Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 13 Februari 2010

15 Feb - Yak 1:1-11; Mrk 8:11-13

"Mengapa angkatan ini meminta tanda?"

(Yak 1:1-11; Mrk 8:11-13)

 

"Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda." Ia meninggalkan mereka; Ia naik pula ke perahu dan bertolak ke seberang" (Mrk 8:11-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi begitu menekankan aneka peraturan tertulis, logis dan kelihatan jelas serta kurang atau tidak mampu melihat sesuatu yang tak kelihatan dan melampaui akal sehat. Mereka tidak atau kurang percaya pada Penyelenggaran Ilahi dalam kehidupan di dunia ini. Mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia atau berasal dari sorga diutus untuk menyelamatkan dunia, maka mereka mencobai Yesus dengan "meminta dari padaNya suatu tanda dari sorga". Sesuatu yang kontradiktif: tidak percaya berusaha bertanya, maka Yesus tidak menanggapi pertanyaan mereka yang bermaksud jahat itu, untuk mencobaiNya. Sebagai orang beriman ada kemungkinan kita juga memperoleh pencobaan sebagaimana dialami oleh Yesus, misalnya ditanyai oleh mereka yang bersikap mental materialistis perihal Tuhan yang kita imani. Usaha macam itu pernah terjadi pada zaman Orde Lama, yang dilakukan oleh para anggota atau simpatisan PKI, antara lain ada guru Taman Kanak-Kanak (TK) yang mencobai murid-muridnya. "Anak-anak, Tuhan itu ada atau tidak?", demikian pertanyaan bu guru TK, dan tentu saja anak-anak tidak dapat menjawab. Maka bu guru berkata :"Anak-anak, sekarang tutup mata anda, dan berdoa 'Tuhan saya minta manisan'". Anak-anaknya melaksanakan perintah bu guru. "Buka mata", dan anak-anakpun membuka matanya, "Tuhan memberi manisan tidak?". "Tidaaak..", jawaban serentak anak-anak. "Sekarang tutup mata lagi, dan berkata 'Bu guru, saya minta manisan", perintah bu guru selanjutnya. Anak-anaknya melakukannya dan sementara itu bu guru membagi manisan pada anak-anak. "Buka mata", perintah bu guru, dan anak-anaknya membuka matanya dan dilihat ada manisan di depannya. "Siapa yang memberi manisan?", pertanyaan bu guru pada anak-anak. "Bu guruuuu..", jawaban anak-anak. "Jadi yang ada Tuhan atau bu guru..?", pertanyaan lebih lanjut bu guru.. "Bu guru.." , jawab anak-anak serentak. "Jadi Tuhan ada atau tidak?", pertanyaan bu guru. "Tidaaak", jawaban  anak-anak. Contoh pencobaan macam itu dalam bentuk lain kiranya juga masih terjadi pada masa kini, maka jika anda menerima pencobaan macam itu, diamkan saja, tak usah ditanggapi.

·   "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan" (Yak 1:2-3), demikian nasihat Yakobus. Pencobaan terhadap orang beriman pasti akan datang bertubi-tubi, tiada henti. Baiklah ketika menghadapi pencobaan kita tetap tegar, bergairah dan bergembira karena hal itu merupakan "ujian terhadap imanmu dan menghasilkan ketekunan". "Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus-menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27). Menghadapi pencobaan yang menghasilkan buah ketekunan ini hendaknya dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak, entah di dalam keluarga maupun sekolah, dengan dukungan teladan dari para orangtua maupun bapak-ibu guru. Berbagai sarana komunikasi dan hiburan modern masa kini, seperti TV, permainan elektronik, dll ..merupakan salah satu bentuk godaan atau pencobaan untuk mengesampingkan tugas utama atau pokok, entah itu belajar atau bekerja, maka kami berharap pada kita semua untuk tekun dalam melaksanakan tugas utama atau pokok, mengerjakan tugas pekerjaan selesai pada waktunya serta tidak menunda-nunda. Menunda-nunda tugas pekerjaan juga merupakan godaan atau pencobaan tersendiri. Salah satu cara untuk tahan terhadap aneka pencobaan antara lain keteraturan dalam hidup dan bekerja, yang dijiwai oleh kedisiplinan dan kejujuran. Pada masa kini godaan atau pencobaan yang sering juga kita hadapi adalah uang: mereka yang memiliki uang, entah banyak atau secukupnya, ada godaan untuk hidup dan bertindak seenaknya, mengikuti  selera pribadi, cari kenikmatan duniawi, yang akan berdampak pada kehancuran. Setia dalam pemfungsian uang sesuai dengan maksud pemberi ('intentio dantis') merupakan bentuk ketahanan iman juga.

