Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 04 Juni 2010

6 Juni - Kej 14:18-20; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17


"Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak."

HR TUBUH DAN DARAH KRISTUS: Kej 14:18-20; 1Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17


"Penghayatan Ekaristi dan sakramen pada umumnya, terutama merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang dipersatukan dengan Kristus, dan dengan sesama. Ekaristi berarti suatu pertemuan pribadi – dalam iman – dengan Kristus. St.Paulus menulis, "Bukankah piala ucapan syukur, yang di atasnya kita ucapkan syukur, berarti persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan berarti persekutuan dengan tubuh Kristus?" (1Kor 10:16). Ekaristi berarti 'persekutuan dengan Kristus'. Dan memang, kita 'dipanggil kepada persekutuan dengan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita'(1Kor 1: 9). Hal itu berarti pertama-tama 'persekutuan Roh Kudus'(2Kor 13:13), sebab kesatuan kesatuan dengan Kristus berarti 'persekutuan iman' (Flm 6). Persekutuan iman berarti persekutuan jemaat, sebab semua bersama-sama menghayati iman Gereja. Sakramen itu 'sakramen iman', dan Ekaristi sebagai pusat dan puncak semua sakramen merupakan perayaan iman bersama. Pusatnya bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang – karena iman – hadir dalam seluruh umat" (KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 412). Kutipan ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama dengan bacaan-bacaan dalam rangka merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus hari ini.

 

"Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak" (Luk 9:16)

 

Kutipan dari Injil Lukas di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam rangka menghayati imamat umum kaum beriman. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita memiliki panggilan imamat umum yang harus kita hayati di dalam hidup kita sehari-hari. Cirikhas atau fungsi seorang imam antara lain menjadi penyalur rahmat/berkat Allah kepada umat manusia dan doa/dambaan/kerinduan umat manusia kepada Allah, lebih-lebih dan terutama bagi umat yang miskin dan berkekurangan, lapar dan haus dalam berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Apa yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai kini adalah rahmat atau anugerah Allah, yang harus kita bagikan kepada orang banyak, siapapun yang kita jumpai dalam hidup kita sehari-hari, terutama yang miskin dan berkekurangan. Aneka rahmat atau anugerah Allah yang kita terima memang juga merupakan usaha kita dalam rangka 'menengadah ke langit'  alias buah kerja keras kita, tetapi pertama-tama dan terutama merupakan kemurahan hati Allah., maka selayaknya kita juga bermurah hati kepada saudara-saudari kita. Bermurah hati berarti menjual hati dengan harga murah meriah alias memperhatikan siapapun, tanpa pandang bulu, terutama dan pertama-tama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

Kami berharap semakin kaya, pandai, cerdas, terampil, tua, berpengalaman dst. (alias semakin 'berisi') juga semakin bersyukur dan berterima kasih alias rendah hati, sebagaimana dikatakan dalam pepatah " batang bulir padi yang berisi semakin menunduk, sedangkan yang tak berisi menengadah ke atas".  Bermurah hati dengan rendah hati sungguh merupakan tindakan atau perilaku yang terpuji, mulia dan mempesona. Kita semua kiranya memiliki pengalaman iman selama berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi, puncak iman dan ibadat Gereja, dimana kita semua mengalami kebersamaan hidup yang indah, duduk sama tinggi berdiri sama rendah, bersama-sama berdoa dan bernyanyi, saling menyampaikan damai sejahtera Allah dan sama-sama menerima Tubuh Kristus. Rasanya kemurahan hati dan kerendahan hati hidup dan  menjiwai kita semua selama berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi. Baiklah sebagaimana di akhir Perayaan Ekaristi kita menerima ajakan pengutusan , "Marilah pergi, kita diutus" , marilah dalam kepergian atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun kita bermurah hati, menyalurkan rahmat/berkat Allah kepada sesama dengan rendah hati.        

 

"Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang" (1Kor 11:26)

 

Perayaan Ekaristi adalah kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus, kenangan pemberian Diri Yesus kepada kita semua yang beriman kepadaNya, yang antara lain kita hayati dengan menerima Tubuh dan Darah Kristus, dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrir. Dengan menyantap Tubuh Kristus kita bersatu dan bersama dengan Yesus Kristus, dan dengan demikian dipanggil untuk 'memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang'.

