Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 20 Maret 2010

21 Mar - Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11


Pagi-pagi benar, dimana kebanyakan orang pada umumnya masih tidur nyenyak, dikumandangkan adzan, suatu panggilan atau ajakan bagi umat Islam untuk berdoa. Mendengar suara adzan tersebut ada beberapa atau sementara orang merasa terganggu dan marah, serta mungkin sambil mengeluh "mengganggu orang tidur". Yang lain berdoa dan ada yang marah-marah juga, itulah yang terjadi. Bagi saya yang menarik adalah bahwa pagi-pagi terbangun langsung marah-marah, dan rasanya hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kisah, kutipan Injil Yohanes hari ini : "Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yoh 8:2-5)  Pagi-pagi  benar di depan bait Allah/tempat beribadat Yesus harus menghadapi serangan fajar dari musuh-musuhNya, suatu pertanyaan yang memang sulit dijawab. Jika Yesus menyetujui usul mereka berarti Yesus sama dengan mereka, sebaliknya jika Yesus melawan usul mereka berarti Ia tidak taat pada hukum Taurat, maka Yesus menjawab :"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh 8:7). Mendengarkan jawaban Yesus ini "pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua" (8:9b). Maka baiklah kita renungkan sabda atau jawaban Yesus tersebut.

 

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yoh 8:7)

 

Cukup menarik reaksi orang-orang Farisi setelah mendengarkan sabda ini, yaitu mereka meninggalkan Yesus mulai dari yang tertua, dengan kata lain semakin tua, tambah usia, tambah pengalaman dst.. berarti juga bertambah dosa-dosanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa kita adalah orang-orang berdosa, terutama yang lebih tua hendaknya semakin menyadari dosa-dosanya. Tentu saja kita tidak berhenti pada kesadaran saja, tetapi kemudian bertobat dan memperbaharui diri. Semakin tua, tambah usia, pandai, cerdas, kaya dst. hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh pepatah "tua-tua keladi/padi, makin tua dan berisi semakin menunduk'.

 

"Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kita tidak saling 'melemparkan batu', artinya saling melecehkan dan merendahkan. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa yang lebih muda berarti pada umumnya juga lebih suci, lebih-lebih anak-anak balita. Maka kami berharap kepada anak-anak kita beri penghormatan selayaknya dengan semangat pelayanan. Tanda bahwa kita, orangtua, sungguh melayani anak-anak antara lain anak-anak kelak tumbuh berkembang menjadi lebih baik atau bermutu daripada orangtuanya, demikian juga generasi tua terhadap generasi muda. Dengan ini kami angkat rumor tahun tujuh-puluhan dari para mahasiswa, yaitu "Kera Kentot" (=Kenakalan remaja terjadi karena kenakalan orangtua). Sebagai anggota Gereja, kami berharap kepada kita semua untuk mendukung dan meneladan para gembala kita, yang senantiasa berusaha dan menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina.

 

"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (Flp 3:13-14)

 

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Marilah kita bersama-sama mengarahkan diri kita ke masa depan untuk semakin menghayati panggilan Allah, dengan kata lain marilah berlomba dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997 hal 24). Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin, atasan dan pejabat dapat menjadi teladan dalam kegairahan menghayati kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan.

 

Selain mengarahkan diri ke depan, kita juga diajak untuk 'melupakan apa yang telah di belakangku'. Hal ini tidak berarti apa yang telah kita alami atau kita lalui musnah, lenyap, melainkan tetap ada serta menjadi bahan mawas diri agar kita dapat mengarahkan diri ke masa depan dengan tepat atau lebih memadai. Pengalaman akan menjadi pelajaran yang bermanfaat jika sungguh direfleksikan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua pentingnya kebiasaan berrefleksi di dalam hidup sehari-hari. Baiklah secara konkret kami mengajak anda sekalian untuk selama kurang lebih 15 menit setiap hari mawas diri, misalnya tiap menjelang istirahat malam. Tinggalkan aneka sarana-parasarana alat alat-alat media dan berdiamlah selama kurang lebih lima belas menit sambil memutar film kehidupan sejak pagi hari sampai saat ini menjelang istirahat malam. Lihat dan cermati cara hidup dan cara bertindak macam apa saja yang baik atau buruk, kecenderungan hati yang baik dan buruk, dst.., kemudian mohon kasih pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan serta membuat niat bahwa besok pagi akan memperbaiki apa yang salah dan buruk serta meningkatkan dan memperdalam apa yang benar dan baik.

