Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 18 Juni 2010

20 Juni - Za.12: 10-11; 13:1; Gal 3: 26-29; Luk 9:18-24

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku"
Mg Biasa XII: Za.12: 10-11; 13:1; Gal 3: 26-29; Luk 9:18-24


"Jumlah perceraian di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Data terakhir hasil perhitungan Kementrian Agama RI mencatat terjadinya 250 ribu kasus perceraian di Indonesia pada tahun 2009. Angka ini setara dengan 10% dari jumlah pernikahan di tahun 2009 sebanyak 2,5 juta. Jumlah perceraian tersebut naik 50 ribu kasus dibanding tahun 2008 yang mencapai 200 ribu perceraian. "Jumlah perceraian di Indonesia terus menunjukkan peningkatan," tutur Direktur Jenderal Bimbingan Islam Kementerian Agama, Nasaruddin Umar di Jakarta, Kamis (25/2). Pada periode 5-10 tahun lalu, di Indonesia hanya terjadi 20 ribu hingga 50 ribu kasus perceraian per tahun. Fakta lain dari kasus perceraian yang tercatat pun menunjukkan adanya pergeseran bentuk perceraian. Sekitar 70 persen perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama adalah cerai gugat. "Data tersebut juga menunjukkan trend pergeseran kasus cerai di mana istri yang menggugat cerai," tutur Nasaruddin. Meningkatnya angka perceraian ini disebabkan oleh 14 faktor. Di antaranya cerai karena pilkada dan politik, perselingkuhan oleh istri yang angkanya naik drastis, kawin di bawah umur, dan kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan kasus cacat karena kecelakaan sepeda motor juga menjadi salah satu dari 14 faktor penyebab perceraian di Indonesia." (republika.co.id, 26/2/2010). Saya kutipkan berita di atas ini sebagai jalan masuk untuk merenungkan sabda Yesus dalam Warta Gembira hari ini.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya  hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya." (Luk 9:23-24)

Pada saat orang berjanji untuk mengakui jati dirinya yang baru, misalnya menjadi suami-isteri, imam, bruder atau suster, dengan saling berjanji atau berjanji kepada Tuhan dan pembesar, pada umumnya bangga dan mantap. Calon suami-isteri berjanji saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, imam berjanji untuk hidup tidak menikah dan hanya mau mengabdi Tuhan saja melalui GerejaNya, sedang para anggota Lembaga Hidup Bakti berkaul untuk hidup murni, miskin dan taat. Ketika mengakui atau menyatakan dengan kata-kata sungguh mantap, namun seiring dengan perjalanan waktu apa yang dijanjikan tersebut mengalami erosi, karena orang tidak bersedia untuk `menyangkal diri atau kehilangan nyawanya' .
Setia pada iman dan panggilan memang tidak mudah, sarat dengan godaan, tantangan, masalah dan hambatan. Senjata untuk menghadapi godaan, tantangan, masalah dan hambatan tidak lain adalah `menyangkal diri dan kehilangan nyawa', yang berarti hidup dan bertindak tidak mengikuti keinginan dan selera pribadi, melainkan mengikuti kehendak Ilahi, yang antara lain tercermin dalam aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing atau spiritualitas/charisma/visi pendiri. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita angkat dan kenangkan kembali perjanjian-perjanjian yang telah kita buat! Hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa ditatapkan pada perjanjian yang telah kita buat, entah janji baptis, perkawinan, imamat, membiara maupun  pekerja atau pelajar.

Kita semua mendambakan keselamatan atau kebahagiaan sejati selama di dunia ini maupun di akhirat nanti. Kami mengajak kita semua untuk saling membantu dan mengingatkan perihal penghayatan atau pelaksanaan janji masing-masing. Pada kesempatan ini kami juga mengingatkan kepada para pakar dalam ilmu atau pengetahuan apapun, hendaknya dengan rendah hati berusaha menghayati apa yang dipelajari dan dikuasainya secara intelektual. Jangan sampai terjadi; mengaku pakar komunikasi tetapi tak komunikatif, mengaku pakar pendidikan tak mampu mendidik, mengaku pakar budi pekerti tak bermoral, dst… Semoga para pekerja sungguh bekerja, para pelajar sungguh belajar, dst…
"Jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah." (Gal 3:29)

Bapa Abraham adalah bapa umat beriman, maka bagi umat beriman tidak ada perbedaan dalam penghayatan hidup sehari-hari, apalagi iman lebih dihayati daripada dibicarakan atau menjadi bahan diskusi. Keunggulan hidup beriman terletak pada penghayatan bukan wacana atau omongan. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua agar kita `memikul salib kita masing-masing setiap hari', artinya melakukan tugas pekerjaan atau kewajiban kita masing-masing setiap hari sebaik mungkin dan sampai tuntas, selesai atau sukses. Untuk itu kita memang harus siap sedia disalibkan, antara lain dengan mempersembahkan pikiran, tenaga, derap langkah seutuhnya pada tugas pekerjaan maupun kewajiban kita masing-masing, tidak menyeleweng atau berselingkuh.

"Kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah", demikian peringatan Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua umat beriman, keturunan Abraham.  Marilah kita ingat dan kenangkan bahwa bapa Abraham antara lain bertindak tanpa dasar pikiran yang kuat atau tak dapat dimengerti oleh akal sehat, melainkan bertindak atas dasar harapan, sesuatu yang tak kelihatan dan menjanjikan. Memang apa yang menjanjikan dan belum/tak kelihatan pada umumnya menggairahkan hidup dan bertindak seseorang, dengan kata lain orang yang bersangkutan sungguh memiliki dan menghayati keutamaan harapan dalam cara hidup dan cara bertindak. Berharap untuk menjadi kaya pada umumnya orang bekerja keras dan bergairah, berharap bertemu yang terkasih pada umumnya orang gembira dan bergairah, dst.., namun setelah menjadi kaya atau bertemu dengan yang terkasih dapat menjadi lain, mungkin lesu dan tak bergairah lagi.

Janji Allah tidak pernah mengecewakan dan ketika terlaksana tidak akan membuat kita lesu atau tak bergairah, yaitu keselamatan jiwa kita. Maka marilah kita persembahkan pikiran, tenaga dan langkah kita demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain hendaknya keselamatan jiwa menjadi barometer atau ukuran kesuksesan pelayanan, kerja atau pelaksanaan tugas dan kewajiban kita sendiri maupun bersama-sama. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita mengimani Yesus yang telah mempersembahkan hidupNya dengan wafat di kayu salib demi keselamatan jiwa kita semua, keselamatan seluruh dunia. Ia tidak memikirkan kepentingan pribadi, apalagi mengutamakan diri pribadi. Janji Allah adalah keselamatan jiwa atau hidup mulia selamanya di sorga, dan janji tersebut akan terwujud atau menjadi nyata jika kita siap sedia bekerja sama dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam hidup sehari-hari, senantiasa berusaha hidup suci dan berkenan pada Yang Ilahi.

"Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji…. sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.  Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku "
(Mzm 63:5-6.8-9)    .

Jakarta, 20 Juni 2010




19 Juni - 2Taw 24:17-25; Mat 6:24-34

"Hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian"

(2Taw 24:17-25; Mat 6:24-34)


"Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:24-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup, makanan dan pakaian rasanya dapat menjadi symbol hirarki nilai, yaitu: nilai moral, nilai hukum dan nilai sopan santun. Yang paling tinggi dan utama adalah nilai moral, perihal baik atau buruk, maka marilah kita senantiasa mengusahakan diri menjadi pribadi yang baik atau bermoral, orang yang memiliki kebiasan berbuat baik kepada sesamanya. Memang untuk masa kini menjadi pribadi baik atau berbuat baik akan menghadapi kesusahan atau penderitaan, antara lain dapat dicurigai atau dihambat. Jika kita baik dan melakukan apa yang baik, hendaknya tidak kuatir atau takut dalam menghadapi kesusahan atau penderitaan, karena entah penderitaan atau kesusahan merupakan jalan untuk memperdalam dan memperkuat apa yang baik di dalam diri kita. Asal kita baik dan senantiasa berbuat baik kepada orang lain, percayalah kita tak akan berkekurangan dalam hal makanan maupun pakaian, tentu saja tidak perlu yang mewah atau berfoya-foya. Dalam hal makanan dan minuman kami harapkan untuk menyantap makanan dan minuman yang sehat dan bergizi dalam rangka menjaga hidup kita tetap bugar dan segar. Marilah kita imani Allah yang senantiasa mendampingi dan membekali perjalanan hidup dan panggilan kita.

