Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 09 Januari 2013

9Jan


"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
(1Yoh 4:11-18; Mrk 6:45-52)
"Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak,sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil" (Mrk 6:45-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Masalah, tantangan dan hambatan akan ada dimana-mana dan kapan saja, apalagi ketika orang setia pada imannya pasti akan menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah, yang tidak lain merupakan 'gelombang kehidupan'. Kiranya kita hampir semuanya pernah berwisata ke pantai untuk menikmati keindahan laut beserta gelombangnya. Memang secara rational kita ketahui bahwa gelombang laut terjadi karena angin, dan angin terjadi karena perbedaan suhu di tempat yang berbeda. Namun secara iman kiranya kita semua akan mengimani bahwa gelombang laut terjadi karena Allah berkarya melalui ciptaan-ciptaanNya. Maka baiklah ketika kita menghadapi 'gelombang kehidupan' yang menakutkan, hendaknya kita temukan dan hayati Allah yang hidup dan berkarya dalam 'gelombang kehidupan' tersebut. Untuk itu hendaknya 'tenanglah, jangan takut' dalam menghadapi 'gelombang kehidupan'. Dalam ketenangan dan keheningan kita akan mampu menemukan dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya dalam 'gelombang kehidupan'. "Topo ing rame" (=bertapa didalam keramaian), demikian kata peribahasa Jawa, yang tidak lain adalah merupakan ajakan untuk tetap hening hati dalam aneka keramaian atau kegaduhan alias memiliki 'ati kang wening' (= hati yang bersih atau suci).  Anda yang pernah mengikuti Latihan Doa Sadhana, karya Anton de Mello SJ, pernah mengalami pelatihan dalam hal menemukan kehendak Allah atau karya Allah dalam keramaian atau kebisingan. Baiklah jika pernah menerima pelatihan tersebut, hendaknya terus-menerus diperkembang-kan dan diperdalam, sehingga sabda Yesus "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" menjadi nyata atau terwujud dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
·   "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini" (1Yoh 4:16-17). Allah telah 'mendunia' artinya hadir dan berkarya melalui ciptaan-ciptaanNya di dunia ini, maka selayaknya kita yang percaya kepada Allah juga hidup 'mendunia' atau 'membumi', berpartisipasi dalam aneka seluk beluk duniawi. Maka hendaknya aneka sarana-prasarana yang mendukung usaha kita berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi sungguh kondusif dalam usaha menghayati iman kita kepada Allah. Aneka sarana-prasarana atau harta benda diciptakan oleh Allah bekerjasama dengan manusia merupakan bantuan bagi manusia untuk mengejar tujuan manusia diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia. Maka segala sesuatu yang mengganggu atau menghalangi keberadaan kita 'dalam kasih Allah' hendaknya disingkirkan atau dimusnahkan. Aneka sarana-prasarana atau harta benda yang kita miliki dan kuasai hendaknya sungguh fungsional mendukung usaha kita menyelamatkan dunia seisinya. Maka hendaknya jangan bersikap mental 'hanya membeli', dimana harga dirinya ada pada kemampuan membeli aneka produk baru, melainkan pilihlah dan pilahlah serta kemudian belilah apa-apa yang sungguh membantu kita untuk semakin beriman, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dengan demikian kita boleh dikatakan "mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman", alias sewaktu-waktu kita siap sedia dipanggil Allah atau meninggal dunia.
"Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong;ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin" (Mzm 72:10-13)
Ign 9 Januari 2013

