Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 25 Desember 2012

Natal


HR Natal
"Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia"

Ajaran untuk hidup dan bertindak saling mengasihi merupakan ajaran semua agama, dan kiranya semua pemuka atau pengajar agama atau pengkotbah hemat saya senantiasa menyampaikan ajaran atau kotbahnya didasari atau dijiwai oleh cintakasih. Memang karena keterbatasan dan kelemahan masing-masing, sesuai dengan lingkungan hidupnya, ada kemungkinan secara konkret apa yang diajarkan atau dikotbahkan berbeda, dan tentu saja para pendengar juga akan berbeda dalam penghayatan atau pelaksanaan perihal perintah untuk saling mengasihi. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal 'saling mengasihi' dalam rangka mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia atau merayakan pesta Natal. Natal berasal dari kata Latin 'natus' (kata sifat), yang berarti lahir, diciptakan, menurut kodratnya diperuntukkan bagi, dst.. Maka hemat saya berefleksi perihal 'saling mengasihi' kita dapat berpedoman perihal 'dilahirkan, diciptakan, menurut kodratnya diperuntukkan bagi'.
            "Allah telah mengasihi kita" (bdk 1Yoh 4:19)
Kutipan di atas ini menjadi tema pesan Natal bersama PGI dan KWI pada tahun ini. Kasih Allah kepada manusia kiranya dapat kelihatan dan dinikmati oleh orang yang sungguh saling mengasihi, khusus suami-isteri yang saling mengasihi dengan bebas dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuataan tanpa syarat. Penghayatan ajaran saling mengasihi dalam diri suami-isteri merupakan wujud partisipasi dalam karya penciptaan Allah dalam menciptakan manusia. Buah saling mengasihi antar suami-isteri tidak lain adalah anak yang terkasih, yang kiranya juga boleh disebut sebagai 'buah kasih' alias yang terkasih. Bukankah kita semua juga merupakan 'buah kasih' atau yang terkasih, yang diciptakan oleh Allah bekerjasama dengan bapak-ibu atau orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi?
Pesta Natal memang merupakan kenangan kasih Allah kepada manusia yang luar biasa, dimana Ia menjadi manusia seperti kita dalam hal dosa, melepaskan segala kebesaran atau ke-Allah-anNya untuk menjadi manusia sama seperti kita. KedatanganNya ke dunia juga merupakan wujud kasih pengampunan Allah kepada umat manusia yang berdosa. "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam
palungan." (Luk 2:10-12), demikian Warta Gembira kelahiran atau kedatangan Penyelamat Dunia.
Kelahiran senantiasa membahagiakan dan menggembirakan, dan tentu saja bagi kaum beriman, entah itu itu kelahiran manusia atau binatang atau jika tanaman berarti menghasilkan buah. Apalagi jika yang lahir adalah akan menjadi orang penting, misalnya yang akan mewarisi tahta kerajaan. Yang kelahiranNya kita kenangkan hari ini "memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa", Ia lahir sebagai Penyelamat Dunia, untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya, dan untuk itu Ia sungguh 'mendunia' atau 'membumi'. KasihNya sungguh membumi atau mendunia alias menjadi nyata. Maka jika kita menghayati ajaran saling-mengasihi hendaknya juga sungguh membumi atau mendunia alias menjadi nyata, dan hemat saya salah satu wujud kasih yang hendaknya dihayati adalah 'boros waktu dan tenaga bagi yang terkasih' alias bermurah hati kepada yang terkasih, hatinya senantiasa terarah kepada yang terkasih.
"Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini"(Tit 2:11-12). Penyelamat Dunia datang sebagai manusia ke tengah-tengah kita untuk "mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini". Pertama-tama kita semua diharapkan hidup dan bertindak tidak materialistis, melainkan secara spiritual alias lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia. Untuk itu antara lain kita diharapkan "hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini".
