Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Minggu, 24 Maret 2013

22Maret

"Semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar."

(Yer 20:10-13; Yoh 10:31-42)

" Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?" Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah -- sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan --, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: "Yohanes memang tidak membuat satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar." Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya" (Yoh 10:31-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus semakin gencar untuk menyingkirkan Yesus, sementara itu kebanyakan orang lainnya semakin percaya. Yang tidak percaya kiranya para tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Yahudi karena ketakutan tersaing pengaruhnya kepada rakyat, sementara  itu rakyat semakin percaya kepadaNya, karena Ia memang sangat memperhatikan dan melayani kepentingan umum atau rakyat banyak. Hal ini kiranya mengingatkan kita semua akan apa yang terjadi dalam pemilu Gubernur DKI tahun lalu, dimana yang memperoleh dukungan elite partai dari mayoritas partai yang ada dikalahkan oleh yang memperoleh dukungan rakyat. Memang menjadi nyata bahwa para tokoh atau pemuka partai politik hanya mencari keuntungan pribadi atau partainya dan tidak atau kurang memperhatikan kepentingan rakyat banyak atau umum. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa memperhatikan kepentingan umum dalam hidup dan kerja kita kapan pun dan dimanapun, apapun fungsi dan jabatan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Allah hidup dan berkarya kapan saja dan dimana saja, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, maka jika kita sungguh beriman kepada Allah marilah kita saling berbakti dan melayani, dan marilah kita perhatikan Allah yang hidup dan berkarya dalam diri rakyat, yang mendambakan untuk disejahterakan.

·   "TUHAN menyertai aku seperti pahlawan yang gagah, sebab itu orang-orang yang mengejar aku akan tersandung jatuh dan mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka akan menjadi malu sekali, sebab mereka tidak berhasil, suatu noda yang selama-lamanya tidak terlupakan! Ya TUHAN semesta alam, yang menguji orang benar, yang melihat batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. Menyanyilah untuk TUHAN, pujilah TUHAN! Sebab ia telah melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang yang berbuat jahat" (Yer 20:11-13). Apa yang ada di dalam batin dan hati memang sangat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Apakah isi batin dan isi hati kita? Jangan sembunyikan atau tutup-tutupi isi hati dan batin kita, serapat atau sehebat apapun anda menyembunyikan atau menutupi Tuhan tahu semuanya, dan tentu saja orang-orang baik di dunia ini juga mengetahuinya. Kita semua diingatkan dan diajak untuk jujur dan terbuka atas apa yang ada dalam batin dan hati kita. Jika kita setia setiap hati mengadakan pemeriksaan batin atau hati kiranya kita tahu benar isi hati dan batin kita, antara lain berupa kecenderungan-kecenderungan untuk melakukan apa yang baik atau yang jahat. Maka hendaknya kita senantiasa mewujudkan kecenderungan untuk melakukan apa yang baik serta meninggalkan kecenderungan untuk melakukan apa yang jahat. Wujud tindakan atau perilaku baik yang diharapkan dari kita antara lain berpartisipasi dalam 'melepaskan nyawa orang miskin dari tangan orang-orang jahat'. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya senantiasa berpedoman pada 'keselamatan jiwa manusia', keselamatan jiwa menjadi barometer atau tolok ukur keberhasilan atau kesuksesan pelayanan dan kerja kita.

"Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku! Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku" (Mzm 18:2-4)

Ign 22 Maret 2013


Rabu, 20 Maret 2013

21 Maret

"UmurMu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?"

(Kej 17:3-9; Yoh 8:51-59)

