Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 18 Desember 2009

19 Des - Hak 13:2-7.24-25a; Luk 1:5-25

"Sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."

(Hak 13:2-7.24-25a; Luk 1:5-25)

 

"Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu: "Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya." Jawab malaikat itu kepadanya: "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada waktunya." Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu. Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang ke rumah. Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya: "Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang."(Luk 1:18-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup berkaluarga atau sebagai suami-isteri sampai tua tidak dianugerahi anak kiranya yang bersangkutan, lebih-lebih pihak isteri/perempuan akan merasa bersalah atau kurang terhormat. Begitulah kiranya yang dialami Zakharia dan Elisabet, dan lebih-lebih Elisabet, yang telah lanjut usianya. Namun mujizat terjadi dimana dalam usia tuanya mereka dianugerahi anak, Elisabet mengandung dan kemudian berkata :"Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang". Dengan mengandungnya Elisabet ini berarti tanda-tanda pemenuhan janji Allah akan segera terwujud, karena anak yang dikandungnya yang harus dinamai Yohanes "akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya".  Pengalaman Elisabet ini kiranya baik menjadi permenungan  bagi para orangtua: anak-anak yang dianugerahkan Tuhan hendaknya disyukuri dan didampingi sedemikian rupa sehingga kelak tumbuh berkembang "menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagiNya". Anak adalah anugerah Tuhan, maka hendaknya dibina dan dibesarkan sesuai dengan kehendak Tuhan. Cara hidup dan cara bertindak anak sejak kecil telah menjadi daya tarik dan daya pikat bagi banyak orang untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Kepada para suami isteri yang mungkin sudah cukup lama berkeluarga dan belum dianugerahi anak, kami ajak untuk tidak putus asa dan semakin banyak berdoa atau beribadat mohon kemurahan hati Tuhan.

·    "Memang engkau mandul, tidak beranak, tetapi engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Oleh sebab itu, peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan dan jangan makan sesuatu yang haram. Sebab engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki; kepalanya takkan kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibunya anak itu akan menjadi seorang nazir Allah dan dengan dia akan mulai penyelamatan orang Israel dari tangan orang Filistin." (hak 13:3-5), demikian berita gembira perihal kelahiran Simson. Simson akhirnya dilahirkan, menjadi  besar dan diberkati oleh Tuhan. Pesan malaikat kepada perempuan, ibu dari Simson, ini kiranya baik menjadi permenungan khususnya bagi para rekan perempuan atau ibu. "Peliharalah dirimu, jangan minum anggur atau minuman yang memabukkan", demikian antara  lain pesan malaikat. Kesehatan dan kebugaran perempuan atau ibu kiranya penting sekali dan sangat menentukan anak yang dikandung dan dilahirkannya. Maka dengan ini kami berharap kepada rekan-rekan perempuan, entah yang masih perawan alias belum menikah atau yang sudah berkeluarga, untuk sungguh memperhatikan kesehatan dan kebugaran dirinya. Hendaknya makan dan minum yang bergizi, cukup berolahraga maupun istirahat. Pengalaman menunjukkan ketika seorang perempuan kurang sehat dan makan bergizi, maka ketika mengandung dan melahirkan anak akan menemui kesulitan dan anak yang dilahirkan juga sakit-sakitan. Ingat bahwa anda rekan perempuan yang berkeluarga harus mengandung anaknya selama kurang lebih sembilan bulan, yang berarti selama kurang lebih sembilan bulan apa yang menjadi miliknya alias dirinya diturunkan atau diwariskan pada anaknya. Warisilah anak yang anda kandung dengan apa yang membuat anak tumbuh berkembang dan semakin diberkati oleh Tuhan.

 

"Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja!

Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib" (Mzm 71:16-17)

Jakarta, 19 Desember 2009

 

    


Kamis, 17 Desember 2009

18 Des - Yer 23:5-8; Mat 1:18-24

"Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"

(Yer 23:5-8; Mat 1:18-24)

 

"Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya," (Mat 1:18-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada hari ini ditampilkan salah satu tokoh yang berpartisipasi dalam karya penyelamatan yaitu Yusuf, yang dikenal sebagai "seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum". Maka mungkin baik pada hari ini secara khusus kami mengajak rekan-rekan pria, entah sudah berkeluarga atau belum berkeluarga, untuk mawas diri dengan bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isteri maupun rekan-rekan perempuan?". Tulus hati berarti memiliki hati yang bersih dan jernih alias tidak bernoda atau berdosa; dengan jujur kiranya masing-masing dari kita kurang tulus alias tidak putih atau tidak hitam, tetapi abu-abu. Maka karena kita 'abu-abu' alias kurang tulus atau suci, hendaknya tidak mencemarkan nama orang lain di muka umum, yaitu menceriterakan kekurangan dan kelemahan orang lain di antara orang banyak/di muka umum. Dalam berbagai kasus yang pernah saya dengar ada beberapa laki-laki/suami dengan mudah menceriterakan isterinya yang kurang melayani dengan baik kepada rekan kerjanya di kantor; jika diceriterakan kepada rekan laki-laki pasti akan menjadi bahan rekreasi murahan, sedangkan diceriterakan kepada rekan perempuan ada bahaya ke perselingkuhan. Marilah meneladan Yusuf, yang "berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan", berarti setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan atau melaksanakan dengan setia aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing.

