang mendalam. Sebagai umat Allah kita hendaknya mendukung para gembala kita tersebut, antara lain sering mendoakannya dan kita sendiri senantiasa juga berusaha untuk hidup dan bertindak yang dijiwai oleh semangat melayani yang rendah hati dan mendalam. Cirikhas seorang pelayan atau pembantu rumah tangga/ komunitas yang baik antara lain: tanggap terhadap yang harus dilayani, siap sedia melakukan apa saja demi kebahagiaan yang dilayani, sehat wal'afiat, ceria/gembira, kerja keras, hidup sederhana dst… Apa yang menjadi cirikhas pelayan yang baik tersebut hendaknya juga menjadi cirikhas kita sebagai umat Allah, umat yang percaya kepada Yesus Kristus, yang datang ke dunia untuk melayani bukan dilayani. Kami berharap semangat melayani ini sedini mungkin ditanamkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua. Demikian juga kami berharap kepada para pemimpin dalam bidang kehidupan atau pelayanan apapun untuk menghayati kepemimpinannya dengan semangat melayani yang rendah hati dan mendalam.

·   "Kemuliaan TUHAN masuk di dalam Bait Suci melalui pintu gerbang yang menghadap ke sebelah timur, Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran dalam, sungguh, Bait Suci itu penuh kemuliaan TUHAN" (Yeh  43:4-5), demikian penglihatan yang dialami oleh Yeheskiel. "Roh itu mengangkat aku dan membawa aku ke pelataran yang penuh kemuliaan Tuhan", inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Apakah kita senantiasa dibawa ke tempat yang penuh dengan kemuliaan Tuhan, tempat Tuhan lebih dimuliakan dari segala sesuatu?  "Ad maiorem Dei gloriam" = Demi bertambah besarnya kemuliaan Tuhan, itulah salah satu spiritualitas St.Ignatius Loyola. Marilah kita senantiasa mengusahakan apapun yang kita kerjakan atau dimanapun kita berada guna bertambah besarnya kemuliaan Tuhan dan penghayatan diri kita sendiri yang  semakin kecil, tiada arti. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk saling memuliakan dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Memuliakan berarti juga membahagiakan dan menyelamatkan, lebih-lebih atau terutama kebahagiaan dan keselamatan jiwa. Maka hendaknya kebahagiaan dan keselamatan jiwa senantiasa menjadi pedoman dan barometer keberhasilan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. Dimana semakin banyak jiwa diselamatkan dan dibahagiakan  ke situlah kita semua dipanggil, meskipun untuk itu kita harus bekerja keras, berjuang dan berkorban. Dalam dunia atau pelayanan pendidikan hal itu berarti lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi baik, berbudi pekerti luhur, cerdas spiritual daripada pandai atau cerdas intelektual. Maka kami berharap kepada para pengurus, pengelola maupun pelaksana pelayanan pendidikan untuk senantiasa bekerjasama dalam rangka mendampingi para peserta diri agar tumbuh berkembang sebagai pribadi cerdas beriman/spiritual. Kerjasama penting dan mutlak karena anak adalah 'korban kerjasama' dari bapak-ibu, orangtua masing-masing.

 

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan."

 (Mzm 85:10-14)

   Jakarta, 21 Agustus 2010


Rabu, 18 Agustus 2010

20 Agustus - Yeh 37:1-14; Mat 22:34-40

"Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?".

(Yeh 37:1-14; Mat 22:34-40)

 

"Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Mat 22:34-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di dalam kehidupan atau kerja bersama senantiasa ada aneka macam tata tertib yang harus dihayati atau dilakukan oleh siapapun yang ada di dalam kebersamaan tersebut. Aneka tata tertib hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan berdasarkan kasih akan Allah dan sesama  manusia, maka hendaknya disikapi dan dihayati dalam dan oleh kasih juga. Dalam sabda Yesus hari ini kita dipanggil untuk mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi. "Segenap" berarti seutuhnya atau total, tidak kurang sedikitpun. Kalau kurang berarti sakit hati, sakit jiwa atau sakit akal budi, dan dengan demikian tidak mungkin dapat mengasihi dengan baik dan benar, sebagaimana diharapkan oleh Allah. Maka hendaknya kita sungguh menjaga dan mengusahakan agar hati, jiwa dan akal budi kita senantiasa dalam keadaan sehat, segar bugar, agar kita dapat mengasihi dengan benar. Kasih kepada Allah harus menjadi nyata dalam kasih terhadap sesama, dan yang kiranya dapat diinderai atau disaksikan adalah kasih terhadap sesama, maka marilah kita berusaha untuk hidup saling mengasihi dimanapun dan kapanpun juga. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah 'buah kasih' atau 'yang terkasih', buah kasih Allah melalui orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga. Jika kita dapat menghayati diri sebagai 'buah kasih' atau  'yang terkasih', maka panggilan untuk hidup saling mengasihi dengan mudah dapat kita laksanakan, karena bertemu dengan orang lain/sesama manusia berarti 'yang terkasih' bertemu dengan 'yang terkasih' dan dengan demikian secara otomatis saling mengasihi. Marilah kita perdalam penghayatan diri sebagai 'yang terkasih'.

·   "Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN." (Yeh  37:14), demikian firman Tuhan kepada kita semua melalui nabi Yeheskiel.  Dari firman ini kiranya kita dapat mengimani bahwa hidup kita adalah milik Tuhan yang dianugerahkan kepada kita melalui orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/ tenaga. Maka kita tak mungkin hidup hanya untuk diri sendiri, mengikuti kemauan dan keinginan pribadi, melainkan harus hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena hidup kita adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki atau kuasainya sampai saat ini adalah anugerah Tuhan. Hendaknya kita memfungsikan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai demi kemuliaan Tuhan dan kesucian hidup diri kita sendiri maupun sesama kita. Misalnya bagi para gadis atau perempuan yang dianugerahi tubuh seksi, kecantikan dan kesehatan yang baik serta mempesona, hendaknya senantiasa menghadirkan diri dimanapun dan kapanpun agar anda sendiri semakin suci, dan orang lain yang menyaksikan cara hidup dan cara bertindak anda juga semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya. Bagi mereka yang kaya akan harta benda atau uang hendaknya memfungsikan harta atau uangnya sebagai 'jalan ke sorga', bukan 'jalan ke neraka'.. Bagi mereka yang dianugerahi kecerdasan atau keterampilan hendaknya senantiasa memfungsikan kecerdasan dan keterampilan demi keselamatan seluruh umat manusia. St.Bernardus yang kita kenangkan pada hari ini dikenal sebagai pribadi yang mempersembahkan seluruh hidup demi kemuliaan Tuhan, dengan hidup taat, murni dan miskin meneladan Yesus, yang meskipun kaya telah menjadi miskin guna memperkaya umat manusia yang miskin dan berkekurangan. Semoga apa yang dilakukan oleh St.Bernardus dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

 

"Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan, yang dikumpulkan-Nya dari negeri-negeri, dari timur dan dari barat, dari utara dan dari selatan. Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka." (Mzm 107:2-5)

Jakarta, 20 Agustus 2010