·   "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Ia pun meninggalkan kamu!" (2Taw 24:20), demikian kata Zakharia, yang penuh dengan Roh Allah, kepada rakyat. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita sebagai orang beriman juga sering disebut sebagai umat Allah, artinya umat milik Allah. Hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka selayaknya kita tidak pernah melupakan Allah di dalam hidup sehari-hari. Memang jika kita mendambakan hidup sejati pada masa kini maupun di akhirat nanti, kita hendaknya senantiasa melaksanakan kehendak Allah, setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan. Maka tak henti-hentinya kami mengingatkan pentingnya setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, entah itu janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji kepegawaian/pelajar, dst.. Sebagai yang telah dibaptis marilah kita senantiasa setia pada janji baptis, dimana kita pernah berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Mengabdi Tuhan secara konkret berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui saudara-saudari kita, maka marilah dengan rendah hati kita senantiasa berusaha membahagiakan orang lain dimanapun dan kapanpun, alias menjadi orang baik dan berbudi pekerti luhur. Kami juga berharap kepada kita semua untuk tidak takut dan tidak gentar meneladan Zakharia, yaitu mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang meninggalkan atau melupakan Tuhan untuk bertobat. Jika kita tidak mengingatkan saudara-saudari kita berarti kita mendukung atau menyetujui mereka.

 

"Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku, maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku." (Mzm 89:31-34)

 

Jakarta, 19 Juni 2010

     

  


Kamis, 17 Juni 2010

18 Juni - 2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23

"Di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada"

(2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23)

 

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Mat 6:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Perwujudan perhatian atau cintakasih yang utama hemat saya adalah 'pemborosan waktu dan tenaga' bagi yang diperhatikan atau dicintai. 'Pemborosan waktu dan tenaga' tersebut merupakan perwujudan apa yang ada di dalam hati seseorang. Apa yang menjadi perhatian utama kita setiap hari, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita? Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan memanggil kita semua untuk 'memperhatikan harta di sorga' alias nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa. Memang apa yang harus kita kerjakan atau lakukan setiap adalah hal-ihwal atau seluk-beluk duniawi, maka baiklah kita dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu  senantiasa berusaha untuk menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. "Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau segala sesuatu di dalam Tuhan", itulah motto atau pedoman hidup yang harus kita hayati setiap hari. Untuk menghayati motto atau pedoman ini antara lain kita menempatkan atau memfungsikan aneka macam jenis harta benda, pekerjaan, kesempatan dst.. sebagai sarana untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, maka sebagaimana dinasehatkan oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani: hendaknya ketika harta benda mengganggu dalam mengusahakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa disingkirkan, dihindari atau dibuang saja. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua untuk menjaga kesucian anggota-anggota ttubuh kita masing-masing, maka baiklah kita saling menjaga dan mengingatkan. Kami juga mengingatkan dan mengajak kita semua perihal pendidikan anak-anak: hendaknya anak-anak dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun guru/pendidik.

·   "Mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ." (2Raj 11:16), demikian berita akhir hidup Atalya, yang telah membunuh keturunan saja di istana raja.  Perhatiannya terarah untuk membunuh atau membinasakan orang lain, dan akhirnya menjadi 'senjata makan tuan', dimana ia sendiri menjadi korban perhatiannya. Apa yang dilakukan dan dialami oleh Atalya ini kiranya baik menjadi bahan refleksi atau permenungan kita semua, lebih-lebih bagi mereka yang masih suka atau sering menghabisi, membenci, melecehkan, memeras, menindas orang lain. Kepada mereka ini kami ingatkan bahwa pada suatu saat anda sendiri akan menjadi korban yang mengerikan jika anda tidak bertobat pada saat ini.  Ingatlah bahwa ketika anda membenci atau melecehkan orang lain berarti pada saat itu tambah musuh, meskipun  yang anda benci atau lecehkan tidak memusuhi anda. Hendaknya juga diingat dan disadari bahwa ketika kita membenci orang lain berarti memboroskan waktu dan tenaga tiada guna, dan untuk itu butuh energi atau tenaga besar. Saya memperoleh info dari beberapa orang perihal mereka yang suka membunuh dan merusak di negeri ini, bahwa mereka akhirnya meninggal dunia dengan tidak wajar; dan mungkin dalam bahasa rakyat berarti mereka kena 'hukum karma'. Atalya melakukan pembunuhan sebagai balas dendam atas anaknya yang telah dibunuh, dan memang balas dendamnya lebih besar dan mengerikan, begitulah orang yang telah gelap mata maupun hati. Atalya kiranya ingin menjadi raja dengan membunuh anak-anak raja, namun ada seorang anak raja yang selamat yaitu Yoyada, yang akhirnya menjadi raja yang berpihak pada rakyat dan Tuhan. Kami berharap kepada para pemimpin, raja, tokoh masyarakat untuk berpihak pada rakyat dan Tuhan: boroskan waktu dan tenaga anda demi kebahagiaan dan keselamatan rakyat.

 

"TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: "Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu." Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya."

(Mzm 132:11-14)

    

Jakarta, 18 Juni 2010