Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 04 Januari 2013

HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12


HR PENAMPAKAN TUHAN: Yes 60:1-6; Ef 3:2-3a.5-6; Mat 2:1-12
"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."
Kelahiran calon mahkota atau penerus tahta kerajaan senantiasa membuat daya tarik bagi banyak orang, sebagaimana terjadi di Kerajaan Inggris dll, atau di Indonesia di wilayah kesultanan, misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta. Begitulah yang terjadi dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia: raja Herodes merasa akan tersaingi dan akhirnya membunuh semua anak-anak dibawah usia 2 (dua) tahun di kota Betlekem, sementara itu dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan 'orang-orang majus atau bijak' dari Timur Jauh tergerak untuk bersembah sujud kepada Bayi, Penyelamat Dunia yang baru saja dilahirkan. Dengan kata lain kelahiran Penyelamat Dunia begitu cepat tersiarkan, yang berarti si Bayi mungil telah memiliki cirikhas missioner. Hari ini oleh Gereja juga dijadikan "Hari Anak Misioner Sedunia", dengan harapan agar kita sedini mungkin membina anak-anak dalam hal penghayatan semangat missioner, diutus atau dalam bahasa lain disebut "to man or woman with/for others". Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memberi perhatian yang memadai pada anak-anak kita, terutama anak-anak balita.
"Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia." (Mat 2:2)
Kutipan di atas ini, pertanyaan dari orang-orang majus dari Timur kepada raja Herodes, hendaknya juga menjadi pertanyaan kita semua. Bagi kita hal itu berarti kita diajak untuk 'bersembah-sujud' kepada anak-anak. Marilah kita sadari dan hayati bahwa anak-anak lebih suci dari orangtuanya maupun orang-orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya mereka yang lebih suci selayaknya kepada mereka kita bersembah-sujud. Di beberapa gereja atau kapel sering secara khusus imam memberkati anak-anak sesudah penerimaan komuni kudus. Bukankah hal itu merupakan salah satu bentuk perhatian kepada anak-anak? Yesus sendiri juga mengasihi anak-anak, memangku dan menciumi, sementara orang-orang dewasa sering merasa terganggu dengan kehadiran anak-anak.
Marilah kita sadari bahwa anak-anak adalah masa depan kita; mereka lah yang akan meneruskan apa yang kita usahakan dan lakukan pada masa kini, maka tidak memperhatikan anak-anak hemat saya kita 'bunuh diri' pelan-pelan. Kami berharap kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster sungguh memperhatikan anak-anak dalam karya pelayanan, selain memberi perhatian kepada mereka sekaligus promosi panggilan, siapa tahu dari anak-anak akhirnya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster. Tentu saja pertama-tama dan terutama kami berharap kepada para orangtua yang memiliki anak-anak balita untuk sungguh memperhatikan mereka, berani 'memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak balita', dan jangan dengan mudah menitipkan anak-anak balita kepada pengasuh anak-anak maupun neneknya, sebagaimana sering dilakukan keluarga muda berada atau kaya. Kepada para ibu kami harapkan memberi ASI secara memadai kepada anak-anaknya, tidak cukup menyusui hanya selama tiga bulan saja; kata seorang dokter anak-anak dan ibu, hendaknya menyusui bayi atau anak sampai kurang lebih selama satu tahun.
"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagi sang surya menyinari dunia", demikian bunyi syair lagu yang menggambarkan kasih ibu kepada anak-anaknya. Semoga kasih ibu kepada anak-anaknya tidak hanya memberi aneka macam sarana permainan, melainkan 'boroskan waktu dan tenaga' bagi anak-anak anda. Kasih yang dihayati oleh anak-anak kelak kemudian hari akan menjadi bekal dan modal yang mendorong anak yang bersangkutan berjiwa missioner. Jika anak-anak merasa kurang dikasihi oleh orangtuanya, maka anak-anak yang bersangkutan akan tumbuh-berkembang sebagai pribadi egois, yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri, yang pada giliranya akan membuat orangtua resah dan menderita di masa tuanya.
Kepada semuanya kami harapkan untuk memperhatikan pembinaan kader dalam diri anak-anak. Kader sejati adalah orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya, maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibina untuk fungsional dalam lingkungan keluarganya. Dengan kata lain jangan pernah memanjakan anak-anak, ajak dan didiklah anak-anak sedikit demi sedikit berfungsi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari di dalam keluarga, misalnya mematikan lampu yang tak terpakai, mematikan kran air, menyapu dst..
"Memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah, yang dipercayakan kepadaku karena kamu,yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu" (Ef 3:2-3a)
Anak-anak adalah kasih karunia Allah, dan kiranya dalam diri anak-anak terkandung aneka harapan, dambaan dan cita-cita, sebagaimana menjadi nyata dalam pemberian nama pada anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah, yang dilakukan oleh orangtuanya. Rahasia yang terkandung dalam diri anak-anak pelan-pelan akan terkuak alias dapat kita ketahui jika anak-anak diberi kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang dalam semangat 'cintakasih dan kebebasan Injili'. Maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua untuk senantiasa memberi aneka kesempatan dan kemungkinan pada anak-anaknya seluas mungkin, agar anak-anak dapat mengembangkan bakat, keterampilan serta anugerah Allah yang telah diterimanya. Kami berharap kepada para orangtua untuk tidak memproyeksikan dirinya kepada anak-anaknya.
"Semangat cintakasih dan kebebasan Injili" hendaknya juga menjiwai para pengelola dan pelasakna karya pelayanan pastoral pendidikan di sekolah-sekolah. Memang untuk itu di sekolah-sekolah perlu disediakan aneka kemungkinan dan kesempatan bagi para peserta didik untuk mengembangkan dan memperdalam bakat, keterampilan dan anugerah Allah, maka hendaknya anggaran belanja untuk pendidikan atau sekolah sungguh memadai. Kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang kami ajak untuk dengan besar hati memberi sumbangan kepada sekolah-sekolah yang sungguh membutuhkan. Ingat, sadari dan hayati bahwa anda dapat tumbuh berkembang sebagai orang kaya kiranya antara lain karena jasa pelayanan sekolah dimana anda pernah belajar, terutama pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan Pertama.
Kepada para penyelenggara dan pelaksana pemerintahan alias para petinggi Negara dan penentu kebijakan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kami harapkan mengalokasikan dana anggaran untuk pendidikan yang memadai dan tentu saja juga tidak dikorupsi sebagaimana masih berlangsung sampai saat ini. Saya sungguh prihatian dan sedih jika mendengar dan melihat tindakan korupsi di jajaran Departemen Pendidikan di negeri tercinta ini. Semangat atau sikap mental 'proyek' kiranya masih menjiwai para pejabat dan petinggi di Negara kita ini: sudah menerima imbal jasa atau gaji cukup besar masih melakukan korupsi dengan topeng 'proyek'. Jika departemen yang membina manusia saja sarat dengan korupsi apa yang dapat diharapkan di negeri kita ini?
Di semua jenjang dan jalur pendidikan atau sekolah hendaknya dibiasakan penghayatan keutamaan jujur dan disiplin. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat  curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkoban untuk kebenaran", sedangkan "berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan" (lih: Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10 dan 17).
"Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan! Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi! kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan-persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba menyampaikan upeti! Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya"
 (Mzm 72:7-8.10-11)
Ign 6 Januari 2013

