Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 19 Februari 2010

21 Feb - Mg Prapaskah I : Ul 26:4-10; Rm 10: 8-13; Luk 4:1-13

"Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis"

Mg Prapaskah I : Ul 26:4-10; Rm 10: 8-13; Luk 4:1-13

 

Padang gurun di daerah Timur Tengah sungguh luas: di siang hari panas terik dan di malam hari dingin, ada perbedaan suhu begitu tajam antara siang dan malam. Di padang gurun juga tidak ada pohon, tidak ada air. Sebatas mata memandang hanya melihat hamparan pasir dan debu di bawah dan di atas langit membentang luas bagaikan atap. Selama kurang lebih 40(empat puluh) hari Yesus berada di padang gurun macam itu untuk berpuasa. Sebagaimana dialami banyak orang  selama berpuasa pasti akan menghadapi aneka godaan atau rayuan untuk menggagalkan puasanya, demikian juga dialami oleh Yesus. Baiklah kita refleksikan bersama godaan setan terhadap Yesus, yang mungkin juga kita alami atau hadapi dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita. , sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini.

 

"Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti."(Luk 4:3)

 

Harta benda, uang, makanan dan minuman merupakan rahmat sekaligus godaan. Cukup banyak orang jatuh, kurang beriman, kurang setia pada panggilan dan tugas pengutusan karena harta benda, uang, makanan dan minuman.  Demi atau karena gila akan 'harta benda, uang, makanan dan minuman' orang melakukan korupsi, entah korupsi uang, waktu maupun tenaga. Untuk menjadi 'yang terpilih dan terkasih' orang membagi-bagikan harta benda atau uang, yang mungkin diperoleh melalui korupsi, kepada orang lain, misalnya dalam rangka pemilu, entah di tingkat daerah maupun pusat.  Dan  banyak orang pun dengan mudah taat dan setia kepada mereka yang suka memberi harta benda atau uang.

 

Harta benda atau uang memang dapat menjadi 'jalan ke sorga' atau 'jalan ke neraka', untuk semakin beriman dan suci atau semakin berdosa dan tak bermoral/jahat. Sebagai orang beriman kiranya kita mendambakan bahwa harta benda atau uang dapat menjadi 'jalan ke sorga' bagi kita, maka  baiklah kita memfungsikan atau memanfaatkan harta benda atau uang dengan benar, sesuai dengan tujuannya atau 'ad intentio dantis' (=maksud pemberi). Harta benda pada dasarnya bersifat sosial, maka semakin memiliki banyak harta benda atau uang berarti semakin sosial, semakin memiliki banyak sahabat atau saudara sejati, dan dengan demikian juga semakin bersahabat dengan Tuhan: cara hidup dan cara bertindaknya dijiwai oleh syukur dan terima kasih serta rendah hati. Dengan ini kami berharap kepada kita semua: janganlah 'gila harta atau uang', karena ketika tiada harta atau uang lagi, maka tinggal 'gila'nya alias anda akan menjadi gila.

 

"Manusia hidup bukan dari roti saja."(Luk 4:4), demikian tanggapan Yesus terhadap godaan setan. Ketika digodai setan perihal harta benda atau uang atau untuk menghindari jatuh ke semangat materialistis, marilah kit meneladan Yesus. Hendaknya kita tidak hanya mengandalkan hidup kita kepada harta benda, uang, makanan dan minuman, tetapi juga kepada sabda-sabda Tuhan. Dengan kata lain marilah memgfungsikan atau memanfaatkan harta benda, uang, makanan dan minuman sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan harta benda, uang, makanan dan minuman tersebut.       

 

"Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu."(Luk 4:6-7)

 

Orang kaya akan harta benda atau uang akan memiliki kecenderungan untuk disembah dan dipuji, alias gila kuasa atau kehormatan duniawi. Memang melalui atau dengan harta benda dan uang orang dapat menghendaki apapun demi kepuasan dan kenikmatan di dunia ini: beli ini dan itu sesuai selera pribadi, bahkan termasuk 'beli orang' alias pelacur. Cita-cita atau dambaan hatinya adalah 'seluruhnya itu akan menjadi milikku'.  Para pejabat tinggi atau pemimpin pada umumnya memiliki kecenderungan untuk selalu dihormati, dan menghayati kepempinannya dengan menguasai bukan melayani.

