Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 26 April 2013

23 April

"Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?"

(Kis 11:19-26; Yoh 10:22-30)

"Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: "Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami." Yesus menjawab mereka: "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu." (Yoh 10:22-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semakin diragukan dan dipertanyakan oleh orang-orang Yahudi yang kurang percaya kepadaNya, Yesus semakin menyatakan Jati DiriNya, yang berarti bagi mereka yang tidak percaya akan semakin bimbang dan ragu-ragu, sedangkan yang percaya semakin mendalam dan handal kepercayaan mereka kepada Yesus, dan dengan demikian semakin bersatu dengan Yesus, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. "Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka megikuti Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya", demikian penyataan atau pewahyuan Diri Yesus. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk senantiasa mengusahakan kesatuan denganNya dan secara konkret menghayati kesatuan atau persaudaraan sejati dengan rekan-rekan seiman. Hidup dalam persaudaraan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka macam bentuk permusuhan masih marak di sana-sini. Marilah kita hilangkan aneka kebimbangan dan keraguan terhadap rekan-rekan seiman, karena bimbang dan ragu dengan rekan-rekan seiman hemat saya berarti juga bimbang dan ragu terhadap Tuhan Allah. Kami berharap persaudaraan sejati pertama-tama dan terutama dihayati dalam keluarga kita masing-masing, yang dibangun dan diperkembangkan dalam dan dengan cintakasih. Kita dekati dengan rendah hati rekan-rekan kita yang mau menjauhkan atau memisahkan diri, untuk diajak bersaudara dan bersahabat lagi.

·   "Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan, karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan" (Kis 11:23-24). Pengalaman Barnabas ini kiranya dapat menjadi inspirasi atau teladan bagi kita semua umat beriman. Marilah kita saling melihat kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada saudara-saudari kita, dengan kata lain melihat kesetiaan saudara-saudari kita terhadap kehendak Allah. Kami percaya lebih banyak saudara-saudari kita yang setia kepada kehendak Allah daripada yang tidak atau kurang setia kepada kehendak Allah. Memang untuk itu kita senantiasa diharapkan berpikir positif terhadap orang lain alias lebih melihat dan mengakui kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri saudara-saudari kita daripada kekurangan-kekurangan atau kejahatan-kejahatannya. Marilah kita saling membawa satu sama lain kepada Allah, Tuhan, agar kita semua semakin mendengarkan dan melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan. Ingatlah dan sadari bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati senantiasa berkarya dan hadir dalam diri saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lebih banyak saudara-saudari kita yang baik daripada yang jahat. Bukti kesetiaan orang kepada Tuhan antara lain menjadi nyata atau dapat kita saksikan dalam kesetiaannya pada panggilan dan tugas pengutusan. Sebagai contoh imam, bruder, suster atau suami-isteri yang lansia, bertahun-tahun lamanya menghayati panggilan dengan baik meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Masing-masing dari kita kiranya dapat belajar dari orangtua kita masing-masing yang setia sebagai suami-isteri sampai mati. Kepada generasi tua kami harapkan dengan besar hati dan kerelaan tinggi bersedia membagikan pengalaman kesetiaannya kepada generasi muda, dan kepada generasi muda kami harapkan dengan rendah hati meneladan kesetiaan generasi tua.

"Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya:TUHAN lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub.Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah." (Mzm 87:1-3)

Ign 23 April 2013


Fwd: mpg

Minggu Paskah IV/Panggilan: Kis 13:14.43-52; Why 7:9.14b-17; Yoh 10:27-30

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku"
Kehidupan terpanggil pada masa kini sungguh mengalami kemerosotan yang memprihatinkan. Panggilan hidup imamat, bruder atau suster mengalami kemerosotan baik dalam hal jumlah/ kwantitas maupun mutu/kwalitas, panggilan hidup berkeluarga mungkin dalam jumlah mengalami kenaikan namun dalam hal kwalitas atau mutu juga mengalami kemerosotan. Penghayatan atau pelaksanaan tugas, kewajiban atau pekerjaan pun juga mengalami kemerosotan. Hal itu semua kiranya disebabkan oleh kemerosotan hidup beriman yang marak dalam aneka bidang kehidupan masa kini. Perkembangan dan pertumbuhan sarana komunikasi seperti HP, IPad dan Internet telah menggerogoroti jati diri manusia sebagai makhluk social menjadi egois, yang seharusnya bersikap mental produktif menjadi konsumptif. Budaya instant tak terbendung begitu menguasai atau menjiwai banyak orang, sehingga ada kecenderungan banyak orang hidup dan bertindak lebih mengikuti instink biologis, meninggalkan akal sehat maupun budi pekerti atau moral. Keutamaan `mendengarkan' juga mengalami kemerosotan, dan orang lebih mengutamakan penglihatan, dan yang dilihat pun apa yang sesuai dengan keinginan atau selera pribadi. Maka pada Minggu Paskah IV atau Minggu Panggilan hari ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri sejauh mana kita memiliki kepekaan mendengarkan Panggilan Tuhan.

