Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 04 Mei 2013

2Mei

"Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya"
(1Yoh 5:1-5; Mat 10:22-25a)

"Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang
bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka
menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain;
karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai
mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. Seorang murid
tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya.
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan
bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya" (Mat
10:22-25a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Atanasius, uskup dan pujangga Gereja, hari saya sampaikan
catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       "Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya", demikian kutipan
sabda Yesus. Kata-kata ini kiranya secara umum dalam dunia pendidikan
tidak berlaku, karena pada umumnya para murid (khususnya murid Sekolah
Dasar atau pelajar Sekolah Menengah) karena belajar terus pasti akan
lebih pandai, lebih cerdas, lebih bergelar dari pada gurunya. Namun
yang dimaksudkan dengan 'guru' di sini tidak lain adalah Yesus
sendiri. Ia begitu mengasihi umat manusia sampai harus menderita dan
wafat di kayu salib alias sungguh membaktikan Diri sepenuhnya kepada
tugas pengutusan tanpa syarat. Sedangkan kita para pengikut atau
muridNya pada umumnya jauh dari apa yang telah dihayati oleh Yesus.
Apalagi pada masa kini cukup banyak orang begitu egois dan bersikap
mental materialistis, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya justru
semakin menjauhi Tuhan (Yesus). Marilah kita saling membantu dalam
rangka menghayati rahmat kemuridan, dengan rendah hati dan kerja keras
berusaha hidup dan bertindak meneladan Yesus, Guru dan Tuhan kita.
Sebagai umat beriman hendaknya kita setia menghayati iman, dan memang
setia dalam penghayatan iman pada masa kini tak akan terlepas dari
aneka macam tantangan, masalah dan hambatan yang membuat kita harus
siap sedia untuk menderita dan berjuang. Hidup baik, bermoral dan
berbudi pekerti luhur pada masa kini memang harus siap sedia untuk
dibenci oleh orang-orang yang materialistis dan egois. Dalam dunia
pendidikan atau di sekolah-sekolah hidup jujur dan disiplin pun tak
terhindar dari kebencian dan ancaman, bahkan orang jujur bagaikan di
ujung tanduk, yang sewaktu-waktu tergusur.
•       "Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu
apabila kita mengasihi Allah serta melakukan
perintah-perintah-Nya.Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa
kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak
berat,sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah
kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita" (1Yoh 5:2-4). Iman
memang sungguh mampu mengalahkan aneka godaan atau rayuan setan,
ajakan untuk berbuat jahat atau berdosa. Sebagai manusia, kita semua
adalah ciptaan Allah, berasal dari Allah, maka tak mungkin kita akan
hidup bahagia dan damai sejahtera sejati tanpa Allah, dengan
meninggalkan peran Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
Demi kebahagiaan dan kesejahteraan kita marilah kita senantiasa taat
dan setia kepada perintah-perintah Allah. Perintah-perintahNya antara
lain menggejala dalam perintah atasan kita atau dalam aneka bentuk
tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas
pengutusan kita. Secara khusus kami mengingatkan segenap anggota
Gereja Katolik, bahwa ada pengamatan terjadi krisis ketaatan pada
Hirarki. Memang taat pada Hirarki sungguh membutuhkan kerendahan hati
serta kerelaan untuk berjuang dan berkorban. Taat pada Hirarki berarti
kita siap sedia untuk diutus, diperintah dan ditegor ketika kita hidup
tidak setia pada Hirarki. Pada umumnya umat Katolik memang begitu
mendengarkan dan berusaha mentaati dan melaksanakan arahan atau
nasihat pastoral dari gembalanya atau uskup, namun sungguh
memprihatinkan bahwa ketaatan dan kesetiaan tersebut tidak umur
panjang, dengan kata lain karena situasi dan kondisi yang berat
akhirnya orang cenderung hidup dan bertindak seenaknya sendiri. Kami
berharap kepada rekan-rekan pastor/imam dapat menjadi teladan dalam
ketaatan dan kesetiaan pada Hirarki, dan kemudian membina umat untuk
berusaha taat dan setia pada Hirarki. Segala usaha dan bentuk
kreativitas kegiatan gerejani atau pastoral hendaknya tetap dalam
rambu-rambu Hukum Gereja maupun pesan-pesan pastoral dari gembala
kita.
"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri
dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan
memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu
kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan
memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang" (Mzm
37:3-6)
Ign 2 Mei 2013