8Jan


"Kamu harus memberi mereka makan!"
(1Yoh 4:7-10; Mrk 6:34-44)
"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini." Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?" Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki" (Mrk 6:34-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kehadiran dan pelayanan Yesus, Penyelamat Dunia, semakin menarik dan memikat serta mempesona banyak orang, sehingga banyak orang tergerak untuk mengikutiNya serta mendengarkan pengajaran-Nya. Entah karena ketertarikan mereka pada Yesus atau karena kemiskinan mereka, tak ada satu pun dari mereka yang membawa bekal makanan untuk jaga-jaga kalau kelaparan. Kiranya hal itu tidak akan terjadi pada masa kini, dimana ketika ada perjumpaan banyak orang pada umumnya orang membawa bekal secukupnya atau yang mengundang menyediakan konsumsi secukupnya. Orang-orang yang mendengarkan pewartaan atau pengajaran Yesus memang kurang memperoleh perhatian dari mereka yang berwenang, maka Yesus pun tergerak memperhatikan mereka dengan memberi ajaran atau pengetahuan dan ketika mereka kelihatan kelaparan dan kelelahan Yesus pun tergerak untuk memberi makanan. Mujizat pun terjadi, karena tiada tersedia makanan untuk sekian banyak orang, maka Yesus mengadakan mujizat dengan penggandaan roti. Sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah kita perhatikan saudara-saudari kita yang mengalami kekurangan dalam hal makanan dan minuman di lingkungan hidup atau masyarakat kita tanpa pandang bulu. Dengan kata lain marilah kita tingkatkan jiwa berbagi kepada saudara-saudari kita, kita kembangkan dan perdalam semangat solidaritas dan keberpihakan bagi mereka yang miskin dan berkekurangn dalam kehidupan beriman atau beragama kita.
·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1Yoh 4:7-8). Kita semua sebagai manusia adalah 'buah kasih' dari orangtua yang saling mengasihi sebagai wujud kerjasama dengan Allah dalam karya penciptaan manusia atau penghayatan kasih Allah. Dengan kata lain kita semua adalah anugerah Allah, dan kiranya para orangtua yang sungguh beriman pasti menghayati bahwa anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka adalah anugerah Allah, dan kita semua pernah menjadi anak. Jika kita tidak hidup dan bertindak saling mengasihi berarti kita mengingkari diri kita, dan juga tidak beriman kepada Allah. Allah adalah kasih, maka jika kita percaya atau beriman kepada Allah marilah kita senantiasa hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain. Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya maupun dalam aneka karya usaha ciptaanNya sebagai wujud partisipasi dalam karya penciptaan. Aneka bentuk kegembiraan, kegairahan, keindahan, daya tarik, daya pikat, daya pesona dll..dalam ciptaan-ciptaanNya adalah karya Allah, maka hidup dan bertindak saling mengasihi antara lain dapat kita wujudkan dengan saling mengakui dan menghayati apa yang menggembirakan, menggairahkan, indah, menarik, memikat dan mempesona dalam diri saudara-saudari kita. Jika kita melakukan yang demikian itu secara otomatis hidup bersama dimana pun dan kapan pun akan enak dan nikmat adanya. Hidup dan bertindak saling mengasihi berarti senantiasa berpikir positif baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.
"Ya Allah, berikanlah hukum-Mu kepada raja dan keadilan-Mu kepada putera raja!Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum! Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!" (Mzm 72:1-3)
Ign  8 Januari 2013

7Jan


"Bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"
(1Yoh 3:22-4:6; Mat 4:12-17.23-25)
"Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan." (Mat 4:12-17.23-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tak terikat oleh ruang dan waktu, maka marilah kita hayati seruan Yesus:"Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat!". Apakah kita semua butuh pertobatan? Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua perlu bertobat atau memperbaharui diri terus-menerus. Bertobat atau memperbaharui diri berarti senantiasa siap sedia untuk berubah, tentu saja berubah ke lebih baik, lebih luhur, lebih mulia, lebih bermoral dan lebih berbudi pekerti luhur. Barangsiapa tidak berubah akan ketinggalan dan terlindas oleh perkembangan dan pertumbuhan zaman. Segala sesuatu yang ada di dunia ini saat ini berubah begitu cepat, lebih-lebih yang terkait dengan aneka macam produk tehnologi, dan anggota tubuh kita pun juga berubah, terjadi pembaharuan sel-sel dalam tubuh kita. Para peserta didik, pelajar atau mahasiswa karena ketekunannya dalam belajar juga telah tumbuh dan berkembang, mengalami perubahan luar biasa, demikian juga kiranya para pekerja yang rajin dan tekun serta bekerja keras pasti mengalami perubahan dalam hal keterampilan. Kami berharap cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak kita juga berubah, tumbuh berkembang semakin mantap dan handal sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Jika kita sungguh berubah lebih baik, mulia, luhur, bermoral dan berbudi pekerti, maka banyak orang akan tertarik, terpesona, dan tergerak untuk mendatangi dan mengikuti cara hidup dan cara bertindak kita. Semoga para penjahat dan pendosa, koruptor segera bertobat, dan marilah kita doakan mereka agar siap sedia untuk bertobat.
·   "Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita" (1Yoh 3:24). Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, dan hanya dapat tumbuh berkembang dengan baik sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain adalah karena Roh yang dikaruniakan kepada kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Dengan kata lain hendaknya disadari dan dihayati bahwa apa yang baik dalam diri kita sungguh merupakan karya Allah, RohNya, yang hidup dan berkarya dalam diri kita. Maka jangan sekali-kali menyombongkan diri atas kebaikan dan keberhasilan yang telah anda capai dan nikmati, melainkan hendaknya semakin rendah hati, dan semakin menuruti segala perintahNya. Perintah Allah dapat kita temukan antara lain di dalam Kitab Suci serta aneka tata tertib dan aturan yang dijiwai oleh perintah Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka pertama-tama kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan serta tugas pengutusan kita, sebagaimana diserukan dalam pesan Natal Bersama PGI-KWI 2012. Jika dalam mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib dan aturan  kita tidak ada masalah lagi alias tata tertib dan aturan sungguh menjadi kebutuhan hidup dan berindak untuk berubah, bertobat, maka hemat saya kita akan terbantu untuk mentaati dan melaksanakan perintah Allah, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, maupun yang dibisikkan oleh Roh ke dalam lubuk hati kita yang terdalam. Kami berharap anak-anak sedini mungkin dibiasakan dan dididik untuk mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau aturan hidup bersama.
"Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar"
 (Mzm 2:7-8.10-11)
Ign 7 Januari 2013