"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku" (Yoh 10:27-28)

Tak kenal maka tidak sayang, demikian kata sebuah pepatah, dan orang yang saling mengenal serta menyayangi pada umumnya agar tergerak untuk saling memberikan diri. Namun pertama-tama dan terutama saya mengingatkan para gembala (uskup dan rekan-rekan imam/pastor) untuk sungguh-sungguh memberikan atau membaktikan diri sepenuhnya kepada umat Allah yang harus dilayani. Ketika para gembala sungguh membaktikan diri kepada umat, maka kiranya umat dengan senang hati akan mendengarkan aneka saran, ajakan, pengajaran dari para gembala. Tentu saja agar dapat membaktikan diri sepenuhnya kepada umat serta pembaktian mengena atau tepat, pertama-tama para gembala diharapkan sungguh mendengarkan suka-duka umat Allah, dengan kata lain para gembala diharapkan dapat menjadi teladan dalam hal mendengarkan.

Saling mendengarkan antara para gembala dan domba, uskup/pastor dan umat Allah, hendaknya sungguh diperdalam dan diperkembangkan. Selanjutnya kami mengajak semuanya untuk memperdalam dan memperkembangkan dalam mendengarkan bisikan dan panggilan Allah, secara khusus kami mendambakan semoga generasi muda atau anak-anak sungguh mendengarkan bisikan dan panggilan Allah, siapa tahu di antara anda akhirnya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster. Kepada para orangtua kami harapkan ketika ada salah satu anaknya tergerak menjadi imam, bruder atau suster mendukungnya bukan mempersulit atau melarangnya. Imam. bruder atau suster berasal dari keluarga dan akhirnya melayani keluarga-keluarga juga.
Dalam rangka berpartisipasi dalam Minggu Panggilan hari ini kami mengajak pentingnya perhatian terhadap keluarga-keluarga, dengan kata lain pelayanan pastoral bagi keluarga-keluarga hendaknya mendapat perhatian yang memadai. Rekan-rekan imam, bruder dan suster kami ajak untuk mawas diri bahwa masing-masing dari kita sungguh berasal dari keluarga yang baik, sehingga orangtua dan saudara-saudari kita mendukung panggilan kita. Maka selanjutnya dalam pelayanan karya pastoral apapun kami mengajak rekan-rekan imam, bruder dan suster untuk memperhatikan keluarga-keluarga, yang berpartisipasi dalam pelayanan pastoral anda, maupun mereka yang mempercayakan anak-anaknya kepada kita, misalnya di sekolah-sekolah katolik. Pelayanan pastoral di sekolah-sekolah hendaknya tidak terbatas pada para peserta didik saja, tetapi juga orangtua atau keluarga para peserta didik. Ingatlah dan sadari bahwa orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, maka pengelola dan penyelenggara maupun pelaksana karya pendidikan atau sekolah kami harapkan bekerjasama dengan para orangtua peserta didik.

"Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi." (Kis 13;46-47)

Kutipan di atas ini adalah kata-kata Paulus dan Barnabas, rasul agung. Setelah bertobat dari Saulus menjadi Paulus, Paulus memang giat dan bekerja keras mewartakan firman Allah, pewartaannya lebih terarah kepada `bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah'. Maka dengan ini kami mengajak segenap umat yang percaya kepada Yesus Kristus pada umumnya dan secara khusus bagi mereka yang memiliki tugas sebagai pewarta, misalnya para pastor dan katekis/guru agama, untuk setia mewartakan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci serta promosi panggilan untuk menjadi imam/pastor maupun katekis. Cara atau metode promosi yang utama dan pertama-tama adalah kesaksian sebagai yang terpanggil. Untuk itu hendaknya bangga menjadi pastor/imam atau katekis.