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah" (Yoh 8:51-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masalah umur memang pada umumnya menjadi salah satu pedoman atau acuan hidup bersama, lebih-lebih terkait dengan hidup baru, entah itu berarti jalan hidup baru atau jabatan baru. Umur sering menjadi acuan kedewasaan pribadi seseorang, dan ada pandangan umum semakin tua berarti semakin dewasa, memang dewasa fisiknya, tetapi belum tentu dewasa kepribadian dan imannya. Orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus semakin terpojok dan semakin tidak mengimani bahwa Yesus adalah Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia. Maka ketika Yesus berkata kepada mereka bahwa Ia telah ada sebelum Abraham, mereka berkata "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham". Di dalam hidup beriman atau beragama yang penting bukan umur, melainkan kedalaman iman, entah dalam hal pengetahuan maupun penghayatan. Maka meskipun masih muda, jika yang bersangkutan menunjukkan kedewasaan dan kematangan iman, hemat saya yang bersangkutan lebih daripada orang yang umurnya lebih tua, dan selayaknya meskipun masih muda menjadi pemimpin dan panutan banyak orang, termasuk mereka yang sudah tua atau lansia. Kami berharap kepada anda sekalian agar dalam hidup dan kerja bersama lebih  mengutamakan pentingnya kedewasaan kepribadian, iman maupun moral, dan siapapun yang paling dewasa selayaknya dihormati dan menjadi panutan bagi semuanya, meskipun yang bersangkutan masih muda. Kepada anda yang masih muda hendaknya tidak menolak ketika dipilih dan ditunjuk untuk menjadi pemimpin atau berpartisipasi dalam kepemimpinan (maaf: saya pribadi dalam tahun kedua imamat saya diminta oleh atasan atau provinsial saya untuk menjadi Ekonom Keuskupan Agung Semarang, demikian juga baru saja ditahbiskan diangkat menjadi Direktur Perkumpulan Strada).

·   "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja." (Kej 17: 3-6). Kutipan ini adalah firman atau sabda Allah kepada Abraham untuk "menjadi bapa sejumlah besar bangsa". Ketika menerima firman ini Abraham belum memiliki anak, dan boleh dikatakan masih muda juga, namun dalam iman Abraham percaya akan firman tersebut, yang memang berarti Abraham senantiasa harus melaksanakan firman Allah dalam situasi dan kondisi apapun, kapan pun dan dimana pun. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk sungguh-sungguh menyadari dan menghayati imannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Kutipan ini kiranya juga mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa hendaknya yang menjadi pemimpin hidup dan kerja bersama adalah mereka yang dalam usia tengah, misalnya antara 35 s/d 50 tahun, sedangkan yang berusia kurang atau lebih dari usia itu hendaknya berfungsi sebagai konsultan, dengan rendah hati memberi masukan kepada yang bertugas sebagai pemimpin, apa-apa yang perlu untuk hidup dan kerja bersama. Sebaliknya yang menjadi pemimpin kami harapkan dengan rendah hati menerima aneka masukan, kritik, saran maupun tegoran dari para pembantunya atau anggotanya.

"Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya" (Mzm 105:4-7)

Ign 21 Maret 2013


19 Maret

HR ST YUSUF, suami SP Maria: 2Sam 74-5a.12-14a.16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

"Seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"

Pada masa kini orang yang sungguh tulus hati kiranya jarang sekali, apalagi kebanyakan orang pada umumnya suka ngrumpi atau ngrasani, yang berarti senantiasa melihat dan menceriterakan kekurangan dan kelemahan orang lain. Dalam dunia atau pelayanan pendidikan pun, entah itu dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun informal dalam keluarga dan masyarakat ada kecenderungan juga para pendidik atau pendamping lebih melihat kekurangan dan kelemahan peserta didik daripada kelebihan dan kebaikannya. Tak ketinggalan juga ada pamong atau pendamping seminaris di Seminari-Seminari yang juga lebih cenderung melihat kelemahan dan kekurangan para seminaris daripada kelebihan atau kebaikannya. Ada kecenderungan banyak orang untuk lebih berpikir nagatif daripada positif terhadap orang lain. Santo Yusuf, suami SP Maria yang kita kenangkan hari ini adalah 'seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum', dan kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua yang rangka hidup beragama atau beriman.

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam." (Mat 1:19)

Tulus hati berarti hatinya bersih alias suci, tidak pernah melakukan perbuatan dosa sekecil apapun, dan senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Allah, semakin tambah usia dan pengalaman berarti juga semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Mereka yang sungguh masih tulus hati pada umumnya ialah anak-anak balita, anak-anak berusia lima tahun kebawah. Maka jika kita berusaha untuk tetap tulus hati marilah kita hidup dan bertindak meneladan anak-anak balita.

Pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri untuk tidak saling mencemarkan nama baik pasangan hidupnya di muka umum sedikitpun, apalagi menceriterakan kekurangan dan kelemahan pasangan hidupnya kepada rekan kerja di kantor yang lain jenis, seperti sering terjadi seorang boss laki-laki ceritera kepada sekretaris pribadinya yang cantik perihal kelemahan dan kekurangan isterinya yang pada umumnya berlanjut dengan perselingkuhan. Hal senada juga dapat terjadi seorang isteri mengeluh perihal pasangannya kepada boss-nya di kantor, yang lain jenis. Jika antar suami-isteri dapat menjaga nama baik masing-masing di muka umum, maka anak-anaknya akan melakukan yang demikian juga.