Bertindak bijaksana berarti buah tindakan atau kebijakannya senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan dirinya sendiri maupun orang lain yang kena dampak tindakan atau kebijakannya. Saya percaya dalam Malam Natal atau di hari-hari yang bersuasana Natal ini kira semua dalam keadaan berbahagia dan bergembira dan kiranya juga terjadi pembagian hadiah atau makanan dan minuman alias tukar 'tali asih'. Kami berharap dalam hal ini sungguh adil, dan keadilan yang paling mendasar adalah hormat terhadap harkat martabat manusia alias semakin memanusiakan manusia. Jika kita semua sungguh manusiawi, maka panggilan atau ajakan untuk "beribadah di dalam dunia sekarang ini" dapat kita lakukan atau hayati dengan mudah dan baik.
"Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." (Luk 2:20)
Penerima dan saksi pertama Warta Gembira Natal, kelahiran Penyelamat Dunia adalah para gembala domba. Dalam tata susunan social kemasyarakatan para gembala termasuk 'orang buangan' yang kurang diperhatikan, meskipun demikian para gembala tidak kecewa, tidak frustrasi, melainkan tetap bahagia dan gembira. Karena tiada yang diharapkan dari manusia, sesamanya, maka dambaan atau harapan mereka senantiasa terarah kepada Allah, Penyelenggaraan Ilahi. Maka kiranya dapat dimengerti dengan baik bahwa akhirnya mereka yang pertama kali mampu mengimani kelahiran Penyelamat Dunia, yang lahir dalam puncak kemiskinan dan kesederhanaan di palungan kandang domba.
Para pemimpin Umat Allah sering juga disebut gembala umat, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap gembala umat untuk menghayati panggilan penggembalaan dengan baik dan benar. Motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, yaitu "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (= keteladanan/kesaksian, pemberdayaan, motivasi) kiranya dapat dihayati dalam penggembalaan umat Allah. Kami berharap kepada para gembala umat dapat menjadi teladan dalam hal 'boros waktu dan tenaga' terhadap sesamanya, mengasihi umat. Selain itu hendaknya dapat menjadi teladan hidup sederhana dan tidak materialistis, sehingga dambaan atau harapannya ada pada Penyelenggaraan Ilahi. Pemberdayaan juga penting sekali dalam penggembalaan umat, yang antara lain berarti kedatangan atau keberadaan gembala umat dimana pun dan kapan pun senantiasa memberdayakan umat, menggairahkan, mempesona dan menarik umat untuk semakin tumbuh berkembang sebagai umat Allah yang membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah. Hendaknya juga mendorong dan meneguhkan umat yang berkehendak baik untuk mewujudkan kehendak baiknya dalam cara hidup dan cara bertindak.
Semoga di antara kita setelah saling bertemu, bercakap-cakap dan bercurhat kemudian      "memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka." Dengan kata lain masing-masing dari kita hendaknya berkata-kata atau berceritera perihal kebenaran-kebenaran , bukan kebohongan atau pura-pura. Berkata-kata atau berceriteralah apa adanya, tidak berkurang atau berlebih dari kenyataan atau kebenaran yang ada.  
            Natal adalah Kabar Gembira atau Kabar Baik.
Akhirnya marilah kita sadari dan hayati bahwa kelahiran Penyelamat Dunia adalah kabar baik, maka merayakan Natal atau mengenangkan kelahiranNya berarti kita senantiasa dapat menjadi pewarta kabar baik, menyebarluaskan dan melakukan apa yang baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Maka baiklah saya kutipkan apa yang dipesankan oleh PGI dan KWI dalam pesan Natal Bersama 2012 sebagai berikut:
"Dalam terang kasih itu, kami mengajak saudara-saudari untuk menanggapi kasih Allah dengan bertobat dan sungguh-sungguh mewujudkan kasih dengan memperhatikan beberapa hal penting berikut ini:
Pertama, Allah menciptakan alam semesta itu baik adanya dan menyerahkan pemeliharaan serta pemanfaatannya secara bertangungjawab kepada manusia. Perilaku tidak bertanggung-jawab terhadap alam ciptaan akan menyengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini, tetapi terlebih generasi yang akan datang. Maka kita dipanggil untuk melestarikan dan menjaga keutuhan ciptaanNya dari perilaku sewenang-wenang dalam mengelola alam
Kedua, melibatkan diri dalam berbagai usaha baik yang dilakukan untuk mengatasi persoalan-persoalan kemasyarakatan seperti konflik kemanusiaan, menguatnya intoleran dan perilaku serta tindakan yang menjauhkan semangat persaudaraan sebagai sesama warga bangsa.