1Mei

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya"
(Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8)

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap
ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting
yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu
memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting
tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada
pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak
tinggal di dalam Aku.Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam
dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar
seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan
dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam
Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu
kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku
dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu
adalah murid-murid-Ku."(Yoh 15;1-8), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Pengajaran Yesus senantiasa sederhana dan terkait dengan pengalaman
hidup sehari-hari para pendengarNya, sehingga apa yang diajarkan
senantiasa dapat diterima dan difahami. Dalam Warta Gembira hari ini
Yesus mengingatkan kita semua akan pentingnya senantiasa bersatu dan
bersama dengan Allah, dengan perumpamaan 'pokok anggur dan
ranting-rantingnya'. Ranting menerima makanan dari pokok batang serta
kemudian meneruskannya ke daun-daun, sehingga pohon kelihatan segar
dengan daun-daun rimbun dan tentu saja menjanjikan buah-buah yang
berguna bagi manusia. Maka marilah kita sebagai umat beriman setia
pada iman kita artinya dalam situasi atau kondisi apapun kita
senantiasa tetap membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, setia
melaksanakan kehendak dan perintah Allah. Kesatuan kita dengan Allah
memang juga harus menjadi nyata atau terwujud dalam kesatuan dengan
saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita bekerja sama atau
saling membantu dalam melaksanakan kehendak atau perintah Allah,
sehingga hidup dan kerja kita akan menghasilkan buah melimpah:
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi
keselamatan jiwa umat manusia. Kesatuan kita antara lain diikat dengan
atau oleh spiritualitas atau visi beserta tata-tertib atau aturan
untuk memperlancar penghayatan spiritualitas atau visi, maka kami
berharap kita semua setia dan taat pada tata tertib atau aturan yang
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita
masing-masing. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang
beriman sungguh menghasilkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai
kehidupan.
•       "Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh
rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala
sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Tetapi beberapa
orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan
berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk
menuruti hukum Musa." Maka bersidanglah rasul-rasul dan
penatua-penatua untuk membicarakan soal itu." (Kis 15:4-6).
Perkembangan dan pertumbuhan jumlah umat yang percaya kepada Yesus
Kristus semakin meningkat serta menimbulkan masalah atau persoalan.
Cukup menarik apa yang dilakukan oleh para rasul, yaitu 'bersidang
atau bertemu bersama-sama untuk memecahkan persoalan yang muncul.
Dalam kehidupan sehari-hari kiranya kita juga menghadapi aneka masalah
atau persoalan, maka baiklah hendaknya jangan ditangani atau
diselesaikan sendiri masalah atau persoalan yang ada, melainkan
hendaknya dibicarakan bersama dengan rekan-rekan seiman atau sekerja
atau sekomunitas. Kami percaya dalam kehidupan bersama kita senantiasa
telah diselenggarakan pertemuan-pertemuan secara rutine. Semoga
pertemuan tersebut tidak sekedar basa-basi saja, melainkan sungguh
membicarakan dan menanggapi aneka masalah dan persoalan dalam hidup
atau kerja bersama. Kebiasaan pertemuan ini kami harapkan terjadi
dalam komunitas basis, seperti dalam keluarga atau komunitas
biara/pastoran. Pertemuan ini secara formal atau informal dapat
diselenggarakan. Secara formal berarti mengusahakan waktu khusus untuk
bercakap-cakap bersama, sedangkan secara informal antara lain
memanfaatkan perjumpaan yang telah ada, misalnya dalam makan bersama
atau rekreasi bersama. Marilah kita ingat dan cermati bahwa di tingkat
tinggi, dalam pemerintahan atau organisasi internasional, apa yang
disebut 'lobby' alias percakapan dari hati ke hati sungguh menentukan
kebijakan bersama. Perjumpaan atau percakapan dari hati ke hati memang
sungguh mengahasilkan buah yang baik dan berguna.
"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke
rumah TUHAN."Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai
Yerusalem.Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang
bersambung rapat" (Mzm 122:1-3)
Ign 1 Mei 2013. Note: bulan Mei adalah bulan Maria, marilah kita
tingkatkan devosi kepada SP Maria