 

"Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak"(Mzm 119:67-68.71-72)

           

Jakarta, 15 Februari 2010


Jumat, 12 Februari 2010

14 Feb - Yer 17:5-8; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah."

Mg Biasa VI : Yer 17:5-8; 1Kor 15:12.16-20; Luk 6:17.20-26


"Deso mowo coro, negoro mowo toto" (= desa memiliki adat istiadat, negara memiliki hukum), demikian kata pepatah Jawa. Pepatah tersebut menggambarkan bahwa hidup bersama dimanapun dan kapanpun terikat pada aturan, entah tertulis atau lisan. Di dalam kehidupan bersama masing-masing pribadi harus mentaati dan melaksanakan aturan yang telah disepakati dan dimaklumkan jika mendambakan kebahagiaan dan keselamatan. Aturan-aturan tersebut merupakan pedoman atau petunjuk untuk hidup bahagia, damai sejahtera dan selamat. Sebagai orang/kelompok yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga dipanggil untuk melaksanakan atau menghayati pedoman yang diajarkan oleh Yesus. Ada banyak ajaran dan kutipan sabdaNya hari ini, sabda bahagia, hemat saya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita, maka baiklah secara sederhana saya sampaikan refleksi atas sabda-sabda  Yesus hari ini:

 

·        "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20).

"Kemiskinan adalah benteng dan ibu hidup membiara", demikian kata St.Ignatius Loyola. Kata 'hidup membiara' kiranya juga dapat diganti dengan 'hidup beriman', maka semangat hidup miskin adalah benteng dan ibu hidup beriman. Sikap mental hidup miskin berarti lebih mengandalkan diri pada Allah atau Penyelenggaraan Ilahi daripada harta benda duniawi. Maka apa yang dikatakan dengan "Berbahagialah, hai kamu yang miskin" dalam sabda bahagia hari ini kiranya dapat diartikan sebagai ajakan untuk memfungsikan harta benda duniawi sedemikian rupa sebagai sarana untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, semakin suci, semakin dirajai atau dikuasai oleh Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindaknya. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua: marilah kita tinggalkan dan berantas semangat materialistis dalam kehidupan bersama kita, jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera sejati. .   

 

·        "Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa" (Luk 6:21).

Lapar dan menangis berarti sedang mengalami kekurangan sesuatu, dan pada umumnya mereka yang sedang lapar dan menangis senantiasa siap untuk dibantu. Marilah hal ini kita fahami secara spiritual, yang berarti mengalami kekurangan dalam ilmu-ilmu atau nilai-nilai kehidupan yang dibutuhkan untuk hidup bahagia dan damai sejahtera lahir batin. Dengan kata lain maksud sabda bahagia diatas adalah "Berbahagialah mereka yang dengan penuh pengorbanan dan perjuangan siap sedia untuk dibina dan dididik, ditumbuh-kembangkan terus menerus". Sebagai orang beriman menyadari dan menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa serta dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia. Sebagai manusia menyadari dan menghayati diri sebagai 'tanah liat yang senantiasa siap dibentuk' oleh orang lain melalui berbagai kesempatan dan kemungkinan (pendidikan/ sekolah, pergaulan, kerja, dst..). Lapar dan menangis tetap berbahagia berarti berbahagia dalam perjuangan dan pengorbanan.   

 

·        "Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi  ".(Luk 6:22-23)

Hidup sungguh beriman, baik, berbudi pekerti luhur sering merasa berada 'di ujung tanduk', dalam ancaman dan bahaya terus-menerus di tengah-tengah kehidupan bersama yang masih sarat dengan aneka bentuk kemerosotan moral  masa kini. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita dipanggil untuk meneladan Dia, yang awal kedatanganNya di dunia ini mengalami aneka penderitaan dan pada akhir tugas perutusanNya dalam rangka menyelamatkan dunia harus menderita dan wafat di kayu salib. "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya" (1Kor 15:22-23), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kesaksian Paulus ini kiranya senada dengan pepatah Jawa "Jer basuki mowo beyo" (= Untuk hidup bahagia, damai sejahtera, orang harus berjuang dan berkorban).

Kami berharap pada kita semua, umat beriman, untuk tidak takut dan malu menghayati imannya di mana saja dan kapan saja. Iman lebih berarti untuk dihayati daripada dibicarakan, maka penghayatan iman merupakan cara utama dan pertama dalam pewartaan kabar baik. Biarlah karena kesaksian iman kita dengan tetap setia pada iman meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, orang akan tertanya-tanya dalam dirinya "Ada kekuatan apa dalam diri mereka?". Sebagai orang yang telah dibaptis dan mengenakan nama baptis, kami ajak untuk hidup dan bertindak meneladan santo atau santa yang menjadi pelindung kita masing-masing, yang namanya kita abadikan dalam diri kita.