 

"Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Luk 4:8), demikian tanggapan Yesus atas godaan setan perihal kuasa dan kehormatan duniawi. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menyembah atau berbakti kepada Tuhan. Tanda bahwa kita sungguh menyembah atau berbakti kepada Tuhan antara lain kita hidup dan bertindak dengan semangat pelayanan, dan dengan demikian kita hidup saling melayani. Maka kami berharap kepada mereka yang menjadi pemimpin, pejabat tinggi atau atasan untuk hidup dan bertindak dengan semangat pelayanan. Hayatilah kedudukan dan jabatan anda dengan melayani sesama atau saudara-saudari kita. Tuhan hidup dan berkarya di dalam saudara-saudari kita, maka berbakti kepada Tuhan berarti juga membaktikan diri bagi saudara-saudari kita.   

 

"Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." (Luk 4:9-11)

Orang kaya akan harta benda dan uang serta berkedudukan akan dengan mudah untuk menjadi sombong. Kesombongan itulah sasaran godaan setan; ia menggoda kita semua untuk sombong. Orang sombong pada umumnya begitu percaya pada diri sendiri dan melecehkan atau merendahkan yang lain, dan dengan demikian juga kurang beriman atau percaya kepada Tuhan, Penyelenggaraan Ilahi. Ia merasa diri paling hebat, dan tanpa dia orang lain tidak dapat berbuat apa-apa, begitulah sikap mental orang sombong.

 

"Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Luk 4:12), demikian tanggapan Yesus atas godaan setan untuk menjadi sombong. Kebalikan dari sombong adalah rendah hati, dan orang yang rendah hati akan menghayati apa yang dikatakan oleh Paulus ini: "Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya" (Rm 10:12), dan dengan demikian hidup dan bertindak dengan penuh persaudaraan atau persahabatan sejati.  Kita sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, sama-sama manusia, sama-sama mendambakan hidup damai, bahagia dan sejahtera, maka dengan rendah hati kita sama-sama menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam.

Manusia diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan, maka mencobai dan melecehkan sesama manusia berarti mencoba dan melecehkan Tuhan. Orang sombong memang juga berarti menjadikan dirinya 'tuan' atas sesamanya, sebaliknya orang rendah hati akan menjadikan dirinya 'pelayan' bagi sesamanya.  Marilah kita saling rendah hati dan saling melayani, agar tidak jatuh ke kesombongan.

 

"TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga"

(Mzm 91:9-13).

 .

Jakarta, 21 Januari 2010

  


20 Feb - Yes 58:9b-14; Luk 5:27-32

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib tetapi orang sakit"

(Yes 58:9b-14; Luk 5:27-32)

 

"Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Luk 5:27-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika orang menderita sakit phisik, maka yang merasa sakit dan butuh obat adalah orang yang bersangkutan, namun ketika ada orang sakit jiwa atau sakit hati, maka yang merasa terganggu dan butuh obat adalah yang merasa sehat atau waras. Kebenarannya adalah bahwa yang sakit yang butuh obat, maka yang butuh obat berarti sakit. Dalam kasus orang sakit jiwa atau sakit hati yang berteriak butuh obat dan merasa ada penyakit adalah yang merasa waras, maka sebenarnya yang perlu diobati adalah yang merasa waras tersebut. Orang menjadi sakit jiwa atau sakit hati pada umumnya disebabkan oleh lingkungan hidup yang tidak sehat, dengan kata lain penyebab sakit jiwa atau sakit hati adalah lingkungan hidup bersama yang tidak sehat. Rasanya jika dicermati ada cukup banyak di antara kita yang sedang menderita sakit jiwa atau sakit hati (memang baru 5%, 10% atau 25% belum sampai 100% sakit jiwa atau sakit hati), maka yang butuh pengobatan sebenarnya ialah kita semua yang merasa sehat dan sering berteriak memintakan pengobatan bagi orang lain. Jika lingkungan hidup bersama baik dan sehat, maka tidak akan ada yang sakit jiwa atau sakit hati. Marilah kita mawas diri perihal lingkungan hidup kita masing-masing; kita sadari dan hayati bersama bahwa kita sedang menderita sakit serta butuh obat atau penyembuhan, entah sakit hati atau sakit jiwa. Kita sadari dan hayati kedosaan dan kekurangan kita, serta kemudian mohon penyembuhan. Keberanian untuk menyadari dan menghayati dosa, kelemahan dan kerapuhan diri sendiri merupaloan modal awal yang kuat untuk penyembuhan. Kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang berdosa dan dipanggil Tuhan identik dengan kesadaran dan penghayatan diri sebagai yang beriman. Mairilah dengan rendah hati kita saling membantu untuk penyadaran diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa serta siap sedia untuk dikuatkan dan diampuni.