5jan


"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"
(1Yoh 3:11-21; Yoh 1:43-51)
" Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."(Yoh 1:43-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Kiranya banyak orang dengan mudah curiga terhadap orang-orang yang baru saja dikenal, apalagi jika orang yang bersangkutan dikenal berasal dari daerah-daerah yang kurang dikenal oleh umum. Memang itulah suatu rahasia atau misteri yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Jika dicermati mereka yang saat ini menjadi tokoh penting dalam hidup bersama yang sungguh mengabdi atau melayani, entah itu dalam hidup menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, berasal dari desa atau pelosok yang kurang dikenal. Sebagai contoh mereka yang tergerak menjadi imam melalui Seminari Menengah Mertoyudan, yang kemudian sukses sampai tahbisan imam maupun dalam penghayatan imamat  pada umumnya berasal dari desa-desa, pegunungan, yang miskin dan sederhana. "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?", demikian keraguan dan kekurang-percayaan Natanael ketika menerima info dari Filipus bahwa ia telah bertemu dengan Penyelamat Dunia, Mesias, dan berasal dari Nazaret. Natanael kiranya bukan orang jelek atau jahat, melainkan orang baik, dan mungkin ia terlalu berpikir logis dan jujur. Warta Gembira hari ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak meremehkan orang-orang desa atau pelosok. Bukankah tenaga-tenaga terampil dalam rumah tangga atau pembangunan gedung di kota-kota besar mayoritas adalah berasal dari desa atau pelosok? Dengan kata lain kami mengajak anda sekalian untuk 'melihat' lebih dahulu sebelum memberi komentar atau kritik.
·   "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya." (1Yoh 3:15). Membenci dalam menjadi konkret dalam aneka bentuk, misalnya menceriterakan kelemahan dan kekurangannya dengan ngrumpi atau ngrasani, memarahi, 'mendiamkan' dst… Apakah anda membenci seseorang, jika ya kami ajak untuk segera berdamai. Membenci memang dalam hatinya mengharapkan agar yang dibenci tidak ada alias musnah atau mati. Orang yang dengan mudah membenci makanan atau minuman yang tidak enak padahal sehat pada umumnya dengan mudah membenci saudara-saudarinya. Maka pelatihan untuk tidak membenci hemat saya antara lain dengan mencintai alias menikmati makanan atau minuman yang sehat meskipun tidak enak atau tidak nikmat. Mencintai situasi atau kondisi yang ada dalam lingkungan hidup juga merupakan pelatihan untuk tidak membenci saudara-saudarinya, misalnya cuaca panas atau dingin. Jika anda mendambakan hidup damai sejahtera dan bahagia selama di dunia ini dan juga di akhirat nanti, silahkan anda menikmati apapun yang mendatangi anda, termasuk orang yang mengritik, mencemooh maupun melecehkan. Marilah kita meneladan keluarga kudus dari Nazaret, yang pernah 'dibenci oleh saudara-saudari mereka di Betlekem', tetap setia pada kehendak Allah, tidak membenci orang-orang Betlekem, melainkan mendoakannya. Maka jika anda tidak berani bertatap muka dalam mengasihi orang lain, yang membenci dan melecehkan anda, silahkan didoakan. Kita dapat mendoakannya kapan saja dan dimana saja. Kami percaya semua agama mengajarkan agar kita hidup dan bertindak untuk saling mengasihi, maka marilah kita senantiasa saling mengasihi kapan pun dan dimana pun serta dengan siapapun.
"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun." (Mzm 100)
Ign 5 Januari  2013