     

·         "Celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."(Luk 6 24-26) 

 

Ada pepatah "Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian".  Pepatah ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup penuh pengorbanan dan perjuangan demi kebahagiaan abadi. Sayang cukup banyak orang terbalik, bukan bersakit-sakit dahulu dan bersenang-senang kemudian, melainkan bersenang-senang dahulu dan sakit berlama-lama atau selama hidup. Hal ini nampak dalam aneka macam jenis penyakit yang muncul saat ini, misalnya: HIV, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, kurang gizi, dst.., yang menunjukkan bahwa orang hidup berfoya-foya seenaknya dan kemudian baru berhenti setelah muncul penyakit yang mengancam hidupnya.

 

Kami berharap kepada mereka yang gila akan kekayaan, makanan dan minuman maupun kehormatan duniawi untuk menyadari diri dan bertobat. Mereka yang bersikap mental materialistis dan duniawi kami harapkan menyadari diri bahwa hal itu akan membawa masa depan anda ke penderitaan berkepanjangan, dimana masa tua atau lansia akan menderita karena penyakit yang ada dalam dirinya maupun karena menyaksikan anak cucu yang juga sakit-sakitan. Sabda Yesus di atas cukup keras bagi mereka yang bersikap mental materialistis. Marilah kita renungkan seruan Yeremia ini : "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN" (Yer 17:5-7)   

 

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."(Mzm 1:1-3)

Jakarta, 14 Februari 2010.

"Gong Xi Fa Chai"

Happy 'Valentine day'


13 Feb - 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mrk 8:1-10

"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini"

(1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mrk 8:1-10)

 

"Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta."(Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Mengumpulkan harta benda/uang untuk tujuh turunan", demikian rumor atau motto yang sering saya dengar dalam berbagai percakapan. Sikap mental macam itu jelas berlawanan dengan sikap Yesus ketika melihat orang banyak mengikuti Dia dan tidak mempunyai makanan alias kelaparan.  "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.", demikian sabdaNya. Mujizat pun akhirnya dilakukan oleh Yesus : "tujuh roti" dibagi-bagikan kepada ribuan orang dan mereka dapat makan kenyang. Marilah kita sedikit bermistik: angka tujuh kiranya pada masa kini boleh menunjuk pada 'tujuh sakramen' (baptis, penguatan, komuni, tobat, minyak suci/orang sakit, perkawinan, imamat). Dengan peristiwa penggandaan roti tersebut di atas, kita diingatkan dan diajak untuk menghayati sakramen-sakramen, anugerah Allah, yang telah kita terima. Penghayatan atas sakramen-sakramen yang telah kita terima kiranya akan menggerakkan hati kita oleh belas kasihan kepada orang banyak yang membutuhkan pertolongan kita. Kita telah menerima aneka macam anugerah Allah dengan cuma-Cuma, temasuk sakramen-sakramen, maka marilah kita fungsikan segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai saat ini sebagai anugerah, sehingga kita hidup penuh syukur dan terima kasih, dan kemudian syukur dan terima kasih kita wujudkan secara konkret dengan membantu saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan.

·    "Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud.  Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda."(1Raj 12:26-27), demikian kata raja Yerobeam dalam hatinya.  Hati Yerobeam melihat sesuatu yang baik akan terjadi, yaitu bangsanya bertobat, "mempersembahkan korban di rumah Tuhan ..dan berbalik kepada tuan mereka". Sayang apa yang dilihat dalam hati ini tidak diikuti tetapi malahan dilawan, dimana Yerobeam  melakukan kebalikannya, yaitu melakukan sesuatu yang mendorong orang lain berbuat dosa. Kami berharap kita tidak meniru Yerobeam, melainkan marilah kita jujur terhadap hati kita. Dengan kata lain jika mata hati kita melihat sesuatu yang baik untuk dikerjakan hendaknya segera dikerjakan dan tidak ditunda-tunda; ketika mata hati kita melihat peristiwa baik hendaknya bersyukur dan memuji Tuhan, dst… Marilah kita jaga dan perdalam kesucian hati kita, agar kita dengan gembira dan cekatan berbaik hati kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan perhatian atau belas-kasihan. Untuk mengusahakan kesucian hati antara lain setia dalam hidup doa dan suka berkorban bagi sesama; orang siap sedia untuk disakiti hatinya daripada menyakiti hati orang lain, meneladan Hati Yesus, yang tertusuk oleh tombak dan dari HatiNya mengalir darah dan air segar, lambang sakramen-sakramen Gereja yang menyelamatkan. Semoga dari hati kita yang terluka atau disakiti oleh orang lain juga berbuahkan kehidupan dan kesegaran, dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun menghidupkan, menyegarkan atau menggairahkan orang lain. Marilah kita saling berbaik hati dengan sesama kita dimanapun dan kapanpun.

 

"Kami dan nenek moyang kami telah berbuat dosa, kami telah bersalah, telah berbuat fasik. Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setia-Mu"

(Mzm 106:6-7)

 

Jakarta, 13 Februari 2010