Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 15 Januari 2010

17 Jan - Yes 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11

"Dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya."

Mg Biasa II : Yes 62:1-5; 1Kor 12:4-11; Yoh 2:1-11

Pesta perkawinan pada umumnya dipersiapkan cukup lama, selain persiapan calon penganten yang bersangkutan kiranya juga persiapan aneka kebutuhan untuk pesta, seperti tempat pesta beserta dengan jamuan makan dan minumnya, tempat peresmian perkawinan dst.. Untuk itu pada umumnya orang juga mempersiapkan dana yang cukup besar, dengan harapan dapat menunjang segala kebutuhan pesta perkawinan, sehingga pesta perkawinan mengesan, menarik dan menggembirakan semua orang yang hadir dalam pesta tersebut. Jamuan makan dan minum pada umumnya juga memperoleh perhatian khusus, pengundang/pemilik pesta kiranya akan malu jika jamuan makan dan minum kurang mengesan bagi para tamu, apalagi jamuan makan dan minum kurang, sehingga tidak semua tamu dapat ikut jamuan makan dan minum. Itulah yang terjadi dalam peristiwa perkawinan di Kana, dimana Bunda Maria dan Yesus hadir, dan tiba-tiba Bunda Maria melihat bahwa anggur, sebagai jamuan minuman utama, nampak kurang; maka ia minta kepada Yesus untuk menolongnya. Akhirnya Yesus melakukan sesuatu, membuat mujizat air menjadi anggur yang paling lezat, sehingga tidak terjadi kekurangan lagi dan dengan demikian pemilik pesta tidak dipermalukan. Inilah mujizat pertama yang dilakukan oleh Yesus, mengubah air menjadi anggur, 'dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya'.

 

"Dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya" ( Yoh 2:11).

Mujizat air menjadi anggur lezat kiranya merupakan sesuatu yang menggemparkan dan mengagumkan banyak orang. Sebagai orang beriman kepada Yesus kita dipanggil untuk meneladan Bunda Maria yang peka akan kebutuhan orang lain maupun Yesus yang mengubah air menjadi anggur:

1)      Dalam kehidupan bersama sering kita hadapi saudara-saudari kita yang membutuhkan bantuan, entah secara pribadi atau organisatoris. Marilah kita buka mata dan telinga kita terhadap lingkungan hidup dimana kita berada/tinggal atau bekerja. Peristiwa senada atau seperti pesta perkawinan di Kana sering terjadi dalam kebersamaan hidup kita, dan kita ada di dalamnya, entah berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan atau sebagai penonton atau undangan. Kita hayati dan tingkatkan kepekaan sosial kita terhadap saudara-saudari dan sesama kita, lebih-lebih terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Sekiranya kita tak mungkin memberi bantuan, baiklah dengan rendah hati kita minta bantuan atau partisipasi orang lain, sebagaimana Bunda Maria minta kepada Yesus.

2)        Air ada dimana-mana, sedangkan anggur mungkin hanya ada di tempat-tempat tertentu saja, misalnya anggur misa hanya ada di gereja atau kapel, sedangkan anggur untuk diminum kiranya hanya dinikmati oleh orang-orang kaya atau segelintir orang saja. Marilah perubahan air menjadi anggur ini kita fahami dan hayati secara spiritual sosial. Air merupakan symbol kesederhanaan, hidup sehari-hari, yang biasa-biasa saja, sedangkan anggur merupakan symbol luar biasa atau istimewa, maka sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita dipanggil untuk menjadikan atau menghayati apa-apa yang nampak biasa sebagai yang istimewa atau luar biasa. Dengan kata lain marilah kita hayati apa yang kita lakukan atau kerjakan setiap hari dalam dan dengan iman, dimana Tuhan senantiasa hadir dan berkarya dalam dan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini. Untuk itu mungkin baik setiap pagi hari kita berdoa seperti ini: "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu" (Rat 3:22-23), dan tentu saja doa ini senantiasa menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita selanjutnya. Kami berharap tidak ada seorang pun di antara kita yang melecehkan atau merendahkan pekerjaan-pekerjaan sederhana sebagaimana dikerjakan oleh para buruh, pembantu rumah tangga, sopir, ibu rumah tangga dst.., karena apa yang mereka kerjakan hemat saya senantiasa menjadikan atau menghayati yang sederhana sebagai yang istimewa atau luar biasa. Kebenaran ini akan menjadi nyata dan dapat anda percayai ketika mereka tidak ada/tidak bekerja karena cuti atau bepergian untuk sementara waktu. Dalam dan melalui yang sederhana akan nampak yang indah, mulia, dan isitimewa, itulah yang harus kita usahakan untuk dihayati dan disebarluaskan.

 

"Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang" (1Kor 12:4-6).