Kepada segenap umat Allah yang percaya kepada Yesus Kristus kami ajak juga untuk mewartakan firman Allah kepada rekan hidup di masyarakat maupun di tempat kerja. Dan cara atau metode yang utama dan pertama-tama tidak lain juga kesaksian hidup. Maka jika anda sebagai pelajar atau mahasiswa kami harapkan bangsa sebagai pelajar atau mahasiswa dan dengan demikian belajar dengan giat dan sukses. Kepada mereka yang bekerja di bidang pekerjaan apapun kami harapkan menjadi pekerja yang baik dan sukses. Tanda kesuksesan sebagai pelajar berarti semakin terampil belajar dan sebagai pekerja berarti terampil sebagai pekerja. Kami juga mengingatkan panggilan anda masing-masing, entah sebagai suami-isteri, bruder atau suster, hendaknya dapat menjadi saksi atau teladan sebagai suami-isteri, bruder atau suster, sehingga generasi muda tak takut menanggapi panggilan berkeluarga maupun hidup membiara.
Kepada semuanya kami berharap untuk mendukung panggilan para imam/pastor, entah itu berupa dukungan hidup terpanggil para imam/pastor atau senantiasa mewartakan apa yang baik perihal hidup imam/pastor. Jika ada imam atau pastor yang kelihatan menyeleweng hendaknya ditegor dengan rendah hati atau didoakan. Seluruh umat Allah kami harapkan sering mendoakan para imam/pastor agar setia pada panggilannya. Kerasulan doa pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Marilah kita saling mendoakan satu sama lain agar kita semua setia pada panggilan kita masing-masing.

"Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mzm 100:2.3.5)
Ign 21 April 2013


Fwd: 20april

"PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal"

(Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69)

"Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:60-69), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para rasul pun ikut bingung dan gusar juga hatinya ketika Yesus mengajarkan bahwa 'roti yang Ia berikan adalah dagingNya'. Mereka bersungut-sungut, maju kena mundur kena, artinya tidak percaya dan kemudian meninggalkan Yesus kembali ke pekerjaan sebagai nelayan malu, sebaliknya maju terus mempercayai perkataanNya yang sulit difahami dan berat juga tidak mudah. Maka ketika Yesus bertanya kepada mereka perihal kebingungan mereka, Petrus akhirnya atas nama para rasul menjawab :"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkatan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah". Dengan kata lain para rasul 'menyerah' alias mengimaninya dengan mantap. Beriman memang berarti mempercayai pada sesuatu yang tidak jelas, yang tak mungkin difahami atau dimengerti secara tuntas dengan akal sehat. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, sejauh mana kita setia pada pengakuan ini. Dalam keragu-raguan atau kebingungan hendaknya kita mengarahkan diri pada Tuhan, pada Penyelenggaraan Ilahi. Ingatlah dan sadari bahwa dalam diri kita sendiri juga ada sesuatu yang tak dapat kita lihat dengan indera tubuh kita ini namun kita mempercayainya, demikian juga kita sering percaya begitu saja kepada orang lain, yaitu ketika disuguhi makanan tidak mempertanyakan melainkan langsung disantap. Dengan kata lain kita memiliki pengalaman mendalam perihal beriman, maka hendaknya pengalaman itu terus diperkembangkan dan diperdalam dalam hal-hal lain dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingat dan sadari kita juga begitu percaya akan apa yang dikatakan oleh para guru kita di sekolah-sekolah, maka jika kepada orang saja kita mudah percaya, hendaknya kita juga percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi dalam kehidupan ini.

·   "Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup" (Kis 9:40-41). Para murid yang telah mendengarkan perkataan atau pengajaran para rasul percaya bahwa para rasul, utusan Allah, dapat melakukan sesuatu yang luar biasa atau mujizat. Dalam kisah ini diceriterakan bahwa Petrus membangkitkan orang yang telah mati. Percaya kepada utusan Allah itulah yang membangkitkan. Mungkin kita belum mati secara fisik, melainkan mengalami kelesuan hati, jiwa atau pikiran, dan dengan demikian tidak atau kurang bergairah dalam hidup dan bekerja. Jika kita mengalami demikian marilah dengan rendah hati kita minta bantuan pada utusan-utusan Allah, dan sebagai orang Katolik dalam hal ini pada umumnya umat minta bantuan kepada para imam atau pastor. Kehadiran imam atau pastor di tengah-tengah umat pada umumnya menggairahkan dan membangkitkan hidup umat.  Maka dengan ini kami mengharapkan rekan-rekan imam atau pastor untuk dengan murah hati dan jiwa besar suka mendatangi atau mengunjungi umat. Misalnya setelah mempersembahkan Perayaan Ekaristi, entah didalam gereja/kapel atau lingkungan/stasi segera menyapa dan memberi salam kasih/sentuhan kasih kepada umat, sebagaimana juga sering dilakukan dengan memberi berkat pada anak-anak setelah penerimaan komuni kudus. Kepada anda sekalian kami ingatkan untuk saling memberi sentuhan dan sapaan kasih, agar kita semua hidup dengan bergairah, gembira dan dinamis.

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya."

 (Mzm 116:12-15)

Ign 20 April 2013