Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 22 Januari 2013

23Jan


"Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat"
(Ibr 7:1-3.15-17; Mrk 3:1-6)
"Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!" Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja. Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia." (Mrk 3:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari Sabat dimaksudkan sebagai hari untuk memboroskan waktu dan tenaga bagi Allah alias mengarahkan sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, maka dalam tradisi bangsa Yahudi mereka tak bekerja, melainkan beristirahat atau berrekreasi bersama segenap anggota keluarga, dan rekreasi pun diselenggarakan tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan kata lain tujuan hari Sabat tidak lain adalah agar orang senantiasa lebih mengutamakan kehendak Allah atau perbuatan-perbuatan baik, yang menyelamatkan jiwa manusia. Maka ketika Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat dan diamat-amati oleh orang-orang Farisi guna mencari kesalahanNya, Ia berkata: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?". Berbuat baik dan menyelamatkan nyawa orang itulah yang menjadi tujuan utama aneka tata tertib atau aturan, maka ketika kita melihat bahwa tata tertib atau aturan menghambat usaha untuk berbuat baik dan menyelamatkan nyawa orang, hendaknya tidak takut 'melanggar' tata tertib atau aturan yang ada. Dengan kata lain segala bentuk pelanggaran aturan atau tata tertib dimungkinkan, asal tindakan yang dikerjakan lebih bernilai daripada hanya mentaati tata tertib atau aturan, meskipun untuk itu harus berhadapan dengan yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan 'pelanggarannya'. Nilai moral atau cintakasih mengatasi atau  mendasari semua aturan dan tata tertib, maka tindakan yang berdasarkan moral yang baik atau cintakasih dalam situasi dan kondisi apapun senantiasa baik adanya.
·   "Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanya pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya." (Ibr 7:1-3). "Raja kebenaran dan damai sejahtera..harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan" bagi kita semua kiranya tidak lain adalah jiwa kita, yang pada dasarnya mendambakan kebenaran dan damai sejahtera. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa mengusaha-kan jiwa kita bersih dan suci adanya, agar dambaan kebenaran dan damai sejahtera menjadi kenyataan alias terwujud. Hemat saya aneka tata tertib atau aturan juga memiliki tujuan agar mereka yang melaksanakannya senantiasa berjalan dalam kebenaran serta damai sejahtera. Maka marilah kita saling bertukar gagasan dan harapan perihal kebenaran dan damai sejahtera yang kita dambakan, agar dengan demikian kita dapat bekerja sama dan satu dalam langkah mengusahakan kebenaran dan damai sejahtera. Apa yang disebut benar dan damai sejahtera sejati senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, dan tidak berlaku secara individual maupun regional. Dalam hal ini kiranya secara mondial ada 'Hak-hak azasi manusia' , yang dicanangkan oleh PBB, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan hendaknya semua tata tertib dan aturan tidak bertentangan dengan 'Hak-hak azasi manusia'. Hak azasi manusia hendaknya menjiwai semua tata tertib dan aturan maupun dalam pelaksanaannya. Segala bentuk pelanggaran hak azasi manusia berarti melawan perintah atau kehendak Allah.
"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu."Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."(Mzm 110:1-4)
Ign 23 Januari 2013        

22Jan


"Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat"
(Ibr 6:10-20; Mrk 2:23-28)
" Pada suatu kali, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Maka kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?" Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu -- yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam -- dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?" Lalu kata Yesus kepada mereka: "Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat." (Mrk 2:23-28),demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Jika diperhatikan dan dicermati dalam hidup bersama: semakin banyak peraturan hemat saya berarti menunjukkan bahwa warganya semakin kurang bermoral atau berbudi pekerti luhur. Dari aneka pemberitaan melalui mass media dapat kita lihat bahwa kesibukan para anggota DPR RI lebih pada membuat atau merubah peraturan daripada melayani rakyat, yang telah memilihnya. Hal itu kiranya menunjukkan bahwa manusia untuk peraturan bukan peraturan untuk manusia. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman atau beragama, untuk menghayati bahwa manusia bukan untuk peraturan, melainkan peraturan untuk manusia. Memang hal ini tidak mudah kita hayati, mengingat dan memperhatikan bahwa di Indonesia ini kelihatan lebih mengedepankan manusia demi hukum atau peraturan alias mencari dan mengusahakan uang dengan memainkan aneka peraturan dan hukum, dimana manusia dibuat sibuk dan pusing oleh peraturan atau hukum.  Manusia demi atau untuk peraturan atau hukum berarti senantiasa mengedepankan cintakasih dalam menghadapi dan melaksanakan peraturan, karena peraturan dibuat dan diberlakukan demi dan untuk cintakasih. Dengan kata lain ketika dalam kenyataan peraturan melanggar atau melawan cintakasih, maka kita harus berani melawannya atau memperbaikinya segera. Hendaknya manusia, keselamatan jiwa manusia lebih diutamakan daripada peraturan atau hukum. Memang, meneladan Yesus, kita dapat melanggar peraturan ketika dalam segala hal kita setia dan taat pada peraturan yang berlaku, sehingga tahu persis dimana peraturan tersebut tidak memadai lagi dalam kenyataan. Pendek kata hendaknya cintakasih sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.
·   "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya." (Ibr 6:19-20). Kita diingatkan dan diajak untuk memiliki pengharapan akan Penyelenggaraan Ilahi/Allah, maka ketika harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan kehidupan hendaknya senantiasa tetap ceria dan gembira, karena dengan demikian akan mampu menghadapi atau mengatasinya. Memang apa yang kita harapkan untuk dapat menjadi kenyataan atau terwujud tergantung 100% dari anugerah atau Penyelenggaraan Ilahi dan 100% dari kerja keras atau usaha kita. Kiranya yang perlu kita perhatikan adalah usaha atau kerja keras kita, karena Penyelenggaraan Ilahi tak diragukan lagi, sebaliknya tidak semua dari kita siap sedia untuk bekerja keras. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina dalam hal pengharapan sejati: 100% tergantung dari Allah dan 100% dari usaha pribadi, sebagaimana juga pernah dicanangkan oleh Mgr.Soegijapranata SJ dengan mottonya 100% katolik dan 100% warganegara. Pengharapan akan Yang Ilahi sungguh menjadi 'sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita'. Tanda atau bukti bahwa kita berpengharapan kepada Yang Ilahi adalah secara rutin kita berkomunikasi denganNya alias berdoa. Maka hendaknya jangan melupakan doa harian yang menjadi sauh dan kekuatan langkah-langkah hidup kita sehari-hari. Kepada mereka yang sedang mengalami frustrasi atau putus asa kami ajak untuk mengarahkan diri kepada Yang Ilahi, secara khusus kepada yang beriman kepada Yesus Kristus, silahkan memandang Dia yang tergantung di kayu salib. Bukankah setiap hari kita membuat tanda salib, mengawali hari, pekerjaan atau tugas, maka semoga senantiasa hidup dan bertindak dengan semangat Yang tersalib.
"Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya." (Mzm 111:1-2.4-5)
Ign 22 Januari 2013