Ketiga, melalui jabatan, pekerjaan dan tempat kita masing-masing dalam masyarakat, kita ikut sepenuhnya dalam semua usaha yang bertujuan memerangi kemiskinan jasmani maupun rohani. Demikian juga kita melibatkan diri dalam berbagai upaya untuk memberantas korupsi. Salah satu caranya adalah mengembangkan semangat hidup sederhana dan berlaku jujur.
Keempat, melibatkan diri dalam menjawab keprihatinan bersama terkait dengan lemahnya penegakan hukum. Hal itu bisa kita mulaiu dari diri kita sendiri dengan menjadi warga negara yang taat kepada hukum dan yang menghormati setiap proses hukum seraya terus mendorong ditegakkannya hukum demi keadilan dan kebaikan seluruh warga bangsa".
"SELAMAT NATAL 2012 DAN TAHUN BARU 2013"
"Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus." (Mzm 97:11-12)
Ign 25 Desember 2012

24 des


"Engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya"
(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)
"Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Setelah Yohanes lahir, maka terbukalah mulut Zakharia, dan ia dapat berbicara. Sebagai ucapan syukur dan terima kasih Zakharia mengidungkan pujian syukur serta membuka misteri perihal anaknya, bahwa anaknya dilahirkan untuk "berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita". Warta Gembira ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi khususnya bagi orangtua atau bapak-ibu yang baru saja dianugerahi anak oleh Tuhan. Anak adalah anugerah Tuhan, maka hendaknya ketika anda dianugerahi anak segera bersyukur dan berterima kasih, dan syukur jika anda berharap seperti Zakharia bahwa anak yang dianugerahkan Tuhan kepada anda juga akan 'berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagiNya', yang berarti anak akan tumbuh berkembang sebagai pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, sehingga siapapun yang melihatnya akan tergerak untuk semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain hendaknya anda mendidik dan membesarkan anak anda dengan semangat 'cintakasih dan kebebasan Injili', tidak memanjakan maupun membiarkan seenaknya. Anak dianugerahkan oleh Tuhan, yang sekaligus juga merupakan buah kasih anda berdua, maka hanya akan tumbuh berkembang dengan baik jika ia dididik dan dibesarkan dalam semangat 'cintakasih dan kebebasan Injili'.
·   "Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu" (2Sam 7:8b-10). Kutipan ini kiranya sungguh merupakan gambar konkret perihal siapa saja yang terpanggil untuk menjadi tokoh hidup beriman/beragama, maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pengalaman dan pengamatan menunjukkan  bahwa kebanyakan tokoh atau pemuka hidup bersama yang sungguh merakyat alias memperhatikan kepentingan umum atau kesejahteraan bersama lahir atau berasal dari keluarga sederhana atau miskin, yang diwarnai oleh perjuangan, keprihatinan, solidaritas dst.. Di dalam keluarga atau masyarakat yang sederhana dan miskin, dimana mereka hidup sehari-hari sejak dilahirkan, mereka telah belajar aneka macam nilai-nilai kehidupan secara inklusif, mengalami sendiri apa arti perjuangan, pengorbanan, kebersamaan, solidaritas dst.. Pengalaman akan nilai-nilai dan keutamaan-keutamaan yang diperoleh dan dialami di dalam keluarga merupakan dasar dan modal yang handal dan meyakinkan untuk perjalanan penghayatan panggilan maupun tugas pengutusan di masa depan. Dengan kata lain saya mengajak anda sekalian agar anak-anak di dalam keluarga tidak dimanjakan, melainkan binalah dan didiklah perihal kepekaan terhadap yang lain atau sikap social, peka akan kebutuhan mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidupnya.