 

"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku" (Yes 43:18-21). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini hendaknya menjadi pedoman atau pegangan jalan hidup kita dalam rangka memperbaiki apa yang salah dan buruh serta meningkatkan dan memperdalam apa yang baik dan benar, sehingga sebagai umat Allah kita "akan memberitakan kemasyhuran Tuhan", mewartakan kebaikan-kebaikan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita saling memuliakan dan berbuat baik, saling menghormati dan melayani, bukan saling melecehkan dan merendahkan.

 

"Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya"

 (Mzm 126:2-6) .

 

Jakarta, 21 Maret 2010  


Kamis, 18 Maret 2010

19 Mar - 2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"

HR ST YUSUF SUAMI SP MARIA: 2Sam 7:4-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22;  Mat 1:16.18-21.24a

 

"Setiap tahun terjadi 2,6 juta kasus aborsi di Indonesia atau setiap jamnya terdapat 300 wanita telah menggugurkan kandungannya dengan cara yang membahayakan jiwanya sendiri itu. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Siswanto Agus Wilopo, di Jakarta, Kamis, mengatakan, data aborsi tersebut meliputi kasus aborsi yang terjadi secara spontan maupun dengan induksi."Dari jumlah itu, 700 ribu diantaranya dilakukan oleh remaja atau perempuan berusia di bawah 20 tahun," kata Ketua Minat Kesehatan Ibu dan Anak/Reproduksi Program Pasca Sarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) itu." (www.antara.co.id/ tgl 23/11/06). 700 ribu per tatun berarti kurang lebih 2 per hari, yaitu 2 (dua) remaja atau perempuan menggugurkan kandungan. Remaja atau gadis yang menggugurkan kandungan-nya mungkin karena pergaulan bebas serta ditinggal lari oleh pacarnya, yang tidak bertanggungjawab. Bergitulah sikap mental beberapa remaja laki-laki atau pemuda, yang sering hanya cari enaknya dan tak bersedia bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukannya. Hari ini kita kenangkan St.Yusuf, 'suami SP Maria' atau tunangan SP Maria, yang mengetahui bahwa Maria mengandung, tergerak untuk meninggalkannya, tetapi ia juga tidak mau mencemarkan nama Maria di muka umum. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Yusuf, suami SP Maria, hari ini saya mengajak lebih-lebih para rekan laki-laki untuk berhati tulus dan tidak mau mencemarkan nama orang lain di muka umum.

 

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum" (Mat 1:19)

 

Tulus hati berarti memiliki hati yang mulus dan bersih alias suci, dan secara konkret untuk masa kini antara lain "tidak mencemarkan nama orang lain di muka umum". Pada masa kini kiranya cukup banyak orang yang suka mencemarkan nama baik orang lain yaitu dengan 'ngrumpi/ngrasani', yang pada umumnya membicarakan kekurangan, kelamahan dan dosa orang lain, dimana orang yang dijadikan bahan pembicaraan tidak ada di depannya. Orang yang berbuat demikian berarti melecehkan atau merendahkan orang lain alias melanggar atau menginjak-injak hak asasi manusia. Saya sering mendengar keluhan dari beberapa orang, entah suami atau isteri, yang merasa kurang puas dalam pelayanan kebutuhan pribadi di rumah atau di tempat tidur, dengan mudah menceriterakan kepada rekan kerjanya yang berlainan jenis perihal kekurangan atau kelemahan pasangan hidupnya. Dampaknya adalah kerenggangan hubungan suami-isteri yang dibumbui dengan perselingkuhan.