4jan


"Marilah dan kamu akan melihatnya."
(1Yoh 3:7-10; Yoh 1:35-42)
"Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)."Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)." (Yoh 1:35-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Simon dan Andreas, para pengikut Yohanes Pembaptis, tertarik dan terpesona kepada Yesus, dan mereka pun bertanya kepadaNya dimana Ia tinggal. Mendengar pertanyaan tersebut Yesus menjawab: "Marilah dan kamu akan melihatnya". Setelah melihat tempat tinggalNya mereka pun percaya bahwa Ia adalah Mesias, dan kemudian menceriterakan apa yang dilihatnya kepada saudara-saudaranya. Kepada Simon sendiri Yesus bersabda: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau dinamakan Kefas (artinya Petrus). Perjumpaan secara pribadi dengan Yesus memang akan merubah pribadi seseorang, tentu berubah lebih baik, dan perjumpaan denganNya akan mendorong untuk kemudian menceriterakan apa yang dilihat dan dialaminya kepada saudara-saudarinya. Pertama-tama kami mengajak anda sekalian mawas diri: sejauh mana anda bertemu dengan Yesus atau Tuhan secara pribadi dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Marilah kita sadari dan hayati bahwa apa yang baik, mulia dan luhur dalam diri kita merupakan buah perjumpaan pribadi dengan Tuhan, dan selanjutnya marilah kita ceriterakan apa yang baik, mulia dan  luhur kepada saudara-saudari kita, tentu pertama-tama kepada segenap anggota keluarga atau komunitas alias kepada mereka yang setiap hari tinggal dan hidup bersama dengan kita, dan kemudian kepada rekan bekerja atau belajar, di tempat kerja atau tempat belajar. Selanjutnya kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk senantiasa menceriterakan apa yang baik, mulia dan luhur, sehingga kehidupan bersama kita dimana pun senantiasa dalam keadaan baik, damai sejahtera dan bahagia.
·   "Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar; barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu. Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah" (1Yoh 3:7-9). Kita semua kiranya telah 'lahir dari Allah', maka baiklah kita tidak melakukan dosa lagi sekecil atau sedikitpun, dan ketika menghadapi godaan Iblis melalui aneka media atau cara hendaknya dihadapi bersama dengan Allah, karena Allah mampu mengatasi atau mengalahkan Iblis. Dengan kata lain bersama dan bersatu dengan Allah jangan takut sedikitpun untuk bertindak jujur serta memberantas ketidak-jujuran, kebohongan atau korupsi yang masih marak di negeri kita tercinta ini. Sebagaimana saya ingatkan dan angkat bahwa tahun 2013 adalah 'Tahun ular', maka hadapi dan sikapi godaan Iblis dengan sabar dan tekun, karena ada pepatah bahwa 'orang sabar disayangi oleh Allah'. Hidup dan bertindak dengan sabar dan tekun pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat masih banyak orang kurang sabar dan kurang tekun dalam melaksanakan tugas pekerjaannya ataupun panggilannya. Budaya 'instant' yang begitu menjiwai banyak orang ini telah membuat banyak orang kurang atau tidak sabar dan tidak tekun: apa-apa serba ingin cepat. Ingatlah dan sadari bahwa apa-apa yang dengan cepat-cepat diperoleh pada umumnya dengan cepat juga hilang atau musnah. Marilah kita hidup dan bertindak mengikuti proses kehidupan sebagaimana dikehendaki oleh Allah; jangan mengintervensi dengan cara apapun proses kehidupan manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan atau tanaman.
"Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran." (Mzm 98:7-9)
Ign 4 Januari 2013