"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5)
Ign 24 Desember 2012

MgAdven IV


Mg Adven IV: Mi 5:1-4a; Ibr 10:5-10; Luk 1:39-45
"Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."
Perayaan Natal, mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia semakin dekat, dan besok sore/ malam kiranya kebanyakan dari anda berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi Agung Malam Natal. Hari-hari ini kiranya persiapan untuk Perayaan Malam Natal sudah siap semuanya dan tinggal pelaksanaannya, maka kutipan judul di atas, kata-kata Elisabeth kepada SP Maria, sungguh sesuai untuk menjadi bahan permenungan atau refleksi kita pada hari ini, tentu saja kami ajak untuk merenungkannya secara rohani atau spiritual, bukan secara fisik belaka, dengan kata lain apakah kita telah siap sedia secara konkret merayakan Natal dalam hidup sehari-hari, yaitu berdamai dan bersahabat dengan siapapun tanpa pandang bulu atau SARA, sehingga kita sendiri senantiasa dalam keadaan bahagia dan tentu saja siapapun yang bertemu dengan saya juga menikmati hidup bahagia dan damai sejahtera sejati, bahagia dan sejahtera fisik maupun spiritual, lahir maupun batin.
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:42-45).
Sesuatu yang sungguh mengejutkan dan menggembirakan bahwa anak yang masih berada di dalam rahim "melonjak kegirangan", yang berarti ia yang belum lahir sebagai manusia ikut menikmati kegembiraan perihal pemenuhan janji Allah untuk menyelamatkan dunia, umat manusia seluruhnya. Hemat saya hal ini terjadi karena Roh Kudus  sungguh berkarya baik dalam diri Elisabeth maupun SP Maria. Apa yang terjadi dalam perjumpaan antara Elisabeth dan SP Maria ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam rangka menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia yang akan segera tiba.
Menjadi orang yang sungguh bergembira 'luar-dalam', artinya tidak hanya dipermukaan saja tetapi sampai di hati, pasti senantiasa dalam keadaan mempesona, menarik dan memikat, sehingga siapapun yang melihatnya akan memuji dan bersyukur, tentu saja orang-orang yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Kita kiranya dapat menyaksikan bayi sehat yang baru saja dilahirkan atau balita yang sehat wal'afiat, yang senantiasa bergembira dan ceria serta memiliki sikap mental siap sedia didatangi oleh siapapun yang hendak mengasihinya. Memang ketika bayi atau balita didekati atau diperlakukan tanpa kasih, maka ia akan memberontak dan menangis. Kita semua diharapkan memiliki keterbukaan yang mendalam untuk siap sedia didatangi oleh Penyelamat Dunia.
Secara khusus perkenankan saya menyapa rekan-rekan ibu yang sedang mengandung, lebih-lebih baru pertama kali mengandung, serta mendambakan anaknya yang berada dalam kandungan segera lahir di dunia ini. Kami ucapkan selamat dan kiranya bolehlah saya sapa anda dengan kata-kata ini: "Berbahagialah anda karena tidak lama lagi anda akan menjadi ibu, dan menurut kata banyak orang berarti sempurnalah kewanitaan anda!". Hendaknya anda sungguh dalam keadaan ceria dan gembira, karena dengan demikian kelahiran anak anda akan berjalan lancar, tanpa ada hambatan sedikitpun, dan anak anda akan lahir dalam keadaan sehat juga. Sedangkan kepada suami maupun saudara-saudarinya kami harapkan juga bersyukur dan berterima kasih.
Kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus kiranya pada hari ini juga dalam keadaan gembira dan ada di antara yang sedang dalam rencana atau perjalanan untuk bertemu sanak-saudara dan kerabat alias mudik ke kampung halaman tempat dilahirkan dan dibesarkan. Kami percaya bahwa anda juga dalam keadaan siap sedia untuk saling menyapa dengan gembira, saling curhat, saling menceriterakan pengalaman hidup yang mengesan. Maka manfaatkan kesempatan bersilaturahmi ini dengan baik untuk memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan yang sejati. Mungkin di antara anda juga sudah menyampaikan ucapan 'Selamat Natal', entah melalui kartu Natal atau surat, dan pada umumnya anda juga siap-siap untuk mengucapkan selamat Natal dengan kirim SMS atau email. Marilah kita bersiap-siap untuk bergembira dalam mengenangkan kelahiran Penyelamat Dunia.
Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" -- meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat --. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus" (Ibr 10:8-10)
Kutipan di atas ini mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman atau beragama agar dalam cara hidup dan cara bertindak senantiasa lebih mengutamakan pelaksanaan atau penghayatan kehendak Allah, bukan upacara-upacara liturgis atau doa-doa yang panjang. Memang kehendak Allah antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka baiklah aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita sungguh dihayati atau dilaksanakan sepenuhnya. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa tujuan utama tata tertib atau aturan dibuat dan diberlakukan tidak lain adalah agar kita semakin setia dan tahu melaksanakan kehendak Allah di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing.
SP Maria mengunjungi Elisabeth,  saudarinya, merupakan kehendak Allah, bukan hanya keinginan pribadi. Semoga perjalanan anda untuk mengunjungi keluarga atau sanak-saudara atau ucapan "Selamat Natal dan Tahun Baru" juga merupakan kehendak Allah, maka baiklah sharingkan pengalaman hidup anda yang baik kepada saudara-saudari kita. Semoga jabatan tangan maupun peluk-cium yang anda lakukan dengan saudara-saudari anda juga tidak sekedar formalitas atau sopan santun belaka, melainkan sungguh merupakan dorongan Allah.
Kutipan di atas juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, apa yang kita miliki dan kuasai saat ini hendaknya dipersembahkan kepada Allah atau difungsikan sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini saya sangat terkesan pada seorang seminaris dari Seminari Mertoyudan, yang beberapa waktu lalu dipanggil Tuhan, yaitu Ignatius Destian Kristiadi. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara, dan merupakan anak terbaik dalam keluarganya. Ibunya sendiri sungguh berbahagia mempersembahkan anak tersebut kepada Tuhan untuk menjadi imam. Banyak orang mungkin menyayangkan bahwa anak baik kok lebih dahulu dipanggil Tuhan. Memang Tuhan menghendaki apa yang terbaik dari kita, bukan sisa-sisa atau yang tidak baik. Ketika mempersembahkan Ekaristi untuk tujuh hari kematian Ignatius Destian Kristiadi di rumahnya, ibunya berbagi pengalaman kepada saya: "Romo ia adalah anak kami yang terbaik, dan sekarang sudah mempersembahkan diri seutuhnya  kepada Tuhan, hidup mulia dan berbahagia di sorga bersama Tuhan. Saya merasa bahagia dengan hal ini".
Dalam misa atau Perayaan Ekaristi tujuh hari tersebut saya juga memperoleh sesuatu yang baru dan indah. Di stasi  ini ada paguyuban umat yang disebut kelompok "LUWAK" (=Leladi Umat Wewaton Ati Karep = melayani umat dengan kehendak hati). Kelompok ini dengan cekatan dan gembira melayani apa yang sungguh dibutuhkan oleh umat dan masyarakat. Marilah kita hidup dan bertindak melayani umat atau masyarakat.
"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu!Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu" (Mzm 80:15-16.18-19)
 Ign 23 Desember 2012