 

"Tidak mencemarkan nama baik orang lain di muka umum" antara lain berarti menceriterakan apa yang baik, indah, luhur dan mulia yang ada dalam diri sesamanya, dengan kata lain senantiasa 'berpikiran positif' (positive thinking). Kami percaya dalam diri kita masing-masing pasti lebih banyak apa yang baik, indah, luhur dan mulia daripada apa yang buruk, remeh, jorok dan kotor. Apa yang baik, luhur, indah dan mulia dalam diri kita antara lain keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh, yaitu :" kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Kami berharap kebiasaan berpikir positif ini sedini mungkin ditanamkan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja antara lain dengan teladan konkret dari orangtua/bapak ibu. Apa yang telah dibiasakan di dalam keluarga tersebut hendaknya kemudian diperdalam dan diteguhkan di dalam sekolah-sekolah dan masyarakat. Para pemimpin atau pejabat kami harapkan ketika mengunjungi atau mendatangi bawahannya tidak mencari-cari kelemahan dan kekurangan mereka agar nampak lebih unggul dan wibawa, tetapi lebih melihat apa yang baik, luhur, indah dan mulia. Biarkanlah pada waktunya mereka dengan rendah hati dan jujur menceriterakan sendiri kelemahan dan kekurangannya.

 

"Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman." (Rm 4:13)

Bapa Abraham adalah bapa dan teladan umat beriman, maka siapapun yang mengaku beriman hendaknya meneladan Bapa Abraham, sebagaimana dikatakan Paulus ini "Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Rm 4:18). Apa yang dimaksudkan dengan 'dasar untuk berharap'  adalah segala sesuatu yang masuk akal alias dapat difahami dengan akal budi atau logis, dapat dirasakan oleh panca indera kita. Apa yang disebut harapan memang tidak/belum kelihatan, belum dapat dinikmati atau disarakan, jika sudah kelihatan dan dapat dinikmati berarti bukan harapan. Janji merupakan harapan dan belum kelihatan, dan kita semua kiranya pernah berjanji, maka marilah kita mawas diri sejauh mana telah berusaha agar janji tersebut menjadi kenyataan atau terwujud.

 

Marilah berbagai macam janji yang pernah kita ikrarkan kita hayati berdasarkan iman, yang berarti kita mempersembahkan diri seutuhnya pada janji yang pernah kita ikrarkan beserta aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan janji. Kita hayati janji dengan semangat kasih, hukum utama dan pertama, maka marilah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh kita laksanakan aneka kewajiban dan tugas sebagai uraian aturan atau tatanan. Kepada para pelajar/siswa atau mahasiswa yang sedang belajar kami harapkan sungguh belajar, kepada rekan-rekan pegawai atau pekerja kami harapkan sungguh bekerja, melaksanakan tugas yang dibebankan, dst.. Secara  khusus kami mengingatkan dan mengajak anda semua yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri yang diikat dan didasari oleh cintakasih, ajaran utama dan pertama. Hendaknya suami-isteri setia saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehingga anak-anak yang dianugerahkan juga hidup saling mengasihi. Pengalaman hidup saling mengasihi di dalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan untuk dikembangkan dan diperdalam lebih lanjut di dalam masyarakat.

 

Selain berdasarkan iman, kita juga diharapkan hidup dan bertindak karena kebenaran. Apa yang disebut benar atau baik senantiasa berlaku secara umum atau universal. Salah satu kebenaran dari jati diri kita sebagai manusia adalah sebagai 'gambar atau citra Allah', maka selayaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi atau kelompok saja. Dengan kata lain kita dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan pedoman dan acuan kesejahteraan atau kebahagiaan umum (bonum commune). Para pemimpin atau pejabat kami dambakan dapat menjadi teladan dalam hidup dan bertindak atau memfungsikan jabatan atau kedudukannya demi kesejahteraan atau kebahagiaan umum atau rakyat.