·   "Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri" (yer 23:5). Yusuf adalah keturunan Daud, raja termashyur dalam zamannya. Maka kesanggupan Yusuf untuk mengambil Maria, yang sedang mengandung karena Roh.Kudus, Penyelamat Dunia, merupakan satu langkah pemenuhan janji Allah bahwa dari keturunan Daud akan lahir "raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran". Penyelamat Dunia, yang kita songsong kedatanganNya, adalah pembawa keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsa. Mungkin baiklah kita mawas diri: bagi yang berkeluarga kiranya juga mendambakan bahwa keturunannya akan melakukan keadilan dan kebenaran, maka tentu saja sebagai orangtua harus senantiasa melakukan keadilan dan kebenaran juga. Melakukan keadilan dan kebenaran antara lain hormat terhadap harkat martabat manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, dan dengan demikian kita saling menghormati satu sama lain. Dengan kata lain meneladan Yusuf yang tidak pernah mencemarkan nama baik orang lain di muka umum, melainkan senantiasa mewartakan atau menyebarluaskan apa yang baik dalam diri saudara-saudari kita atau sesama kita kepada orang lain. Kita juga dipanggil untuk memberantas ketidak-adilan dan kebohongan, yang masih marak dalam kehidupan bersama pada masa kini. Pengalaman hidup dengan adil dan benar didalam keluarga akan menjadi modal dan kekuatan untuk berbuat adil dan benar didalam masyarakat maupun untuk memberantas ketidak-adilan dan kebohongan. Orang yang senantiasa berbuat adil dan benar dengan demikian juga akan bertindak bijaksana, sehingga apa yang dilakukan senantiasa menyematkan dan membahagiakan dirinya sendiri maupun orang lain.

 

"Ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin. Terpujilah TUHAN yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri!  Dan terpujilah kiranya nama-Nya yang mulia selama-lamanya, dan kiranya kemuliaan-Nya memenuhi seluruh bumi. Amin, ya amin"

(Mzm 72:12-13.18-19)

Jakarta, 18 Desember 2009


Rabu, 16 Desember 2009

17 Des - Kej 49:2.8-10; Mat 1:1-17

"Inilah silsilah Yesus Kristus"

(Kej 49:2.8-10; Mat 1:1-17)


"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram, Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon, Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai, Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria, Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa, Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia, Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, Yosia memperanakkan Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya memperanakkan Sealtiel, Sealtiel memperanakkan Zerubabel, Zerubabel memperanakkan Abihud, Abihud memperanakkan Elyakim, Elyakim memperanakkan Azor, Azor memperanakkan Zadok, Zadok memperanakkan Akhim, Akhim memperanakkan Eliud, Eliud memperanakkan Eleazar, Eleazar memperanakkan Matan, Matan memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus."(Mat 1:1-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini kita memasuki Masa Khusus Adven, satu minggu sebelum Pesta Natal, kenangan akan kelahiran Penyelamat Dunia. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan silsilah Yesus sejak Abraham, bapa semua umat beriman. Maksud silsilah ini adalah bahwa Yesus, Penyelamat Dunia, Mesias, yang kita songsong kenangan kedatangan atau kelahiranNya, merupakan pemenuhan janji Allah kepada keturunan Abraham, umat beriman. Hal itu menunjukkan kesetiaan Allah akan janjiNya untuk menyelamatkan manusia, membebaskan manusia dari aneka macam penindasan atau dosa. Maka baiklah jika masng-masing dari kita mengenangkan kembali silsilah kita masing-masing serta mawas diri perihal kesetiaan kita. Oleh para pendahulu atau leluhur kita kiranya masing-masing dari kita didambakan menjadi pribadi yang dewasa, cerdas beriman, setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Maka kepada kita semua yang telah dibaptis marilah kita kenangkan janji baptis, kepada para suami-isteri kami ajak untuk mengenangkan janji perkawinan, kepada para biarawan-biarawati kami ajak mengenangkan trikaul, kepada para pegawai kami ajak untuk mengenangkan janji kepegawaian, kepada para pejabat kami ajak untuk mengenangkan sumpah jabatan, dst.. Semoga masing-masing dari kita dapat memenuhi harapan dan dambaan hidup bahagia, damai sejahera, aman tentram, adil-makmur, dst.. karena masing-masing dari kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan.

·   "Tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari Yehuda ataupun lambang pemerintahan dari antara kakinya, sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa" (Yes 49:10), demikian kata-kata penghiburan Yesaya kepada saudara-saudarinya. Kata-kata macam itu rasanya secara implisit ada di dalam hati orangtua atau pendahulu dan leluhur kita, yang dalam istilah Jawa masing-masing dari kita diharapkan "mikul dhuwur, mendhem jero" artinya "semua penderitaan, hinaan, usaha / ikhtiar dan sebagainya tidak pernah diceritakan/dinilai/dihitung-hitung kepada orang lain (mendem jero), dan berupaya mengangkat kehidupan keluarga, orang lain, bangsa, rakyat, umat manusia untuk bisa mentas / terangkat dalam kehidupan dunia dan akhirat (mikul duwur)". "Mengangkat kehidupan keluarga, orang lain, bangsa, rakyat, umat manusia untuk terlepas dari aneka penderitaan dan dosa" itulah panggilan dan tugas pengutusan kita semua. Tentu saja untuk  itu masing-masing dari kita telah bebas dari penderitaan dan dosa, sehingga dapat membebaskan orang lain. Hari-hari ini kemungkinan di paroki, tempat anda berdomisili, ada kesempatan untuk mengaku dosa, maka baiklah kesempatan tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya, agar pada saat pesta Natal nanti kita semua dalam keadaan damai sejati; kita dapat saling memberi salam damai Natal  dengan ceria.

 

"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja! …Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran! Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin."(Mzm 72:1.3-4b)

  

Jakarta, 17 Desember 2009