30 april

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu."
(Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a)
"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan
kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh
dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah
mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku
datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan
bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar
dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum
hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak
banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini
datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya
dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala
sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku,"(Yoh 14:27-31a),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Semua orang mendambakan hidup damai sejahtera, namun ada aneka
pandangan perihal damai sejahtera. Seorang filsuf berkata "Welfare
state is warfare state" (= Negara sejahtera adalah Negara yang siap
sedia berperang). Perang di sini memang dapat difahami secara fisik
atau spiritual. Secara fisik sebagaimana dihayati oleh mayoritas atau
semua Negara masa kini, dimana Negara akan damai dan sejahtera ketika
memiliki jumlah pasukan tentara banyak dan handal serta aneka
persenjataan yang memadai atau canggih, maka anggaran belanja angkatan
bersenjata di semua Negara pada umumnya lebih besar dari anggaran
belanja sector lain. Sebagai orang beriman diharapkan menghayati tugas
berperang secara spiritual berarti melawan aneka godaan atau rayuan
setan. Maka Yesus bersabda: "  Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu,
dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia
kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu". Damai sejati yang
dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita adalah hidup dan bertindak
bersama dan bersatu dengan Tuhan dimana pun dan kapan pun. Tuhan Yesus
yang telah wafat dan bangkit hadir dimana saja dan kapan saja melalui
RohNya, antara lain melalui orang yang berkehendak baik. Kami percaya
bahwa mayoritas orang di dunia ini berkehendak baik, maka marilah kita
semua yang berkehendak baik bekerjasama mengusahakan hidup damai
sejahtera. Di Indonesia ini masa kini kiranya perlu gerakan dan usaha
bersama memberantas korupsi dan kebohongan, yang membuat bangsa tidak
damai dan tidak sejahtera. Korupsi merupakan tindakan pembusukan hidup
bersama, maka marilah kita berantas aneka bentuk korupsi dimana pun
dan kapan pun.
•       "Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati
mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa
untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak
sengsara.Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan
penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa,
mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah
sumber kepercayaan mereka." (Kis 14:22-23). "Untuk masuk ke dalam
Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara", inilah kiranya
yang baik untuk kita renungkan atau refleksikan. 'Masuk ke dalam
Kerajaan Allah' berarti hidup bahagia dan damai sejahtera, sehat fisik
maupun spiritual. "Jer basuki mowo beyo" = untuk hidup mulia dan damai
sejahtera orang harus siap sedia berjuang dan berkorban.
"Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit
dahulu, bersenang-senang kemudian". Dua pepatah ini kiranya senada
dengan ajaran atau pesan para rasul kepada kita semua, maka marilah
sebagai orang beriman kita siap sedia untuk berjuang dan berkorban
dalam penghayatan iman. Para koruptor adalah orang-orang yang tak rela
untuk berkorban dan berjuang, maka mereka menikmati hidup sejahtera
hanya sesaat saja dan akhirnya harus menderita sengsara untuk
selamanya. Negara kita ini didirikan oleh orang-orang yang sungguh
cerdas dan beriman dengan pengorbanan dan perjuangan, pertumpahan
darah, namun sungguh memprihatinkan bahwa  para penyelenggara Negara
kita tidak mewarisi nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para bapa
bangsa atau pendiri Negara. Kami berharap agar anak-anak dan generasi
muda dididik dan dibiasakan untuk berkorban dan berjuang demi mencapai
tujuan hidup mulia dan damai sejahtera. Maka hendaknya anak-anak di
dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibiasakan berfungsi
menyelamatkan lingkungan hidupnya sesuai dengan kemampuan dan umur
mereka. Dengan kata lain usahakan kaderisasi sedini mungkin bagi
anak-anak. Seorang kader sejati adalah fungsional menyelamatkan
lingkungan hidupnya. Maka jauhkan aneka bentuk pemanjaan dalam
pendampingan atau pendidikan anak-anak kita.
"Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan
orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan
kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk
memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan
semarak kerajaan-Mu" (Mzm 145:10-12)
Ign 30 April 2013