 

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

 

Jakarta, 19 Maret 2010


Rabu, 17 Maret 2010

18 Mar - Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47

"Pekerjaan yang Kukerjakan sekarang itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa yang mengutus Aku".

(Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47)

 

"Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat,dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya." (Yoh 5:31-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa yang disebut 'saksi' pada umumnya menyampaikan kebenaran-kebenaran, menceriterakan apa yang dilihat atau dialami apa adanya, dengan jujur dan tanpa takut. Saksi-saksi di dalam proses pengadilan sungguh penting, meskipun apa yang dikatakan oleh saksi sering juga menimbulkan perbantahan atau ketegangan. Dalam warta gembira hari ini Yesus juga berbicara perihal saksi, dan yang dimaksudkan dengan kesaksian adalah pekerjaan, apa yang dikerjakan sesuai dengan perintah yang mengutus. Maka kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah di masa Prapaskah ini kita mawas diri sejauh mana kita telah menjadi saksi iman dalam hidup sehari-hari, dalam aneka kesibukan dan pelayanan kita. Dengan kata lain apakah cara hidup dan cara bertindak kita sesuai dengan kehendak Tuhan, apakah saya setia melaksanakan janji-janji yang pernah kita ikhrarkan, dst.. Ada pepatah "pohon dikenal melalui buahnya', dan memang kebanyakan orang lebih cenderung melihat dan memperhatikan buah daripada pohonnya, lebih memperhatikan penampilan daripada jati diri orangnya, dst… Maka marilah kita tampilkan atau hadirkan diri kita sebaik mungkin, sedemikian rupa sehingga memikat, mempesona dan menarik siapapun yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita. Dan tentu saja penampilan diri tersebut perlu diimbangi dengan kesucian hati, jiwa dan akal budi serta tubuh, sehingga penampilannya bukan sandiwara atau penipuan belaka. Kesaksian iman merupakan cara utama dan pertama dalam tugas panggilan untuk mewartakan Kabar Baik.

·    "Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. Segera juga mereka menyimpang dari jalan yang Kuperintahkan kepada mereka; mereka telah membuat anak lembu tuangan, dan kepadanya mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban" (Kel 32:7-8), demikian firman Tuhan kepada Musa. Dalam perjalanan menuju 'tanah terjanji', bangsa terpilih telah menyeleweng. Apa yang dialami bangsa terpilih ini kiranya juga terjadi dalam diri kita, dalam perjalanan mengarungi dan menghayati panggilan, melaksanakan tugas pekerjaan atau  pengutusan. Berbagai macam tantangan, hambatan dan masalah masa kini merupakan rayuan atau godaan untuk menyeleweng atau berselingkuh. Dengan jujur dan rendah hati marilah kita mengakui dan menghayati diri bahwa kita telah menyeleweng atau berselingkuh, artinya kurang atau tidak setia pada panggilan kita, namun demikian kita masih nampak setia pada panggilan. Maka baiklah kita saling mengingatkan dan mengakui dengan jujur perihal penyelewengan dan perselingkuhan: kepada yang diperingatkan hendaknya dengan rendah hati berterima kasih kepada yang mengingatkan, sebaliknya yang mengingatkan hendaknya dengan rendah hati juga memperlakukan yang diingatkan. Penyelewenagan yang rasanya banyak dilakukan adalah 'penyembahan atau pembaktian diri pada aneka macam sarana teknologi modern', seperti HP dan internet atau  harta benda dan uang. HP dan internet yang memang didukung oleh uang pada masa kini sungguh merupakan godaan atau rayuan untuk menyeleweng dan berselingkuh. Maka kami harapkan kita dapat mengendalikan diri dalam pemanfaatan HP maupun internet.

 

"Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir: perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau." (Mzm 106:19-22)

       

Jakarta, 18 Maret 2010