Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 04 Januari 2013

3Jan


"Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus."
(1Yoh 2:29-3:6; Yoh 1:29-34)
" Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel."Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."(Yoh 1;29-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yesus adalah Allah, maka Ia ada sebelum Yohanes; Ia adalah Allah yang menjelma menjadi Manusia, dan kesatuanNya dengan Roh Kudus tak dapat dipisahkan sama sekali, maka benarlah apa yang dikatakan oleh Yohanes tentang Dia, bahwa "Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus". Kita semua yang telah dibaptis juga menerima baptisan dengan Roh Kudus, maka marilah kita hayati rahmat pembaptisan itu dengan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Roh Kudus. Hidup dan bertindak sesuai dengan Roh Kudus berarti tidak seenaknya sendiri atau mencari keuntungan  diri sendiri. Maka masih dalam suasana Natal marilah kita meneladan Penyelamat Dunia, yang mendatangi kita dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, tidak berfoya-foya dan sombong. Cara untuk itu antara lain adalah dengan hidup 'membumi' atau 'turun kebawah', sebagaimana nasihat nenek moyang orang Jawa, yang mengatakan "Yen mlaku ndungkluk, ojo ndlangak" (=Jika berjalan hendaknya menunduk, jangan menengadah). Nasihat ini tidak lain adalah agar kita senantiasa memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup kita masing-masing. Kami harapkan kita semua senantiasa berorientasi ke bawah, melihat dan mengarahkan diri kita kepada mereka yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih terbatas dari kita serta kemudian kita perhatikan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan kita, dan tentu saja harus disertai dengan pengorbanan. Salah satu cirikhas orang beriman atau senantiasa siap sedia berkorban demi kebahagiaan atau keselamatan orang lain.
·   "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia." (1Yoh 3:1). Sebagai orang yang beriman kepada Allah kiranya dapat disebut sebagai anak-anak Allah, artinya orang yang senantiasa melaksanakan kehendak Allah dalam situasi dan kondisi macam apapun, kapan pun dan dimana pun, sehingga mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita akan tergerak atau termotivasi untuk (semakin) membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Marilah kita sadari dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, dan kita sendiri akan hidup bahagia, damai-sejahtera dan selamat lahir dan batin jika kita sungguh melaksanakan kehendak dan perintah Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Allah hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tiada terikat oleh ruang dan waktu, maka marilah kita temukan dan hayati kehadiran dan karya-karya dalam ciptaan-ciptaanNya, dan tentu saja pertama-tama dan terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Dengan kata lain marilah kita lebih memperhatikan dan mengedepankan apa-apa yang baik, mulia dan bermoral serta berbudi pekerti luhur, baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita, dengan kata lain hendaknya kita senantiasa saling bersikap positif satu sama lain. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik, luhur, bermoral daripada apa yang tidak baik dan tidak bermoral. Ketika apa yang baik, luhur dan bermoral lebih kita angkat dan kedepankan, maka dengan otomatis pelan-pelan apa yang tidak baik dan tidak bermoral akan terhapus atau musnah dengan sendirinya. Cara berpikir positif ini hendaknya juga dihayati oleh para guru atau pendidik di sekolah-sekolah atau tempat-tempat pembinaan dimana pun.
"Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN"
(Mzm 98:4-6)
Ign 3 Januari 2013