·   "Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan"(Yes 58:9b-11).Kita semua kiranya mendambakan sebagai orang atau pribadi yang kuat serta tidak pernah mengecewakan orang lain. Salah satu cara untuk itu antara lain "tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah" alias menyalahkan dan melecehkan yang lain. Rasanya tidak banyak orang yang dengan sengaja berbuat salah atau melakukan kesalahan, dan yang banyak terjadi adalah ketidak mampuan atau keterbatasan sehingga cara hidup dan cara bertindak yang bersangkutan kurang memuaskan dan mengecewakan. Dengan kata lain mereka tidak bersalah, maka tidak pada tempat disalahkan. Mereka yang tidak mampu dan terbatas hendaknya dibimbing dengan rendah hati untuk mengatasi ketidak-mampuan dan keterbatasannya: yang tidak tahu diberi tahu, yang kurang ajar diberi ajaran/pengajaran, yang terbatas ditambahi, dst..  Marilah kita tidak saling mengecewakan atau menyalahkan, melainkan saling memuaskan dan membenarkan. Sebaliknya marilah kita sadari dan hayati juga keterbatasan dan ketidak-mampuan kita dalam berbagai hal, dan dengan rendah hati siap sedia untuk ditolong atau dibimbing orang lain dalam mengatasi keterbatasan dan ketidak-mampuan kita; dengan kata lain kita saling membantu dan membimbing, saling memuaskan satu sama lain.

 

"Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku."(Mzm 86:1-4)

Jakarta, 20 Februari 2010        


Kamis, 18 Februari 2010

19 feb - Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15

"Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa"

(Yes 58:1-9a; Mat 9:14-15)

 

"Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa."(Mat 9:14-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pesta perkawinan pada umumnya diselenggarakan dengan meriah dan penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Sang mempelai berpakaian sedemikian rupa sehingga mempesona dan menarik, para tamu undangan pun juga berpakaian begitu menarik dan mempesona. Pendek kata semuanya berusaha menghadirkan diri sesempurna mungkin, cemerlang dan bersih. Memang keindahan, kebersihan, keelokan bagian luar tersebut belum tentu mencerminkan apa yang ada di dalam hati masing-masing, dan mungkin setelah pesta selesai tidak saling menarik dan mempesona lagi. Sabda Yesus perihal puasa dengan perumpamaan 'mempelai' pada hari ini mengingatkan kita semua untuk dengan jujur mawas diri: apakah hati saya sungguh bersatu dengan Tuhan, Yang Ilahi, hati saya cemerlang, tanpa noda, tanpa cacat atau kerut apapun? Dengan jujur dan rendah hati kitanya kita semua menyadari dan mengakui bahwa kita memang tidak selalu bersama dan bersatu dengan Tuhan alias berbudi pekerti luhur atau bermoral baik, maka untuk itu kita masih butuh berpuasa. Sang Mempelai atau Tuhan tidak pernah diambil dari kita, melainkan kita lah yang telah menolak kehadiranNya dan tidak bersedia bersamaNya, meneladan cara hidup Yesus serta melaksanakan sabda-sabdaNya. Hari ini kebetulan hari Jum'at , yang secara  yuridis sebagai hari pantang (dan kiranya di antara kita juga ada yang menjadikannya hari puasa), maka baiklah pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Yesus di atas kita tanggapi dengan berpuasa dan berpantang. Kita mungkin juga masih bersikap mental orang Farisi, hidup sarat dengan sandiwara dan manipulasi.

·   "Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri"(Yes 58:6-7). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Memperbaiki cara hidup dan perilaku atau cara bertindak kita serta solider kepada mereka yang miskin dan  berkekurangan, itulah yang sebaiknya kita lakukan di masa Prapaskah ini. Sebaiknya kita tidak tergerak untuk 'membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk orang lain, atau memerdekakan orang yang teraniaya', melainkan pertama-tama dan terutama marilah kita melihat diri kita masing-masing, jangan-jangan saya sendiri masih terbelengguh, terikat oleh macam-amcam nafsu tak terakhir dan teraniaya oleh cara hidup dan cara bertindak kita yang kurang bermoral. Marilah kita usahakan kebebasan pribadi kita masing-masing, sehingga kita sungguh menjadi yang bebas merdeka secara  phisik maupun spiritual. Jika kita dalam keadaan bebas merdeka, maka kita dengan lepas bebas juga melakukan sesuatu bagi orang lain, antara lain solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Masih cukup banyak saudara-saudari kita yang mengalami kekurangan dalam hal makan dan minum, sehingga yang bersangkutan kurang gizi dan sakit-sakitan, maka kami berharap kita siap sedia dan berjiwa besar "memecah-mecah roti kita bagi orang yang lapar". Kita diingatkan juga agar "tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri", ajakan untuk membangun dan memperdalam persaudaraan sejati dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun, sehingga tidak ada lagi orang yang lapar, tak punya rumah, telanjang, miskin, dst..

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku" (Mzm 51:3-5)

 

Jakarta, 19 Februari 2010