Para pendidik atau guru kami harapkan berpartisipasi dalam karya Penciptaan Allah dalam melaksanakan tugas pengutusannya, yang berarti senantiasa berpikir positif terhadap para peserta didik atau murid-muridnya, memperkembangkan bakat, keterampilan alias apa-apa yang baik yang telah dimiliki oleh para peserta didik atau murid. Ketika apa yang baik atau kekuatan yang ada dalam diri para peserta didik/murid diperkembangkan dan diperdalam, maka segala kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri peserta didik/murid akan terhapus pelan-pelan dan akhirnya hilang sama sekali. Guru berarti 'digugu lan ditiru' (=ditaati dan diikuti), maka dengan ini kami berharap kepada para guru untuk memiliki hati yang  tulus, bersih dan suci, sehingga para murid atau peserta dididik tergerak untuk mengikutinya. Para guru atau pendidik kami harapkan menghayati motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" ( = keteladanan, pemberdayaan dan motivasi). 

Kepada rekan muda-mudi atau remaja kami harapkan juga menjaga diri untuk tetap memiliki ketulusan hati, hidup suci, lebih-lebih tidak tergoda dengan rayuan kenikmatan seksual yang merebak pada masa kini. Gara-gara HP atau Facebook di internet cukup banyak orang, entah dewasa, muda-mudi atau remaja jatuh ke pergaulan seks bebas, bahkan ada juga seorang pastor yang terjebak juga, sehingga harus mengundurkan diri dari imamatnya. Rekan-rekan putri atau perempuan kami harapkan juga menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak merangsang laki-laki hidung belang berpikiran jahat terhadap anda, dan ada kemungkinan anda terancam untuk diperkosanya. Dan tentu saja rekan-rekan laki-laki atau putra kami harapkan meneladan St.Yusuf, yang sungguh tulus hatinya, dengan kata lain tidak salah anda terpesona kepada gadis cantik, tetapi hendaknya tidak ada hasrat untuk memiliki atau menguasai, melainkan anda sendiri memang sungguh diteguhkan sebagai laki-laki wajar, dan dalam kewajaran juga memperlakukan lain jenis, yaitu memberi kebebasan kepada mereka.

"Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada. Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." (Rm 4:16-18)

Dalam ketulusan hati dan sesuai dengan kata malaikat, utusan Allah, akhirnya Yusuf menjadikan Maria sebagai isterinya, meskipun Maria telah mengandung (karena Roh Kudus). Ikatan keluarga, suami-isteri, Yusuf dan Maria karena dan oleh Roh Kudus. Hidup terpanggil, entah menjadi imam, bruder, suster maupun suami-isteri hemat saya juga karena Roh Kudus, maka orang akan setia pada panggilannya sampai mati jika yang bersangkutan setia pada dorongan dan kehendak Roh Kudus, bukan menurut keinginan atau selera pribadi.

Kehendak Roh Kudus antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik, dan ada kemungkinan menjadi nyata dalam tata tertib atau aturan, visi dan misi lembaga, misalnya berupa Konstitusi, Pedoman Hidup, Anggaran Dasar dst.. Marilah kita hadapi dan sikapi aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita dalam dan oleh iman. Kami percaya bahwa aneka tata tertib dan aturan bertujuan baik, dan siapapun yang melaksanakan dengan jujur, disiplin, setia dan tekun pasti akan memiliki ketulusan hati. Maka kami harap kita semua sungguh membaktikan diri sepenuhnya pada tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

Sebagai orang beriman kita diharapkan untuk meneladan bapa Abraham, bapa umat beriman, yang dikatakan oleh dalam kutipan surat di atas bahwa "sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap dan percaya". Berharap dan beriman memang mengandalkan diri pada sesuatu yang belum atau tidak jelas alias tak mungkin difahami oleh akal sehat sepenuhnya, namun sesuatu tersebut sungguh menggairahkan hidup, penghayatan panggilan dan pelaksanaan tugas pengutusan. Semoga kita semua memiliki harapan dan iman kuat, handal dan tangguh sehingga tabah dalam menghadapi aneka tantangan, godaan dan rayuan untuk berbuat jahat. Kepada para orangtua kami harapkan membina  dan mendidik anak-anaknya agar memiliki harapan dan iman yang kuat, handal dan mendalam.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

Ign 19 Maret 2013