Selasa, 01 Januari 2013

2 Jan


"Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu"
(Ef 4:1-7.11-13; Mat 23:8-12)
"Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan" (Mat 23:8-12), demkian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Basilius Agung dan St.Gregorius dari Nazianze hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Siapapun orangnya pada umumnya memiliki dambaan, impian atau cita-cita agar dirinya terkenal, dipuja dan dipuji oleh banyak orang. Untuk mewujudkan dambaan, impian atau cita-cita tersebut ada berbagai kemungkinan cara untuk ditempuh atau dikerjakan. Pada umumnya orang memilih cara atau jalan untuk menjadi orang kaya raya, berkedudukan dan menjadi pemimpin hidup bersama. Saya merasa hal itu tidak salah asal semuanya dihayati dan difungsikan dengan semangat melayani dalam kerendahan hati, sebagaimana disabdakan oleh Yesus di atas. "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan", demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh siapapun yang menjadi pemimpin hidup bersama sekecil atau sebesar apapun, dalam bentuk kehidupan bersama apapun. Mengingat dan kebanyakan dari kita adalah hidup berkeluarga, maka perkenankan saya mengajak dan mengingatkan para kepala keluarga untuk sungguh melayani dengan rendah hati semua anggota keluarganya. Ketika anak-anak didalam keluarga memperoleh perlakuan pelayanan yang rendah hati, kita berharap ketika mereka tumbuh berkembang sebagai orang dewasa dalam bentuk hidup terpanggil apapun akan hidup dan bertindak melayani dengan rendah hati juga. Secara khusus kami ingatkan rekan-rekan gembala umat untuk meneladan Penyelamat Dunia, yang baru saja kita kenangkan kelahiranNya di hari Natal yang lalu: layanilah umat dengan rendah hati, dan hendaknya juga hidup sederhana dalam segala hal, tidak berfoya-foya dan memboroskan waktu, tenaga maupun harta benda dan uang tiada guna.
·   "Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus" (Ef 4:11-13). Kutipan ini mengingatkan siapapun yang berpartisipasi dalam kehidupan beragama atau menggereja dalam penggembalaan umat. Hendaknya segala usaha dan upaya kegiatan senantiasa terarah untuk pembangunan hidup bersama yang penuh damai sejahtera, aman dan tenteram baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual.  Semuanya hendaknya berusaha untuk bekerjasama "mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Allah". Allah telah menciptakan dunia seisinya ini baik adanya, dan jika ada yang tidak baik hemat saya karena kecerobohan, kelalaian atau dosa manusia. Masa kini ada tiga keprihatinan utama yang harus kita hadapi dan selesaikan bersama, yaitu 'rusaknya lingkungan hidup, hidup persaudaraan yang dirongrong oleh kelompok tertentu yang fanatik sempit serta kemiskinan'. Ketiganya kiranya telah merusakkan dan mengaburkan pembangunan hidup bersama, sehingga hidup bersama sampai kini masih diwarnai oleh aneka tawuran dan permusuhan yang membawa korban kematian manusia. Salah satu  usaha dan upaya untuk membangun dan memperteguh hidup bersama antara lain adalah berusaha menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal, misalnya sama-sama manusia, ciptaan Allah, sama-sama beriman, sama-sama warga dst.. Jika apa yang sama dapat kita hayati dengan mendalam dan handal, maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional memperteguh dan memperdalam pembangunan hidup bersama. Maka hendaknya jangan mengangkat-angkat dan membesar-besarkan perbedaan yang ada di antara kita.
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (Mzm 23:1-5)
Ign 2 Januari 2013