 

'Memberitakan kematian Tuhan' berarti menyebarluaskan persembahan Diri Yesus di kayu salib, dan untuk itu kita sendiri memang harus meneladan Dia dalam persembahan diri total dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain kita dipanggil untuk bekerja keras dalam melakukan tugas atau menghayati panggilan apapun. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu"  (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Maka kami berharap kepada kita semua: hendaknya dengan kerja keras kita belajar atau bekerja:

 

1). Bagi siapapun yang sedang memiliki tugas belajar hendaknya sungguh belajar. Tujuan utama belajar adalah agar terampil belajar, menjadi pribadi yang senantiasa siap sedia untuk belajar, sehingga senang belajar atau mempelajari apapun, lebih-lebih atau terutama hal-hal yang terkait pada kesejahteraan umum atau kebahagiaan bersama. Dengan ini kami berseru kepada para peserta didik atau mahasiswa untuk mengusahakan dan memperdalam sikap belajar, sehingga terampil belajar; jauhkan budaya instant, yaitu belajar untuk memperoleh nilai akhir semester, tahun atau ujian, yang sering hanya dipersiapkan satu atau dua minggu saja, atau bahkan sehari. Memang agar terampil belajar anda harus memiliki keutamaan kerendahan hati, belajar tanpa rendah hati pasti gagal total.

 

2). Bagi siapapun yang sedang memiliki tugas bekerja kami harapkan bekerja keras dan sungguh-sungguh, sehingga terampil bekerja. Secara khusus kami berharap kepada para pekerja muda atau baru: hendaknya lebih mengutamakan agar terampil bekerja bukan jasa atau gaji. Dengan kata lain sikap mental belajar hendaknya menjiwai anda selama bekerja. Orang yang bersikap mental belajar selama bekerja pada umumnya senantiasa siap sedia untuk menerima tugas atau pekerjaan baru, meskipun tugas atau pekerjaan tersebut terasa asing atau baru sama sekali. Dengan kata lain hendaknya senantiasa siap sedia membaktikan atau memberikan diri pada aneka kesempatan dan kemungkinan, sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Usahakan untuk menjadi pribadi atau orang 'otodidak' (auto didaktos), orang yang terampil serta memiliki aneka macam pengetahuan dan ilmu dengan belajar sendiri melalui aneka pengalaman hidup maupun kerja. Bagikan keterampilan dan kecerdasan serta aneka kekayaan anda kepada orang lain yang sungguh membutuhkan, lebih-lebih dan terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

 

"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."  (Mzm 110:1-4)

 

Jakarta, 6 Juni 2010 


5 Juni - 2Tim 4:1-8; Mrk 12:38-44

"Janda ini memberi dari kekurangannya"

(2Tim 4:1-8; Mrk 12:38-44)

 

"Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Mrk 12:38-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Bonifasius, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya apa yang disabdakan Yesus bahwa "Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan" sungguh up to date dan nyata juga pada masa kini. Melayani mereka yang kaya dan berduit sungguh melelahkan dan penuh perhitungan, karena mereka begitu rewel dan menuntut, dan setelah menerima pelayanan pun sering lupa mengucapkan terima kasih, sebaliknya melayani mereka yang miskin dan berkekurangan enak adanya dan sungguh bahagia menerima ucapan terima kasih mereka. Ucapan terima kasih dari yang miskin dan berkekurangan bukan basa-basi dan sungguh keluar dari hati, bahkan saya berkali-kali mengalami hal konkret, misalnya: orang kaya itu memberi stipendium lebih kecil daripada yang miskin. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua bahwa berbagai jenis harta benda yang kita miliki dan kuasai pada saat ini adalah anugerah Allah, yang kita terima melalui mrreka yang telah berbuat baik kepada kita atau membantu kita, maka hendaknya juga difungsikan sesuai kehendak Allah. Kehendak Allah terhadap harta benda duniawi adalah demi kesejahteraan seluruh umat manusia, dan harta benda pada dasarnya bersifat sosial. Semakin memiliki banyak harta benda hendaknya semakin sosial, bersyukur dan berterima kasih -> mewujudkan syukur dan terima kasih dengan membantu mereka yang miskin dan berkekurangan. Memberi yang baik adalah memberi dari kekurangan kita, memberi dari kelimpahan berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain yang menerima pemberian kita sebagai tempat sampah dan dengan demikian melecehkan yang lain, seperti orang-orang Farisi yang melecehkan orang-orang miskin.

·   "Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat" (2Tim 4:5-6), demikian pesan Paulus kepada Timoteus.  Memberitakan Injil atau kabar baik serta menunaikan tugas pelayanan dengan baik pada masa kini tentu akan mengalami aneka macam bentuk penderitaan. Penderitaan yang lahir dari kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hendaknya sabar dalam penderitaan. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan dan masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Menghayati kesabaran pada masa kini sungguh penting sekali dan mendesak untuk disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan semakin merosotnya keutamaan kesabaran bagi banyak orang. Sadar atau tidak sadar sarana komunikasi seperti HP membuat kita kurang sabar, mengapa? Terbiasa dilayani segera itulah pengalaman berkomunikasi dengan HP alias tak pernah diitunda atau dikecewakan. Dengan kata lain yang bersangkutan senantiasa ingin didahulukan, dan dengan demikian pasti tidak sabar mengalami aneka derita yang dapat muncul setiap saat. Generasi muda kurang atau tidak sabar menghadapi rangsangan seks dan dengan mudah mengadakan hubungan seks diluar atau sebelum menikah. Pengalaman tersebut jelas akan mendorong orang semakin tidak sabar dalam kehidupan yang lain.