    

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus di atas ini kiranya merupakan suatu ajakan atau peringatan bagi kita semua untuk saling menghargai jabatan, tugas dan pekerjaan kita masing-masing serta saling bekerjasama. Kesatuan dalam keragaman atau keragaman dalam kesatuan, bineka tunggal ika, itulah pedoman atau motto kehidupan yang harus kita hayati. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri dalam tiga ranah atau bidang kehidupan dimana kita ada di dalamnya, yaitu: keluarga, tempat kerja/tugas dan organisasi/paguyuban:

1)      Keluarga: Di dalam keluarga ada bapak, ibu, anak dan mungkin juga pembantu rumah tangga dan saudara-saudari yang lain. Masing-masing pribadi/anggota keluarga memiliki tugas dan fungsi masing-masing, yang berbeda satu sama lain. Kami berharap di dalam keluarga dapat dibiasakan hidup saling menghargai, melayani dan menghormati maupun bekerjasama. Pengalaman relasi antar anggota keluarga: suami dan isteri, orangtua dan anak-anak, kakak dan adik, anggota keluarga dan pekerja/pembantu rumah tangga yang lain merupakan modal atau kekuatan yang akan berpengaruh dan dapat diperdalam dalam kehidupan yang lebih luas seperti di tempat kerja/tugas maupun organisasi.    

2)      Tempat kerja/tugas: Di tempat kerja atau tugas antara lain ada direktur/manajer, kepala bagian, aneka macam pegawai seperti sopir, satpam, adminitrasi, operator tilpon, petugas kebersihan, dst.. , ada senior dan yunior, yang berpengalaman dan kurang berpengalaman, pegawai lama dan baru dst.. Sering terjadi bahwa mereka yang merasa di atas dan berpengalaman dengan mudah merendahkan atau melecehkan mereka yang dibawah dan kurang berpengalaman. "Tua-tua keladi makin tua makin  berisi dan menunduk", begitulah kata sebuah pepatah. Mereka yang diatas dan berpengalaman yang berarti lebih  berisi dan matang/dewasa hendaknya juga semakin rendah hati, memberi teladan cara hidup dan cara  bertindak rendah hati. Pada umumnya yang baru, kurang berpengalaman dan di bawah menghormati yang lama dan berpengalaman serta di atas, maka hendaknya hal itu juga ditanggapi dengan rendah hati. Kerjasama dan kegotorong-royongan dalam kerja dan tugas hendaknya diperdalam dan diteguhkan terus menerus.      

3)      Organisasi/paguyuban; Dalam organisasi atau paguyuban juga ada berbagai fungsi, seperti ketua, sekretaris, bendahara, pembantu umum, anggota, dst… Hendaknya fungsi sungguh dihayati sebagai fungsi, bukan gengsi atau kehormatan duniawi, artinya masing-masing menghayati fungsinya sebaik dan seoptimal mungkin tanpa irihati terhadap yang lain. Masing-masing hendaknya menghayati apa yang dikatakan oleh Yesaya ini: "Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu" (Yes 62:5). Kebersamaan dalam organisasi atau pauguyuban hendanya bagaikan kebersamaan pengantin baru, yang penuh keceriaan, harapan, cita-cata, dambaan dan kegirangan.  

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa" (Mzm 96:1-3)

 

Jakarta, 17 Januari 2010


Kamis, 14 Januari 2010

15 Jan - 1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12

"Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu?"

(1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12)

 

"Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?"Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."(Mrk 2:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dengan kehadiran dan karya pelayanan Yesus, yang mempengaruhi dan menarik banyak orang untuk mengikutiNya, maka para ahli Taurat merasa tersingkirkan, kurang dihormati oleh umat. Maka ketika Yesus meyembuhkan orang lumpuh dengan bersabda :"Hai, anakku dosamu sudah diampuni", mereka berpikiran jahat karena mereka juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia. Pengampunan yang menyembuhkan itulah yang terjadi, dan kita pun sering juga cemburu atau irihati ketika ada salah seorang saudara kita mendapat kasih pengampunan dari saudara-saudarinya atau yang berwajib. Dosa dan kasih pengampunan memang erat kaitannya dengan sakit dan penyembuhan. Entah sakit apapun hemat saya terjadi karena dosa, entah dosa yang bersangkutan atau dosa orang lain. Kita semua mendambahkan hidup sehat dan segar bugar, maka marilah kita hidup saling mengasihi dan mengampuni. Hidup saling mengasihi dan mengampuni pada masa kini kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya irihati, cemburu dan saling berpikiran jahat masih marak di sana-sini. Biarkanlah dengan hidup dan bertindak saling mengampuni, mereka yang melihat apa yang kita lakukan akan berkata:"Yang begini belum pernah kita lihat".