Senin, 31 Desember 2012

HR SP Maria Bunda Allah


HR SP Maria Bunda Allah: Bil 6:22-27; Gal 4:4-7; Luk 2:16-21

"Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya"
Setiap hal baru senantiasa diberi nama atau identitas baru, dan kita hari ini memasuki Tahun Baru, yang disebut sebagai Tahun Ular Air. Ciri-ciri ular antara lain cerdas, sabar, bijak dan cermat, yang dapat dilihat ketika ular akan menangkap mangsanya. Hari ini bagi kami warga Serikat Yesus juga mengenangkan pesta nama Ordo; St.Ignatius Loyola menamakan kelompok atau ordo yang didirikannya dengan ditandai nama Yesus, dengan harapan para pengikutnya senantiasa berusaha untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, taat dan setia meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun mentaati dan melaksanakan sabda-sabdaNya. Hari ini juga merupakan Hari Perdamaian Sedunia, dengan harapan dalam mengarungi tahun-tahun yang akan kita lewati hendaknya senantiasa mengusahakan dan memperdalam hidup damai, bersahabat atau bersaudara dengan siapapun tanpa pandang bulu. Warta Gembira hari ini juga mengkisahkan pemberian nama Penyelamat Dunia yang baru saja dilahirkan dan diberi nama Yesus, sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada SP Maria, maka hari ini juga menjadi Pesta SP Maria Bunda Allah, Bunda Penyelamat Dunia. Angka 13 (tiga belas) sering dikatakan sebagai angka sial, maka di dalam pesawat atau tempat-tempat tertentu tidak ada kursi nomor 13, angka tersebut dihindari. Mungkinkah tahun 2013 yang mulai kita tapaki hari ini juga banyak masalah, tantangan dan hambatan yang membuat sial hidup kita? Marilah kita hadapi tahun 2013 ini dengan semangat ular yang mau menangkap mangsanya. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk menelusuri tahun 2013 dengan semangat yang menandai nama kita masing-masing, mengingat dan memperhatikan bahwa nama yang kita kenakan atau diberikan kepada kita kiranya memiliki harapan atau dambaan tertentu pada kita.
"Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya." (Luk 2:21)
"Sunat adalah tanda fisik 'perjanjian dengan Yahweh dan melambangkan integrasi dalam hidup keagamaan bangsa Yahudi. Maka kiasan berupa 'sunat hati' mengungkapkan kesetiaan terhadap Yahweh. Ungkapan 'tak bersunat' adalah sinonim orang kafir" (Xavier Leon-Dufour: Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit Kanisius – Yogyakarta 1990, hal 523). Menurut tradisi Yahudi anak laki-laki pada usia delapan hari harus disunat, dengan kata lain ada harapan agar anak yang bersangkutan senantiasa setia pada kehendak dan perintah Tuhan sampai mati. Secara medis sunat merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan alat kelamin laki-laki atau penis. Maka dalam rangka mengenangkan pemberian nama Yesus kepada Penyelamat Dunia serta penyunatanNya hari kita, kita semua diingatkan dan diajak untuk senantiasa mengusahakan kebersihan atau kesucian diri kita masing-masing, dan antara lain dengan senantiasa setia pada perintah dan kehendak Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan kapan pun.
Kami percaya bahwa nama apapun yang diberikan kepada kita atau kita pilih sendiri untuk menandai diri kita pasti ada harapan agar kita senantiasa tumbuh berkembang sebagai orang yang cerdas beriman sampai mati, baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk senantiasa bekerjasama tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas spiritual, sehingga hidup bersama dimana pun dan kapan pun dalam keadaan damai sejahtera, aman tenteram. Sebagai orang yang beriman kepada Bunda Maria kita juga dapat meneladan Bunda Maria, Bunda Allah, sehingga kita semua juga layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus. Tentu saja secara khusus kami mengingatkan dan mengajak rekan-rekan Yesuit untuk setia menjadi sahabat-sahabat Yesus, sehingga semakin lama kita semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia, dan dengan demikian juga semakin banyak generasi muda untuk bergabung ke dalam Serikat Yesus.
Kami mengajak segenap anggota Lembaga Hidup Bakti, para biarawan dan biarawati untuk setia pada semangat atau spiritualitas pendiri, yang singkatan namanya juga anda kenakan di belakang nama anda masing-masing. Kemerosotan moral hemat saya juga mengena pada para imam, bruder maupun suster, sehingga dalam berkarya mereka sering hanya mengikuti selera pribadi saja, tidak mengikuti tata tertib atau peraturan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Hukum Kanonik maupun Konstitusi Tarekat masing-masing. Dalam berkarya kiranya kita juga dapat meneladan Penyelamat Dunia, yang 'melepaskan ke Allah-an atau kebesaran-Nya' dengan menjadi sama seperti kita manusia kecuali dalam hal dosa, dengan kata lain hendaknya dalam berkarya dijiwai oleh misteri Inkarnasi.
"Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah" (Gal 4:5-7)
Hukum atau aneka peraturan dan tata tertib dibuat dan diberlakukan agar mereka yang berada di wilayah hukum tersebut hidup saling mengasihi, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Jika diperhatikan bahwa banyak orang untuk mentaati hukum atau peraturan saja masih sulit, maka untuk hidup dan bertindak saling mengasihi kiranya masih jauh dari kenyataan dan masih dalam harapan atau impian. Dalam tataran nilai ada tiga macam tingkat, yaitu nilai sopan santun, nilai hukum dan nilai moral. Nilai sopan santun pada umumnya berlaku untuk kalangan atau kelompok terbatas pada suku-suku tertentu, dan ada perbedaan di antara suku-suku yang ada, nilai hukum berlaku di wilayah yang lebih luas, sedangkan nilai moral berlaku dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Sebagai orang beriman, yang percaya kepada Tuhan, kita diharapkan hidup dan bertindak berpedoman atau berpegang pada nilai-nilai moral. Nilai moral yang paling mendasar atau tertinggi adalah cintakasih, dan jika orang sungguh hidup dan bertindak saling mengasihi maka hidup bersama dalam keadaan damai sejahtera atau baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja. Tanda bahwa kita semua saling mengasihi atau baik adalah jiwa kita dalam keadaan selamat semuanya, maka keselamatan jiwa manusia hendaknya senantiasa menjadi barometer atau patokan keberhasilan hidup dan karya kita dimana pun dan apapun. 
"TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera" (Bil 6:24-26). Kutipan ini kiranya membesarkan dan meneguhkan harapan dan usaha kita bersama untuk mengusahakan hidup baik dan damai sejahtera. Maka jika dalam hidup sehari-hari harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, arahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh anda kepada Tuhan, karena berkat atau rahmatNya akan membekali atau mempersenjatai kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi aneka hambatan, tantangan dan masalah. Maka ingatlah, sadari dan hayati bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan, yang diciptakan untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan demi keselamatan jiwa kita. Maka hendaknya aneka kekayaan, harta benda atau keterampilan dan kecakapan difungsikan untuk mengejar tujuan kita diciptakan, yaitu demi keselamatan jiwa manusia.
"Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi.  Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu."
(Mzm 67:2-3.5-6)
"Selamat natal 2012 dan tahun baru 2013"
Ign 1 Januari 2013