 

"Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja! Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib  Aku pun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel" (Mzm 71:16-17.22)

 

Jakarta, 5 Juni 2010


Kamis, 03 Juni 2010

4 Juni - 2Tim 3:10-17; Mrk 12:35-37

"Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat"

(2Tim 3:10-17; Mrk 12:35-37)

 

"Pada suatu kali ketika Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berkata: "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?" Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat" (Mrk 12:35-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di Bait Allah Yesus mengajar perihal DiriNya sebagai Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi Manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Ia menjelaskan bahwa DiriNya adalah pemenuhan janji Allah, sebagaimana pernah dijanjikan kepada tokoh-tokoh umat Allah perjanjian lama seperti Daud. Para ahli Taurat mengatakan bahwa Yesus, Mesias adalah anak Daud, sedangkan Daud sendiri dalam Roh Kudus menyatakan bahwa Dia adalah Tuannya. Suatu pengajaran yang memang sulit dimengerti dan hanya dalam dan oleh iman pengajaran tersebut dapat dimengerti dan diterima. Marilah kita tidak terjebak pada apa yang diajarkan Yesus tersebut, melainkan menempatkan diri sebagai 'orang banyak yang mendengarkan Dia dengan penuh minat'. Pengajaran macam itu atau yang sejenis dapat terjadi di dalam kotbah-kotbah pada ibadat/misa hari Minggu atau di sekolah-sekolah, dimana pengkotbah atau pengajar menyampaikan hal-hal baru dan sulit, berbelit-belit. Sebagai pendengar kita diharapkan mendengarkan dengan penuh minat dan rendah hati. Jika kita dengan penuh minat dan rendah hati mendengarkan, maka kami percaya kita dapat mengerti dan menerima aneka pengajaran baru yang sulit. Marilah kita perdalam dan kembangkan keutamaan 'mendengarkan' dalam hidup kita sehari-hari; ingat dan hayati bahwa indera pendengaran adalah indera yang pertama kali berfungsi dalam diri kita, sejak masih di dalam rahim ibu/bayi kita sudah dapat mendengarkan. Kita dengarkan ajaran atau kehendak Tuhan yang menjadi nyata dalam ciptaan-ciptaanNya di dunia ini, entah dalam binatang, tumbuh-tumbuhan/tanaman maupun manusia serta suasana atau iklim kehidupan.

·   "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2Tim 3:15-16). Sejak kecil kita dituntun, diajar, dididik dan diperbaiki dengan penuh cintakasih oleh orang-orang yang mengasihi kita, terutama orangtua atau ibu kita masing-masing. Kita diarahkan menuju ke kebenaran dan keselamatan sejati. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mengenangkan kembali aneka pengajaran, didikkan, tuntunan serta nasihat yang telah kita terima melalui orangtua kita masing-masing ketika kita masih kecil dan tinggal bersama dengan orangtua. Sebagai contoh saya pribadi senantiasa terkesan pada kata-kata orangtua saya ketika saya masih kecil, yang berkata "Barang katon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora katon" (= Yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan). Di balik kata-kata tersebut tersirat ajakan atau nasihat agar kami bekerja keras dan sungguh-sungguh dalam mengerjakan apapun yang dibebankan kepada kita. Kami percaya anda masing-masing tentu memiliki pengalaman yang sangat mengesan, entah berupa perilaku atau kata-kata, dari orangtua anda masing-masing, maka ingatlah dan kenangkan. Sebagai orang beriman atau beragama kiranya masing-masing dari kita juga terkesan pada salah satu ayat atau perikop dari Kitab Suci, sebagaimana terjadi dan dihayati oleh para santo atau santa, maka cecaplah ayat atau perikop yang mengesan tersebut. Kita mungkin juga terkesan pada tokoh-tokoh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, seperti para pahlawan, baiklah kita kenangkan apa yang mengesan dari mereka.  Kutipan surat Paulus kepada Timoteus di atas mengingatkan kita semua pentingnya sering membaca dan menerungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci kita masing-masing; maka jika memiliki kitab suci jangan hanya dijadikan hiasan belaka, melainkan bacalah, renungkan, cecaplah apa yang tertulis di dalam kitab suci tersebut.

 

"Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka. Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu" (Mzm 119:165-166.168)

 

Jakarta, 4 Juni 2010