21Jan


"Ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
(1Kor 1;26-31; Mat 13:44-46)
 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu." (Mat 13:44-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Agnes, perawan dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Keperawanan bagi gadis atau perempuan merupakan hal yang sangat berharga atau bernilai, dan boleh dikatakan merupakan  harga dirinya, maka ketika ada gadis 'menjual keperawanan' dengan berhubung-an seks dengan seorang lelaki yang membayarnya sering disebut 'menjual diri'. Keperawanan seorang gadis akan dipersembahkan kepada orang yang paling dikasihi, yaitu orang yang menjadi suaminya, itulah yang benar dan baik. Namun sering dikatakan lebih baik lagi adalah gadis yang mempersembah-kan kepada Allah yang telah menciptakan dan mengasihinya, itulah yang dihayati atau terjadi pada diri St.Agnes, yang kita kenangkan pada hari ini. Ia adalah seorang gadis yang masih perawan, sangat cantik, mempesona dan menarik. Ia baru berumur 13 tahun ketika terjadi penganiaayaan terhadap orang-orang Kristus, para murid Yesus Kristus, dimana orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus dibunuh. Agnes pernah ditawari menikah dengan seorang pemuda tampan asal meninggalkan imannya, namun Agnes tetap teguh dalam iman, meskipun untuk itu ia harus mengalami penganiaayaan yang akhirnya harus mati karena imannya. Kita semua, sebagai orang beriman atau beragama, memiliki rahmat atau panggilan kemartiran, maka kami harapkan kita setia menghayati panggilan itu. Pertama-tama dan terutama, meneladan St.Agnes, kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan gadis, remaja putrid, untuk tidak menjual keperawanannya, melainkan persembahkan keperawanan anda kepada yang paling dikasihi, bukan sembarang orang asal membayar mahal. Kepada kita semua kami ajak untuk mengusahakan diri senantiasa hidup suci, artinya membaktikan diri sepenuhnya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari kepada Penyelenggaraan Ilahi, kehendak dan perintah Allah. Dengan kata lain kami mengajak kita semua untuk menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat atau hak-hak azasi manusia.  
·    "Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah" (1Kor 1:25-29). Kutipan ini kiranya sampai saat ini isinya masih up to date, antara lain dapat kita lihat dan cermati munculnya tokoh-tokoh Gereja, masyarakat, bangsa dan Negara, dari kalangan bawah. Contoh konkret dalam pemerintahan misalnya Jokowi, yang terplih sebagai Gubernur DKI, sedangkan di dalam Gereja Katolik kiranya yang terpilih menjadi imam maupun uskup pada umumnya juga berasal dari kalangan bawah, pedesaan. Kerajaan Allah memang berbeda dengan Kerajaan dunia, Kerajaan Allah lebih mengutamakan hati, sedangkan kerajaan dunia kiranya lebih mengutamakan pikiran dan kekayaan/harta benda. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang menyatakan atau mengakui diri sebagai Umat Allah untuk senantiasa mengutamakan hati dalam hidup dan bertindak setiap hari, yang kami maksudkan adalah mendengarkan suara hati yang bersih dan jernih, yang tidak lain adalah suara Allah sendiri yang menggema dalam lubuk hati kita yang terdalam. Ingat akan peribahasa "Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu". Kiranya hanya mereka yang memiliki hati yang tahu kedalaman hati seseorang. Hemat saya hanya orang yang hidup sungguh saling mengasihi akan mampu menduga kedalaman hati orang, atau orang-orang bijak, seperti guru-guru rohani atau spiritual yang sering didatangi oleh banyak orang guna minta nasihat dan pertolongan atau  pencerahan.
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mzm 23:1-4)
Ign 21 Januari 2013