·   "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." (1Sam 8:22a), demikian firman Tuhan kepada Samuel. Samuel adalah seorang hakim dan menjadi tua; apa yang disebut hakim adalah utusan Allah yang bertugas untuk mendampingi dan menuntun bangsanya atau saudara-saudarinya ke jalan benar dan baik, demi keselamatan dan kesejahteraan mereka. Hakim juga boleh dikatakan sebagai pemimpin bangsa. Ketika Samuel menjadi tua, maka bangsa atau saudara-saudarinya menghendaki sebagai penggantinya hendaknya diangkat seorang raja. Yang disebut raja pada umumnya cenderung menguasai dan gila hormat, maka Samuel merasa permintaan bangsanya tersebut tidak benar, namun Tuhan berfirman kepadanya agar Samuel mengangkat seorang raja bagi mereka. Bagaimanapun seorang pemimpin diharapkan mendengarkan dambaan dan kerinduan yang dipimpin, bangsanya, itulah kiranya yang dikehendaki oleh Tuhan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin atau merasa menjadi pemimpin hendaknya mendengarkan dambaan dan kerinduan yang dipimpin. Dengan kata lain menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan mereka yang dipimpin. Kepemimpinan di dalam Gereja Katolik diharapkan demikian adanya, kepemimpinan partisipatif. Demikian juga kami berharap kepada mereka yang menjadi kepala keluarga atau pemimpin hidup bersama di tingkat apapun, kami dambakan menghayati kepemimpinan partisipatif. Jauhkan sikap mental diktator atau ingin menang sendiri. Tuhan hadir dan berkarya dimana-mana, terutama dalam diri manusia yang beriman, maka mendengarkan dambaan dan kerinduan umat beriman berarti mendengarkan kehendak Tuhan.

 

"Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah"

(Mzm 89:16-17)

 

Jakarta, 15 Januari 2010


Rabu, 13 Januari 2010

14 jan - 1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45

"Orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru"

(1Sam 4:1-11; Mrk 1:40-45)

 

"Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru" (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena belas kasihanNya terhadap mereka yang menderita sakit serta dengan cepat mampu menyembuhkan mereka yang sakit, maka banyak tergerak datang kepadaNya untuk mohon penyembuhan. Pengalaman ini kiranya baik menjadi refleksi atau bahan mawas diri bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan kesehatan, entah secara pribadi maupun organisatoris. Secara pribadi misalnya dokter yang praktek pelayanan di rumah, para dukun, sedangkan secara organisatoris adalah rumah sakit, poliklinik dst.. Pertanyaan yang baik kami angkat adalah "Apakah banyak orang datang minta pelayanan untuk disembuhkan?". Pelayanan anda akan menarik dan menggerakkan banyak orang untuk datang berobat atau mohon penyembuhan melalui pelayanan anda, jika mereka menerima pelayanan baik serta cepat sembuh dari penyakitnya. Untuk itu memang perlu diperhatikan sikap mental mereka yang terlibat dalam proses penyembuhan, misalnya para dokter, perawat maupun tenaga medis lainnya serta lingkungan hidup tempat pelayanan, entah rumah atau rumah sakit. Para dokter hendaknya dengan cermat mendiagnose penyakit pasien, sehingga proses penyembuhan, entah dengan memberi obat dll. dapat terlaksana dengan cepat dan tepat. Para pembantu dokter, entah perawat atau tenaga medis lainnya hendaknya dengan lembah lembut dan ramah dalam melayani pasien, sedangkan lingkungan rumah sakit atau tempat pasien dirawat hendaknya bersih, nyaman dan enak, sehingga pasien dan keluarganya merasa puas dan gembira. Ketepatan, keramahan dan lingkungan hidup yang baik rasanya akan memberi dukungan penyembuhan lebih cepat bagi pasien, dan dengan demikian banyak orang akan datang minta diobati atau disembuhkan dari penyakit mereka.

·   "Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar" (1 Sam  4:5). Bersama dengan Tuhan orang Israel dapat mengalahkan orang-orang Filistin. Baiklah pengalaman ini kita refleksikan, tentu bukan dalam perang dengan saudara-saudari kita atau orang lain, melainkan perang melawan kejahatan dan aneka macam godaan setan maupun aneka macam jenis penyakit yang marak di sana-sini, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Segala macam bentuk kejahatan maupun penyakit bersumber dari setan atau roh jahat, maka mereka yang berbuat jahat maupun menderita sakit hemat saya kurang atau tidak bersama dan bersatu dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Jika dalam hidup sehari-hari kita bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita akan senantiasa dalam keadaan sehat dan segar bugar serta mampu mengalahkan aneka kejahatan dan penyakit. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa berbuat baik atau berbudi pekerti luhur, dan secara konkret berarti taat dan melaksanakan melaksanakan atau menghayati janji yang pernah diikrarkan serta aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan janji tersebut. Sebagai orang yang telah dibaptis hendaknya setia pada janji baptis, sebagai suami-isteri hendaknya setia pada janji perkawinan, sebagai biarawan-biarawati hendaknya setia pada trikaul, dst.. Orang baik, berbudi pekerti luhur dan setia pada janji yang pernah diikrarkan pasti akan menggetarkan lingkungan, artinya mengingatkan sesama akan Tuhan yang telah menciptakan dan mendampingi mereka dalam perjalanan hidup maupun pelaksanaan aneka tugas pengutusan atau penghayatan panggilan. Kami ingatkan juga bagi kita semua hendaknya tidak melupakan hidup doa dalam kegiatan, kesibukan dan pelayanan kita sehar-hari.

 

"Engkau membuat kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala…Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami" (Mzm 44:14-15.24-25)

Jakarta, 14 Januari 2010